Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 56


__ADS_3

"Apa sih? berisik banget, ganggu orang tidur aja!"


Kiran keluar kamar, ia penasaran siapa yang sedang berteriak-teriak di lantai bawah.


Begitu terkejutnya Kiran saat melihat Sika yang sudah berada di dalam rumah Marvel.


"Kiran, keluar kau!" Sika terus berteriak meminta Kiran untuk keluar.


"Dasar SIKAT WC...!" teriak Kiran dari lantai dua, "ini rumah orang, bukan hutan!"


Sika mendongak lalu berkacak pinggang.


"Turun kau Kiran!" titah Sika.


"Mau apa kau hah?" tanya Kiran dengan nada tinggi.


"Bebaskan ayah dan ibu ku!" pinta Sika.


"Bukan urusan ku. Pergi kau dari rumah ini." Usir Kiran.


Kiran yang geram melihat wajah Sika akhirnya turun ke lantai bawah.


"Bebaskan mereka. Apa kau mau di cap sebagai anak durhaka?"


"Ibu ku meninggal berkat kerjasama ayah dan ibu mu. Ku harap mereka juga menyusul ibu ku!" Ucap Kiran yang hatinya telah mati untuk keluarganya sendiri.


"Jaga mulut mu Kiran!" bentak Sika tidak terima.


"Apa yang harus aku jaga hah?" Kiran balik menyentak Sika, "mereka pembunuh!" teriak Kiran menggema di seluruh rumah.


"Mbak, tenang mbak." Mbok Rumi menenangkan Kiran, "aduh, mas Marvel mana sih?"


"Bebaskan ayah dan ibu ku. Apa kau lupa jika ayah juga ayah mu hah?"


"Ya, Hasanudin memang ayah kandung kita berdua. Lalu kau mau apa hah? membebaskan seorang pembunuh? tidak. Ayah dan ibu mu harus merasakan kesakitan yang di rasakan oleh ibu ku!"


"Mbak Kiran, sabar mbak!" mbok Rumi mengelus lengan Kiran.


Sika emosi, wanita ini maju hendak memukul Kiran. Tapi, dengan cepat Kiran menghindar.


"Wah, kau mau bermain dengan ku ternyata!" Ujar Kiran.


Tak berselang lama, adu jambak dan tampar pun terjadi. Mbok Rumi dan seorang pembantu lainnya berusaha melerai perkelahian tersebut.


Marvel yang baru saja memasuki rumah terkejut melihat sang istri sedang adu fisik dengan Sika. Pria ini melempar bungkusan yang ia bawa lalu berlari ke arah Kiran dan Sika.


Dengan tulang besarnya Marvel mendorong Sika hingga membuat wanita itu jatuh menghantam lantai dingin.


"Siapa yang mengizinkan SIKAT WC ini masuk ke dalam rumah ku hah?" Marvel membentak seisi rumah, membuat para pembantu dan penjaga rumah ketakutan.


"Perempuan ini memaksa masuk mas!" jawab penjaga.


"Kau,...!" Marvel menunjuk ke arah Sika, "beraninya kau menyentuh kulit istri ku!"


"Istri mu yang sudah memulai duluan!"


"Wah,...wah,... mulut mu ini harus segera di tombak dengan garukan sampah. Kau datang main masuk tanpa permisi lalu menyerang ku. Kenapa jadi aku yang mulai duluan?"


"Bebaskan ayah ibu ku!" teriak Sika.


"Aku tidak akan membebaskan mereka. Tapi, aku akan mengirim mu bersama mereka!" ucap Kiran dengan santainya.

__ADS_1


"Sialan kau Kiran!" umpat Sika.


"Kita memang saudara kandung. Tapi, kita terlahir dari rahim yang berbeda. Jadi, meskipun Hasanudin adalah ayah kita berdua, aku akan tetap memberinya pelajaran."


"Apa maksud mu dengan saudara kandung hah?" tanya Sika yang ternyata tidak tahu jika dirinya adalah anak kandung Hasan.


"Sayang, apa si SIKAT WC ini tidak tahu jika dia anak kandung ayah mu?" tanya Marvel berbisik.


"Aku juga tidak tahu mas. Usir dia, aku mau muntah melihat rupanya itu...!"


"Kiran, cepat bebaskan ayah dan ibu ku!" pinta Sika sambil berteriak tidak jelas.


Marvel yang geram langsung menyeret Sika keluar dari rumahnya. Kiran acuh, ia hanya diam saat melihat suaminya menyeret paksa Sika.


"Mbok, haus!" ujar Kiran.


"Minum dulu mbak!" mbok Rumi menyodorkan segelas air putih yang sejak tadi sudah di ambilnya untuk Kiran.


Tak berapa lama Marvel masuk kembali ke dalam rumah.


"Apa kulit mu ada yang lecet?"


"Gak ada kok mas. Ngomong-ngomong, mas dari mana kok hilang?"


"Mas tadi pergi sebentar untuk membelikan bakso, makanan kesukaan kamu."


"Aku gak mau makan bakso!" ucap Kiran merajuk.


"Loh, kenapa?" tanya Marvel heran.


"Aku sudah punya dua pentol. Seumur hidup pun tidak akan habis!" ucapnya berbisik.


"Tapi, pentolnya mas gak bisa di makan!" balas Marvel berbisik.


Kiran mengedipkan matanya sebelah, ia kembali ke kamar lalu di susul oleh Marvel.


"Sayang, lanjut yang tadi malam yuuk....!" Marvel merayu istrinya.


"Gak ah, mau tidur. Heran, perasaan suka banget begituan. Apa pisang mu itu gak lecet?"


"Ya gak lah!" seru Marvel.


"Kepala ku pusing, aku mau lanjut tidur!" Ujar Kiran.


"Pusing apaan sih? perasaan tadi kamu kuat banget adu fisik sama Sika."


"Itu tadi aku mendadak kuat dan sehat. Tapi sekarang lemas lagi."


Marvel hanya bisa menghembus nafas kasarnya.


"Sejak pagi kamu belum makan. Sayang mas, kamu mau makan apa?"


"Aku gak lapar mas, nanti aja!"


"Gak lapar bagaimana? tadi pagi kamu hanya minum jus buah naga itu."


"Kalau mas lapar, mas makan aja. Aku gak nafsu!"


"Kamu ini tumben banget nolak makanan. Biasanya kalau ketemu makanan selalu lahap."


"Mas ngatain aku gragas gitu?" Kiran kembali salah paham.

__ADS_1


"Eh, bukan begitu maksudnya mas sayang!" Marvel kembali serba salah lagi.


"Lalu apa?" tanya Kiran nyolot, "mas kalau udah gak suka sama aku ngomong. Perasaan dari tadi pagi menghina aku terus!"


"Lah, kapan mas menghina kamu sayang?"


"Mas jahat. Dulu aja baik, merayu dan selalu mengejar ku. Bilang aja mas mau balas dendam pada ku atas sikap ku yang dulu."


Kiran kembali menangis, entah kenapa Kiran sangat cengeng hari ini.


"Mas gak jahat sayang. Sampai detik ini pun mas cinta dan sayang sama kamu. Kamu ini kenapa, kok hari ini sikap kamu aneh?"


"Tuh kan, mas aja bilang aku aneh...!"


Semakin menjadi lah tangis Kiran.


"Labil, dia ini kenapa?" batin Marvel, "ah, aku lupa jika pertengahan bulan seperti ini dia akan membuka pabrik selainya."


"Sekarang gak ada lagi orang yang sayang sama aku. Semua sama aja!" ucap Kiran dengan suara seraknya.


Marvel menarik nafas panjang.


"Sayang, istri mas yang cantik. Coba cerita sama mas, kamu ini kenapa sebenarnya? kalau kamu ada masalah, biar mas yang selesai."


Kiran tidak menjawab, ia mengusap air matanya lalu menatap wajah suaminya.


"Mas bewok, aku ingin makan jambu kristal!"


Deeep,....


Wajah Marvel seketika tegang.


"Jambu kristal? di mana mas harus mencari jambu kristal itu sayang?" tanya Marvel heran.


"Di tukang buahkan banyak. Kenapa sih ngeluh mulu?"


"Mas gak ngeluh sayang. Tapi, heran aja sama permintaan kamu. Emang ada jambu kristal?"


"Ya ada dong!" seru Kiran.


"Pasti harganya mahal, secara ada kristalnya!" Kata Marvel lagi-lagi membuat sang istri tersinggung.


"Seberapa lah harganya satu kilo? kok kamu sekarang jadi perhitungan sama aku?"


"Loh, mas gak perhitungan. Iya,...iya,...mas beli sekarang."


Marvel beranjak dari duduknya.


"Tunggu....!" Ujar Kiran menghentikan langkah suaminya, "emangnya mas tahu jambu kristal itu Bagaimana? aku gak mau mas salah beli."


Marvel menggelengkan kepala.


"Buka aja di mbah google, cari bentuk jambu kristal."


Buru-buru Marvel mengeluarkan ponselnya dan mencari bentukan buah jambu kristal tersebut.


"Oooh,....jambu biji yang kamu maksud?" tanya Marvel bisa bernafas lega, "ini mah gampang, mau berapa puluh kilo sayang?" tanya Marvel.


"Pasti mas berpikir kristal berbentuk jambu. Ya kan?"


Marvel hanya terkekeh sambil menggaruk kepalanya tak gatal.

__ADS_1


"Dasar orang kaya, gitu aja gak paham!" celetuk Kiran.


__ADS_2