Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 50


__ADS_3

"Sayang.....!!"


Marvel memeluk Kiran dari belakang.


"Jangan bilang kalau lagi pengen!"


"Haiiis....kamu ini. Apa di kepala kamu itu isinya cuma kelon aja?" Tanya Marvel membuat mata Kiran terbelalak geram.


Kiran mendorong suaminya lalu bertanya, "selama ini yang suka minta duluan siapa? kenapa selalu memutar balikan fakta?"


"Kenapa harus memperdebatkan siapa yang duluan minta jika kita saling menikmati setiap permainan hemm?"


Sontak saja Kiran merasa malu saat mendengar ucapan suaminya. Bukan malu karena kalah ucap melainkan malu jika mereka sedang berdua selalu saja membahas masalah ranjang.


"Udah ah. Ada baiknya mas antar aku pulang ke rumah sekarang!"


"Mau ngapain kamu pulang?" tanya Marvel.


"Aku ingin mencari sesuatu untuk membuktikan kecurigaan mas pada ayah dan tante Desi. Sejak ibu meninggal, ayah menyimpan semua barang milik ibu di gudang paling belakang."


"Kamu yakin jika kita bisa menemukan sesuatu di sana?"


"Kau yakin mas. Aku hanya ingin tahu di rumah sakit mana ibu di rawat dulu."


"Apa kau sama sekali tidak tahu tentang ibu mu?" Marvel bertanya dengan penasaran.


Kiran membuang nafas pelan, seketika wajahnya berubah menjadi sedih.


"Sejak ibu sakit, ayah melarang ku untuk menemui apa lagi melihat ibu. Terakhir kali aku melihat wajah ibu, ibu sudah masuk ke dalam kuburan."


Grekkk....


Hati Marvel seketika sakit mendengar cerita istrinya yang baru ia dengar sekarang.


"Kenapa ayah mu sejahat itu? rencana apa yang sebenarnya dia jalankan sehingga dia tega menyakiti mu seperti ini?"


"Aku tidak tahu mas. Sejak aku kecil, ayah tidak mau tahu tentang diri ku. Aku benci tante Desi dan Sika, sejak mereka masuk ke dalam kehidupan ku, semuanya berubah."


Marcel semakin penasaran ingin memecahkan masalah ini. Bukan mau ikut campur, hanya saja ia tidak terima jika istri kesayangannya selama ini mendapatkan perlakuan yang tidak adil.


Tidak menunggu waktu lama, Marvel dan Kiran langsung pergi menuju rumah milik Kiran yang sekarang tak berpenghuni.


Terlihat jelas sekali banyak debu yang menempel di semua perabotan rumah. Tidak, kali ini kepulangan Kiran bukan untuk membersihkan rumah melainkan mencari sesuatu yang bisa di jadikan bukti yang bisa menjawab rasa penasaran mereka selama ini.


Kreeek.....

__ADS_1


Kiran membuka pintu gudang yang selama ini tidak pernah di buka karena ayahnya akan selalu marah jika siapa pun masuk kedalam gudang ini.


Debu yang sangat menempel di tumpukan kotak-kotak yang berisi barang peninggalan almarhum ibu Kiran.


"Aduh mas, debunya tebal sekali. Kita mulai dari mana?"


Kiran bingung.


"Ya dari mana aja. Ayoo....!"


Marvel langsung bergerak, membuka salah satu kotak yang selama ini tidak pernah di buka. Totalnya ada sembilan kotak di dalam gudang.


"Kotak ini isinya hanya pakaian," ujar Marvel memberitahu istrinya.


Lanjut ke kotak selanjutnya hingga beberapa kotak isinya masih tetap sama, pakaian dan barang pribadi milik almarhum ibu Kiran. Sisa tiga kota yang berada di tumpukan paling bawah bahkan paling belakang.


Tanpa memperdulikan kotornya debu, Marvel dengan cepat menarik ketiga kotak tersebut keluar.


Marvel kemudian membuka salah satu kotak di antara tiga kotak.


"Sayang, ini ibu mu?" tanya Marvel lagi-lagi membuat Kiran sedih.


Kiran mengambil figura yang bergambar wajah ibunya dengan perasaan sedih.


"Iya, ini ibu. Selama ini ayah hanya mengizinkan ku menyimpan satu foto ibu. Kenapa di dalam kotak ini banyak foto ibu di masa mudanya?"


"Apa ini?" Kiran heran, "jadi, mereka bertiga berteman sejak sekolah?"


"Informasi yang di dapat Jeff semua benar. Mas yakin jika ayah mu dan tante Desi tahu penyebab ibu mu meninggal."


Marvel dan Kiran banyak mendapati foto-foto masa muda dari Hasan, Desi dan ibu Kiran. Setelah puas melihat semua foto-foto tersebut, Marvel dan Kiran kembali memasukannya ke dalam kotak setelah itu membuka kotak yang tersisa.


"Kotak yang dua ini ukurannya paling kecil di antara yang lain. Aku semakin penasaran," ucap Marvel.


Seharusnya Kiran yang penasaran tapi kali ini Marvel jauh lebih penasaran.


Dengan cepat Marvel membuka kotak tersebut. Kening Marvel berkerut saat melihat isinya.


"Isinya apa mas?" tanya Kiran sangat penasaran.


Marvel tidak menjawab, pria ini malah mengambil beberapa kertas lalu membacanya.


"Rekam medis kesehatan ibu mu," kata Marvel sambil membaca yang lain, "sayang, kotak yang ini kita bawa pulang. Aku akan mencaritahu tentang ini semua."


"Ya sudah, ini kotak terakhir ayo cepat buka. Aku penasaran!"

__ADS_1


Bergegas Marvel membuka kotak terakhir. Tidak begitu kaget karena isinya hanyalah obat-obatan saja.


"Apa pentingnya semua obat ini?" Kiran bertanya heran, "kenapa ayah menyimpan semua ini? kenapa tidak di buang saja?"


"Mas juga tidak tahu. Kita bawa saja dua kotak ini, mana tahu ada sesuatu yang akan terkuak."


"Iya mas!"


Kiran dan Marvel kembali mengemasi semua barang yang berserakan dengan menyisakan dua kotak terakhir. Entah kenapa Marvel sangat tertarik untuk mengetahui jejak penyakit apa saja yang sudah merenggut nyawa ibu mertuanya itu.


Setelah membereskan semuanya, sepasang suami istri tersebut langsung pulang. Setibanya di rumah, Marvel dan Kiran langsung pergi mandi.


Tidak langsung beristirahat, Marvel yang masih penasaran langsung memanggil Jeff untuk datang ke rumahnya dengan menyodorkan dua kotak yang ia bawa tadi.


"Apa ini bos?" tanya Jeff heran saat melihat kotak lusuh di depannya.


"Bawa kedua kotak ini ke rumah sakit. Perintahkan pada Dokter David untuk mengecek semua yang ada di dalam ini."


"Baik bos!"


"Ku beri waktu sampai besok sore. Jika dia tidak bisa menyelesaikan tepat waktu, akan ku tendang dia dari rumah sakit itu."


"Siap bos!"


Jeff mengambil kedua kotak tersebut kemudian langsung pergi.


"Galak amat!" seru Kiran, "tapi, heran aja kenapa semua anak buah dan karyawan mu pada betah?"


"Aku bos yang baik. Sudah pasti mereka sayang pada ku!" sahut Marvel.


"Sayangnya memaksa!" seru Kiran lagi.


"Heh,....gak lah...!"


"Ya gak salah lagi kan?"


"Sayang, jangan seperti itu...!" Marvel merengek manja. Ia langsung memeluk Kiran lalu menggeliat di leher sang istri.


"Ehem....ehem...!" mbok Rumi berdehem hingga membuat Kiran dan Marvel kaget.


"Permisi mas, mbak!" ucap Mbok Rumi.


Wajah Kiran memerah menahan malu, mereka sudah tertangkap basah saat berpelukan mesra di ruang tamu.


"Bikin malu aja," ucap Kiran, "gak ada jatah untuk malam ini...!" ujar Kiran kemudian berlalu begitu saja.

__ADS_1


"Sayang............!!" Marvel merengek menyusul istrinya.


__ADS_2