
"Kamu itu loh Vel, kok bisa Kiran di culik sama Gama?, kamu kemana aja hah?"
Telinga Marvel gatal mendengar mamah Dona yang mengomel sejak tadi.
"Untung saja Kiran dan bayinya tidak kenapa-kenapa. Kamu ini bisa buatnya aja, tapi gak mau jaga!"
"Aku sudah menjaga Kiran sebaik mungkin mah. Kiran saja yang menolak saat aku ingin mengantarnya ke toilet," sahut Marvel yang sudah tidak tahan lagi.
"Kalau di kasih tahu orang tua melawan, menjawab. Mau jadi apa kamu?"
Huft,.....
Marvel hanya bisa menarik nafas panjang, menahan sabar.
"Mamah gak mau tahu, kamu harus melempar si Gama itu ke penjara. Dia sangat berbahaya untuk Kiran."
"Tante Dona benar, Gama harus di serahkan pada polisi. Obsesi dia pada Kiran sudah tidak wajar. Masa iya Gama ingin menggugurkan anak Kiran secara paksa," timpal Fani.
"Aku akan mengurus si Hama itu. Kalian tidak usah khawatir!" Ujar Gama.
"Tidak usah khawatir bagaimana? Lihat istri mu sekarang, dia pasti trauma." Mamah Dona benar-benar geram pada Marvel.
"Kiran gak kenapa-kenapa kok mah. Jangan marahin mas Marvel terus. Kasihan mas Marvel," ucap Kiran yang masih lemah.
"Jangan membela suami mu ini. Lama-lama tuman!" ujar mamah Dona.
"Lah kenapa memangnya?, apa salahnya jika seorang istri membela suaminya?" Marvel bertanya pada mamahnya.
"Kamu ini benar-benar menjengkelkan. Sana pergi, urus si Hama itu." Mamah Dona mengusir Marvel.
__ADS_1
"Mas pergi ya sayang. Jangan takut, ada mamah dan Fani yang akan menjaga kamu," pamit Marvel.
"Jangan lama-lama ya mas," pesan Kiran sebelum suaminya pergi.
Marvel mengiyakan, pria ini kemudian pergi. Marvel pergi ke rumah Erma, saudara sepupunya.
"Darwin, tolong ambilkan aku air satu ember!" Titah Marvel pada suami Erma.
"Baik kak."
Darwin pergi mengambil air satu ember sesuai permintaan Marvel.
"Ini kak, airnya!"
"Terimakasih," ucap Marvel lalu pergi ke ruangan yang berbentuk penjara di mana Jessi dan Gama berada.
"Marvel,....!" Jessi memanggil namun tak di hiraukan oleh Marvel.
Byuuuur,......
Marvel menyiram Gama yang sejak sore belum sadarkan diri.
Uhuuuk,....uhuukkk......
Gama terbatuk-batuk, dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya ia mencoba mengubah posisinya menjadi duduk.
"Apa kau sudah sadar bajingan kecil?" Marvel bertanya dengan suara dingin.
Gama yang baru sadar jika ia berada di tempat asing apa lagi berbentuk seperti penjara langsung terkejut.
__ADS_1
"Di mana aku?" Gama panik.
"Tempat yang layak untuk mu! Jawab Marvel.
"Bebaskan aku om!" Pinta Gama.
"Setelah apa yang kau lakukan pada Kiran, kau meminta pada ku untuk di bebaskan?" Marvel balik bertanya.
"Aku minta maaf om. Aku hanya bercanda dengan Kiran," ucap Gama tidak masuk di akal.
"Kau sudah sakit jiwa Gama. Obsesi mu pada Kiran membuat mu sakit jiwa."
"Marvel, bebaskan aku!" pinta Jessi.
"Diam kau!" bentak Marvel dengan mata melotot.
Sejak mengenal Marvel, baru sekarang Jessi melihat wajah marah dari mantan suaminya itu.
"Diam kau sampah. Aku bisa saja merobek mulut mu," ancam Marvel.
"Vel, maafkan aku. Ingatlah jika kita pernah bahagia bersama," ucap Jessi sambil memegang jeruji besi.
Marvel maju dua langkah lalu menarik rambut panjang Jessi.
"Apa kau lupa jika bahagia yang kau ciptakan untukku itu hanya sebuah rekayasa?"
"Ampun Vel,...Ampun,....!"
Gama mundur saat melihat wajah marah Marvel. Ia ketakutan, Gama tidak menyangka jika Marvel bisa sekejam ini pada orang yang sudah menyakitinya atau pun menyakiti Kiran.
__ADS_1