Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 49


__ADS_3

Marvel



Kiran



(Gambar hanya pemanis)


"Mbak, mbak Kiran kok jalannya begitu? habis jatuh di mana?" tanya mbok Rumi penasaran saat melihat gaya berjalan Kiran yang aneh.


"Eeeeh,....anu mbok, gak sengaja jatuh di kamar mandi." Kiran berbohong.


"Jatuh di kamar mandi apa jatuh di atas ranjang?" goda mbok Rumi sembari mengedipkan sebelah matanya.


Wajah Kiran mendadak gugup.


"Beneran kok mbok, jatuh di kamar mandi."


"Setiap ucapan itu doa loh mbak," ujar mbok Rumi.


"Ah, si mbok ini. Aku kan jadi malu!" ucap Kiran membuat mbok Rumi tertawa lucu.


"Semoga cepat jadi anak ya mbak, biar rumah ini ramai."


"Doa kan saja yang terbaik untuk aku dan mas Marvel ya mbok."


"Mbak Kiran pagi-pagi begini ngapain turun ke bawah?"


"Mau masak untuk sarapan," jawab Kiran.


"Udah, balik aja ke kamar. Biar si mbok yang masak."


"Gak deh mbok, kalau di kamar terus bisa habis aku di mangsa."


Mbok Rumi tertawa, ini lah salah satu alasan mbok Rumi betah bekerja di rumah ini karena ia memiliki majikan yang suka bercanda.


Jam menunjukan pukul sembilan pagi, Marvel baru saja berangkat ke kantor. Sebenarnya ia malas, di banding pergi ke kantor, Marvel lebih suka menempel pada istrinya.


"Laporkan hasil pekerjaan mu Jeff!" pinta Marvel.


"Seperti dugaan sebelumnya, Ibu Desi dan pak Hasan sudah memiliki hubungan sejak ibu Kiran masih hidup bahkan Desi dan ibu Kiran berteman baik."


Laporan Jeff sedikit membuat Marvel terkejut.


"Jeff, apa kau berpikir sama dengan apa yang aku pikirkan sekarang?" tanya Marvel.


"Ya bos. Aku yakin jika Kiran tahu mengenai masalah dia akan sangat membenci ayahnya sendiri."


"Malang betul nasib istri ku itu. Menurut mu, apa yang harus aku lakukan?"

__ADS_1


"Membongkar semuanya bos. Sesakit apa pun kebenaran, harus segera di ungkapkan."


"Tumben sekali kau bijak hari ini Jeff!" puji Marvel.


"Terimakasih atas pujian bos!"


"Selesaikan pekerjaan mu. Aku akan kembali pulang untuk memberitahu Kiran."


"Siap bos!"


Marvel bergegas pulang untuk bertemu dengan istrinya. Kiran yang melihat suaminya pulang mendadak panik karena jika seperti ini biasanya Marvel akan meminta jatah lagi.


"Duh, pinggang ku encok. Mana masih perih pula...!" ucap Kiran membuat dahi Marvel berkerut.


"Ah masa sih?" Marvel menggoda, "bukannya kamu sendiri yang paling panas tadi malam?"


Wajah Kiran memerah menahan malu, ia langsung membuang muka.


"Ngomong-ngomong, kenapa mas pulang?" tanya Kiran penasaran.


"Tentang ibu tiri kamu, mas sudah mendapatkan sedikit informasi tentang dia." Ujar Marvel.


"Cepat ceritakan pada ku mas!" pinta Kiran tidak sabaran.


"Ibu mu dan ibu tiri mu adalah teman baik. Tapi, ibu tiri mu memiliki hubungan di belakang ibu mu tanpa sepengetahuan beliau. Banyak sedikitnya, mustahil jika kau sama sekali tidak mengenal ibu tiri mu itu."


"Aku hanya tahu jika ibu dan tante Desi berteman. Lagian, saat ayah menikah dengan tante Desi, dia tidak pernah bicara apa pun pada ku."


"Lalu kenapa ada aku?" wajah Kiran nampak sedih.


"Kenapa ada kau? menurut informasi yang di dapat, para kakek nenek mu lah yang memaksa agar kedua orang tua mu memiliki seorang anak."


"Ibu meninggal karena sakit, apa kah ibu memendam rasa sakit hatinya pada ayah?"


"Ah, untuk masalah meninggalnya ibu mu karena sakit sepertinya aku tidak begitu yakin," kata Marvel malah membuat Kiran heran.


"Mas, kau jangan membuat ku kepikiran. Aku melihat sendiri jika saat itu ibu meninggal di rumah sakit."


"Gak usah di pikirin, nanti mas cari tahu sebab kematian ibu mu yang sebenarnya. Mas yakin jika semua ini sudah di rencanakan mengingat ayah mu dan ibu tiri mu sudah memiliki hubungan sebelum ibu dan ayah mu menikah."


Kiran terdiam saat mendengar ucapan suaminya. Rasa janggal di hatinya tiba-tiba saja menyeruak di dalam dada.


"Mas, bantu aku untuk menemukan kebenarannya. Aku hanya ingin menjawab semua pertanyaan ku tentang kenapa ayah tidak pernah peduli pada ku."


Marvel mengusap lembut kepala istrinya lalu berkata, "apa pun untuk mu."


"Tapi mas, aku penasaran siapa ayah Sika sebenarnya. Sejak kami kecil, aku tidak pernah melihat Sika bertemu dengan ayahnya."


"Nanti kita cari tahu ya. Kamu tenang saja, mas akan cari tahu semuanya."


"Terimakasih mas!" ucap Kiran.

__ADS_1


Sebenarnya Kiran merasa beruntung menikah dengan Marvel meskipun pada awalnya Kiran sangat membenci Marvel bahkan tak ada rasa cinta untuknya.


Sika, perempuan yang tidak pulang sejak kemarin tersebut tiba-tiba pulang dengan membawa uang banyak.


"Kamu dapat duit sebanyak ini dari mana Sika?" tanya Desi dengan suara pelan.


"Dari om Danu, aku jadi simpanannya!" jawab Sika jujur.


"Jangan gila kamu Kiran! jika ayah mu tahu habislah kau!"


"Itu sih pandai-pandainya ibu saja ngomong. Bilang aja aku kerja di mana gitu."


"Ayah mu sejak kemarin marah-marah karena kau tidak pulang. Ibu harus jawab apa?"


"Sudah pulang kau Sika?" tanya suara berat yang berdiri di ambang pintu kamar.


Sika dan Desi kaget.


"Dari mana saja kau hah?" tanya Hasan dengan nada tinggi.


"Cari kerja!" jawab Sika singkat.


"Cari kerja di mana? mau jadi apa kau tidak pulang sejak kemarin hah?"


"Ya kerja, biar aku gak jadi beban. Ayah sendiri yang menyuruh aku untuk cari kerja. Dasar cerewet!" sahut Sika kesal.


Ingin sekali Hasan menghajar Sika yang selalu bersikap kurang ajar padanya. Hasan lebih memilih pergi dari pada harus berdebat dengan Sika.


"Mas mau kemana?" tanya Desi panik.


"Menemui Kiran, si anak durhaka itu." Jawab Hasan.


Dengan mengendarai sepeda motor Hasan pergi ke rumah Marvel untuk menemui anaknya. Dengan wajah acuh tak acuh Kiran turun menemui ayahnya.


"Berikan sertifikat rumah dan tanah itu. Semua bukan hak mu!" pinta Hasan tanpa berbasa basi.


"Jika bukan hak ku, lalu kenapa ibu dan nenek membuat wasiat seperti itu?" tanya Kiran membuat Hasan mati ucap.


"Apa kau tidak kasihan melihat ayah mu tinggal di jalanan hah?"


"Sama sekali tidak!" jawab Kiran membuat kuping Hasan panas, "ayah saja tidak pernah kasihan bahkan peduli pada ku. Jadi, untuk apa aku kasihan pada kalian."


"Dasar anak durhaka!" umpat Hasan.


"Terserah mau bilang apa. Kemungkinan almarhum ibu ku sangat menyesal sudah menikah dengan laki-laki jahat seperti ayah."


"Jaga mulut mu Kiran!" betak Hasan.


"Tidak ada yang harus aku jaga. Aku bahkan tahu jika ayah dan tante Desi memiliki hubungan sebelum ayah menikah dengan ibu."


Mata Hasan terbelalak saat mendengar ucapan Kiran. Tanpa pamit lagi ia pergi dari sana. Kiran semakin yakin jika sang ayah selama ini sudah menyembunyikan sesuatu dari dirinya.

__ADS_1


__ADS_2