
Sika menangis histeris mana kala mendengar keputusan hakim yang menjatuhkan hukuman seumur hidup penjara untuk Hasan dan Desi. Keduanya terbukti bersalah telah melakukan pembunuhan berencana pada ibu Kiran dulu.
Di ruang persidangan, Sika yang tidak terima tiba-tiba saja menyerang Kiran. Marvel marah, dengan sangat kasar ia menarik dan mendorong Sika hingga membuatnya jatuh menghantam kursi-kursi yang ada di ruang persidangan.
"Anak durhaka!" seru Sika emosi, "di dunia ini hanya kau yang tega menuntut ayah kandung mu sendiri dengan hukuman seumur hidup. Kiran, bebaskan orang tua ku!"
"Hukuman ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang di rasakan oleh ibu di masa lalu. Sudah benar keputusan ku, aku tidak peduli dia orang tua ku jika dia salah harus tetap di hukum!" Sahut Kiran dengan sorot mata tajam.
Tidak ada yang membela Sika sekarang, bahkan ia tidak bisa bertemu dengan hasan dan Desi karena keduanya sudah kembali masuk ke dalam sel.
"Bagus ibu mu mati...!" teriak Sika, "wajar jika ibu ku balas dendam. Ibu mu sudah merebut ayah ku dari ibu ku!"
"Apa pun itu, ayah kita dan ibu mu adalah pembunuh!"
Kiran mengajak Marvel keluar dari ruang persidangan.Meskipun hatinya sangat sakit pada sang ayah, tapi setidaknya Hasan sudah mendapatkan hukumannya.
"Kiran,.....!!"
Sekali lagi, tiba-tiba saja Sika menyerang Kiran di luar ruangan. Kiran langsung tidak sadarkan diri saat pukulan Sika mengenai kepala Kiran.
Marvel yang pada saat itu sibuk mengobrol dengan pengacara sangat terkejut ketika sang istri sudah jatuh pingsan.
"Sayang bangun!" Marvel menepuk-nepuk wajah Kiran.
Melihat wajah Kiran yang pucat, Marvel semakin panik. Bergegas ia membawa Kiran pergi ke rumah sakit sedangkan Sika langsung di tahan oleh polisi atas tindakannya.
Setibanya di rumah sakit, Kiran langsung mendapatkan penanganan. Terlihat sekali jika Marvel sangat panik dan khawatir.
"Sika sudah di tahan oleh pihak kepolisian bos," ujar Jeff memberitahu Marvel.
"Jika Kiran sampai kenapa-kenapa, pastikan si Sikat Wc itu menderita seumur hidup!"
Tak berapa lama, seorang perawat keluar lalu meminta Marvel masuk kedalam. Kiran sudah sadar tapi ia masih lemas dan hanya bisa terbaring saja.
"Sayang, apa yang sakit? bilang sama mas."
"Kepala ku pusing mas," lirih Kiran.
"Selamat ya pak," ucap Dokter.
"Selamat? selamat atas apa? istri ku baru saja di pukul orang sampai pingsan kau malah mengucapkan selamat pada ku. Benar-benar mau mati Dokter yang satu ini...!" Marvel mencengkram leher Dokter tersebut.
"Pak, lepaskan. Sakit pak! bukan begitu maksudnya saya."
Dokter tersebut merintih kesakitan, satu orang perawat yang memanggil Marvel tadi tak berani buka suara apa lagi menolong Dokter Marvin.
"Lalu apa maksud mu hah?" tanya Marvel dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Mas lepas mas...!" Kiran berusaha melerai tapi tetap saja Marvel sudah naik emosinya.
"Mbak, tolong cari bantuan. Biasanya ada asisten suami saya di luar. Panggil dia masuk!" Kiran meminta tolong pada perawat.
Perawat tersebut langsung keluar, untung saja Jeff masih menunggu keluar.
"Mas tolong mas, ada keributan di dalam!" ujar mbak perawat.
Jeff sudah bisa menebak apa yang terjadi. Bergegas Jeff masuk kedalam ruangan.
"Bos lepas bos....bisa mati Dokter ini...!" Jeff menarik Marvel. Tapi, tenaga Jeff kalah kuat.
"Diam kau Jeff. Jangan ikut campur, Dokter sialan ini bisa-bisanya memberi ku selamat saat istri ku sedang sekarat."
"Pak lepas pak. Sakit pak!" mohon Dokter Marvin, "saya bisa menjelaskan semuanya."
"Akan ku buat kau di tendang dari rumah sakit ini," ujar Marvel.
"Ayo bicara baik-baik pak. Maksud saya selamat karena istri bapak sedang mengandung. Apa bapak tidak tahu?"
Jleb,....
Kedua tangan Marvel langsung lepas dari leher Dokter Marvin.
Uhuk....uhuk....uhuk....
"Apa maksud mu hah?"
"Dokter bilang istri bos hamil," ujar Jeff memperjelas.
"Istri ku hamil?" Marvel tidak percaya, "sayang, kau benar hamil kah?"
"Iya pak, istri bapak hamil. Makanya saya memberi selamat," ujar Dokter Marvin.
"Istri ku hamil, itu artinya aku akan segera menjadi seorang ayah. Jeff, benarkah begitu?"
"Benar bos. Bos akan menjadi seorang ayah."
Marvel yang bahagia bukannya memeluk Kiran malah memeluk Dokter Marvin.
"Jeff, bawa hutan pinus ini keluar. Aku pusing melihatnya!" pinta Kiran pada Jeff.
Mendengar suara istri, Marvel langsung mendorong Dokter Marvin.
"Sayang, kau hamil. Kita akan menjadi orang tua."
Marvel yang merasa tak bersalah malah berpindah memeluk istrinya.
__ADS_1
"Jeff, bawa dia keluar. Mata ku gatal kalau melihat suami ku!"
"B-baik bu....!"
Jeff menggaruk kepalanya tak gatal, di satu sisi Marvel mengancamnya di satu sisi Kiran terus memintanya. Pada akhirnya, Jeff yang memilih keluar.
"Dasar bos stresss!" umpat Jeff.
Sedangkan di dalam ruangan, Marvel masih sibuk mengungkapkan rasa bahagianya jika sang istri sedang berbadan dua.
"Pak, bisa duduk sebentar?" pinta Dokter Marvin, "mari kita bicara."
Marvel sangat kekanakan, ia tak mau jauh dari istrinya.
"Katakan saja, aku akan mendengarnya." Ujar Marvel.
"Hasil pemeriksaan dari Dokter Fadli, kepala ibu Kiran tidak mengalami cidera serius. Saya sendiri Dokter kandungan yang di minta Dokter Fadli untuk memeriksa istri bapak. Hasilnya positif, ibu Kiran sedang mengandung enam minggu." Tutur Dokter Marvin.
"Enam minggu?" Kening Kiran berkerut, "astaga, aku lupa jika bulan ini aku belum datang bulan. Seharusnya pertengahan bulan kemarin aku sadar, tapi kenapa aku malah lupa?"
"Kau benar-benar lupa atau tidak tahu sayang?" tanya Marvel.
"Jika di hitung dari masa haid terakhir, benar jika usia kandungan ibu Kiran sekarang memasuki enam minggu."
"Kau benar seorang Dokter kandungan kah?" tanya Marvel yang tiba-tiba tidak percaya.
"Ya pak, saya seorang Dokter kandungan."
Marvel memandang Marvin dati atas sampai ke bawah.
"Kau masih muda, sudah berapa lama jam terbang mu?" tanya Marvel seolah meremehkan.
"Saya sudah tujuh tahun bergelut dengan ibu hamil. Jika di bilang masih muda, terimakasih banyak pak. Maaf, umur saya sudah empat puluh dua!"
Mata Kiran terbelalak tidak percaya saat mendengar umur Dokter Marvin.
"Awet muda sekali...!" seru Kiran langsung mendapatkan lirikan tajam dari suaminya. Kiran yang sadar akan ucapannya langsung membuang muka.
Dokter Marvin juga langsung membuang pandangannya.
"Mengenai istri ku yang tidak sadarkan diri tadi, apa berefek pada kandungannya?" tanya Marvel terdengar serius.
"Saya sudah mengecek kandungan ibu Kiran. Semuanya sehat. Untuk sementara istri anda harus banyak beristirahat demi menjaga kandungannya karena usia kandungan muda itu sangat rentan sekali."
"Saya minta maaf atas kejadian tadi. Maklum, terbawa emosi dari persidangan tadi." Marvel dengan gagahnya meminta maaf. Kiran yang mendengar hal tersebut merasa lega.
"Saya mengerti pak. Kalau begitu saya akan buatkan resep dulu untuk istri bapak."
__ADS_1