
Marvel memandang ke sekelilingnya setelah beberapa saat mereka masuk ke dalam cafe. Wajahnya mendadak dingin dengan mata yang sedikit menyipit. Beda lagi dengan wajah Kiran yang tampak senang.
"Tidak ada tempat lain untuk bersantai kah?" tanya Marvel sedikit berbisik, "kitakan bisa pergi ke restoran mewah yang lebih privasi."
Kiran memutar bola matanya malas, mendengus kesal pada Marvel.
"Aku iri pada mereka yang memiliki waktu muda untuk bersantai seperti itu. Mereka bermain bersama teman seumuran, pergi jalan-jalan dan bisa membuat cerita. Lagian, apa salahnya sih, jika kita duduk di sini sebentar?"
Tidak ingin membuat Kiran kecewa, pada akhirnya Marvel menurut saja. Marvel tidak ingin Kiran mengingat hal yang menyedihkan jika sedang bersama dengannya.
"Ya sudah, terserah kamu. Mas nurut aja!"
"Gitu dong, itu namanya baru ayang!" sahut Kiran dengan senyum lebarnya.
Marvel gemas, ingin sekali mengigit pipi sang istri.
Mereka hanya memesan minuman untuk sekedar menikmati suasana malam di tepi pantai di temani irama musik.
Entah kenapa sejak tadi wajah Kiran berubah masam, tentu saja hal tersebut membuat Marvel heran.
"Kamu kenapa?" tanya Marvel penasaran, "kok wajahnya cemberut dari tadi?"
"Gak kenapa-kenapa!" jawab Kiran ketus.
Marvel kembali diam, sejenak berpikir salah apakah dirinya kali ini.
"Mas, ganteng banget. Boleh kenalan gak?"
dua orang wanita tiba-tiba saja menghampiri Marvel mengajaknya untuk berkenalan. Mata Kiran langsung melebar bahkan darahnya yang sejak tadi sudah mendidih karena ia sadar jika Marvel sejak tadi menjadi objek pembicaraan para perempuan di cafe ini.
"Mbak, punya muka gak sih?" ujar Kiran kesal.
"Lah, kenapa situ marah?" tanya wanita tersebut dengan tatapan sinis, "bocah ingusan kok udah jadi simpanan sugar daddy!"
Kiran berdiri, menatap tajam ke arah wanita tersebut.
"Maaf ya mbak, yang jadi simpanan siapa hah? dia suami ku!" ucap Kiran dengan lantang agar semua orang tahu jika Marvel adalah suaminya.
__ADS_1
Marvel yang sejak tadi duduk diam langsung tersenyum bangga saat mendengar Kiran mengakuinya sebagai suami. Laki-laki ini ingin melihat bagaimana tanggapan Kiran jika ada perempuan lain yang menggodanya.
"Hidih,...mimpi kali kamunya!" ujar perempuan tersebut.
"Hahaha,...mungkin dia takut om nya berpaling ke kita kali beb!" sahut teman perempuan tersebut.
Kedua tangan Kiran sudah mengepal, panas sekali hatinya kalinya apa lagi mereka sekarang menjadi pusat perhatian semua orang.
Marvel yang melihat wajah merah Kiran langsung bangkit dari duduknya lalu merangkul pinggang sang istri.
"Dia istri ku!" ucap Marvel dengan tegas bahkan ia mengangkat tangannya dan tangan Kiran memperlihatkan cincin pernikahan, "di mana letak wajah kalian yang tanpa malu bahkan dengan gampangnya menggoda pria di depan umum seperti ini?"
Wajah kedua perempuan tersebut mendadak pias menahan malu.
"Kita kembali ke hotel!"
Marvel langsung mengajak Kiran pergi dari cafe. Sebelum keluar, Kiran berbalik badan lalu menjulurkan lidahnya mengejek kedua perempuan tersebut.
"Heh, sudah. Ayo pergi....!" kata Marvel yang merasa lucu dengan sikap Kiran.
Setibanya di hotel, Kiran langsung merebahkan diri di atas tempat tidur.
"Siapa yang cemburu?"
"Itu tadi pas di cafe. Kamu cemburukan kalau mas di goda sama perempuan lain?"
"Hidih,...ini si om bewok ngasal aja kalau ngomong. Aku tuh gak cemburu, cuma kesal aja kalau ada perempuan modelan begitu. Gak punya harga diri banget deh!" Kiran mengelak.
"Jujur aja, mas malah senang kalau kamu cemburu!"
"Udah ah, ngantuk. Mau tidur!"
"Main kuda-kudaan yuk!" ajak Marvel dengan nada menggoda.
Buru-buru Kiran menarik selimut, wajahnya memerah menahan malu jika mengingat dirinya yang sangat menikmati permainan suaminya.
"Main sama kuda sana! habis sudah segel ku di obok-obok!"
__ADS_1
Marvel tertawa mendengar ucapan Kiran. Bukannya menurut, Marvel malah naik ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimut. Tidak ingin melewatkan kesempatan bulan madunya, Marvel terus membajak lahan istrinya yang masih padat tersebut. Jika sudah begini, tentu saja Kiran tidak bisa melawan selain menikmati apa yang sudah terjadi.
Beda lagi dengan Gama yang sampai detik ini merasa dilema setelah pernikahan Kiran dan Marvel apa lagi sekarang ini ia sedang melihat foto Kiran dan Marvel yang sedang bulan madu. Senyum lebar milik Kiran, tangan Marvel yang merangkul pundak Kiran membuat Gama merasa sesak melihat sosial media milik Kiran yang baru-baru ini aktif kembali.
"Jika saja aku percaya pada mu dulu, mungkin saja kita masih sedekat dan sehangat dulu. Maafkan aku Kiran," ucap Gama penuh penyesalan.
"Aku sudah termakan ucapan Sika dan ibunya. Kenapa aku sebodoh itu?"
Huft,....
Gama hanya bisa menarik nafas panjang. Banyak perubahan yang Gama lihat dari Kiran yang sekarang. Kiran semakin cantik meskipun kalau ngomong suka sembarangan.
"Seharusnya kau tidak menikah dengan laki-laki ini. Aku yang menemani mu di kala kau susah, kenapa kau melupakan ku begitu saja?"
Timbullah rasa marah, cemburu dan rasa ingin memiliki dalam benak Gama. Entah kenapa pria ini tidak rela jika melihat Kiran bahagia dengan laki-laki lain selain dirinya.
Persahabatan mereka memang sudah lama bahkan sejak mereka kecil. Hal tersebut membuat Gama merasa tidak rela jika Kiran di miliki oleh orang lain.
Sama halnya dengan Sika, hatinya panas penuh dengan rasa iri dan dengki saat melihat foto-foto Kiran yang berada di hotel mewah bahkan di tempat yang bagus-bagus.
"Kamu kenapa?" tanya Desi heran.
"Lihatlah bu, enak sekali dia bisa liburan. Makan enak, tidur di hotel mewah. Aku juga mau bu!" rengek Sika.
"Jika kau mau, ibu bisa apa hah?"
"Aku ingin suami seperti Marvel yang tampan dan kaya."
"Kau cantik, kenapa tidak mencari laki-laki seperti Marvel?"
"Tidak, aku maunya Marvel. Dia sempurna dalam segala hal. Bu, kita harus membuat mereka bercerai."
"Kau lakukan sendiri, ibu tidak ingin membuat masalah dengan Marvel lagi." Desi menolak.
"Ayo lah bu. Jika aku berhasil nanti, ibu juga yang akan menikmatinya." Sika membujuk sang ibu.
"Ayah mu sangat membenci Kiran, ada baiknya kau menghasut ayah mu. Biarkan hubungan ayah dan anak itu semakin rusak, kita akan lebih mudah menghancurkan Kiran."
__ADS_1
"Kalau begitu, ibu yang seharusnya mulai terlebih dahulu. Ayah sangat menurut dengan ucapan ibu, nanti aku akan menambahkan bumbunya."
Desi menyetujui, demi kebahagiaan Sika apa pun akan ia lakukan. Di kamar Sika, ibu dan anak ini mulai mengatur rencana apa saja yang akan mereka lakukan demi menghancurkan hidup Kiran.