Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 43


__ADS_3

"Maaf sebelumnya pak, bapak ini siapa dan apa bapak kenal dengan saya?" tanya Kiran yang penasaran.


"Nama saya pak Yanto, saya orang kepercayaan ibunya mbak Kiran untuk menyimpan wasiat dari beliau terutama dari nenek mbak Kiran sebelum meninggal."


"Wasiat?" Kiran bingung, "wasiat maksud bapak apa ya?"


Pak Yanto kemudian mengeluarkan beberapa berkas.


"Ini sertifikat rumah dan tanah yang sudah saya balik nama atas nama mbak Kiran. Ini ada satu buku tabungan dengan dengan nominal yang tertera. Tabungan ini sebenarnya sengaja di simpan untuk biaya pendidikan mbak Kiran tapi, saya sudah berusaha menemui mbak Kiran tahun lalu tapi sayang kita tidak berjumpa." Pak Yanto menjelaskan, tentu saja hal ini membuat Kiran terkejut.


"Maaf pak, apa bapak serius mengenai hal ini?" tanya Marvel menyelidik.


"Saya serius!" ucap Pak Yanto begitu tegas, "sebenarnya sudah berulang kali pak Hasan dan ibu Desi datang pada saya untuk mengambil alih hak mbak Kiran."


"Jadi, rumah itu milik saya pak?" tanya Kiran tidak percaya.


"Iya mbak, coba baca dulu suratnya!"


Kiran tersenyum tipis, sekarang ia ada modal untuk sekedar menggertak Sika dan ibunya.


"Mulai sekarang saya serahkan apa yang menjadi hak mbak Kiran. Rasanya lega sekali karena saya sudah bisa melepas amanah ini. Yang lebih penting lagi, saya tidak di kejar-kejar lagi oleh pak Hasan dan ibu Desi."


"Terimakasih pan Yanto. Meskipun saya tidak pernah mengenal bapak, saya yakin jika bapak orang baik. Ambilah beberapa yang ada di tabungan ini saya ikhlas. Anggap saja ini rasa ungkapan terimakasih saya." Kata Kiran.


"Maaf mbak, saya tidak bisa. Terimakasih atas kemurahan hati mbak Kiran," tolak pak Yanto.


"Tapi kenapa pak?" tanya Kiran heran.


"Karena almarhum ibu dan nenek mbak Kiran sudah membayar mahal amanah ini pada saya."


"Tidak pak, ini berbeda. Ini langsung dari saya."


"Maaf mbak, saya tetap menolak. Yang di berikan pada saya sudah lebih dari cukup."


Kalau sudah begini, Kiran tidak bisa memaksa. Setelah mengurus semuanya untuk beberapa saat, pak Yanto pamit pulang setelah urusan selesai.


"Kenapa diam?" tanya Marvel heran.


"Aku merasa aneh kenapa ibu dan nenek menyimpan semua ini ke orang lain, bukan kepada ayah."


"Bukannya mamah ingin ikut campur masalah keluarga mu. Tapi, mamah yakin jika ada sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu hingga membuat mereka tidak percaya pada ayah mu."


"Sudah. Tidak usah di pikirkan," ucap Marvel. Marvel melirik jam yang melingkar di tangannya, "sayang, ayo pergi. Simpan dulu harta mu itu."


"Mas, aku ingin mengecek tabungan ini."


"Iya, sekalian saja!"


Marvel menunggu Kiran di luar, tak berapa lama Kiran keluar dan langsung masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Kiran terus memandangi buku tabungan yang ada di tangannya. Hatinya sangat geram sekali jika membayangkan kehidupannya dulu yang begitu susah.


"Andai saja masalah malam itu tidak terjadi, pasti sekarang aku akan sama seperti teman-teman ku. Kuliah!" ucap Kiran.


"Tapi, berkat masalah itu akhirnya mas bisa menikahi mu!"


"Dan itu sangat tidak ku impikan!" sahut Kiran kesal.


"Namanya jodoh mau bagaimana lagi? kamu menyesalkah?" tanya Marvel.


"Ya gak nyesal juga sih. Hidup ku sekarang enak, tidak kekurangan duit dan bisa membeli apa pun yang aku mau sekarang."


"Mas suka kejujuran mu!" ucap Marvel dengan tersenyum lebar.


"Ngapain juga munafik. Meskipun kebahagiaan tidak bisa di beli dengan uang, tapi nyatanya hidup akan bahagia jika ada uang."


"Kata-kata mu selalu tepat. Ayo turun,...!"


Marvel dan Kiran masuk ke dalam salah satu bank terdekat untuk memastikan isi tabungan tersebut. Kiran merasa sedih dan terharu karena sang ibu ternyata sudah menyiapkan semua ini sebelum meninggal.


"Cemberut lagi, kenapa hemm?"


"Andai ibu masih hidup mas!" lirih Kiran.


"Jangan sedih, Tuhan tahu yang terbaik untuk mu!"


"Aku ingin pulang mas ke rumah ku mas," ujar Kiran tiba-tiba bersemangat.


"Aku ingin mengejek mereka, setidaknya aku ingin melihat wajah mereka saat mereka tahu aku sudah memegang rumah itu."


"Mas mendukung mu sayang. Kita pergi sekarang!" ujar Marvel langsung melajukan mobilnya.


Kurang lebih lima belas menit perjalanan, pada akhirnya Marvel dan Kiran tiba di rumah yang sudah lama di tinggalkan oleh Kiran.


"Bu, mau ngapain curut itu kemari?"


"Mungkin saja mau minta maaf sama ayahnya," jawab Desi.


Tanpa permisi Kiran langsung masuk kedalam rumah tanpa menghiraukan Sika dan Desi.


"Dasar tidak sopan, masuk ke rumah orang tanpa salam dan permisi. Gini nih kalau sekolahnya sampai gerbang aja!" ucap Sika dengan nada geramnya.


"Aku masuk ke rumah ku sendiri, kenapa aku harus berbasa basi pada kalian yang menumpang?"


Desi dan Sika tidak terima.


"Ayah,...ayah,....ayah....!" Sika berteriak memanggil Hasan.


Tak berapa lama Hasan keluar dari arah belakang.

__ADS_1


"Ada apa Sika, kenapa kau berteriak hah?" tanya Hasan heran.


"Lihat, siapa yang datang. Anak dan menantu yang tidak memiliki sopan santun!" ujar Sika.


Marvel diam saja sambil menatap Sika dengan tajam.


"Mau apa kalian ke rumah ku hah? apa kalian tidak puas sudah mempermalukan ku?" emosi Hasan mulai naik.


"Rumah ku?" Kiran mengulang perkataan ayahnya, "bukankah rumah dan tanah seluas lima tiga hektar ini milik ku?"


Deg,....


Hasan dan Desi saling lirik.


"Jangan mengada-ngada kau Kiran. Hai kau Marvel, ajak istri mu pergi dari sini...!" titah Hasan pada Marvel.


"Aku hanya menemaninya,Kiran rindu rumahnya jadi aku mengantar dia ke sini," sahut Marvel.


"Ayah berani mengusir ku, bagaimana jika aku yang mengusir ayah beserta istri dan anak kesayangan ayah ini?"


"Siapa kau yang berani mengusir ku hah?" suara Hasan menggema, "dasar anak durhaka!"


"Lebih baik kau pergi sekarang Kiran. Rumah ini bukan tempat mu lagi, pulang ke rumah suami mu!" ujar Desi ikut bicara.


"Ini rumah ku, peninggalan almarhum ibu dan nenek ku. Seharusnya aku yang mengusir kalian dari rumah ini."


"Apa maksud mu hah?" tanya Hasan dengan wajah panik.


"Sertifikat rumah dan tanah beserta tabungan satu miliyar sudah berada di tangan ku. Tak ku sangka jika ibu sudah mempersiapkan semuanya untuk ku. Entah apa yang terjadi di masa lalu hingga ibu tidak percaya pada ayah?"


"Tabungan satu miliyar?" Sika tercengang.


"Yah, tak ku sangka juga ternyata selama ini ibu mu berusaha mengambilnya. Lucu sekali....!"


"Sayang, kau kaya sekali. Uangnya bisa kau gunakan untuk liburan loh!" ujar Marvel mengompori.


"Oh, tentu saja. Mari kita pergi bulan madu untuk kedua kalinya!" sahut Kiran.


"Ingat Kiran, aku ayah mu juga berhak atas rumah ini," ucap Hasan dengan lantang.


"Tapi sayang, semua sudah tertulis atas nama ku. Jadi, aku meminta pada kalian semua dalam waktu satu minggu kosongkan rumah ini...!" ucap Kiran dengan wajah marah.


"Kurang ajar, sialan kau Kiran. Pergi kau dari rumah ini...!" Sika mengamuk.


"Tanpa kau usir sekali pun aku akan pergi. Dan jangan lupa untuk mengosongkan rumah ini jika tidak....!"


"Jika tidak apa hah?" sentak Hasan.


"Aku akan mengirim orang untuk menyeret kalian keluar!" jawab Kiran kemudian menarik tangan Marvel mengajaknya pergi.

__ADS_1


Paniklah Hasan, pria ini terduduk lemas sekarang. Sekian tahun ia merahasiakan masalah ini pada akhirnya Kiran mengetahuinya juga.


__ADS_2