
"Mas,kenapa kepala ku sangat pusing pagi ini?"Kiran memijat keningnya sendiri.
"Kamu sakit?" tanya Marvel mendadak panik, "mas bilang juga apa, gak usah kamu pikirin masalah ayah mu itu."
Marvel membenarkan posisi tidur istrinya.
"Aku ingin mandi," ucap Kiran sembari menyibakkan selimutnya.
Marvel melirik jam yang menempel di dinding kamarnya.
"Sayang, ini masih sangat pagi. Lihat tuh, masih pukul lima pagi."
"Aku mau mandi mas," rengek Kiran.
"Ya udah, kamu tunggu di sini dulu. Mas siapin air hangatnya!"
"Gak usah mas!" tolak Kiran, "aku mau mandi air dingin saja!" Ucapnya membuat Marvel kaget.
"Eeeeh,....nanti kalau kamu masuk angin bagaimana?" Marvel khawatir.
"Ya ampun mas, apa kamu lupa jika setiap malam kau memompa ku? sudah pasti banyak angin yang masuk dalam tubuh ku!" canda Kiran kemudian turun dari atas ranjang.
"Sayang, wajah kamu pucat loh. Kalau kamu sakit, gak usah mandi. Nanti sakitnya tambah parah."
"Mas, aku hanya ingin mandi. Kenapa sih banyak cincong?"
Nada bicara Kiran sedikit meninggi. Entah kenapa wanita ini tiba-tiba saja menangis seperti anak kecil.
"Sayang, kenapa kau menangis? mas salah apa?" Marvel panik.
"Aku hanya ingin mandi air dingin. Tapi, kenapa di larang?"
Kiran menangis sesegukkan.
"Ya sudah. Kalau kamu mau mandi, pergilah mandi sayang!" Kata Marvel sambil mengusap kepala istrinya namun di tepis oleh Kiran.
Tanpa banyak tanya dan bicara, Kiran langsung pergi ke kamar mandi. Marvel hanya bisa menatap istrinya dari tempat tidur mereka.
"Dia itu kenapa sih? aneh sekali. Mimpi apa istri ku semalam?"
Marvel bergeleng kepala.
Kurang lebih setengah jam Kiran berada di kamar mandi. Tak berapa lama ia keluar dengan wajah yang semakin pucat.
"Sayang, kau semakin pucat. Ayo sini, naik ke atas tempat tidur." Marvel sebenarnya panik, tapi ia tak berani banyak bicara.
Kiran menurut saja, ia naik ke atas tempat tidur.
"Kenapa kepala ku masih pusing?" keluh Kiran.
"Mas bikinin teh hangat dulu ya...!"
__ADS_1
"Gak mau ah!" tolak Kiran, "aku mau minum jus naga aja!"
Mata Marvel terbelalak.
"Sayang, jangan aneh-aneh. Kemana suami mu ini mencari naga? lagian, mas gak akan bisa menangkap naga itu, yang ada mas di sembur sama apinya."
Kiran membuang nafas kasar, melirik tajam ke arah suaminya.
"Aku tidak ingin bercanda pagi ini mas!" ucap Kiran datar.
Kening Marvel berkerut, menatap heran pada perubahan istrinya pagi ini.
"Hehe,...!" kekeh Marvel, "iya. Mas pergi ke dapur dulu!"
Kiran tidak menanggapi suaminya, ia malah memejamkan matanya untuk sekedar meredakan rasa sakit di kepalanya.
Sepuluh menit kemudian, Marvel sudah kembali ke kamar dengan membawa segelas jus buah naga dan roti bakar isi keju kesukaan Kiran.
"Sayang, pesanan sudah siap!" ucap Marvel yang bangga pada dirinya sendiri karena bisa melayani istrinya dengan baik.
Kiran bangun, ia bersandar di sandaran tempat tidur. Marvel langsung memberikan segelas jus pesanan sang istri.
Kiran langsung menyeruput jus tersebut hingga tersisa setengah gelas. Marvel semakin aneh melihat tingkah istrinya pagi ini.
"Rotinya di makan dulu," ujar Marvel sembari menyodorkan piring yang berisi potongan roti.
"Aku tidak meminta roti. Lalu, kenapa aku harus memakannya?"
"Bawa kembali ke dapur, aku enek melihatnya!" titah Kiran lalu memalingkan wajahnya.
Marvel menggaruk kepala tak gatal, tanpa banyak bertanya pria ini langsung kembali ke dapur.
"Heran, kenapa istriku itu mendadak aneh. Ketempelan jin dari manakah dia?"
Dari dapur, Marvel kembali ke kamarnya lagi. Ia langsung pergi mandi. Sebenarnya pagi ini Marvel ada jadwal meeting. Tapi, melihat keadaan Kiran ia harus membatalkan meeting tersebut.
"Sudah pukul delapan. Sayang, kau ingin makan apa?" tanya Marvel hati-hati karena sejak bangun Marvel selalu di marahi oleh istrinya.
"Apa sih? aku gak mau makan. Toh, kalau lapar juga nanti makan." Kiran menjawab dengan sinis dan wajah dingin.
"Kamu ini sebenarnya kenapa?" tanya Marvel yang sudah habis kesabaran, "kamu minta apa? ngomong sama mas, jangan seperti ini. Perasaan kalau kamu minta apa aja mas turutin."
"Mas bentak aku?" tanya Kiran dengan mata berkaca-kaca.
"Eh, mas gak bentak kamu. Mas hanya bertanya kok!"
"Bilang aja kalau mas gak suka sama aku!" Ucap Kiran di iringi air matanya yang keluar.
"Loh...loh,...sayang. Kenapa kau menangis?"
Marvel langsung memeluk istrinya, tapi Kiran mendorong tubuh suaminya.
__ADS_1
"Kalau ada idaman hati yang lain ngomong. Jangan membentak ku. Hati ku terlalu lembut untuk di bentak!"
"Cuma kamu idaman hati mas. Kamu tahu sendiri mas yang ngejar-ngejar kamu."
"Aku sadar diri orang miskin hidup sebatang kara. Kalau mau menyakiti ku, sok silahkan. Aku kuat kok!"
Tangis Kiran semakin kencang. Marvel yang bingung hanya bisa menggaruk kepalanya tak gatal.
"Dia ini aneh. Akunya ngomong apa dia ngomong apa. Gak nyambung!" batin Marvel.
Kiran masih menangis.
"Sayang, maafin mas ya!" Ucap Marvel kembali memeluk istrinya, "mas yang salah. Ah, apaan sih mulut ini nakal!"
Marvel mencubit mulutnya sendiri.
"Aku mau tidur. Kepala ku pusing!"
"Iya sayang. Ayo tidur, mas temani kamu!"
Marvel pun menemani Kiran tidur hingga sang istri terlelap begitu saja. Melihat Kiran yang sudah terlelap, Marvel langsung turun dari atas tempat tidur.
"Labil!" seru Marvel sambil menatap sang istri, "lagi dapat kah? eeeh....gak mungkin. Tadi malam baru aja main dua ronde. Aaah,...biasanya juga lima ronde. Kenapa Kiran menolak ya tadi malam? tuh kan, pisang ku jadinya belum masak wong cuma di babat dua ronde!"
Marvel menggelengkan kepala, pria ini keluar dari kamarnya.
"Mas, ada mas Jeff di bawah!" Ujar mbok Rumi memberitahu.
"Iya mbok!"
Marvel turun menemui Jeff, tampak sekali wajah Jeff terlihat kesal.
"Berani sekali kau memasang wajah buruk rupa di hadapan ku Jeff!"
"Eeh,.. maaf tuan bos!" Ucap Jeff.
"Kenapa kau ke sini?" Tanya Marvel.
"Tanda tangan berkas bos. Kenapa tidak pergi ke kantor bos?" tanya Jeff penasaran.
"Istri ku sedang rewel sejak bangun tidur. Entahlah, aku juga tidak tahu dia kenapa."
"Pasti gak di beri jatah!" seru Jeff.
"Sialan kau!" umpat Marvel, "kami main hanya dua ronde. Dia berhutang tiga ronde pada ku!"
"Lah kok rewel, kenapa dong?" tanya Jeff penasaran.
"Yo gak tahu, kok tanya saya. Coba kau bangunkan Kiran sana, tanya sama dia. Aku yakin jika tenggorokan mu akan di lepas sama dia."
"Kok ngeri begitu bos?"
__ADS_1
"Pergi sana!" usir Marvel yang sudah selesai menandatangani semua berkas yang di bawa Jeff.