Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 60


__ADS_3

"Sayang, kamu pengen makan apa hari ini?" Tanya Marvel, sebisa mungkin ia harus memanjakan istri kesayangannya ini.


"Aku pengen makan sate ayam mas!" Jawab Kiran tanpa berpikir panjang.


"Ok. Mas beli akan pergi membelinya."


"Gak, aku mau sate yang di beli."


"Lalu, sate seperti apa yang kamu mau?"


"Aku mau sate ayam yang di masak sama pak botak. Tetangga depan rumah kita!"


Seketika Marvel tercengang mendengar permintaan sang istri.


"Sayang,...!" Wajah Marvel mulai melas, "kamu tahu sendiri pak botak itu orangnya galak!"


"Aku gak mau tahu. Kalau mas gak mau mengabulkan permintaan ku, aku gak mau makan." Kiran merajuk.


Marvel menggaruk kepala tak gatal, hari minggu yang semula cerah mendadak suram.


"Istri kalau ngidam itu harus di turuti Marvel. Kalau gak, anaknya nanti ileran. Kamu mau anak kamu ileran?" Dona menyambung.


"Mah, mamah tahu sendiri pak Rizal itu bagaimana orangnya. Susah di ajak kerja sama!"


"Usaha aja belum udah ngeluh duluan. Ya udah kalau gak mau, aku gak mau makan!" Kiran yang merajuk langsung pergi ke kamarnya.


Marvel semakin bingung, mau tidak mau Marvel pergi ke rumah pak Rizal. Langkah Marvel berat, untung saja yang minta Kiran, jika orang lain sudah pasti akan di tolaknya.


"Pagi pak Rizal..." Sapa Marvel dari balik pagar besi.


"Pagi...!" Balas pak Rizal singkat, "ada apa?" Tanyanya ketus.


"Bisa kita bicara pak?" Ujar Marvel.


"Seberapa penting?" Tanya pak Rizal sungguh membuat nyali Marvel menciut.


"Buka pagarnya dulu pak!" Pinta Marvel sambil tersenyum cengir.


Pak Rizal mematikan selang airnya, ia berjalan membukakan pagar rumahnya.


"Ganggu orang saja. Biasanya gak pernah juga main kesini...!" Singgung pak Rizal di depan wajah Marvel, "ada apa?" Tanya pria tanpa rambut tersebut.


"Istri saya ngidam pak!" Ujar Marvel tanpa basa basi.


Pak Rizal mengerutkan keningnya bingung.


"Istri kamu yang ngidam, kenapa kamu laporan sama saya?"


"Anu pak,...!" Marvel berdebar, ia menggaruk kapalnya tak gatal, "anu pak....!"

__ADS_1


"Anu apa?" Sentak pak Rizal, "cepat ngomong. Jangan buang-buang waktu saya!"


"Anu pak, istri saya mau makan sate ayam tapi pak Rizal yang harus membakarnya!"


"Loh, ngaco kamu ini. Kenapa jadi saya? yang bikin kamu kok saya yang di suruh bakar sate. Aneh!"


Marvel menangkupkan kedua tangannya.


"Tolong saya pak. Kiran merajuk gak mau makan kalau gak bapak sendiri yang bakar satenya. Pak, kasihan istri dan anak saya pak."


"Gak, buang-buang waktu saya saja!" Tolak pak Rizal.


"Berangkatlah pak, kasihan mbak Kiran. Bapak gak ingat bagaimana ibu hamil dulu?" Sambung bu Melati, istri pak Rizal.


Pak Rizal melirik istrinya lalu membuang nafas kasar.


"Iya,...iya,...!" Ujar pak Rizal membuat Marvel bisa bernafas lega.


"Maaf kalau saya merepotkan pak!" Ucap Marvel sambil cengengesan.


"Ya memang merepotkan!" Seru pak Rizal membuat Marvel menelan ludahnya.


"Jangan gitu pak, bapak mau jatah malam ini di kurangi?" Ancam bu Melati seketika membuat pak Rizal takut.


Mau tidak mau pak Rizal pergi ke rumah Marvel, ia tidak berani protes lantaran sang istri juga ikut mengekor di belakangnya.


Mbok Rumi langsung menyiapkan semua bahan dan peralatan masak. Kiran yang melihat pak Rizal langsung tersenyum lebar.


"Lebar banget, selebar harapan ku!" Ujar Kiran membuat Marvel bingung.


"Apanya yang lebar?"


"Kepala pak Rizal!" bisik Kiran.


Kemudian Kiran menghampiri pak Rizal yang sedang menyiapkan bara api. Bu Melati sibuk mengobrol dengan mamah Dona.


"Mas,...mas sini....!" Kiran memanggil suaminya.


"Iya, ada apa?" Tanya Marvel menghampiri sang istri.


"Elusin kepala pak Rizal dong mas. Aku gemes nih...!" Pinta Kiran sungguh membuat Marvel kaget.


"Sayang, gak sopan itu namanya!" kata Marvel.


"Mbak Kiran pikir, kepala saya ini bola?" Pak Rizal dongkol.


"Udah deh pak, ibu hamil di tururin aja. Kasihan anaknya!" Sahut bu Melati.


"Ah, kalian semua ini ada-ada saja!"

__ADS_1


"Ayo dong mas, aku gemes nih!" rengek Kiran.


"Aduh jeng, maafkan menantu ku itu ya!" Ucap mamah Dona tidak enak hati.


"Ah, biasa aja jeng. Saya suka mengelus kepala suami saya kalau kami sedang membajak sawah," ucap bu Melati tanpa merasa malu.


"Pak, maaf ya...!" ucap Marvel dengan terpaksa mengelus kepala botak pak Rizal.


Terlihat sekali jika Kiran merasa senang melihat sang suami mengelus kepala pak Rizal sedangkan Marvel dan pak Botak merasa tertekan.


"Sayang, udah ya!" Ujar Marvel.


"Hem, iya mas. Terimakasih suami ku!"


"Mbak Kiran, besok ngidamnya minta gendong aja sama pangeran kodok!" Ujar pak Rizal yang sudah kesal.


"Wah, ide bagus. Terimakasih idenya pak. Saya jadi pengen berenang di atas punggung mermaid alias putra duyung!"


Jleb,....


Marvel langsung membuang wajahnya, pura-pura tidak mendengar ucapan sang istri.


Tak berapa lama, sate ayam ala pak Rizal sudah matang. Kiran makan dengan lahap, bahkan habis tak bersisa. Pak Rizal yang semula dongkol dan kesal, berubah senang dan bangga karena hasil jerih payahnya di hargai oleh Kiran.


Pak Rizal dan bu Melati pamit pulang. Marvel langsung bernafas lega karena kemauan sang istri akhirnya keturutan juga.


"Udah siang, kamu mandi ya!" Ujar Marvel.


"Ayo, tapi mas mau kan jadi putra duyungnya?"


"Sayang,....!" Marvel lemas.


"Mah, mas Marvel nih mah!" Kiran mengadu.


"Marvel,.....!"


"Iya...iya mah....!"


"Yeeeee,.....!" Seru Kiran senang.


"Mas pesan bajunya dulu!" Ujar Marvel.


Bahagianya hidup Kiran, rumah tangganya penuh dengan warna meskipun ia keadaan keluarganya hancur berantakan. Kiran merebahkan diri di atas tempat tidur, untuk sekedar menunggu waktu pesanan baju putra duyungnya datang.


"Ayah memang tidak memberikan kasih sayang pada ku. Tapi, setidaknya aku masih bisa merasakan kasih sayang dari suami ku," ucap Kiran membuat Marvel tersenyum.


"Membuat mu bahagia adalah tugas ku sayang!"


Marvel mengecup kening istrinya dalam, rasa cintanya sungguh besar sekali pada Kiran.

__ADS_1


"Jangan lupa tugas sebagai putra duyung ya sayang." Kiran mengingatkan.


"Iya,...iya....!!"


__ADS_2