Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 83


__ADS_3

"Kalau boleh tahu, apakah adik anda memiliki trauma di masa lalunya?" Dokter bertanya pada Doris.


"Saat ibu kami meninggal, adik saya masih berumur delapan tahun. Adik saya depresi atas meninggalnya ibu saya Dok."


"Lantas, siapa Kiran?" Dokter bertanya lagi.


"Kiran adalah teman masa kecil adik saya Dok. Mereka tumbuh besar bersama. Sejak kehadiran Kiran lah adik saya kembali bersemangat."


"Di mana Kiran sekarang?"


"Kalau tidak salah, Kiran sudah menikah. Selebihnya saya tidak tahu lagi Dok."


Huft......


Dokter menarik nafas panjang.


"Kemungkinan adik anda memiliki trauma takut kehilangan. Biasanya, hal seperti ini membuat si penderita terobsesi pada sesuatu yang sangat ia takuti, jika suatu saat akan sesuatu tersebut hilang dari kesehariannya."


"Jadi, menurut Dokter adik saya depresi akibat di tinggal oleh Kiran?" tanya Doris tidak percaya.


"Bisa jadi. Kalau bisa, pertemukan mereka. Sepertinya ada sesuatu yang ingin di sampaikan oleh adik anda."


Doris menghela nafas panjang lalu bersandar di sandaran kursi dengan wajah lesu.

__ADS_1


"Baik Dok. Akan saya usahakan," ucap Doris kemudian pamit pergi.


Doris pergi ke toko kue Fani karena ia ingat jika Gama pernah bercerita tentang toko kue manis manja.


Pada awalnya Fani tidak mau memberikan alamat tempat tinggal Kiran. Tapi, setelah mendengar keadaan Gama, mau tidak mau Fani memberitahu Doris.


Doris bergegas pergi ke rumah Marvel. Setibanya di sana ia mendapatkan tatapan tajam tak suka dari Marvel.


"Tolong maafkan Gama. Aku sudah mendengar semua cerita Fani tentang Gama. Aku benar-benar tidak tahu apa yang di lakukan Gama di luar karena aku sibuk bekerja untuk membiayai pendidikannya," tutur Doris.


"Adik mu itu sakit jiwa," ucap Marvel berterus terang, "bisa-bisanya dia ingin menggugurkan anak ku."


"Aku benar-benar minta maaf. Tapi Gama sakit sekarang."


"Aku sudah tidak mau berurusan dengan adik mu lagi. Pergilah!" usir Marvel.


"Lalu, di mana Gama sekarang kak?" tanya Kiran khawatir, biar bagaimana pun Gama pernah baik padanya.


"Ada di rumah sakit," jawab Doris yang berharap jika Kiran mau menjenguk Gama.


"Aku tidak begitu jahat juga jadi manusia. Jadi, untuk pertama dan terakhir kalinya Kiran dan Gama boleh bertemu," ujar Marvel.


"Terimakasih mas," ucap Doris senang, "aku janji setelah ini akan memperhatikan Gama dan aku berjanji tidak akan membiarkan Gama mengusik Kiran lagi."

__ADS_1


Marvel hanya mengiyakan, kemudian Marvel dan Kiran pergi mengikuti Doris.


Setibanya di rumah sakit, mereka langsung masuk ke dalam ruangan Gama. Saat melihat Marvel, Gama langsung menutup wajahnya dengan bantal.


"Gak,...gak mau ketemu Kiran," ucap Gama seolah ketakutan.


"Gama, ini Kiran. Katanya kamu mau ketemu sama Kiran," ujar Doris yang berusaha membujuk Gama.


"Gak mau ketemu Kiran. Aku gak mau ganggu Kiran, aku minta maaf."


Kiran hanya diam saja melihat keadaan Gama. Ia sendiri tidak tahu harus melakukan apa untuk Gama sedangkan dirinya masih sedikit trauma untuk bertemu dengan Gama.


"Kiran pergi aja. Aku gak mau lihat Kiran lagi," ucap Gama mengusir.


"Kami pergi dulu," ujar Marvel langsung mengajak Kiran keluar dari ruangan tersebut.


Doris mencoba bicara dengan adiknya.


"Kiran sudah pergi. Ayo cerita sama kakak."


Gama membuka wajahnya.


"Aku bersalah sama Kiran kak. Harusnya aku ikut bahagia saat melihat Kiran bahagia."

__ADS_1


"Iya, seharusnya begitu. Maafkan kakak ya Gama, kakak tidak pernah memperhatikan kamu dek."


Doris mengusap kepala Gama, sedih rasanya melihat keadaan Gama yang sekarang. Doris merasa bersalah pada adiknya karena selama ini sudah tidak peduli dengan keadaan Gama. Ia sendiri hanya sibuk bekerja dan bekerja demi membiayai pendidikan Gama.


__ADS_2