Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 67


__ADS_3

"Mau ngapain kamu kesini hah?" tanya Fani menghentikan laju motor Gama saat menuju arah rumah Marvel.


"Aku ingin bertemu Kiran. Mbak gak bisa halangi aku begini," ujar Gama tidak terima.


"Kiran sudah bahagia sama Marvel. Jangan ganggu dia!"


"Om Hasan tidak merestui Kiran dan Marvel. Jadi, aku berhak merebut Kiran dari om Marvel!"


Fani tertawa sinis, menatap bodoh pada Gama.


"Ingin ku blender otak mu ini Gama. Bisa-bisanya kau berpihak pada orang-orang yang tidak waras."


"Om Hasan adalah orang tua Kiran. Pernikahan tanpa restu sudah pasti tidak akan pernah bahagia," ucap Gama dengan bodohnya.


"Bodohnya kau ini Gama!" Seru Fani geram, "jika Kiran tidak bahagia, kenapa dia hamil sekarang?"


"Bisa jadi om Marvel memaksa Kiran. Aku tahu betul bagaimana Kiran sangat membenci om Marvel."


"Terserah kau Gama. Pergi sana! Jangan ganggu Kiran!"


Fani kembali masuk ke dalam mobil lalu melanjutkan perjalanan menuju rumah Marvel.


Setibanya di sana, Fani dan Kiran menuju taman kecil kemudian duduk di saung.


"Tadi mbak ketemu Gama di jalan. Kamu harus hati-hati sama dia loh," ujar Fani memberitahu.


"Kenapa memangnya?" tanya Kiran heran.

__ADS_1


"Dia bilang akan merusak rumah tangga mu dan Marvel. Mbak gak terima jika kebahagiaan kamu di usik."


"Lah, kok gitu mbak?" Kiran semakin heran.


"Ayah mu sendiri yang menyuruh Gama untuk merusak rumah tangga mu. Benar-benar keterlaluan!" Fani geram sendiri.


"Aku masih tidak habis pikir sama ayah. Padahal aku anak kandungnya, tapi kenapa dia tega sekali sama aku?"


Kebencian Kiran semakin bertambah untuk ayahnya.


"Apa hubungan mu dengan Marvel baik-baik aja?" tanya Fani tampak khawatir.


"Kami baik-baik saja. Meskipun usia kami berselisih jauh, tapi mas Marvel bisa mengimbangi aku."


"Benar ya kata orang, benci itu bisa berubah menjadi cinta."


"Suami mu pasti sudah cerita ya?"


"Tega banget gak kasih tahu aku!" rajuk Kiran.


"Lah, ini juga mau cerita!" Seru Fani.


Kiran dan Fani mengobrol, membahas tentang pernikahannya dan Jeff. Marvel hanya memantau dari dalam rumah. Marvel sadar jika sang istri selama ini tidak memiliki teman selain Fani.


"Lihat apa?" tanya mamah Dona mengejutkan Marvel.


"Aku baru sadar jika selama ini Kiran tidak memiliki teman. Dia kelihatan bahagia sekali saat ada teman mengobrol."

__ADS_1


"Tapi, yang mamah lihat selama ini Kiran tampak biasa saja. Mungkin dia sudah terbiasa tanpa teman."


"Betapa beruntungnya aku bisa memiliki Kiran. Dia perempuan yang kuat dalam segala hal," ucap Marvel yang sampai detik ini masih kagum pada istrinya.


"Halah, bilang aja kamu suka dapat daun muda!" goda mamah Dona.


"Apa sih mah? Lagi serius juga!"


"Udah sana pergi, gak usah nguping!"


Marvel kembali ke kamar, ia tidak mau mengacau sang istri. Meskipun sebenarnya Marvel sudah seperti cacing kepanasan karena ia tidak bisa jauh dari Kiran.


Sementara itu, nasib Sika saat ini sama seperti Hasan dan Desi. Bedanya sekarang adalah mental Sika yang sudah terganggu. Sika berada satu sel bersama dengan ibunya. Hampir setiap hari Sika berteriak tidak jelas.


"Jika kamu masih berteriak tidak jelas, saya akan membuang kamu ke rumah sakit jiwa." Ancam petugas penjara.


Sika langsung memeluk ibunya, ia ketakutan.


"Sudah Sika, jangan takut. Ada ibu di sini," ucap Desi menenangkan anaknya, "kenapa nasib kita menjadi seperti ini sekarang?"


Desi menangis sambil memeluk Sika.


"Itu semua karma. Aku masuk penjara karena mencuri, sedangkan kau lebih parah lagi. Perempuan sakit jiwa!" Ujar salah seorang tahanan.


"Iya, ibu dan anak sama-sama jahat. Nikmati karma kalian," timpal tahanan yang lain.


"Huuuu,....pembunuh!" Mereka menyoraki.

__ADS_1


Desi dan Sika tak melawan, jika mereka melawan sudah pasti mereka akan di hajar oleh tahanan yang lain. Desi hanya bisa diam, sampai detik ini pun ia belum juga menyesali perbuatannya.


__ADS_2