
Mata Marvel mendadak cerah seperti lampu jalan saat melihat sang istri yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut basah.
"Wah, sayang mas udah keramas ya?" Marvel menghampiri Kiran, bertanya dengan wajah penuh dengan hasrat.
"Apaan sih mas, bikin geli aja lihat mata mu itu."
"Mas lapar nih sayang!"
"Lapar ya makan!" seru Kiran.
"Maksud mas lapar untuk menggigit kamu!"
Kiran mengangkat kedua bahunya, mengumpat kecil yang bahkan suaminya sendiri tidak bisa mendengarnya.
"Sayang, malam ini ya. Lima ronde saja!" bujuk Marvel.
"Di kata main catur kali...!"
Melihat sikap sang istri, Marvel langsung mengeluarkan jurus andalannya. Segala macam rayuan begitu menggelikan di telinga Kiran.
"Mas bewok, sayang gak sama aku?" tanya Kiran tiba-tiba.
"Sama istri sendiri, sudah pastilah sayang. Kenapa sih kamu bertanya seperti itu?"
"Mas mau bantu masalah ku gak?"
"Masalah yang mana?" tanya Marvel bingung.
"Aku penasaran sama latarbelakang tante Desi. Apa mas mau bantu aku?"
"Bantu untuk mengorek latar belakangnya?" Tebak Marvel.
"Aku tiba-tiba penasaran aja sama masa lalu tante Desi dan siapa ayah kandung Sika sebenarnya."
"Masa iya kamu gak tahu apa-apa tentang ibu tiri mu itu?" tanya Marvel heran.
"Tidak mas, yang aku tahu tante Desi memang berteman dengan ibu ku. Tapi, aku tidak ingat begitu jelas semuanya."
"Demi cinta mas pada ayang, mas akan bantu kamu!" ucap Marvel sembari mengedipkan matanya sebelah.
"Lama-lama ku congkel juga tu mata!" kata Kiran geram.
"Jangan lupa loh ya, ini tidak gratis. Di bayar lima ronde malam ini dan dua ronde untuk setiap malam!"
"Otak mu itu isinya mesum semua. Entah kenapa garis jodoh ku sama duda kurang belaian seperti kamu mas...mas....!"
__ADS_1
"Tapi kamu suka kan?"
Marvel terus menggoda Kiran, kadang Kiran melayang dengan godaan Marvel terkadang kesal ingin menghajar suaminya.
Sementara itu, Hasan yang sekarang tinggal di kontrakan bersama Desi dan Sika mulai merasa jengah tinggal di tempat sempit seperti ini.
"Mau kemana kamu Sika?" tanya Hasan dengan raut wajah marah.
"Pergi, bosan di rumah. Apaan tinggal di tempat seperti ini." Jawab Sika dengan judesnya.
"Setiap hari ngeluyur, kuliah mu sudah selesai. Kenapa kamu tidak mencari pekerjaan, bantulah orang tua mu ini." Hasan menasehati.
"Ayah kepala keluarga, kenapa tidak ayah saja yang pergi bekerja?"
Brak....
Hasan menggebrak meja, wajahnya memerah mendengar ucapan Sika. Desi yang berada di dapur langsung berlari keluar saat mendengar keributan.
"Ada apa ini?" tanya Desi.
"Anak mu ini, di nasehati orang tua tapi malah melawan. Aku hanya menyuruhnya mencari pekerjaan, dia sudah dewasa sudah semestinya dia bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Tapi, Sika malah menyuruh ku bekerja!"
"Loh, apa omongan ku salah?" tanya Sika yang tidak mau di salahkan.
"Aku bukan anak kandung mu yang wajib ayah tuntut. Hidup ku milik ku, bukan milik mu. Lihat kita sekarang, berkat ayah kita tinggal di rumah kecil seperti ini."
"Desi.....!" suara Hasan meninggi, "didik anak mu!" ucapnya marah.
"Kau ini kenapa Hasan, kenapa kau malah melampiaskan semua amarah mu pada anak ku. Biarkan saja dia hidup sesuka hatinya. Tidak usah memaksa Sika untuk bekerja." Desi malah membela anaknya.
Panas lah telinga Hasan, pertengkaran suami istri ini tidak bisa di hindari lagi. Sika yang muak langsung pergi begitu saja dan tidak mau ikut campur urusan kedua orang tuanya.
"Ikuti perempuan itu, pantau apa saja yang dia lakukan di luar setelah itu laporkan pada ku." Titah Jeff kepada kedua anak buahnya.
"Baik bos!"
Kedua anak buah Jeff kemudian keluar dari dalam mobil lalu kembali ke motor mereka untuk mengikuti Sika yang baru saja naik taksi.
"Tinggal menunggu laporan. Saatnya ketemu ayang...!" ucap Jeff sambil cekikikan.
Sejak menemani Fani menghadiri acara pernikahan mantannya, mereka berdua semakin dekat. Tak jarang Jeff suka mencuri waktu untuk menemui Fani di toko kuenya.
Lain pula dengan cerita Marvel di malam ini, sejak sora pria ini terus memantau jarum jam yang berputar. Sekarang sudah pukul delapan malam, Marvel langsung tersenyum lebar.
"Asyik, saatnya mengasah pedang tumpul ku. Siapa tahu jadi anak!" ucap Marvel kegirangan.
__ADS_1
Hooooaaaam.......
Kiran dengan sengaja menguap dengan suara yang sengaja di keraskan.
"Ngantuk, tidur aaah....!" ucapnya sengaja memancing kemarahan suaminya.
"Jam segini mau tidur?" tanya Marvel, "gak ada, ayo buat anak!" ucapnya tanpa aba-aba langsung menggendong Kiran naik ke atas ranjang.
"Mas, apaan sih?"
"Sudah tahan-tahan seminggu masa malam ini mau zonk. Enak aja, ayo gas lima ronde."
Tanpa melakukan pemanasan lagi, Marvel langsung melepas semua pakaian dirinya dan pakaian istrinya.
Timun yang sudah tegang berair, dengan cepat tanpa permisi masuk ke dalam semak belukar. Kiran sedikit merintih merasakan perih menggesek kulit. Rudal suaminya begitu besar, keras menegang yang kini sudah masuk kedalam sangkar.
Di mulai dari gerakan santai penuh cinta pada akhirnya Marvel mempercepat gerakannya hingga berbunyi.
Plok...plok....plok....
Kulit mereka saling bergesekan, keringat juga mulai membasahi tubuh masing-masing. Terus, alunan nada indah bertema cinta sungguh menggetarkan di setiap sudut ruangan.
Bup...bup....bup....
Setiap kali menghentak akan terdengar nada indah berirama kenikmatan.
"Mas,....!" lirih Kiran mulai mencengkram punggung Marvel.
"Sebentar sayang, tungguin mas!" bisik Marvel semakin mempercepat gerakannya.
Plok....plok....bup.....
Suara pergesekan semakin nyaring terdengar. Tanpa sadar Kiran mengarahkan kepala suaminya ke bukit kenyal miliknya. Marvel yang juga sama gilanya dengan senang hati menenggelamkan wajahnya di atas salah satu bukit. Pada akhirnya tubuh mereka saling menegang sembari menyatukan cairan hangat yang sudah menumpuk selama satu minggu.
Erangan, suara manja menggema di atas ranjang. Rasa perih seakan lenyap hilang saat Kiran merasakan nikmatnya sebuah belaian.
Ronde pertama selesai, Marvel langsung membersihkan di area terlarang milik istrinya untuk melakukan pertempuran ronde kedua.
"Mas akan buat kamu merasakan kenikmatan surga dunia lima kali untuk malam ini. Percaya sama mas, kamu akan terus ketagihan nanti."
"Banyak omong, ayo goyang sekarang!" ucap Kiran tanpa malu-malu lagi.
Untuk ronde kedua ini Kiran lah yang memegang kemudi atas arahan sang suami. Dengan polosnya Kiran menuruti semua kemauan Marvel yang mengajari Kiran main kuda-kudaan dengan berbagai macam gaya.
Ranjang sudah berantakan, Marvel dan Kiran tidak peduli yang penting mereka berdua bisa saling menuntaskan hasrat yang masih panas-panasnya.
__ADS_1