
Beberapa bulan kemudian, tak terasa usia kandungan Kiran sudah memasuki bulan keenam. Perutnya sudah membuncit, Marvel suka tertawa geli melihat istrinya.
"Kenapa ketawa?" tanya Kiran kesal.
"Perut mu seperti bola sayang. Gak nyangka kalau mas jago juga ya bikin kamu bunting."
"Terserah kamu lah mas, yang penting kamu gak makan gapura!"
"Dulu aja gak mau sama mas. Bilang bencilah, jijik, geli apa segala macam. Sekarang aja gak mau pisah," gurau Marvel.
"Ngejek mulu perasaan. Heran, maunya apa coba?"
"Jangan marah dong sayang mas," ucap Marvel lalu mencolek pipi Kiran.
"Aku ngidam loh mas," ucap Kiran tiba-tiba.
"Ngidam apa sayang?" tanya Marvel.
"Aku pengen naik kereta api tapi kamu yang jadi Masinisnya," jawab Kiran membuat Marvel tercengang.
"Sayang, gak salah tu ngidam?"
"Gak salah kok. Aku masih waras!" Sahut Kiran.
"Kalau naik kereta api ok lah bisa mas usahakan. Tapi, mana mungkin mas yang jadi Masinisnya."
"Gak mau tahu. Malam ini juga aku mau kereta api...!" rajuk Kiran, "mah,.....mas Marvel nakal nih mah!"
"Vel,......awas kamu ya....!" teriak mamah Dona dari arah dapur.
__ADS_1
"Iya,....iya,....malam ini kita pergi...!"
Mau tidak mau Marvel mengiyakan permintaan sang istri.
Sore berganti malam, selesai makan malam Kiran dengan penuh semangat memasuki mobil. Sedangkan Marvel hanya diam saja memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang.
Sepanjang perjalanan Marvel hanya menuruti perintah istrinya. Pergi ke jalan ini kejalan itu dan pada akhirnya mobil mereka parkir di suatu tempat.
"Ngapain kita di pasar malam?" tanya Marvel heran.
"Turun aja dulu," ujar Kiran kemudian bergegas turun, "mas ayo cepat!"
"Sayang yang sabar. Jalannya pelan-pelan, nanti perut kamu kenapa-kenapa."
"Iya, ayo cepat!"
Marvel menurut saja tapi ia sendiri bingung apa yang akan di lakukan istrinya di pasar malam ini.
"Kamu pengen naik ini?" tanya Marvel memastikan.
"Iya. Mas duduk di depan sana aku duduk di belakang sini. Minimal lima putaran lah!"
Marvel menelan ludahnya kasar, di mana ia akan menyimpan wajah tampannya ini.
"Belum juga lahir sudah mengerjai papahnya. Awas saja!" ucap Marvel yang hanya berani di dalam hati.
"Mas ayo,....!" rengek Kiran sambil menarik lengan suaminya.
"iya, sebentar mas ngomong dulu sama pemiliknya."
__ADS_1
Marvel bernegosiasi dengan pemilik mainan. Demi memuaskan sang istri, Marvel rela mengeluarkan uang lima ratus ribu untuk membayar.
Kiran bertepuk tangan kegirangan seperti anak kecil. Di bantu sang suami, ia naik ke atas kereta. Marvel hanya bisa menghela nafas panjang, untung saja cinta jika tidak mungkin saja Kiran sudah di tendangnya.
Rasanya tebal sekali wajah Marvel saat mereka menjadi tontonan banyak orang.
"Hanya sekali ini. Tidak apa wajah ku tebal, yang penting jatah tetap jalan," batin Marvel.
Setelah selesai lima putaran, Kiran pun turun di bantu suaminya.
"Kamu mau naik apa lagi?" tanya Marvel, "mumpung kita ada di pasar malam. Apa kamu ingin naik kincir angin itu?"
"Gak deh mas. Aku takut. Kita mutar-mutar aja lah!"
Sejak menikah dengan Kiran, belum pernah sekali pun Kiran meminta pada suaminya pergi ke tempat mewah. Hanya tempat sederhana merakyat seperti ini lah yang bisa membuat Kiran bahagia.
"Sudah malam, angin malam tidak bagus untuk mu. Kita pulang ya sayang," ajak Kiran.
"Iya mas. Tapi, sebelum pulang kita beli buah apel tapi yang jual kumisan ya mas."
Huft,......
Permintaan aneh macam apa lagi ini. Marvel tak kuasa menolak, mau tidak mau ia mengiyakan permintaan sang istri.
"Mas juga punya bulu. Brewokan lagi sampai bawah. Masa iya kamu mau lihat kumis laki-laki lain."
"Ya kan beda mas. Brewok kamu menggelitik, kalau kumis orang hanya untuk di kagumi."
Marvel bergeleng kepala, mau protes pun percuma.
__ADS_1
*****Yuk mampir di cerita baru ku*****