Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 39


__ADS_3

Dua minggu pergi bulan madu, akhirnya Marvel dan Kiran memutuskan untuk pulang juga. Hubungan mereka semakin dekat bahkan Kiran semakin lengket dengan Marvel.


"Menantu ku, akhirnya kalian pulang juga. Mamah kesepian...!" kata Dona sembari memeluk Kiran.


Hangat pelukan Dona membuat hati Kiran berdesir. Sudah lama ia tidak merasakan peluk kasih dari seorang ibu.


"Sekarang mamah gak akan kesepian lagi, Kiran akan tinggal bersama kita," ujar Marvel.


"Ya udah, ayo masuk. Semua barang-barang ini biar di urus suami mu dan Jeff!"


Dona mengajak Kiran masuk,untuk menyambut kepulangan anak dan menantunya, Dona sudah memasak banyak makanan.


"Bos,...!"


Marvel hanya melirik Jeff.


"Ada apa?" tanya Marvel.


"Gimana, apa gawangnya sudah gol?" tanya Jeff sedikit berbisik.


"Apanya yang gol?" Marvel yang tidak paham malah balik bertanya.


"Anu bos,..itu loh bos, segel. Apa sudah di buka?"


Pletak,....


Marvel menjitak kepala Jeff,


"Dasar tidak sopan!" sentak Marvel, "hehehe,....sudah dong!" ucapnya kembali dengan wajah menyengir.


"Jangan lupa bonus untuk ku bos!" pinta Jeff.


"Bonus mata mu! jangan lupakan perjanjian kita!" kata Marvel mengingatkan.


Tulang kaki Jeff kembali lemas, ia pikir Marvel sudah lupa tapi ternyata masih ingat dengan perjanjian mereka.


"Bawa semua barang-barang ku. Barang-barang milik Kiran, biar aku saja yang bawa masuk!"


Jeff hanya mengangguk, pria ini bahkan diam saja tidak seperti biasanya suka mengoceh jika sedang bersama Marvel.


"Mau kemana kau?" tanya Marvel menghentikan langkah Jeff.


"Ya mau masuk bos, ini barang-barang bos masa di taruh di sini?"


"Letakan di situ, jangan coba-coba masuk kedalam kamar ku."


"Lah kenapa bos?" tanya Jeff dengan polosnya, "biasanya juga boleh!"


Ingin sekali Marvel meremas mulut Jeff.


"Aku sudah menikah, sana pergi...!" Marvel mengusir Jeff.


Jeff hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Ingin sekali mengumpat tapi ia takut di pecat.

__ADS_1


Di dalam kamar, Marvel tidak mendapati Kiran. Pria ini mulai panik mencari.


"Jangan-jangan Kiran kabur lagi," ucap Marvel yang takut jika Kiran hilang lagi.


Marvel membuang nafas lega saat melihat Kiran yang sedang berada di ruang makan bersama mamahnya.


"Di cariin di kamar gak ada malah di sini. Mamah juga, Kiran kan capek, kok malah di suruh bantu menyiapkan makanan sih?" Marvel mengomel.


"Sopankah bicara begitu sama orang tua?" tegur Kiran, "aku sendiri yang mau membantu mamah, jangan menyalahkan mamah dong!"


"Haduh,...enaknya sekarang mamah ada yang belain," ujar Dona.


"Kamu istri ku, harus kamu berada di pihak ku. Bukan di pihak mamah!"


"Lah, om ini kenapa sih?"


Mata Marvel menyipit.


"Kok panggilnya om lagi?" protes Marvel membuat Kiran malu.


"Ya gak kenapa-kenapa!" sahut Kiran yang sebenarnya masih malu-malu merubah panggilannya pada Marvel.


"Perkara nama panggilan aja kok di bikin ribet. Terserah Kiran dong mau panggil apa, yang penting dia nyaman dengan panggilan itu." Dona membela menantunya.


"Aku suaminya bukan omnya. Sejak kapan aku nikah sama tantenya?" Marvel terus protes bahkan mengomel.


Kiran merasa tidak enak hati apa lagi Marvel terus mengomel saat kembali ke kamar.


"Kamu kenapa?" tanya Marvel heran saat melihat sang istri yang berdiri seperti patung di depan meja rias.


"Kenapa meminta maaf?" tanya Marvel semakin heran.


"Karena aku masih belum bisa mengubah sikap dan cara ku dalam menyikapi mu. Pernikahan kita terlalu cepat bagi ku, jadi aku belum terbiasa. Aku masih malu memanggil mu dengan sopan jika ada mamah."


Marvel tersenyum, menyentuh kedua pundak Kiran.


"Aku mengomel hanya bercanda saja. Jangan di ambil hati, bukankah kita sudah berjanji untuk saling membiasakan diri. Aku tidak akan menceraikan mu meskipun kau memaksa ku."


"Enak saja!" ucap Kiran kesal, "aku gak mau jadi janda muda. Tapi, sepertinya kalau aku jadi janda pasti akan banyak pria kaya dan tampan seperti mu yang akan mengejar ku!"


Mata Marvel memicing marah tidak terima dengan ucapan Kiran yang sebenarnya hanya bercanda.


"Sekali lagi kau memuji lelaki lain di depan ku, akan mas gantung kau di tangga!" ancam Marvel.


"Bercanda, mas hanya bercanda. Sini, peluk dulu!"


Marvel membentangkan kedua tangannya.


Mata Kiran mendelik, ia malu-malu melangkah maju masuk kedalam pelukan Marvel.


"Gini kok bilangnya gak cinta, kalau sudah merasakan goyangan mas ya sudah pasti klepek-klepek!" ucap Marvel membuat Kiran hanya bisa tersenyum-senyum malu.


"Udah ah, aku malu. Ayo turun, mamah pasti sudah menunggu!"

__ADS_1


"Tapi, kita kan belum mandi."


"Mandinya nanti aja. Aku lapar!"


"Sayang, ayo lah!" rengek Marvel.


"Gak, makan dulu aja. Mandinya nanti."


Kiran berlalu begitu saja meninggalkan Marvel yang terus merengek mengajaknya mandi. Kiran bergidik ngeri membayangkan sesuatu.


"Di atas tempat aja ganasnya seperti itu apa lagi di kamar mandi," batin Kiran terus bergeleng kepala membayangkan.


Marvel yang mengekor di belakang istrinya hanya bisa diam sambil menggerutu di dalam hatinya.


"Kalau gak dapat hari ini, masih ada besok dan lain hari. Awas saja, akan ku buat kau ketagihan!"


Gemas sendiri, Marvel gemas melihat bentuk tubuh istrinya dari belakang.


"Lah, belum mandi juga? katanya mau mandi?" tanya Dona heran.


"Nanti aja mah.Kiran lapar," jawab Kiran.


Mereka makan siang bersama, banyak hal yang di tanyakan Dona seputar liburan anak dan menantunya.


"Mamah tidak memaksa kalian untuk cepat memiliki anak. Kalian masih butuh waktu untuk saling beradaptasi," ucap Dona membuat Kiran merasa lega.


"Mamah memang sangat pengertian!" sahut Marvel dengan senyum lebarnya.


"Tapi, jika di lihat dari wajah mu itu mamah yakin jika....!" Dona tidak melanjutkan ucapannya. Ia malah melirik Kiran hingga membuat Kiran tersedak.


"Mamah,....!" Marvel mendelik kesal.


Marvel buru-buru mengambilkan istrinya air minum. Kiran tidak polos amat, ia pasti paham apa yang di maksud dari ibu mertuanya ini.


"Makasih mas!" ucap Kiran malu-malu.


"Lanjut makannya, jangan dengarkan omongan mamah," kata Marvel.


Dona hanya tersenyum melihat anak dan menantunya. Senang juga melihat Marvel sudah menikah meskipun ia tahu jika Kiran hanya terpaksa menikah dengan anaknya.


"Sayang, kamu mau ngapain?" tanya Marvel saat Kiran sibuk mengumpulkan piring kotor.


"Ini, mau bersihin meja makan!"


"Gak usah, biar mbok saja. Kamu pergi mandi setelah itu istirahat!"


"Tapi mas....!"


"Kiran, biar mbok aja!" Dona menimpali.


Mau tidak mau Kiran menurut, ia langsung pergi ke kamar sedangkan Marvel masih sibuk mengurus mulutnya yang ingin minum jus buah.


"Udah dapat kan?" tanya Dona sedikit berbisik pada anaknya.

__ADS_1


"Kalau gak dapat bukan Marvel namanya!"


"Asyik,...sebentar lagi mamah momong cucu deh!" ucap Dona girang.


__ADS_2