
"Mas. Aku bingung memikirkan sesuatu hal," ujar Kiran.
"Sesuatu apa?" Tanya Marvel penasaran.
"Ayah selalu bilang jika Sika adalah anak tirinya. Tapi nyatanya Sika adalah anak kandung ayah. Aku sungguh tidak mengerti dengan semua ini. Apa yang mereka sembunyikan sebenarnya?"
"Sika memang anak kandung ayah mu, tapi dia lahir tanpa ikatan pernikahan antara ayah mu dan tante Desi. Menurut informasi yang mas dapat, ada seorang pria yang rela menikahi tante Desi demi anak yang ia kandung. Ayah mu tidak terima saat tante Desi menikah, bahkan katanya ayah mu tega tidak mau mengakui Sika sebagai anaknya."
"Ayah sangat jahat dan egois. Dia hanya mementingkan egonya sendiri."
"Bukan hanya itu, ayah mu lah yang menyebabkan tante Desi bercerai dengan suaminya itu. Namanya juga tidak saling cinta, tante Desi menerima pria tersebut hanya untuk menutupi aibnya saja. Sika kecil sangat dekat dengan pria tersebut, ia di manja bahkan segala keinginan Sika kecil selalu di penuhi. Hal ini lah yang membuat ayah mu sakit hati dan tidak mau mengakui Sika sebagai anaknya."
"Tapi, ayah selalu pilih kasih kepada ku. Dia lebih menyayangi Sika di banding aku. Cerita mu ini sungguh tidak masuk di akal ku mas."
"Sangat masuk di akal sayang. Pada saat itu tante Desi mengancam untuk pergi jauh membawa Sika jika ayah mu tidak mau mengakui Sika sebagai anaknya."
"Oh, pantas saja ayah selalu mengungkit anak tiri jika ia berdebat dengan tante Desi. Apa mungkin ayah tidak terima melihat kedekatan Sika dan suami tante Desi?"
"Mungkin saja. Mas juga gak paham ceritanya."
"Tapi mas, di banding dengan masalah keluarga ku. Aku lebih penasaran siapa yang sudah memberitahu mu cerita masa lalu ini?"
"Sayang,...sayang,...kenapa kamu ini polos hemm?" Marvel mencubit pipi istrinya, "saksi hidup keluarga mu terlalu banyak. Tapi, kalau masalah yang barusan aku mendapatkan informasi dari semua tetangga dekat rumah mu. Aku tidak menyangka aja jika aib keluarga mu di masa lalu sangat rumit."
"Kok tetangga ku gak pernah cerita sama aku ya?" Kiran bingung.
"Udah ah,gak usah di bahas. Mau Sika anak tiri atau kandung biarlah menjadi urusan mereka. Ayo tidur, sudah malam!''
Kiran menarik lengan suaminya, sudah beberapa hari ini ia lebih senang tidur di lengan sang suami sambil mencium aroma ketiak Marvel yang wangi.
"Alamat keram lagi," batin Marvel yang tak sampai hati menegur istrinya.
Malam semakin larut, jarum jam terus berputar dan kini sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Tiba-tiba Marvel terbangun dari tidurnya karena ia sedang menginginkan sesuatu.
"Mas,. Kok bangun, kenapa?" Tanya Kiran yang sangat mengantuk.
__ADS_1
"Sayang. Mas pengen makan soto daging," ucap Marvel membuat mata Kiran segar.
Kiran melirik jam weker yang berada di atas nakas tepat di samping ranjang.
"Mas, ini jam satu malam. Kamu ini kalau mimpi jangan di bawa ke dunia nyata dong."
"Gak sayang, mas pengen makan soto daging sekarang."
"Aduh, mana ada yang jual tengah malam begini mas. Ada-ada aja deh!"
"Kalau gak ada yang jual ya udah bikin sendiri aja," ujar Marvel sembari turun dari ranjangnya.
"Mau kemana mas?" Tanya Kiran yang sebenarnya kesal.
"Bangunin mamah. Mamah jago masak, sudah pasti dia bisa bikin soto dagingnya."
"Astaga mas. Biarkan mamah istirahat, kamu kan bisa menunggu sampai besok pagi."
"Sayang, mas pengen makan soto!" Marvel mulai merengek seperti anak kecil.
"Mas ngidam nih. Kamu tahu sendiri mas gak pernah seperti ini sebelumnya. Pokoknya mas maj bangunin mamah."
"Jangan ganggu mamah yang tidur mas. Makan sotonya besok aja, lebih baik mas makan aku aja!" Ujar Kiran bercanda.
Seketika Marvel kembali ke tempat tidur.
"Sayang, apa kah serius?" Tanya Marvel segar.
"Gak mas, aku hanya bercanda!" Jawab Kiran panik.
"Ya udah, mas mau bangunin mamah aja kalau begitu!"
"Eh....jangan. Ya udah, ayo makan aku!"
"Asyik, mimik cucu tengah malam!"
__ADS_1
Dengan penuh semangat Marvel melepas semua pakaian istrinya dan juga dirinya. Tanpa melakukan pemanasan pun tiang listrik Marvel sudah pasti akan menegang.
Dengan sekali tusukan, mobil milik Marvel masuk juga kedalam garasi.
"Pelan-pelan...!" Bisik Kiran.
"Main lembut aja sambil mimik cucu, biar mainnya lebih lama."
Goyangan Marvel memang dahsyat, meskipun gerakan lambat tapi Kiran bisa merasakan puncak kenikmatan. Bukan hanya sekali, beberapa kali Marvel membuat Kiran melenguh kenikmatan sedangkan ia sendiri belum berada di puncaknya.
Bulu-bulu dada yang lembut menggesek kulit mulus Kiran, membuat Kiran sangat candu akan permainan suaminya. Meskipun sedang sang istri sedang hamil, Marvel tetap ingin membuat istrinya puas.
"Mas,.....!" Lirih Kiran mendesah.
"Tunggu mas sayang!"
Marvel sedikit menyetel gerakannya, mengayuh pedalnya untuk mengejar Kiran yang akan menyemburkan lava hangatnya.
Pok,....pok.....pok....
Suaranya terdengar lembut namun membuat candu. Tubuh keduanya saling menegang, Marvel dan Kiran sama-sama menumpahkan lava hangat di dalam.
"Loh, kok keluarnya di dalam mas?"
"Ayo cepat bersihkan!"
Bergegas Marvel menggendong istrinya pergi ke kamar mandi. Seketika Marvel mengingat pesan dari Dokter. Tanpa risih dan merasa jijik, Marvel membersihkan sendiri sawah milik istrinya. Kiran sebenarnya merasa malu, tapi mau bagaimana lagi jika suaminya ini tidak bisa di bantah.
Setelah merasa bersih, suami istri ini kembali berpakaian kemudian melanjutkan tidurnya. Marvel pun akhirnya lupa pada soto daging yang ia idamkan tadi.
"Demi melupakan soto daging, aku harus rela jam tidur ku di ganggu malam ini," ucap Kiran dalam hatinya.
****HALLO KAK, YUK MAMPIR DI NOVEL BARU KU YANG BERJUDUL DI BAWAH INI*****
__ADS_1