
Gama tetap lah Gama, ia tetap kekeh ingin membantu Hasan untuk merebut hak waris yang di tinggalkan almarhum istri dan mertuanya.
Fani mengumpat kesal di dalam hatinya saat melihat Gama yang hadir di ruang sidang. Jeff bahkan menatap heran ke arah Fani yang sejak tadi wajahnya terlihat penuh dengan amarah.
"Apa yang membuat mu marah Fani?" tanya Jeff heran.
"Bocah tengik itu sama sekali tidak menggubris omongan ku. Dasar keras kepala."
"Siapa yang kau maksud?" Jeff kembali bertanya.
"Itu, si Gama. Dasar tidak tahu diri...!"
"Aku sendiri pun juga heran sama itu anak. Entah apa yang dia cari dalam masalah ini?"
Fani terus mengomel, mulutnya berhenti saat mereka hendak memasuki ruang sidang.
Hasan penuh dengan drama, pria ini masuk dengan wajah melas juga menyedihkan agar hakim bersimpati pada dirinya.
Kiran hanya memutar bola matanya malas saat melihat Gama yang sejak tadi terus memberi semangat pada Hasan.
Di saat sidang di mulai, Hasan langsung memberi keterangan pada Hakim. Banyak kebohongan yang di lontarkan Hasan bahkan ia sendiri tak segan memfitnah Kiran.
Jujur saja hati Kiran sakit mendengarnya. Kiran hanya bisa menguatkan diri dengan apa yang ia lihat dan dengar saat ini.
"Orang-orang bodoh," batin Marvel, "demi harta yang tak seberapa itu dia tega menyakiti anaknya sendiri."
Kiran hanya bisa menarik nafas panjang, telinganya masih cukup ruang untuk mendengarkan semua kebohongan yang di buat oleh ayahnya.
"Tega tidak tega, kau harus tega memasukan ayah mu ke dalam penjara," bisik Marvel pada istrinya.
Kiran hanya mengangguk, ia sudah tidak sabar lagi untuk membongkar semua kejahatan sang ayah. Di tambah lagi ada Desi dan Sika yang sejak tadi bersikap seolah mereka manusia paling tersakiti.
Yang membuat Kiran tertawa ketika ia mendengar penuturan Desi yang di rasa tidak masuk di akal. Bagaimana tidak, Desi mengatakan jika ia sudah berusaha menjadi ibu tiri yang baik tapi Kiran selalu berlaku buruk padanya. Di mulai dari setiap Desi memasak yang katanya Kiran selalu membuang masakannya, bahkan tidak mau memanggil Desi dengan sebutan ibu dan masih banyak lagi kebohongan yang di buat oleh mereka.
"Lalu bagaimana dengan ibu yang meninggal akibat ulah kalian?"
__ADS_1
Pertanyaan Kiran lantang, menggema di setiap ruang sidang. Hasan dan Desi sontak saling pandang.
Dengan hati sakit, Kiran berdiri dari duduknya, menatap tajam penuh kebencian pada ayah dan ibu tirinya.
"Sakit yang di derita ibu ku semasa hidupnya adalah ulah kalian. Kalian sudah merencanakan pembunuhan secara halus pada ibu ku."
"Jaga bicara mu Kiran!" sentak Hasan dengan wajah panik.
"Apa yang harus aku jaga?" tanya Kiran menantang.
Hakim mencoba menenangkan perdebatan ayah dan anak ini. Sementara Desi hanya bisa diam saja begitu juga dengan Marvel.
Tiba-tiba saja pengacara Kiran memberitahu secara langsung di saat persidangan berlangsung jika Kiran dengan resmi menuntut sang ayah dan ibu tiri atas pembunuhan berencana pada ibunya beberapa tahun yang lalu.
Tubuh Hasan maupun Desi mulai bergetar ketakutan.
"Dari mana Kiran tahu masalah ini?" tanya Desi berbisik.
Hasan hanya menggelengkan kepalanya tanda tak tahu.
"Klien saya tidak asal tuduh ataupun fitnah. Kami memiliki semua buktinya. Bukti tersebut sudah kami serahkan kepada pihak kepolisian," ujar pengacara Kiran.
Hasan dan Desi sekali lagi saling tatap ketakutan. Rahasia yang sudah sekian tahun mereka jaga entah kenapa terbuka lebar.
Seseorang menyerahkan semua bukti pada hakim. Entah kenapa persidangan ini tidak berjalan sesuai rencana yang sudah di atur Hasan dan Gama.
Gama hanya diam bingung, sesekali ia menoleh ke arah Kiran.
"Apa ini, kenapa masalahnya jadi berubah seperti ini?" Batin Gama.
"Bohong!" seru Hasan, "semua ini bohong. Kiran, kenapa kau tega bersikap seperti ini pada ayah mu sendiri hah?"
"Anak ku berubah sejak menikah dengan laki-laki itu," tunjuk Hasan pada Marvel, "dia sudah menghasut anak ku wahai pak Hakim yang terhormat!"
"Aku tidak pernah sekali pun menghasut anak mu pak Hasan. Dia sendiri yang ingin menikah dengan ku, bukan atas paksaan ku!" sahut Marvel membuka suara.
__ADS_1
Ruang sidang berubah panas, entah akan kemana arah dan tujuan sidang ini, semua tidak berjalan sesuai rencana Hasan.
"Di lihat dari semua bukti ini, sepertinya ini asli." Kata pak Hakim yang sejak tadi mempelajari bukti yang di berikan oleh pihak kepolisian.
"Tidak, itu bisa saja palsu mengingat siapa Marvel. Dia bisa melakukan apa saja yang dia mau!" Hasan mencoba mengalihkan semuanya pada Marvel.
"Aku memang bisa melakukan apa saja yang aku mau termasuk menghadirkan seseorang yang akan memberatkan anda pak Hasan."
Glek,....
Hasan menelan ludahnya kasar, keringat panas dingin mulai bercucuran.
"Siapa yang di maksud Marvel?" tanya Hasan dalam hati.
Tiba-tiba saja masuk seorang pria yang berusia sekitar empat puluh delapan tahun dengan wajah menunduk . Kedua tangannya di borgol.
"Apa ayah ingat orang ini?" tanya Kiran sungguh membuat Hasan dan Desi syok.
"Apa anda kenal dengan orang ini?" Marvel juga bertanya.
"Jika ayah tidak ingat, akan ku ingatkan kembali. Dia adalah Dokter yang ayah percaya untuk merawat almarhum ibu dulu."
"Cepat katakan yang sejujurnya tuan Tirta...!" titah Marvel dengan tatapan tajam.
Tirta, adalah seorang mantan Dokter yang di pecat secara tidak hormat dari salah satu rumah sakit swasta yang ada di kota S. Banyak kasus kejahatan yang di lakukan oleh Tirta semasa menjadi Dokter dulu salah satu korbannya adalah ibu Kiran.
"Saat istri pak Hasan selesai melahirkan, pak Hasan meminta pada saya untuk memalsukan riwayat penyakitnya. Saya di suruh pak Hasan untuk memberikan obat tidur dengan dosis tinggi pada istrinya sendiri. Bertahun lamanya almarhum sakit saya lah yang menjadi Dokter pribadinya. Saya di bayar mahal oleh pak Hasan dan ibu Desi."
Tirta menceritakan secara singkat yang membuat semua orang langsung menatap marah pada Hasan dan Desi.
"Jika ayah tidak pernah mencintai ibu, kenapa ayah tidak melepaskan ibu saja? kalian telah membunuh ibu ku!"
Air mata Kiran sudah tak terbendung lagi. Bagaimana tidak, ia telah kehilangan ibunya sejak kecil di tambah lagi sekarang harus menerima kenyataan jika ayahnya sendiri yang sudah membunuh sang ibu secara perlahan.
"Kiran,...ayah....!!'' Hasan mencoba bicara pada anaknya.
__ADS_1
"Pak Hakim yang terhormat, saya menuntut keadilan atas nama ibu saya....!" ucap Kiran dengan suara bergetar.