Dinikahi Berondong Tampan

Dinikahi Berondong Tampan
Hari pertama Buka Toko


__ADS_3

Steling yang sudah berdiri dengan susunan berbagai macam kosmetik di dalamnya.Hari ini Vivi akan mulai membuka toko.Vivi berdiri di depan toko dan memperhatikan dengan saksama tokonya.Ia tersenyum lega akhirnya perjuangannya selama ini akhirnya membuahkan hasil.


Dengan senyum lebar,Vivi mengambil *handph*one nya dari meja kasirnya.Lalu menekan dengan lincah nomor yang sepertinya sangat ia hapal.Ketika dia hendak menekan tombol memanggil,tiba-tiba tersadar bahwa nomor itu sudah tidak dipakai lagi.Itu nomor hp mamanya.


Vivi meletakkan hpnya dan menangis di kursi.Ia benar-benar terpukul.Diambilnya Poto mama dari dalam tas kecil berwarna biru.Ia memandanginya sambil menangis.


"Dari dulu mama selalu nemanin aku berjuang.Mama yang selalu ada mendukung dan mendorong aku,juga menghargai semua keputusanku.Cuman mama satu-satunya orang yang bisa mengerti aku.Mama ada saat aku susah.Tapi kenapa mama malah pergi bahkan ketika aku hampir mencapai cita-cita kita?Mama tau kenapa aku berusaha sekeras itu untuk menggapai cita-cita ini?Ya,karna mama.Mama alasan kenapa aku pengen bangat sukses,aku pengen bahagiain mama.Kenapa saat aku udah mendapatkan ini,malah harus kehilangan seseorang yang harus aku bahagiakan?Bahkan sebelum aku sempat ngasih apa-apa sama mama.Kenapa mama ga nungguin aku sukses.Mama bilang dulu mama bakal liat aku sukses,bakal liat aku menikah,bakal menggendong anak-anak aku suatu saat nanti.Itu bikin aku tenang dan semangat.Tapi...mama malah ninggalin aku gini."Katanya menangis sesenggukan.


"Permisi."Ibu Asmi tiba-tiba muncul.


Cepat-cepat Vivi mengelap air matanya dengan telapak tangannya karena tidak sempat mengambil tisue.


"Kamu nangis,nak?"Tanyanya sambil berjalan menghampiri Vivi.


"Ga bu."


"Kamu jangan boong sama ibu.Kamu tadi nangis kan?


Pasti kamu teringat sama mama kamu yah?"Ibu Asmi melirik poto mama yang terletak di meja.Nevi mengangguk.Ibu Asmi memang sudah tau kisahnya karena Vivi sudah menceritakan perjalanan hidupnya pada bu Asmi beberapa hari lalu.


"Udah.Jangan ditangisin lagi.Pasti mama Vivi disana bangga dengan pencapaian Vivi ini.Pokoknya Vivi harus terus semangat dan jangan pernah puas ataupun sombong dengan apa yang Vivi punya.


Oh iya,ini ibu kesini mau ucapkan selamat sama Vivi.Selamat yah nak semoga makin sukses ke depannya.Dan ini makanan ibu buatkan untuk Vivi.Dimakan yah!"


"Makasih banyak yah,bu.Ibu baik bangat sama aku."Vivi memeluk bu Asmi.Bu Asmi pun membalas pelukan itu sambil mengelus rambut Vivi persis seperti yang dilakukan mama dulu tiap kali Vivi menangis.


"Iyah,nak.Ibu memang ga bisa bantu apa-apa buat Vivi,tapi kalau Vivi butuh teman curhat,lagi ada masalah ibu ada buat Vivi.Sekali-kali juga bolehlah kamu datang ke rumah ibu kalau lagi ga sibuk."


"Iyah bu,nanti Vivi datang.


Oh yah,tapi sepanjang ini yang aku lihat ga ada orang lain di rumah ibu.Ibu tinggal sendiri disana?"


"Iyah,nak.Ibu tinggal sendiri.Makanya dulu suka kesepian gitu. Tapi semenjak ada Vivi sepi ibu perlahan hilang.Ibu senang Vivi tinggal disini."


"Keluarga ibu?"


"Ibu anak satu-satunya dari orang tua ibu.Orang tua ibu sudah meninggal."


"Ya ampun.Maaf yah bu."


"Gapapa nak."


"Ibu belum menikah?"


"Ibu udah menikah.Tapi sepuluh tahun yang lalu ada musibah yang menerpa ibu,suami dan anak ibu.Mobil kami kecelakaan.Anak dan suami ibu meninggal."Jelasnya meneteskan air mata.


"Ya ampun.Aku minta maaf bu.Aku bikin ibu sedih gini."

__ADS_1


"Gapapa nak.Sekarang ibu sebatang kara.Kesepian setiap harinya.Semenjak suami ibu meninggal,yah ginilah keadaan ibu sekarang,hidup seadanya.Sama tetangga disini juga ibu kurang bergabung.Agak sombong gitulah mereka."


"Oh gitu.Mulai sekarang vivi bakal jadi teman yang akan selalu ada buat ibu.Ibu ga akan kesepian lagi."


"Iyah,nak.Makasih yah?"


"Sama-sama ibu.Kalau gitu mari kita makan dulu bu!"


"Kamu makan aja,nak.Ibu makan di rumah aja."


"Lohh...disini aja bu.Anggap aja kita lagi ngerayain pembukaan toko.Lagian Vivi ga tau harus merayakan bersama siapa.Aku bakalan senang bangat kalau ibu ga menolak tawaran Vivi."


"Yaudah deh,nak.Ibu mau makan disini."


"Yauda ayo bu,kita ke meja makan."Vivi menggandeng bu Asmi menuju meja makan.Ibu Asmi hanya tersenyum menurut.


"Ini buat ibu."Katanya melayani bu Asmi.Bu Asmi meneteskan air matanya.


"Ibu nangis?"


"Gini rasanya kalau anak ibu dulu ga meninggal,ibu dilayani makan."


"Anggap aja Vivi anak ibu.Ibu jangan sedih lagi yah?"


Vivi berusaha menghibur bu Asmi,sementara air matanya sendiripun tidak sanggup lagi ia tahan.


"Nak?"


"Eh,iya bu."


"Kita makan yah?Kamu yang pimpin doa."


"Iyah,bu."


...****************...


Satu hari telah berlalu,hari ini benar-benar tidak ada yang datang membeli ke toko Vivi.Semua orang hanya sibuk lalu-lalang dari depan tokonya.Sesekali ada yang melirik ke toko,namun tidak mau masuk untuk membeli atau sekedar melihat apa yang dijual disana.Ini membuat Vivi sedikit khawatir.Ia khawatir kalau-kalau ia salah mengambil tempat untuk membuka toko kosmetik.


Setelah menutup toko,ia berjalan menuju rumah bu asmi.Jam masih menunjukkan pukul 9 malam.Memang masih banyak orang yang lalu-lalang.Namun Vivi memutuskan untuk menutup toko.


"Permisi,bu."Katanya sambil mengetuk pintu rumah bu Asmi.


Tak berselang berapa lama,ibu Asmi membuka pintu dengan daster birunya.


"Eh,Vivi?"


"Maaf mengganggu ibu."

__ADS_1


"Gapapa nak.Ayo masuk."


keduanya memasuki rumah bu Asmi dan duduk di ruang tamu.


"Ibu belum tidur tadi?"


"Belum,nak.Ibu biasanya tidur larut.Susah tidur soalnya."


"Eum gitu,bu."


"ibu buatkan minuman.Kamu mau minum apa?"


"Gausah bu!Gausah repot-repot."


"Yauda deh.Ibu senang kamu mau datang ke rumah ibu.Ginilah keadaannya sangat hampa."Rumah yang besar dan cukup mewah itu memang terlihat sangat hampa.Vivi melihat ke sekeliling rumahnya,terpajang banyak poto bu Asmi bersama seorang pria dan gadis kecil di dinding rumahnya.Sepertinya itu adalah suami dan anak gadisnya yang sudah tiada.Terlihat di poto mereka sangat bahagia,benar-benar keluarga yang harmonis.Vivi pemperhatikan satu persatu poto yang terpajang itu.


"Mereka anak dan suami ibu."


"Oh..iya bu.Cantik bangat kayak ibu."


"Hahaha...Ada-ada aja.Emang ibu cantik?"


"Cantik bangat!"


"Hahaha..Gak lah.Udah tua dan ga keurus lagi."Lagi-lagi Bu asmi tertawa.Nevi tersenyum melihat tawa itu.Memang terlihat jelas di wajah bu Asmi beban yang ditanggungnya yang mungkin sangat berat.Hidup sendirian dan kesepian diantara sekian banyak orabg di sekitarnya.


"Ibu masih kepikiran sama mereka?"


"Ya gitulah,nak.Setiap malam ibu selalu mengenang saat-saat bahagia bersama keluarga kecil ibu dulu."


"Ya ampun,bu.Yang sabar yah bu!Kan ibu yang bilang sama Vivi jangan berlarut dalam kesedihan terus.Ibu juga harus bisa.Kita harus sama-sama berjuang."


"Gimana ga sedih nak?ibu benar-benar sendiri sekarang.Ga ada keluarga sama sekali.Vivi juga jangan pernah sia-sia kan keluarga Vivi yah?Kamu harus kabarin kakak kamu.Kasihan dia."


"Iyah,bu.Suatu saat aku akan balik lagi dengan keadaan yang berbeda.Ibu juga ga usah sedih lagi.Mulai sekarang Vivi adalah keluarga ibu."


"Makasih yah,nak."


"Sama-sama,bu."


"Oh yah,gimana hari ini! Lancar penjualannya?"


"Engga bu.Hari ini sama sekali ga ada pembeli.Jadi khawatir juga gimana nantinya.Masa ga ada yang tertarik coba."


"Eh,jangan langsung negatif gitu pikirannya.Ini kan baru hari pertama,baru mulai loh.Emang memulai dari awal itu susah.Jadi kamu harus bertekun,semangat,dan berdoa.Ibu juga bakal bantu doain yang terbaik buat kamu."


"Iya bu,makasih yah bu."

__ADS_1


__ADS_2