Dinikahi Berondong Tampan

Dinikahi Berondong Tampan
Satya ke Rumah vivi


__ADS_3

"Permisi!"


"Iya,Mau beli apa mas?"Vivi menjawab dengan lemah lembut.


"Apa yah?"Kata seorang pria memperhatikan barang-barang di toko Vivi satu persatu.Vivi memperhatikan wajah pria di hadapannya.Seperti tidak asing.


"Mas!"


"Iyah mbak".


"Mas ini gurunya Marcel kan?"


"Hehehe...iya mbak."


"Haduh pantes aja kayak ga asing gitu mukanya.Rada-rada kenal gitu tadi."


"Iya,


Oh ya mbak,ini kan muka saya ada bekas-bekas jerawatnya gitu,bagusnya pakai produk apa yah biar ilang?"


"Em.bekas jerawat,ntar yah!"Vivi membuka stelingnya dan mengambil sesuatu.


"Pakai salep ini aja mas,ini bagus bangat dan langsung cepat keliatan hasilnya."Vivi memberikan salep pada pak guru.


"Gitu yah mbak.Mau deh kalau gitu.Semoga aja cocok sama aku."Katanya tersenyum memandangi Vivi.


"Pasti cocok itu."


"Berapaan nih?"


"Buat mas nya cuman delapan puluh ribu aja."


"Buat aku?Trus kalau orang lain?"


"Lima puluh ribu aja."Vivi bercanda.Vivi memang cukup humoris.Itulah salah satu alasan kenapa orang begitu senang dengannya.


"Hahaha..Ga adil dong kalau gitu."Pak guru tertawa.


"Ya trus mau nya gimana?"


"Balik aja,buat aku lima puluh ribu,buat orang lain delapan puluh ribu.cocok?"


"Ga cocok ah."


"Hahaha...Gitu bangat jadi tukang jualan."


"Hahaha..Canda yah mas."


"Iya iyah.Berarti delapan puluh ribu kan?"


"Iya mas."


"Ini!"Katanya memberikan uang seratus ribu.Vivi mengambil dan memberikan kembaliannya.


"Boleh kan aku istirahat disini dulu?"


"Boleh mas."


Pak guru duduk di kursi teras Vivi sambil memainkan ponselnya.Vivi memperhatikannya dari balik steling.Berpikir terlalu sombong jika ia tidak menemui pak guru dan mengajaknya mengobrol.Akhirnya ia memutuskan menemui pak guru di teras.


Dengan sedikit ragu ia duduk di kursi sebelah pak guru.


"Eh mbak!"Katanya tersenyum.Terlihat dari wajahnya ia senang dengan keberadaan Vivi di sana.


"Iyah mas."


Hingga beberapa menit keduanya hanya terdiam tanpa suara.Sibuk dengan handphone masing-masing.


"Kita kenalan dulu kali yah mbak?"


"Boleh mas."


"Nama aku Satya".Pak guru mengulurkan tangan.


"Aku Vivi."Vivi berjabat tangan dengan Satya.


"Oh iya iya.Senang berkenalan sama kamu."


"Hihihi..iyah mas Satya."


"Umur berapa nih kalau boleh tau?"


"Aku umur 21 tahun."


"Berarti masih kuliah?"


"Ga kuliah."


"Trus kamu kerja disini?"


"Iyah gitu deh.Buka usaha kecil-kecilan."


"Oh ini usaha kamu?Toko kamu?"

__ADS_1


"Iyah Mas."


"Wah...Salut bangat sama kamu udah punya usaha sendiri di umur yang masih muda bangat."


"Ah..Biasa aja kak."


"Iyah loh.Pengusaha muda."


"Hahaha..Mas nya umur berapa?"


"Aku 23 tahun sih.Masih baru juga mengajar di sekolah Marcel."


"Oh gitu.Masih muda juga."


"Hahaha..Gitulah."


"Trus tinggal berdua sama adeknya disini?"


"Iyah Ka.Eh aku manggil kakak aja yah?"


"Boleh.Nyamannya kamu aja.


Pantes sepi gitu rumahnya."


"Iyah ka."


"Marcelnya mana?"


"Lagi bobo siang."


"Eum gitu."


"Orang tua kamu?"


"Mama aku udah meninggal,ayah aku pergi ninggalin aku dan mama waktu aku masih kecil."


"Aduh maaf yah.Ga bermaksud bikin kamu sedih."


"Iyah kak.Gapapa kok."


"Berarti kamu anak pertama?"


"Anak kedua ka."


"Dari berapa bersaudara?"


"Dua."


"Lah..Gimana si?Trus adeknya?Hahaha


"Engga ka.Panjang sih ceritanya."


"Gimana itu?"


Vivipun menceritakan kisah sebenarnya pada Satya.Satya begitu serius mendengarkan.Hingga tatapannya kadang membuat Vivi salah tingkah ketika bercerita.


"Baik bangat kamu Vi.Punya niatan kayak gitu.Nyekolahin anak orang."


"Ga tega aja ka liatnya."


"Iya sih.Bangga bangat pokoknya sama Vivi."


"Ah kakak."


Tiba-tiba motor berhenti di depan toko Vivi.


"Ka Zeky?"Bisik Vivi.


"Pacar kamu yah,Vi.Aduh jadi ga enak nih.Bisa-bisa salah paham."kata Satya ga enak.


"ehem.Maaf mengganggu waktu pacarannya."Kata Zeky turun dari motor.


"Ga kok Mas.Kita ga..."Satya berusaha menjelaskan,namun Zeky langsung memotong pembicaraannya.


"Aku mau nyari Marcel ke sini.Marcelnya ada?"Kata Zeky kesal bercampur kecewa.


"Ada kak.Tapi lagi bobo siang."Kata Vivi tidak enakan.Takut kalau-kalau Zeky mengira mereka pacaran.Ia juga jadi tidak enak pada Satya.


"Oh.Aku tungguin deh disini."Zeky duduk di lantai membelakangi Vivi dan Satya.


Ketiganya hanya terdiam semenjak kedatangan Zeky.


"Kenapa diam?Tadi asyik-asyik aja ngobrolnya.Oh...Aku ganggu bangat yah?Yauda aku pulang yah.Bilangin nanti sama Marcel aku nyariin dia."


"Kak!Biar aku bangunin aja Marcelnya ."Kata Vivi ga enakan.


"Gausah,ga mau gangguin dia tidur."Zeky langsung pergi begitu saja.


"Ka!"Vivi bediri dan berjalan cepat mengejar Zeky.Namun langkahnya terhenti karena Zeky sama sekali tidak menoleh padanya.Zekypun memutar motornya dan mengebut meninggalkan rumah Vivi.


"Maaf yah Vi.Gara-gara aku pacar kamu jadi marah sama kamu."Satya menghampiri Vivi.


"Ka,Kakak ga salah.Ga usah minta maaf."

__ADS_1


"Aku salah Vi."


"Lagian dia bukan pacar aku."Kata Vivi kesal mengingat Zeky sudah punya wanita idaman.


"Trus?"


"Ya cuman temen."


"Tapi lagi deket gitu yah?"


"Ga juga.Pokoknya cuman temen."


"Saling suka?"Tanya Satya yang membuat Vivi terdiam seribu bahasa.


"Engga."Katanya dengan suara tertahan.


"Kayaknya iya.Aku bisa liat dari mata kamu tadi waktu mandang dia,dan mata dia waktu mandang kamu.Dia juga sampai kesal gitu karena cemburu."


"Udahlah ka.Gausah bahas dia lagi."


"Kan...Kayak gini aku jadi ga enak.


Yauda deh,aku pulang aja yah,sekali lagi aku minta maaf."


"Kak Satya ga salah."


"Jujur tadinya emang ada niatan buat deketin Vivi,tapi liat ada yang lebih dekat,ga jadi deh.hmm...aku pamit yah!"


"Ka,kita tetap jadi teman kan?"


"Pasti."Jawab Zeky tersenyum kecewa.


"Aku pulang yah!"Katanya menaiki motornya.


"Iyah ka.Sering-sering belanja kesini."Kata Vivi yang membuat Satya tertawa lagi padahal hatinya sedang sangat kecewa.


Ia pun berlalu dari hadapan Vivi.


"Ka!"Seru Marcel.


"Eh,Marcel."


Marcel sudah berdiri di pintu memperhatikan pak Satya dan Vivi.


"Pak Satya ke sini?"


"Iyah de."


"Humm...Akhirnya dia jadi datang juga."


"Maksud kamu?"


"Pak Satya emang suka nanya-nanya tentang kakak ke aku.Dia suka sama kakak."


"Kamu tau dari mana?Ga usah ngarang deh."


"Pak Satya sendiri yang ngaku gitu."


Vivi terdiam.


"Cieeee."


"Apaan cie-cie!"


"Abis ngapain tuh?"Marcel menggoda.


"Abis berantem."


"Kok berantem sih?"


"Iyah,berantam sama kak Zeky."


"Kok gitu sih,ka?Kak Zeky emang dimana?"


"Jadi waktu kakak lagi ngobrol sama pak Satya,Kak Zeky datang.Dia kesal gitu sampai pulang aja ga pamit sama kakak.Kakak panggilin juga ga nyahut,noleh aja engga."


"Pasti dia cemburu."


"Cemburu?"


"Iyalah.Makanya dia kesal liat kakak sama cowok lain."


"Ih..sok tau kamu anak kecil."


"Aku bukan anak kecil".


"Kamu syifa?"


"Hahaha..Kakak...Bukaaannn."Marcel tertawa.


"Tadi pak Satya belanja salep jerawat ke sini,trus istirahat dulu.Makanya kakak keluar ngobrol gitu.Ntar dikira sombong lagi.Nah,dia ngajak kakak kenalan.Ya gitu deh udah kenalan,ngobrol,tiba-tiba kak Zeky datang."


"Aduh...Gawat nih.Makanya kalian pacaran aja kak."

__ADS_1


Vivi menatap Marcel tajam.


"Eh...Tapi boong!"Marcel berlari ke rumah meninggalkan Vivi.


__ADS_2