Dinikahi Berondong Tampan

Dinikahi Berondong Tampan
Kisah Pilu


__ADS_3

Sudah sebulan setiap kali Anak kecil itu melihat Vivi,selalu meledeknya dan membuatnya marah.Entah memang kepribadiannya yang buruk atau memang otaknya yang sudah dicuci menjadi kotor oleh Andika.


Hari ini warga di jalan Hazairin diwajibkan melaksanakan gotong royong sepanjang jalan lingkungan mereka.Pagi-pagi Vivi sudah mempersiapkan sapu lidi dan juga sekopnya,sarung tangan,masker,dan topi.Tidak lupa ia menggunakan jaket untuk melindungi kulitnya dari terik matahari.


Jam setengah tujuh pagi,warga sudah berkumpul.Vivi melihat sekelilingnya hanya dia yang masih muda atau bahkan bisa dikatakan belum berkeluarga.Ini membuatnya sedikit agak sungkan.


"Bu,aku sendiri nih anak gadis?"Bisiknya pada bu Asmi yang berdiri di sampingnya.


"Ya gitu deh,Vi."


"Parah bangat ini."


"Udah,gapapa.santai ajalah."


"Iyah deh,bu."


Ketika Vivi melirik ke sebelah kiri,ia melihat Andika dan bocah nakal itu berjalan menuju mereka.Dan akhirnya bergabung juga.


"Hah?Si bocah laknat dan pria sombong ikut juga kerja bakti?ga salah tuh?"Gumamnya dengan pandangan sinis.


Setelah semuanya kumpul,gotong-royong dimulai.Mereka melakukan pekerjaan mereka secara rukun sambil berbincang satu sama lain,diiringi canda tawa disana.Hingga tak terasa pukul 10 pagi semuanya sudah beres.Mereka beristirahat sambil menikmati roti dan air mineral di warung sederhana.


Karena kebetulan disana kebanyakan ibu-ibu,Andika dan bocah itu izin pulang duluan.Setelah mereka berlalu ibu-ibu membahas tentang Marcel.Vivi hanya diam mendengarkan cerita mereka karena ia sendiri tidak tahu siapa itu Marcel.Hingga jam menunjukkan pukul 12 siang,barulah mereka semua bubar dan pulang ke dumah masing-masing.


...****************...


Sesampainya di rumah,Bu Asmi mengajak Vivi mampir,Vivipun tidak menolak.Mereka duduk di kursi teras dengan wajah kusam akibat paparan sinar matahari ketika kerja bakti.


"Bu,aku mau nanya."Vivi memulai pembicaraan sambil mengipaskan topi ke arah wajahnya.


"Nanya apa,Vi?"


"Tadi ibu-ibu pada bahas soal Marcel.Marcel itu siapa bu?"


"Oh Marcel,itu anak yang suka nemenin Andika ngantarin galon."


"Hah?Anak menyebalkan itu Marcel? Sialan! Nama itu terlalu bagus untuk manusia kayak dia."Pikirnya.


"Kenapa emang,Vi?"


"Penasaran aja bu.Tadi pada bilang kasihan sama Marcel kan? Emang Marcel kenapa yah bu?"


"Iya memang kasihan bangat anak itu.Dia ditinggal pergi mamanya sewaktu ia masih berumur 1 tahun."


"Oh yah? Kok ditinggalin bu?" Vivi geram mendengarnya.Nasib yang dialami Marcel hampir sama dengannya.Bedanya Marcel ditinggal mama sedangkan Vivi ditinggal Ayahnya.


"Sebenarnya ini juga karena ayahnya Marcel yang pemabuk dan suka KDRT sama istrinya dulu.Istrinya ga tahan dengan perlakuan suaminya dan memilih buat pergi ninggalin anak dan suaminya."


"Ya sih kasihan istrinya.Tapi harusnya anaknya dibawa pergi juga dong bu.Kan kasihan jadinya Marcel tumbuh tanpa kasih sayang ibunya.Pantes aja dia kayak nakal gitu."


"Iyasih.Orang-orang juga berpendapat gitu.Tapi mau gimana lagi!"


"Jadi Marcel sekarang tinggal sama siapa,bu?"


"Dia tinggal sama ayahnya.Denger-denger ayahnya juga kurang peduli sama dia.Setiap hari mabuk-mabuk aja terus.Kerjaannya ga jelas."


"Ya ampun kasihan bangat anaknya."


"Tapi dia ga pernah ngelakuin kekerasan sama anaknya kan,bu?"


"Katanya sih mau juga.Kalau dia lagi mabuk atau lagi kalah judi."


"Huhh...Pengen bangat liat ayahnya dan mukul kepalanya pake palu.Jahat bangat jadi orang."


"Trus gimana dengan sekolahnya Marcel?"


"Ya gitulah nak.Ayahnya ga mau biayain sekolahnya dan akhirnya Marcel putus sekolah."


"Ya ampun! kasian bangat Marcel.Ga tega bangat deh bu liat Marcel kayak gitu.Pantes aja tiap pagi bukannya pakai seragam dan berangkat sekolah,malah nemenin Andika ngantar galon."


"Iyah nak.Lumayan juga disana dia dapat makan tiga kali sehari.Kalau di rumahnya kan belom tentu bisa makan walau cuman sekali sehari."


"Ahh..Ga sanggup aku dengernya.Tapi Marcel tidur di rumah orang tuanya ga bu?"


"Iya,dia tinggal di rumah ayahnya."

__ADS_1


...****************...


Jam menunjukkan pukul 4 sore,langit terlihat sangat mendung dengan angin kencang menggugurkan daun pepohonan.


Hujan pun turun sangat deras membasahi tempat tinggal Vivi.Suasana di sana pun terasa sejuk.Vivi berdiri di teras menikmati tetesan air hujan yang menyejukkan pikirannya.


Tiba-tiba seseorang berlari ke terasnya untuk berteduh.


"Marcel?" Kata Vivi.Marcel memandang Vivi kebingungan kenapa Vivi bisa tau namanya.


"Kamu dari mana?"


"Aku habis dari rumah teman ka,main.Mau pulang tadi karna liat mendung,malah kena hujan di tengah jalan."Jelasnya dengan sungkan.Ia merasa tidak enakan karena saat ini ia berteduh di tempat orang yang selama ini ia bikin kesal.


"Oh gitu.Bentar deh kakak ada makanan di rumah.Kamu mau ga?"


Marcel hanya tersenyum malu.


"Kaka ambilin yah!" Kata Vivi sambil berjalan masuk ke rumah.


Tak lama kemudian,Vivi keluar dengan membawa brownies di piring.Juga segelas teh hangat.Vivi meminta Marcel duduk di sampingnya.Awalnya Marcel menolak namun akhirnya dengan bujukan Vivi ia pun duduk dengan ragu.Ia memang merasa tidak enak pada Vivi.Ia juga heran kenapa Vivi masih bisa sebaik dan selembut itu padanya bahkan setelah ia menyakiti hati Vivi berkali--kali.


"Dimakan yah?Trus ini minum biar hangat."


Marcel hanya tersenyum padanya lalu menikmati makanan dan minuman yang Vivi sajikan.


Kembali Vivi masuk ke rumah,lalu keluar membawa handuk kecil.Dengan tersenyum lembut ia duduk di samping Marcel dan menyodorkan handuk pada Marcel.


"Ini,dilap dulu rambut sama badannya yang basah."


"Hmm..Gausah ka,makasih Ntar juga kering sendiri."


"Pakai aja.Ntar masuk angin loh."


"Yaudah deh ka,Makasih yah ka! Kaka baik bangat sama aku."


Iya,sama-sama."


"Maaf juga kemarin-kemarin suka bikin kakak marah."katanya menunduk penuh perasaan bersalah.


"Iyah ka."


"Yauda,makan lagi geh! Pasti laper kan abis main-main."


"Gitu deh ka.


Oh yah,kakak tau nama aku dari mana?Kita kan belom kenalan."


"Tau dong.Kaka bisa ngeramal seseorang,bisa baca pikiran orang juga."


"Oh yah?Masa sih?"


"Beneran!"


"Ga percaya!"


"Buktinya kakak tau nama kamu kan?"


"Iya juga sih!"


"Nah itu."


"Hebat bangat kakak.Ajarin aku dong ka."


"Itu bakat dari lahir jadi gabisa diturunin ke orang lain."


"Gitu yah?"Wajah Marcel manyun.


"Ka,coba baca pikiran Marcel!"


"Eh bused.Gimana nih?" Gumam Vivi.


"Ayooo...apa yang Marcel pikirin!"


"Oke.Aku baca pikiran kamu...kamu sekarang lagi mikirin 'Kakak ini bakal bilang apa yah?' gitukan?" Kata Vivi mengarang tidak jelas.

__ADS_1


"Eh..beneran.Aku mikirnya gitu."


"Hahahahha..."Vivi tertawa terbahak-bahak dengan kepolosan Marcel.


"Ramal masa depan aku dong ka!"


"Haduhhh...Aku ngomong apa lagi yah?"Bisik Vivi dalam hati.


"Ayo dong ka.Marcel penasaran bangat sama masa depan Marcel."


"Oke.Kakak ramal yah! Jadi Marcel bakal jadi orang sukses,kaya raya,dan menikah dengan wanita yang sangat cantik."


"Wahh...Ga sabar aku pengen cepet-cepet dewasa.Cewenya cantik kayak kakak kan?"


"hihhihi."Vivi cengengesan dengan kepolosan Marcel.


"Oh yah,Kakak belom kenalan sama aku.Nama kakak siapa?Biar nanti kalau aku udah kaya bisa balas budi sama kakak.Soalnya kakak baik bangat sama aku."


"Hahaha...Yauda deh.Kenalin nama kaka Vivi.Vivi Yolanda Putri.Suatu saat kamu harus balas budi sama kakak."Kata Vivi bercanda dengan anak kecil polos di hadapannya.


"Siap kak! Kak Vivi Yolanda Putri."


"Rumah kakak sepi bangat.Kakak tinggal sendiri?"


"Iyah de.Kakak tinggal sendiri disini."


"Kok sendiri?Suami kakak mana?"


"Bused...Belom nikah kali."


"Udah tante-tante kok belom nikah?"


"Aku tante-tante?"Vivi melotot kesal.


"Iya.Kan udah dewasa,udah punya rumah sendiri.Berarti udah tante-tante."


"Ga kek gitu juga.Aku masih kakak-kakak." Vivi tidak terima disebut tante-tante oleh Marcel.


"Tante Vivi!" Marcel meledek Vivi.Vivi terdiam menatap Marcel.


"Kakak. Kak Vivi cantik." Katanya tersenyum manis.


Wajah kesal Vivi berubah jadi senyum.Juga sedikit geli dengan kata-kata Marcel.


"Kak.Aku pulang aja yah!"


"Loh..masih hujan.Nanti kamu sakit."


"Nanti kelamaan pulang,ayah aku marah.Aku takut ka."


"Ayah kamu galak yah?"


"Iyah ka.Ayah aku galak bangat,suka mukul aku."


"Ya ampun.Kalo gitu kamu pulang aja yah?Kaka anterin pakai payung mau?"


"Ga,nanti ayah ngira kakak pacar aku."


"Eh..masih kecil juga.Pikirannya udah kek gitu.Hahaha.


ini polos apa dewasa yah bisa kepikiran sampai kesitu?" Vivi tertawa ngakak.


"Hehehe...Aku masih kecil.Ga boleh pacar-pacaran."


"Hahaha..Iyain deh.Trus gimana?"


Kamu bawa aja payung kakak.Besok-besok balikin lagi tapi.


"Kalau kakak maksa gapapa."


"Hahaha..kakak ga maksa sih."


"Yauda,aku ga mau pake payung kakak."


"Kakak maksa!"Kata Vivi sok tegas.

__ADS_1


"Yauda aku mau."


__ADS_2