Dinikahi Berondong Tampan

Dinikahi Berondong Tampan
Berbohong


__ADS_3

"Ohh...Jadi kamu sekarang tinggal disini?" Kata Andika menghampiri Marcel yang sedang duduk di teras.


"Iya bang."Marcel menunduk.


"Enak dong yah hidup kamu sekarang?Numpang hidup di sini.Selamat Marcel! Kamu hebat! Tapi jangan pernah jadi kacang lupa kulit yah?Harus ingat siapa yang dulu kasihan sama kamu,ngasih kamu makan setiap hari,sebelum akhirnya jadi orang ga berkekurangan kayak sekarang." Kata Andika seolah menekan Marcel.


"Ehh...ada kamu?"Vivi tiba-tiba keluar dari rumah.


Andika hanya menatap Vivi tajam tanpa kata-kata.


"Mau beli apa?"


"Ga mau beli.Urus nih bocah baik-baik." Katanya kemudian pergi.


Vivi menatap kepergiannya dengan tatapan sinis.Di hatinya masih tersimpan benci pada Andika atas kata-kata yang menyakiti hatinya.


"Marcel,Dia bilang apa tadi?"


"Gapapa kok,kak!"


"Tapi muka kamu berubah jadi murung gitu.Semenjak tinggal sama kakak baru kali ini kakak liat kamu ga ceria.Cerita sama kakak.Kak Vivi kan kakaknya Marcel."


"Beneran gapapa kak.Kalo ada apa-apa pasti Marcel bakal cerita sama kakak."


"Yauda deh kalau emang ga ada apa-apa."


"Iyah ka.Marcel cuman kangen aja kayak dulu waktu masih sama bang Andika."


"Kangen sama manusia jadi-jadian itu?Cowok yang keliatan polos diluar yang ternyata hatinya kayak singa.Pria galak!"


"Biarpun galak tapi bang Andika baik kok,kak."


"Halah...baik apanya kayak gitu."


"Beneran ka.Aku juga emang hutang budi sama bang Andika dan keluarganya.Selama ini mereka yang ngasih Marcel makan."


"Hello!!! Hutang budi apaan sih Marcel? emang udah seharusnya juga mereka ngelakuin itu.Kamu disana ga cuman numpang makan.kamu kerja disana kan?" Vivi tidak terima Marcel segitunya membela laki-laki tidak punya hati itu.


"Iya sih ka.Tapi tetep aja mereka baik sama aku."


"Haduhhh...kayaknya dia ngirim jampi-jampi deh sama kamu.Dia udah nyuci otak kamu."


Marcel terdiam.


"Kok diem?" Vivi menatap Marcel.


"Ka. Aku bakalan hutang budi bangat sama kakak.Kakak ngerawat dan biayain aku disini,padahal aku ga bisa bantu apa-apa buat kakak.Aku ga berguna,cuman jadi beban kakak."


"Ehh..Kok ngomong gitu?Siapa bilang kamu ga berguna?Siapa bilang kamu beban buat kakak?"

__ADS_1


"Aku kak."


"Kamu salah Marcel.Kamu dengerin kata-kata kakak yah! Kakak senang bangat Marcel ada disini.Kakak ga perlu takut lagi sama orang-orang jahat,sama maling,atau apalah.Karena udah ada super hero kakak disini.Kakak udah percaya bangat kalau kamu bakal jagain kakak." Kata Vivi berusaha menenangkan dan meyakinkan Marcel.


"Iyah ka.Marcel pasti bakal jagain kakak terus.Pokoknya Marcel bakal lindungin kakak." Kata Marcel semangat.


"Nah,gini dong.Kakak senang bangat kalau kayak gini.


Yauda,kakak udah selesai masak.sekarang kita makan yah!"


"Iyah kak.Ayok!"


...****************...


"Ka!" Marcel menghampiri Vivi yang tengah duduk membaca berita di ponselnya.


"Iyah de.Kenapa?" Vivi meletakkan handphone di meja.


"Boleh ga Marcel main ke tempat teman Marcel?"


"Emmm..Marcel bosen di rumah yah?"


"Iyah ka.Kalau kakak izinin sih.Kalau engga juga gapapa kok kak."


"Ya diizinin dong.Ga mungkinlah kakak larang kamu buat main sama temen kamu."


"Jadi boleh nih ka?"Marcel tersenyum.Mata Marcel berbinar-binar kesenangan.


"Iya ka,pasti.Kalau gitu aku pergi dulu yah ka.Kakak tenang aja Marcel ga lama kok.Marcel kan harus jagain kakak disini."


"Hahaha...iya deh.Si paling super hero kakak." Vivi mengacak-acak rambut Marcel sambil tertawa.


"Yauda sana."


"dah kakak..." Marcel berlari keluar rumah.


Setelah Marcel berlalu,Vivi kembali mengambil ponselnya dan lanjut membaca berita.Sedang serius membaca berita,tiba-tiba ponselnya bergetar.Dilihatnya panggilan masuk dari nomor tak dikenal.


Jantungnya berdegup kencang.Penasaran bercampur takut dengan nomor baru yang menelponnya. Takut kalau-kalau keluarganya menemukan nomor handphone nya yang baru dan sudah mendapaf informasi tentangnya.


Namun jika dipikir-pikir itu tidak mungkin.Menurutnya keberadaannya sekarang sudah cukup aman.Vivi tidak menjawab telpon dari nomor tak dikenal itu.


Pesan masuk di Whats'App nya.Dilihatnya itu pesan dari nomor baru yang baru saja menelponnya.


"Kamu di rumah kan ,Vi? Aku ke sana yah!"


Mata Vivi terbelalak dan mulutnya melongo membaca pesan itu.


"Gawaaaatttt....Ini pasti kakak.Aku harus gimana? Udah jauh-jauh datang kesini,ganti nomor handphone, bikin akun baru semua akun media sosial malah tetap ketahuan." katanya lemas.

__ADS_1


"Hello..." pesan masuk lagi.


Vivi tidak membalas.Nomor tak dikenal kembali menelponnya.Dan lagi-lagi Vivi tidak menjawab.


"Sombong yah sekarang."


"Ahhh...Sialan.Ketauan juga aku disini.Lemes bestieh...udah jauh-jauh pindah kesini,tetap ketauan sama kakak.Dah lah..kalau udah gini aku ga semangat lagi.Aku tutup aja dulu tokonya.Kek gini ga pokus juga buat layanin pembeli ntar." Katanya mulai berjalan menuju pintu tokonya.Dia pun menutup tokonya rapat-rapat.Lalu pergi ke kamar merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"tok..tok..tokk..." Suara mengetuk pintu terdengar samar-samar di telinga Vivi yang hampir tertidur pulas.


Suara seseorang memanggil dari luar juga terdengar samar akibat nyawanya yang belum terkumpul sehabis bangun tidur.


Tiba-tiba Vivi tersadar tentang nomor tak dikenal yang mengiriminya pesan dan menelponnya beberapa kali.


"Itu pasti orangnya.Pasti itu kakak aku." Bisiknya dalam hati.


Dengan langkah terseret Vivi berjan menuju depan.Suara tidak terdengar lagi.Mungkin orangnya sudah pergi pikirnya.


"Kak Vivi...Buka dong!" Terdengar teriakan dari luar.


"Marcel?" Katanya lalu membuka pintu.


"Kamu ternyata Marcel.Kakak panik bangat dari tadi.Kirain siapa".Kata Vivi sangat lega.


"Kakak pikir penjahat?Kakak kek panik gitu mukaknya.Kakak ketakutan yah karena ga ada aku?"


"Eh...emm..iya." Jawab Vivi asal tidak mau memperpanjang pada Marcel.


"Ya ampun..Maafin Marcel yah ka.Gara-gara Marcel pergi main kakak sampai tutup segala padahal masih sore.Marcel janji besok-besok ga akan pergi-pergi lagi.Marcel bakalan di rumah aja terus nemenin kakak.Marcel bakal jagain kakak."


"Hahahah...Ga kok Marcel.Gapapa kalau kamu main sama temen kamu."


"Tapi kakak jadi kayak gini.Maafin aku yah ka!"


"Enggak loh.Marcel ga ada salah.


PRANK!!!" teriak Vivi.


"Hah?" Marcel melongo.


"Iyah kakak cuman ngerjain Marcel tadi.Hahaha...Kakak berhasil"


"Masa sih ka?Keliatannya muka kakak panik beneran."


"Nah itu.Berarti kakak berhasil kan?"


"Ih..kakak apaan.Aku khawatir tau."


"Hahaha..iya deh si paling khawatir.Maafin kakak yah.Kamu masuk geh.Mandi yah!"

__ADS_1


"Iyah ka.Lain kali jangan ngerjain Marcel gitu."


"Iya iya Marcel." Kata Vivi pura-pura tertawa.


__ADS_2