
Jam empat subuh,Vivi bangun dengan semangat.Ia langsung mulai menyiapkan bahan-bahan masakannya.Sementara bumbu-bumbu sudah ia siapkan tadi malam.Ini adalah hari pertamanya membuka warteg kembali setelah mamanya tiada.
Ia memotong sayur dengan perlahan.Kenangan sewaktu berjualan dengan mama dan kakaknya memenuhi pikirannya.
Setelah semua bahan beres ia mulai memasak.Kenangan masa kecilnya terus saja memenuhi pikirannya.
Jam menunjukkan pukul 06:00 pagi.Makanan untuk dijual sudah selesai ia masak.Lanjut membersihkan rumah dan tempatnya berjualan.Ia lakukan sambil memutar musik untuk menambah semangatnya bersih-bersih.
Setelah beres,ia pun mandi.Pagi ini ia menggunakan pakaian polos.Wajahnya dilapisi sedikit bedak dan sedikit goresan lipstik di bibirnya.
Ia duduk di kursi sambil menunggu pembeli.Menunggu selama 30 menit,akhirnya ada juga yang mampir.Seorang pria kira-kira umur 40-an dengan pakaian rapi,sepertinya seorang guru menghampirinya.
"Kak,nasi campur satu yah.Telornya dua."Katanya lalu duduk di kursi meja makan.
"Baik pak.Sebentar yah pak."Sahut Vivi dengan ramah dan lemah lembut.
Sambil menunggu Vivi menyiapkan pesanan,pria itu asyik memainkan handphone nya.
"Kamu kerja disini?"Tanya pria itu tiba-tiba.
"Ini pak."Kata Vivi yang kebetulan sudah selesai membuat makanan untuknya.Ia menghidangkan makanan dengan sedikit gugup.
"Saya yang berjualan disini sekarang pak."Lanjutnya.
"Ohhh...Kirain tadi pekerjanya bu Siska."
Bu Siska adalah pengontrak rumah Vivi selama Vivi di Palembang.
"Bukan pak."Jawabnya tersenyum gugup.
"Trus bu Siska dimana sekarang?Udah lama saya jadi pelanggannya dia,dan udah sebulan lebih dia ga jualan,dia juga ga ngasih tau sama sekali soal ini."
"Bu Siska udah pindah pak.Kurang tau juga sekarang tinggal dimana."
"Oh gitu."Bapak tersebut mengangguk-anggukkan kepala.
Pria itu mulai mencicipi masakan Vivi.Vivi berjalan perlahan menuju kursinya tempat dimana ia menunggu pembeli sedari tadi.
__ADS_1
Diliriknya ke arah pelanggannya dengan menyipitkan matanya.Melihat bagaimana reaksi pelanggan ketika memakan masakannya.Baru makan tiga suap,pria itu meletakkan sendoknya,lalu minum dan mengelap mulutnya dengan tisue.
"Berapa kak?"Tanyanya kemudian.
"Tiga belas ribu pak!"Sahut Vivi menunduk merasa tidak enak.
Pria itu memberikan uang lima belas ribu.
"Kembaliannya kamu ambil aja.Belajar masak lagi yah biar pelanggannya ga jera datang."Katanya.Kata-kata itu sungguh menyayat hati Vivi.Itu artinya masakan Vivi benar-benar tidak enak.
"Maaf pak kalau mengecewakan.Hari berikutnya ga akan kayak gini lagi".
"Iya.semangat!"Katanya sambil berlalu dari hadapan Vivi.
Tak lama kemudian,seorang ibu dengan anaknya datang.Ibu yang akan mengantar anaknya sekolah.
"Sekarang kamu yang ngontrak disini?"Tanya ibu tersebut.
"Eum...Sebenarnya ini rumah orang tua saya bu.Kemarin-kemarin saya ngerantau makanya rumahnya dikontrakin dulu."
"Iyah bu.Sebentar".Sahut Vivi sedikit canggung.
"Ini bu!"Kata Vivi setelah beberapa saat.
"Makasih!"Jawabnya dengan muka datar.
Lalu keduanya memakan makanan yang Vivi hidangkan.
"Kok rasanya gini yah?Hambar bangat,ga enak.Beda bangat sama masakan bu Siska."Protesnya.
Vivi menunduk dengan mata berkaca-kaca.Setelah membayar makanannya,Ibu dan anak itu kemudian pergi dengan wajah kesal.
"Pagi ini sudah ada dua pembeli,dan keduanya bilang ga enak.Gimana ini?"Bisiknya dalam hati.
Perasaan Vivi campur aduk sekarang.Merasa tidak enak dengan pelanggan yang kecewa,sedih dengan kata-kata pelanggan,dan juga takut untuk lanjut menjual makanannya.Vivi duduk mencicipi masakannya.Rasa hambar ia rasakan di lidahnya.
"Masakan bu Siska pasti seenak masakan mama.Makanya orang-orang pada suka."Katanya berbicara pada makanan di piringnya.
__ADS_1
"Dulu Marcel dan Zeky bilang masakan aku itu makanan paling enak dibanding masakan siapapun.Mereka selalu memuji masakan aku dalam setiap suapan.Apa iya masakan aku ga pantes dijual?
Marcellll...Harusnya kamu disini nemanin aku.Biar kamu bisa cicipin dan aku lebih percaya diri.
Apa makanan ini ga enak gara-gara aku masak sambil ngelamun yah?Berarti mulai besok aku harus pokus waktu memasak.Gausah mikirin ini itu."Katanya menenangkan dirinya.
...****************...
"Oh anak rantau udah balik nih lanjutin usaha lama keluarga?"Terdengar suara wanita memecahkan keheningan.Vivi melirik ke arah datangnya suara.Di sana ada bu Mariana yang sudah dikenal di kampung itu sebagai seorang yang suka ikut campur hidup orang lain.
Vivi tidak menyahut pada wanita yang sangat ia benci dari dulu itu.
"Masih hidup rupanya."Bisiknya dalam hati.
"Kok malah balik lagi? Gimana di perantauan?Melarat pasti yah?"Katanya lagi.Vivi masih terdiam.Ia dengan santai memainkan Hpnya menganggap bu Mariana tidak ada disana.
"Udah nasib kamu kali yah jadi orang kampung selamanya."Lanjutnya lagi dengan nada kesal karena tidak ada respon dari Vivi.Vivi menatapnya tajam.
"Kok bisa yah orang kayak gini masih hidup sampai sekarang?"Vivi menunjuk tepat di depan wajah bu Mariana.
"Ohh..Berani kamu sekarang yah?"
"Dari dulu juga berani.Tapi diam aja karena ga ada gunanya ngelawan orang gila.Tapi makin kesini kayaknya perlu tegas juga deh sama orang gila."
Bu Mariana mengayun tangannya dan hampir menampar Vivi.Tapi Vivi langsung menahan tangan Bu Mariana dan mendorongnya.
"Mending pulang deh bu.Urus keluarga ibu sana."
"Kurang ajar.Awas aja kamu yah.Aku doain jualanmu ga laku.Dasar cewe sombong.ga punya sopan santun."
"Doa buruk kayak gitu ga dijawab Tuhan.Kalau mau doanya dijawab,minta yang baik-baik dong bu.Dan perbaiki diri dulu bu.Jangan asyik ngurusin dan nyakitin hati orang."Vivi tersenyum menambah emosi bu Mariana.
Bu Mariana pergi dengan wajah penuh amarah.Vivi kembali duduk di kursi.
"Mama,Zeky,Marcel! Aku benar-benar sendiri sekarang.Aku harus gimana?.Katanya menangis.
"Marcel...Kamu dimana?Kenapa ga ada kabar?Nomor aku masih yang lama,ga pernah ganti.Kenapa ga ngubungin aku?Apa kamu juga udah pergi ninggalin aku juga sama kayak mama dan Zeky?".Katanya menagis sesenggukan.
__ADS_1