
Vivi berjalan memasuki halaman rumahnya dengan tangan kanannya menarik koper dan satu rangsel di punggungnya serta tas mini tergantung di bahunya.
Kini ia sudah sampai ke tempat dimana ia dilahirkan,dibesarkan,dan tinggal bersama mamanya dulu.Sudah banyak perubahan pada lingkungan dan rumah itu selama sepuluh tahun ia meninggalkan tempat itu.
Pengontraknya sudah mengganti cat rumah,menambah taman mini di depan,dan memperbaiki bagian teras rumah.Tampak jauh lebih indah dibanding ketika ia masih tinggal disana bersama mama.
Sejak satu bulan lalu memang Vivi sudah meminta pengontrak untuk mencari kontrakan baru dengan alasan ia akan tinggal di rumah itu.
Vivi meletakkan koper,tas,dan rangselnya lalu duduk di lantai teras menatap ke jalan.
"Selamat datang di tempat kelahiran.Tempat yang menyimpan sangat banyak kenangan manis dan pahit bersama mama dan kakak.Aku ga nyangka bakalan balik lagi ke tempat ini."Katanya dengan pandangan kosong.
"Udah sampai,Vi?"Tanya tetangga samping rumah menghampirinya.
"Iyah bu."Katanya tersentak kemudian tersenyum.
"Oh iya,ini pengontrak sebelumnya nitip kunci rumah sama ibu."Wanita paruh baya itu memberikan kunci pada Vivi.
"Makasih bu."
"Gimana kabar kamu?Lama bangat kamu ga balik ke kampung halaman.Kakak kamu juga gitu.Betah bangat kamu yah di perantauan."
"Hemmm...Gitulah bu."Vivi menghela napas.
__ADS_1
"Gitu gimana Vi?"
"Gapapa bu,lupain aja."
"Yaudah deh."
"Oh iya bu,gimana kabar Tiara sekarang?Kangen juga sama dia.Pasti dia udah dapat kerja bagus yah bu?"Tanya Vivi pada ibu tersebut.Tiara Sakina adalah sahabat masa kecilnya dulu.Sahabat lama Vivi semenjak Tiara dan keluarganya pindah ke sebelah rumah Vivi ketika masih TK sampai keduanya lulus sekolah.
"Humm...Ga Vi.Sebenarnya ibu malu ceritain ini sama kamu."Ibunya Tiara menunduk.
"Kenapa emang bu?"Tanya Vivi penasaran.
"Waktu Tiara masih kuliah semester 5,dia ternyata udah hamil.hamil di luar nikah.Terpaksa ibu nikahkan dia dengan pacarnya yang sudah berzinah dengan dia dan berhenti kuliah.Dan mirisnya suaminya bukan pria baik-baik.Dia pria yang kasar dan suka main dengan perempuan lain.Mereka juga hampir setiap hari bertengkar.Dan Sekarang suaminya ga mau kerja,jadi Tiara yang harus bekerja banting tulang untuk membiayai keluarga mereka."Jelas ibu Tiara dengan mata berkaca-kaca.
"Ya ampun bu.Aku turut prihatin sama Tiara.Kasihan bangat dia."Sahut Vivi iba.
"Gitu yah,bu!"
"Iyah nak.Semoga kamu dapat suami yang baik yah.Jangan kayak suami Tiara ini.Kamu orang baik,semoga dapat jodoh yang baik juga."
"Amin...Makasih yah bu.Semoga keluarga Tiara juga bisa berubah menjadi harmonis."
"Amin nak.
__ADS_1
Kalau gitu ibu pamit dulu yah."
"Loh...kok cepet bangat bu?Ga mau ngobrol dulu di dalam?"
"Lain kali aja Vi.Tadi ibu lagi masak air di dapur.Kayaknya udah matang."
"Oh iya deh kalau gitu bu.Makasih yah bu."
"Iyah nak.Sama-sama."
...****************...
Vivi masuk ke rumah.Berjalan dari depan ke ruang tamu,lalu ke dapur melihat keadaan rumah mereka.Kemudian ke kamar mandi dan kembali lagi ke depan.
Perlahan Vivi berjalan menuju kamarnya.Dibukanya pintu dan tak terasa aor mata sudah mengalir deras di pipinya.Ia berjalan dengan langkah terseret.Dipandanginya sekeliling kamar.Keadaannya sudah berbeda.Poto masa kecilnya ketika bersama ibu dan kakaknya sudah diganti dengan gambar-gambar anime lucu oleh anak pengontrak.
Vivi membuka lemari di pojok kamar,ia melihat poto-poto lama itu tersusun rapi disana.Dengan tangan gemetaran Vivi meraih beberapa poto dan membawanya ke tempat tidur.Ia duduk di tempat tidur memandangi satu persatu poto yang ia ambil dari lemari.Potonya bersama kakak dan ibu yang tampak tertawa gembira disana.Vivi memperhatikan wajah ketiga orang di poto itu.Air matanya pun sudah menetes membasahi kaca bingaki poto.Vivi memeluk erat poto itu dan tidak dapat menahan tangisnya.Sampai pada saat kecoak menggelitiki kakinyabuat ia tersentak berteriak dan berlari keluar kamar.
...****************...
Tiga hari sudah berada di kampung halaman,Vivi pun meutuskan untuk bekerja.Selain keuangannya yang semakin menipis,juga menghilangkan rasa kesepiannya.Tapi,ia juga bingung harus bekerja dimana.
Tiba-tiba muncul di pikirannya untuk membuat usaha seperti mamanya dulu,yaitu membuka warteg.Selama merantau ia memang sudah banyak mempelajari tentang membuat berbagai macam makanan.
__ADS_1
"Sekarang,aku harus mulai dari nol lagi.Gapapa...aku harus semangat.Ada mama dan Zeky yang selalu nemenin aku.Siapa tau nanti abis buka warteg aku bisa buka rumah makan,terus meningkat lagi jadi restoran."Gumamnya dengan senyum di pipinya.
Ia pun mulai menyiapkan peralatan dan perlengkapan untuk wartegnya.Kali ini ia sudah tidak mau mengeluh lagi.Apapun keadaannya,hidup harus terus dijalani.Kedatangan mama dan Zeky ke dalam mimpinya memberi semangat dan kekuatan baru untuknya.