
Hari ini Vivi memutuskan untuk tidak membuka toko.Vivi berniat untuk pergi ke rumah Marcel dan membicarakan mengenai sekolah Marcel.Setelah menutup gerbang Vivi berjalan menuju rumah Marcel yang memang jaraknya tidak jauh dari rumah Vivi.Tepatnya berdekatan dengan rumah Andika.
Vivi melihat sekeliling rumah Marcel.Sepetak rumah yang terlihat seperti sudah tidak ada penghuninya.Terasnya begitu kotor,ada banyak pasir berserakan disana,juga banyak dedaunan yang gugur dari pohon yang berada di samping rumahnya.
Dengan langkah yang berat,Vivi berjalan mendekati pintu rumah Marcel,lalu mengetok.Tak lama kemudian Marcel keluar dengan mata yang sembab.
"Kak Vivi?"Katanya kaget melihat Vivi berdiri di depan pintu rumahnya.
"Halo Marcel!" Vivi melambaikan tangannya tersenyum.
"Mata kamu kok sembab gitu?Kamu habis nangis?" Vivi mendekatkan wajahnya pada Marcel.
"Aku gapapa kak."
"Pasti kamu abis nangis yah?"
"semalam sih ka."Katanya menunduk.
"Kamu nangis kenapa?"
"Mending kakak pulang aja,nanti aku ke rumah kakak kalau emang kakak mau ngomong sama aku." katanya berbisik.
"Kok gitu? Padahal kakak juga pengen ngomong sama ayah kamu.Ayah kamu ada kan?"Vivi melirik ke dalam rumah Marcel.Di dalam gelap tidak ada cahaya lampu.Hanya cahaya lilin yang berada di atas meja depan Tv.
"Ka,mending gausah dulu deh.Ayah dari tadi malam ngamuk.Aku aja takut di rumah."
"Jadi itu yang bikin kamu nangis?Kamu diapain sama ayah kamu?"
"Gapapa kok kak.Mending kakak pulang aja yah!"
"Kamu ngusir kakak?"
"Engga ka.Takut aja ayah nanti malah marah juga sama kakak.Aku ga mau aja kayak gitu.Kakak kan baik bangat sama aku."Jawab Marcel polos.
"Marcel!" Seru ayahnya dengan galak dari rumah.
"Iyah yah."Jawab Marcel dengan sedikit gemetaran.
"Ngomong sama siapa kamu?" Katanya dan tiba-tiba sudah muncul di hadapan Vivi.Ayah Marcel memandangi Vivi dari rambut sampai kaki.
"Permisi pak!" Vivi memecahkan keheningan.
__ADS_1
"Siapa?" Katanya datar dengan nada tegas.
"Saya Vivi.Warga baru yang buka toko kosmetik di..."
"Ngapain ke sini?" Tanyanya lagi seperti tidak mau berbasa basi.
"Saya kesini mau membicarakan tentang sekolah Marcel,pak."
"Marcel udah ga sekolah.Pulang sana!"
"Justru itu pak.Saya mau membiayai sekolah Marcel.Boleh ga pak?"
Ayah Marcel menatap Vivi dan Marcel bergantian dengan wajah keheranan.
"Kamu siapa sok-sok mau nyekolahin anak ga berguna ini?"
"Pak! Jangan bilang gitu."
"Suka-suka sayalah.Siapa kamu berani ngatur-ngatur saya?" Suara ayah Marcel semakin keras terdengar.Marcel menunduk takut.
"Tapi ga pantas bapak bilang gitu sama anak bapak."
"Kamu kok ikut campur bangat sih sama keluarga saya?Saya ga suka yah! Kalau memang kamu mau nyekolahkan dia,silakan! ambil anak sialan ini."Katanya sambil mendorong Marcel kepada Vivi.Lalu masuk ke rumah dan melempar baju-baju Marcel kepada mereka.
"Pergi kalian!"
"Aku ga mau Ayah.Aku cuman punya ayah,aku ga punya keluarga lain.Aku mau sama ayah terus.Gapapa kalau aku gausah sekolah,gapapa kalau ayah marah-marahin aku di rumah,yang penting aku tetap jadi anaknya ayah dan tinggal sama ayah."Marcel memegang tangan ayahnya sambil menangis sesenggukan.
"Dasar anak ga berguna! Pergi kalian." Hempas ayahnya.
"Ayo Marcel,kita pergi.Ngapain nangisin orang ga punya hati ini."Vivi menarik tangan Marcel.
"Ka..."Marcel menahan langkahnya.
"hem?" Tanpa sengaja air mata di pipi Vivi sudah mengalir.Ia tidak tega melihat Marcel diperlakukan seperti itu.
"Ayo sayang.Kamu anak hebat.Suatu saat dia bakalan sadar dan nyesel membuang anak sehebat Marcel."
Marcel memungut pakaiannya.
"Gausah dibawa.Kakak bisa belikan pakaian buat kamu.Kakak bisa biayain hidup kamu,kakak bisa ngasih kehidupan yang layak buat kamu."
__ADS_1
"Harusnya bapak sadar yang ga berguna itu siapa? Marcel yang harusnya masih bersekolah dengan teman-teman seusianya,tapi malah sibuk bantuin orang kerja hanya buat bisa makan,atau bapak yang tidak mau menanggungjawabi kehidupan anak bapak? Coba dipikirin lagi yah!" Kata Vivi sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Ayah Marcel.
...****************...
"Mulai sekarang kamu tinggal sama kakak,yah?"
"Ka..." Marcel menangis.
"Aku sedih bangat.Ayah ngusir aku."
"Udah,gapapa.Daripada tinggal sama dia cuman buat kamu tersiksa."
"Tapi aku nanti jadi ngerepotin kakak.Aku ga enak sama kakak.Kakak udah baik mau nyekolahin aku,harusnya ga tinggal sama kakak juga.Kakak biayain sekolah aku aja aku udah ngerepotin kakak."
"Engga Marcel.Kamu santai aja yah! Anggap aja kakak ini adalah kakak kandung kamu.
Oh iya,sekarang kita sama-sama ga punya keluarga kan? Gimana kalau kita aja yang jadi keluarga?Mau ga jadi adeknya kakak?"
"Mau kak.Aku mau jadi adeknya kakak.Aku janji kalau udah besar nanti bakal balas kebaikan kakak sama Marcel.Dan Marcel janji Kalau udah besar nanti bakal lindungin kakak dan jagain kakak terus."
"Makasih adek aku."
"Yauda,sekarang kamu mandi dan siap-siap."
"Siap-siap ke mana ka? Daftar sekolah?"
"Belom Marcel.Kita harus beli baju-baju kamu dulu,trus perlengkapan-perlengkapan kamu."
"Oh gitu yah ka?Makasih banyak yah ka.Kakak itu malaikat aku."
"Oh yah,Malaikat?" Kata Vivi lucu.
"Iyah.Kakak malaikat buat Marcel."
"Hahaha...Iya deh.Kelak kamu harus jadi pahlawan buat kakak yah!"
"Pasti kak.Aku bakal jadi pahlawannya kakak."
"Yauda sana mandi,kita harus belanja keperluan kamu."
"Iyah Malaikatnya Marcel."Marcel langsung berlari menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Ada-ada aja kamu Marcel.Kakak janji bakal bikin kamu bahagia.Kakak bakal bikin kamu ngejalanin hidup dengan layak,kakak bakal bikin kamu jadi orang sukses dan terpandang suatu saat nanti.Kakak juga percaya sama kamu.Kamu itu anak yang kuat dan hebat."