
"Ini ga terasa bangat air nya udah mau habis aja.Mana males bangat lagi jalan buat beli air."Gerutunya dalam hati.Vivi memang belum punya kendaraan sendiri disana,jadi tidak bebas kesana kemari.
Dilihatnya keluar rumah.Panas terik matahari membakar tumbuhan yang ada diluar hingga terlihat layu,panasnya jalanan membakar ban kendaraan yang lalu lalang disana.Membayangkan dirinya berjalan disana saja sudah membuatnya pusing.
Ia duduk di kursi sambil membuka akun media sosial barunya.Tiba-tiba teringat dengan nomor Andika Water yang sudah ia save.
ia mencari nomor WhatsApp Andika Water di kontaknya.Setelah menemukan dengan ragu-ragu ia mengetik pesannya.
"p"
"Andika Water? " isi pesannya.
Di menit yang sama,sudah ada balasan dari Andika Water.Jantungnya berdegup kencang.
"Iyah.Galon mbak?" balasnya
"Iyah mas.Bisa minta tolong dijemput ga?"
"Bisa mbak.Ditunggu yah?"
"fast respond bangat."Katanya tersenyum riang.Lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.Belum selesai merapikan rambut sudah terdengar suara di depan.
"Permisi."
"Iya!"Vivi berjalan sambil merapikan rambutnya.Tidak lupa ia membawa galon kosong di tangan kirinya,Ia membuka pintu.
"Eh,mas.Ini galon nya."
Andika hanya mengambil dari tangannya tanpa kata-kata.
"Ini uangnya."Kata Vivi menyodorkan uang lima ribuan.
"Nanti aja mbak pas ngantar airnya."
"Sekarang aja.Lagian uangnya udah di tangan aku."
__ADS_1
"Oh iya."Katanya menerima uang dari Vivi dengan wajah gugup.Vivipun demikian.Andika pun berlalu dari hadapan Vivi.
Setelah Andika pergi,Vivi juga langsung berlari masuk ke rumah.Ia berdiri di depan cermin sambil mengulang kembali bagaimana mereka tadi.Ia ingin melihat bagaimana tadi wajahnya ketika berbicara dengan Andika.
"Aaaaaa...masa aku gini tadi! Ya ampun jelek bangatttt."Teriaknya di depan cermin.
"Oke.Santai vi.Kamu harus mengatur ekspresi kalau nanti dia datang nganterin galonnya.
Vivi seakan berekting di depan cermin.mengatur wajah,cara berbicara,dan cara berdiri.
"Kak,Beli kapas wajah dong."Seru ibu yang sudah berdiri di depan steling.Vivi terkejut dan langsung menghentikan aktifitasnya.Lalu melayani pembeli yang datang dengan sangat ramah dan sopan.
Setelah pembeli tersebut pergi,ia kembali berdiri di depan cermin.
"Ya ampun.Aku harus cuci muka dulu deh kayaknya.Trus oles sedikit bedak dan lipstik."Katanya lagi sambil berlari menuju kamar mandi.Cepat-cepat ia membersihkan wajahnya.Lalu merias sedikit wajahnya.Dalam waktu yang sesingkat itu dia benar-benar tampil cantik.Kembali ia memperagakan dirinya ketika tukang galon nanti datang.
"Permisi!"Suara mengejutkannya lagi.
Vivi menoleh,Andika sudah menatapnya dari balik Steling.
"Iya mas."Katanya gugup keluar dari rumah.Wajahnya seketika memerah seperti buah tomat yang siap dipetik.Tangannya dingin dan berkeringat.
"Sama-sama."Kata keduanya lagi.
Lagi-lagi keduanya bicara bersamaan dan kemudian salah tingkah.Andika pun sedikit berlari meninggalkan Vivi.Tiba-tiba kakinya tesandung batu hingga terjatuh.
"Eh mas!"Vivi panik menghampiri Andika.Belum sempat Vivi membantunya berdiri,Andika sudah bangkit sendiri.Wajahnya memerah menahan malu.
"Hati-hati!"Kata Vivi dengan suara agak tertahan.
Andika hanya menatapnya datar tanpa sepatah katapun.Vivi menunduk hingga akhirnya Andika menaiki motornya dan pergi.
Mengingat kejadian tadi membuat Vivi merasa bersalah.Harusnya ketika ia melihat Andika terjatuh dia masuk ke rumah seolah tak melihat kejadian itu.Ia merasa bahwa dirinya telah mempermalukan pria pendiam itu.
Vivi duduk memperhatikan poto profil Andika di WhatsApp.
__ADS_1
"Gimana yah caranya biar bisa dekat sama kamu?Masa iya aku yang deketin duluan?Trus gimana kalau dia malah ilfeel dan risih sama aku?Tapi kalau ga aku coba aku mana bisa dekat sama dia,apalagi dia pendiam.Ga mungkin dia mau ngajak aku kenalan.Kalau aku chat dia bakalan bales ga yah?
Ayolaaahh...Bisa ga sih sesekali kita chat'tan tanpa harus bawa-bawa galon?" Vivi berbicara dengan poto Andika.
Vivi keluar rumah dan duduk di teras dengan air mineral dan cemilan di dalam toples yang baru ia beli kemarin sore dari supermarket.
Dinikmatinya perlahan cemilan sambil sesekali meneguk air mineralnya.Matanya tertuju pada setiap orang yang lalu-lalang.Keadaan tokonya memang masih sepi,walaupun sudah dua malam berturut-turut melakukan saran dari bu Asmi untuk memukul gelas dengan sendok ketika ada suara-suara aneh di tengah malam.
Tiba-tiba matanya terbelalak.Andika lewat dari depan rumahnya membawa galon kosong untuk diisi ulang.Jantungnya langsung berdebar walau hanya melihat dari jarak jauh.Vivi lalu berdiri dan merapikan daster yang ia gunakan.Kali ini ia ingin mulai mendekati Andika.
Ia berjalan menuju pagar rumahnya sambil memperhatikan ke arah dari mana harusnya Andika datang.Tak lama kemudian Andika pun datang dengan laju yang tidak terlalu cepat.Ia terlihat santai mengendari motornya.Vivi berpura-pura membuang sampah pada tempat sampah yang berada di dekat gerbang.Ia tersenyum melihat ke arah Andika,sementara Andika sama sekali tidak melirik padanya.Matanya pokus ke depan memperhatikan jalannya.
Vivi berlari menuju terasnya kepanasan karena terik matahari masih sangat menyengat.
"Ihh..ini memalukan!"Katanya manyun.
"Masa iya aku udah kepanasan nungguin dia disana biar bisa lebih akrab sedikit,tapi malah ga dilirik sama sekali.Senyum aku? Ya ampun senyum aku terabaikan? aaaaaa ini memalukan".Katanya memukuli pelan kepalanya.
"Apa dia malu sama aku yah karena kejadian dia yang jatuh tadi?Atau bahkan dia lagi kesal sama aku karena ngerasa aku ngetawain dia?Padahal aku tuh tadi ga ngetawain dia sama sekali.Malah aku ngedekatin dia cuman pengen bantu dia berdiri.Hadehhh...pasti dia salah paham."
...****************...
Hari minggu pagi Vivi sudah siap untuk berolahraga.Hari ini ia akan joging ke taman yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.Dengan sepatu sport,tanktop hitam,celana sport pendek setengah paha,dan topi hitam ia berdiri di depan cermin.Memperhatikan penampilannya dari kepala sampai kaki.Kemudian agak memutar tubuhnya untuk melihat tampilan belakangnya.Tubuhnya yang memang ramping terlihat seksi dengan outfit yang ia kenakan.Setelah puas melihat penampilannya ia berjalan keluar rumah dan tidak lupa menaruh handuk kecil di lehernya.Ia mengunci gerbang dan mulai berlari meninggalkan rumahnya.
Ketika sampai di depan rumah Andika Water ia berjalan santai sambil melihat rumah dan kiosnya yang masih tutup.Kata Bu Asmi Andika memang suka bangun agak siang sekitaran jam 9 karena malam hari ia suka begadang karena bermain game di Handphone nya.Ibunya sendiri yang menceritakan itu pada bu Asmi.Tapi setelah bangun tidur ia dengan cepat melakukan pekerjaannya.
Sampai di taman,Vivi melihat ada beberapa kelompok orang yang juga berolahraga.Ada yang bersama teman,saudara,orang tua dan anak,juga pasangan kekasih.Vivi memperhatikan tawa bahagia orang-orang disana.Ia merasa kesepian di tengah keramaian.Tiba-tiba ia teringat kepada mama dan kakaknya.Air matanya menetes di pipinya.
Ia langsung menyapu air mata di pipi dengan handuk kecil di lehernya.Lalu memulai pemanasan.Ia melakukan beberapa gerakan di tempat,kemudian mulai berlari mengelilingi taman.
Ketika sedang asyik berlari matanya tertuju pada satu titik.Disana ada Andika yang sedang berolahraga juga.Dengan kaos hitam dan celana hitam setengah paha,dan rambut yang sedikit berantakan membuatnya semakin mempesona.Kulitnya yang mulus dan pahanya yang putih semakin terlihat jelas karena pakaiannya.Outfit yang ia gunakan benar-benar serasi dengan wajah tampannya.
Vivi sedikit mundur agar Andika tidak melihatnya.Ia merencanakan sesuatu.Vivi kemudian mulai berlari menuju ke arah Andika.Tepat di depan Andika ia pura-pura terjatuh.
"Aduh!"Katanya sedikit meringis.
__ADS_1
Andika menutup mulutnya dengan tangan kanannya menahan tawa.Vivi melirik ke arahnya.Andika langsung berlari meninggalkan dia tanpa menoleh sedikitpun.
"Dasar cowo dingin.Udah liat orang jatuh di depannya bukannya bantuin berdiri,atau nanyain keadaannya malah pergi gitu aja.Gini bangat yah naksir sama cowo dingin kek kulkas sepuluh pintu."Kata Vivi mengoceh sambil berdiri dan mengelap lututnya yang sedikit kotor.