Dinikahi Berondong Tampan

Dinikahi Berondong Tampan
Tidak Menyangka


__ADS_3

Hari berganti hari,minggu berganti minggu,dan tahun pun berganti tahun.Vivi masih melanjutkan wartegnya.Makin kesini juga pelanggannya sudah semakin banyak.Ia pun sudah banyak belajar tentang makanan yang disukai pelanggannya.Tidak ingin rasanya mengecewakan pelanggan seperti yang terjadi diawal-awal ia membuka warteg.


Warungnya pun sudah semakin ramai dikunjungi orang-orang.Terlebih saat hari minggu.


Jam masih menunjukkan pukul 4 sore,namun Vivi sudah mulai membereskan kiosnya.Seperti biasanya memang ia tutup lebih awal saat hari minggu.Karena harus beristirahat setelah melayani pelanggan yang ramai.


Setelah memasukkan piring dan gelas ke dalam ember besar,Vivi meletakkannya di dekat wastafel.Lalu kembali ke depan menyapu dan membersihkan serta merapikan meja dan kursi.Setelah bagian warung bersih ia kembali ke belakang untuk mencuci piring-piring kotor bekas berjualan.


Dengan tangannya yang lincah ia mulai menggosok piring satu persatu.Diiringi dengan bersenandung lagu kesukaannya.


"Permisi!"Vivi tiba-tiba dikejutkan suara dari depan.


"Iya sebentar!"Sahutnya sambil membilas tangannya.


Vivi berjalan cepat-cepat ke depan sambil mengelap tangannya pada celemeknya.


"Maaf mas.Warungnya udah tutup.Makanan dan bahan-bahan juga udah habis."Katanya pada pria tampan,putih,dan tinggi di hadapannya.


"Sedikit aja ga ada gitu?Laper bangat nih mbak".Kata pria di hadapannya dengan wajah memelas.


"Oh...laper bangat yah mas?Gimana yah?"Kata Vivi tidak enakan pada pria tampan itu.


Pria itu hanya mengangguk.


"Ohh..Gini aja mas.Dekat sini ada kok rumah makan.Mas ke sana aja yah.Cuman dua ratus meter kok dari sini.Nanti mas jalan aja terus,ntar rumah makannya ada di sebelah kanan,namanya rumah ma..."


"Ga mau ah mbak.Maunya makanan disini.Kangen bangat soalnya makan masakan mbaknya."Kata pria itu memotong pembicaraan Vivi.


"Hah?"Kata Vivi keheranan.


"Emang mas pernah singgah makan disini?"


"Sering bangat saya makan masakan mbak.Enak bangat makanya saya datang kesini.Ehhh...ternyata udah tutup."


"Oh gitu yah.Maaf mas tapi saya kurang ingat."


"Saking ramainya yah mbak?"Katanya dengan wajah memelas.


"Hehehe...Ga juga sih mas."


Pria itu duduk di kursi yang sudah Vivi rapikan tadi.Melihat sekeliling kios itu sambil tersenyum simpul.


"Atau mas tunggu aja sebentar disini yah,saya ambilkan bahan dari rumah.Ga lama kok.Jadi ga enak sama masnya kelaparan gini."


"Nahhh...ide bagus tuh mbak.Lama juga gapapa."


"Hahaha...Gimana sih.Katanya lapar bangat."


"Oh iya juga.Yaudah deh mbak.Saya tunggu disini yah!"


"Sebentar yah mas."Vivi berlari ke rumah yang berada di samping kiosnya.

__ADS_1


Pria itu hanya tersenyum memperhatikan Vivi yang berlari.


Tak berapa lama,Vivi datang membawa nasi dan bumbu masak.


"Saya buatin nasi goreng aja yah mas.Biar simpel dan cepat juga."


"Apa aja mbak.Kalo mbak yang masak pasti enak."


Wajah Vivi berubah menjadi merah karena pujian pria tampan itu.Yang jika dilihat-lihat dari penampilannya tidak level makan makanan sederhana di tempatnya.Ia seperti pria kaya raya.Vivi bisa melihat itu dari penampilan pria itu.


Vivi mulai memasak sementara pria itu memperhatikannya dari tempat duduknya.Ntah apa yang ada di pikirannya.Vivi jadi salah tingkah.Vivi menjadi sangat gugup diperhatikan oleh pria setampan itu.Apalagi setelah lelah seharian ia merasa dirinya sangat dekil dan berantakan.


Sepuluh menit kemudian,nasi goreng ala Vivi sudah selesai.Vivi menyajikan dengan ragu-ragu. Merasa tidak percaya diri kalau pria kaya itu menyukai masakannya.


"Ini mas.Maaf yah kalau kurang enak."


"Makasih mbak.Pasti enak ini."


Pria itu langsung menyantap nasi goreng buatan Vivi.Vivi sampai melongo melihatnya.Dalam waktu sebentar ia menghabiskan makanananya.


"Kelaparan bangat yah mas?"


"Heheh...Suka bangat sama masakan mbak."


"Oh yah?"Kata Vivi keheranan pada pria tampan itu.


"Super Hero kangen bangat sama ka malaikat.Sama masakan kakak malaikat."Katanya menatap Vivi.Vivi terbelalak.Ia seperti tidak asing dengan sebutan pria itu.


"Aku ga percaya Malaikat bakalan lupain Super Hero.Tau ga Super Hero sepanjang waktu menunggu pertemuan ini.Tapi keadaannya benar-benar berubah.Jauh dari yang aku bayangkan."


Pria itu mengangguk.Vivi langsung memeluk Marcel dengan erat.Ia menangis keras.Tak menyangka kalau ia akan kembali bertemu dengan Marcel.Tapi saat berpelukan keduanya merasakan hal berbeda dengan saat dulu mereka berpelukan.Jantung mereka berdegup kencang.Ia merasa seperti bukan memeluk Marcel,tapi pria lain.Begitupun dengan Marcel.Vivi tiba-tiba melepaskan pelukannya.Keduanya menjadi canggung.


"Maaf..Lancang."Kata Vivi mengelap air matanya dengan telapak tangannya.


"Gapapa kok."Sahut Marcel.


Keduanya lalu duduk di kursi.


"Kamu ke mana aja?Kenapa ga pernah menghubungi aku?Kenapa ngilang dari aku? Kamu tau aku kehilangan semuanya.Hal yang ga pernah aku bayangin sebelumnya.Aku kehilangan semuanya,termasuk kamu."Vivi menangis sesenggukan.Ia pun sudah tidak pakai panggilan adik lagi pada Marcel.Ia merasa janggal dan tidak pantas setelah melihat perubahan yang banyak pada Marcel.


"Iyah,aku tau.Aku udah tau semua yang terjadi selama aku di luar negeri."


"Tau dari mana?"


"Dari kak Deva.Tiga hari lalu aku ke rumah yang di palembang.Tapi aku ga nemuin kak Vivi,kak sinta,dan kak Deva disana.Malah pas aku tiba di rumah yang dulu lagi ada resepsi pernikahan.Sempat aku pikir itu kamu.Yahh...panjanglah ceritanya sampai akhirnya aku ketemu sama kak Deva yang juga lagi ada disana.Dia cerita semuanya sama aku.Aku minta alamat rumah ini dan akhirnya bisa ketemu."


"Ya ampunn..."Vivi masih saja menangis.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku.Kenapa hilang kabar.Kamu tau aku selalu nunggu kamu ngabarin aku."


"Iya aku minta maaf.Aku terobsesi dari kakak."

__ADS_1


"Maksud kamu?"


"Aku pengen kayak kakak.Menghilang dari semua orang untuk sementara sampai nanti aku bisa jadi orang sukses dan kembali menjadi seseorang yang berbeda.Ya aku tau itu salah.Aku minta maaf."Katanya menunduk.


"Kamu boleh lakuin itu hanya untuk orang lain,jangan sama aku.Kamu tau kan dari dulu aku selalu bilang buat selalu kabarin aku,jangan sampai lupain aku.Kamu satu-satunya keluarga yang aku punya."


"Iyah aku minta maaf.Tapi kamu tau?Setiap malam aku selalu bayangin suatu saat ketika aku udah sukses,aku bakal balik buat nemuin kamu.Aku bakal balas semua kebaikan kamu sama aku.Kita akan jalan-jalan keliling dunia,kita akan mulai hidup yang baru dan kita bakal hidup bahagia.Itu yang buat aku semangat disana dan terus berjuang.Dan sekarang udah waktunya.Waktunya untuk kita kumpul lagi dan hidup bahagia."


"Marcel...."Vivi memeluk Marcel kembali dengan air mata berlinang di pipinya.Marcel pun ikut menangis.Ia membelai Vivi.


"Aku ga butuh jalan-jalan keliling dunia,cukup kamu selalu ada buat aku.Udah itu aja.Please jangan tinggalin aku lagi.Jangan menghilang lagi dari aku.Jangan hancurin hidup aku lagi."


"Iya,aku janji sama kakak dan sama diri aku sendiri.Aku ga akan ninggalin kakak.Aku akan bawa kakak kemanapun aku pergi."


Tangis Vivi semakin menjadi-jadi.Bukan tangisan sedih,tapi tangis bahagia.Layaknya seseorang yang menemukan kembali sejumlah besar emas permata yang pernah hilang.


"Kamu mau ikut aku kan?"


"Kemana?"


"Kemana pun aku pergi."


"Mau!"Jawab Vivi mengangguk.


"Yauda,,jangan nangis lagi yah?Kan udah aku bilang waktunya kita hidup bahagia."


"Iyah Marcel.Aku ga nangis lagi."


Marcel mengelap air mata yang membasahi pipi Vivi dengan penuh kelembutan.


Jantung keduanya berdetak tak karuan.Keduanya bertatapan empat mata.Vivi kemudian mengalihkan pandangannya.Ia merasa ini bukanlah Marcelnya yang dulu.Perasaannya pada Marcel yang dulu dengan Marcel yang sekarang menjadi berbeda.Ini seperti perasaan pada lawan jenis.Tapi Vivi berusaha membuang perasaan itu jauh-jauh.Ia tidak mau kalau ia sampai jatuh cinta pada Marcel.


"Nanti malam kita makan di luar yah!"


"Kita makan di luar?"Vivi mengulang kata-kata Marcel.


Marcel mengangguk tersenyum.Ia terlihat sangat tampan sampai Vivi sendiri tidak sanggup menatapnya lebih dari lima detik.Vivi terlihat gelisah.Ia tidak bisa percaya diri di hadapan Marcel.


"Kenapa?Gelisah gitu".


"Gapapa kok.Cuman gerah aja habis jualan seharian."


"Oh gitu.Pasti capek bangat yah?Yaudah sekarang kamu mandi,abis itu istirahat.Nanti malam kita jalan."


"Jalan?"Tanya Vivi.


"Eumm..Maksudnya jalan-jalan,cari angin."Marcel gugup.


"Eumm...Kalau gitu kita ke rumah yok.Kamu juga harus istirahat.Capekkan habis perjalanan jauh."


"Capek sih.Tapi ketemu kamu capeknya udah ilang,hehe.."

__ADS_1


"Bisa aja kamu.Yauda ayok!"


Keduanya pun pergi ke rumah Vivi yang berada di sebelah kios.


__ADS_2