
Apa ini sebuah takdir?
Bagaimana bisa aku bertemu kembali dengan laki-laki yang pernah aku campakkan. Hidupku berubah drastis, sejak kehadirannya saat itu.
_____•••••_____
"Vierra! Aku-- Aku menyukaimu!"
"Aku ingin kamu menjadi pacarku."
Gadis cantik berumur 18 tahun itu sangat terkejut. Matanya melotot tak percaya dengan apa yang ia dengar. Didepannya ada laki-laki yang mendapat julukan kutu buku disekolahnya tengah tersenyum dengan memberikan setangkai bunga mawar merah. Vierra gugup meski jantungnya berdetak kencang, namun otaknya sedang berfikir keras bagaimana cara menolak laki-laki didepannya.
"Maaf, aku gak bisa nerima kamu, No! Aku... Aakuu udah punya pacar."
"Pacar? Sejak kapan kamu punya pacar, Ra?" tanya Reno kebingungan.
"Kamu kemana aja si, No? Jelas-jelas semua orang tau, aku pacarnya Gerald! Kamu si, kudet! Jangan kebanyakan baca buku trus di perpustakaan, kan jadi gak tau berita apapun disekolah." Vierra menjelaskan dengan nada kesal.
Vierra lupa, jika Reno adalah seorang kutu buku. Hobinya hanya pergi ke perpustakaan menghabiskan waktu dengan setumpuk buku-buku yang bahkan jarang sekali Vierra baca. Bagi Vierra masa SMA ialah masa yang paling penting untuk menuliskan kisah cinta seperti di impiannya. Kisah cinta romantis masa SMA sangat bersejarah dalam hidup Vierra. Di otaknya hanya kesenangan dan merajut kasih berbeda dengan Reno yang berfikiran sangat kuno, karna itu Vierra tidak menyukai Reno.
"Maaf, ya, No! Kamu bukan tipeku. Aku udah bahagia jadi pacarnya Gerald. Kamu cari cewek lain aja yang bisa jadi pacarmu sekaligus pacar semua buku-buku mu itu," ujar Vierra memberi sindiran dengan tatapan sinis. Reno hanya diam tidak menjawab apapun.
"Gerald! Sayang, tunggu aku!" Vierra berteriak keras dan berlari menghampiri laki-laki berambut hitam memakai jaket kulit coklat yang menutupi bagian tubuh pacarnya.
Reno membalikkan badannya, ia menatap kepergian Vierra dengan menggandeng lengan kanan laki-laki yang menjadi rivalnya.
Gerald Daniel Atmaja. Seorang kapten basket sekaligus ketua osis. Siapa yang tidak mengenal anak dari kepala yayasan sekolah ternama di kota Jakarta. Hubungan Vierra dan Gerald sudah berkisar genap 3 tahun. Keduanya, berpacaran sejak pertama kali masuk SMA. Vierra dan Gerald bahkan dikategorikan, pasangan paling awet, romantis dan populer.
"Liat aja, Ra! Suatu saat, kamu pasti jadi milikku. Hanya milik Reno! Reno Al-Barack!" Guman Reno penuh keyakinan.
Tiba-tiba laki-laki setengah paruh baya, dengan setelan jas rapi datang menghampiri Reno. Laki-laki itu berbisik yang mendapat anggukan kepala oleh tuan mudanya.
"Tuan Reno! Nyonya besar dan kakek anda sudah kembali dari Italia."
"Baik, Pak Bim! sebelum itu, antarkan aku ke perpustakaan kota sekaligus mampir ke mall. Aku harus membeli sesuatu." Reno tersenyum miring, lalu pergi meninggalkan taman depan sekolah.
Bersekolah selama 3 tahun dan menutup diri dari pergaulan, membuat Reno benar-benar sukses menjalankan perintah dari kakeknya. Setelah kelulusannya dari masa SMA, Reno ingin hadiah yang sepadan dari kerja keras dan usahanya untuk menjadi murid teladan dari keluarga sederhana. Siapa sangka, jika dibalik topeng yang ia perankan tersembunyi kekayaan dan kepopuleran dari keluarganya.
Masih di hari yang sama, tepat malam hari Vierra tersenyum bahagia. Ia kini sedang duduk di ranjang kamarnya, menunggu balasan chat WA dari pacarnya. Berkali-kali Vierra memencet pesan yang barusan ia kirim 10 menit yang lalu, tapi masih belum mendapat balasan apapun.
Tring...
Senyumannya kembali mengembang, dengan cepat ia menekan notifikasi dari Gerald. Vierra mengerutkan keningnya, saat Gerald mengirim sebuah video. Durasinya lumayan lama, membuat Vierra harus bersabar sampai video itu berhasil ia unduh.
Layar gelap, atau memang Gerald sengaja mengirimkan video rekaman suara tanpa objek apapun yang terlihat selain kegelapan. Vierra membesarkan sedikit volume ponselnya, sampai suara desahan aneh terdengar.
"Ahhh... Aahhh... Pela-nn pel-aann Gee..."
__ADS_1
"Sabar, Jes... Mmhh kamu sempit bangettt shitt...."
Vierra melempar asal ponselnya ke sembarang arah, untung benda persegi itu hanya terbentur bantal yang berada di kepala ranjang. Vierra mengingat jelas suara itu. Suara Gerald pacarnya dengan wanita lain.
"Gak mungkin! Nng--aaa... Gak mungkiin Gerald melakukan itu. Nggaa!!!" Vierra berteriak sangat keras, matanya mulai memanas hubungan yang ia jalani selama 3 tahun dengan Gerald, kenapa berakhir seperti ini. Vierra tidak pernah menyangka kisah cinta di masa SMA adalah kisah cinta paling mengerikan yang ia terima.
Gerald laki-laki yang sangat ia cintai ternyata memberikan luka pahit dan penghianatan dihidupnya. Vierra membenci laki-laki itu, dan suara wanita bersama Gerald tak lain adalah adik kelasnya sendiri. Jessica, wanita yang sudah membuat hubungan asmaranya hancur tak tersisa.
5 Tahun Kemudian.
Taksi berhenti tepat didepan rumah yang tidak begitu besar, tapi mempunyai desain bangunan yang indah. Kaki jenjang seorang wanita menapak ke aspal lalu diikuti seluruh tubuh dengan balutan dress hijau selutut dipadukan high heels setinggi 5cm berhasil keluar sepenuhnya dari dalam taksi.
Brakkk...
"Akhirnya, Vierra... Kamu kembali ke Jakarta, setelah sekian lama tinggal di Solo. Rumah ibu gak berubah masih sama seperti dulu. Aku kangen ibu."
Vierra mengerutkan keningnya, melihat sebuah mobil mewah terparkir. Kaki jenjang miliknya menerobos begitu saja tanpa memperdulikan mobil yang ia lihat tepat sampai di depan pintu.
"Ibu!!! Aku pulang!!!"
Ceklek...
Vierra masuk kedalam rumah, setelah tahu pintu tidak dikunci. Matanya mengedar kepenjuru ruang tamu, mencoba mencari keberadaan ibunya. Vierra berhenti, saat punggung laki-laki berdiri tak jauh dari hadapannya. Sangat tegap dan menjulang tinggi. Vierra mencoba mendekati, tapi ia berhenti kembali ketika laki-laki itu membalikkan badannya.
"Siapa kamu?" tanya Vierra penasaran. Laki-laki itu mendekat sampai tepat didepan Vierra. Hanya tersisa sejengkal, meski begitu aroma parfum yang sangat maskulin tercium kuat di hidungnya.
"Ha! Maksud--"
"Vierra! Anak ibu udah pulang ternyata," teriak Ny. Dian sangat antusias.
"Ibu!" Vierra menghampiri ibunya dan memeluk tubuh ibunya erat. Ny. Dian membalasnya dengan usapan lembut dipunggung putrinya.
Srtt...
Pelukan terlepas, Vierra mengambil tangan kanan ibunya untuk ia cium. Sebuah rutinitasnya, Ny. Dian tersenyum menyalimi tangan putrinya.
"Apa kabar, Nak? Ibu pikir kamu sampainya sore, eh... ternyata pagi," tanya Ny. Dian yang disambut gelengan kepala dari Vierra.
"Ngga bu. Aku sengaja berangkat malam, biar sampai di sini pagi. Aku kangen sama ibu."
"Ibu juga kangen sama kamu, Nak. Putri ibu udah datang, setelah 5 tahun kamu tinggal sama nenekmu di Solo," balas Ny. Dian, membuat raut wajah Vierra menjadi sedih.
"Maaf bu. Aku udah ninggalin ibu disini, lagian nenek bilang aku disuruh balik ke Jakarta. Oh iya bu! aku baru dapat panggilan wawancara kerja."
"Serius Nak?" Ny. Dian bertanya memastikan.
"Benar bu. Aku akan kerja dan tinggal disini sama ibu. Aku gak mau lagi ninggalin ibu sendirian," tutur Vierra dengan pengaduan sedihnya.
__ADS_1
"Kamu udah besar ternyata, ibu sampai pangling sama kamu, Ra. Selama kamu di Solo, ada Jordan. Dia beberapa kali mampir buat nemenin ibu dan...."
"Oh ya ampun ibu sampai lupa, kalau ada nak Reno." Ny. Dian menghampiri Reno yang disambut senyum malu-malu dari laki-laki itu.
"Gapapa Tante. Aku mengerti. Tante Dian pasti sangat merindukan putri Tante."
"Bukan begitu, Nak Reno. Tante jadi gak enak ngabai'in kamu," sahut Ny. Dian menyela cepat.
"Vierra! kenalin ini Nak Reno bos ibu ditempat kerja. Nak Reno juga sering mampir ke rumah sesekali datang buat nemenin dan bantu ibu," ujar Ny. Dian memperkenalkan dengan hangat laki-laki yang berdiri di sampingnya.
"Aku udah mengenal anak Tante." Ny. Dian terkejut beralih menatap kearah Reno.
"Nak Reno, serius udah kenal putriku? Dia baru pulang dari Solo." Ny. Dian menjelaskan kembali, seolah masih tidak percaya. Reno mengangguk lalu tersenyum.
"Aku teman masa SMA nya Vierra Tante," ucap Reno memberi tahu. Vierra terkejut.
"Ka-mu!"
"Apa kabar Ra? Senang bisa ketemu kamu lagi disini."
"Kamu Reno? Jangan-jangan.... si kutu buku itu?" Vierra bertanya sedikit gugup, tapi senyuman di wajah Reno tidak pernah luntur.
"Iya! Aku Reno, Ra! Reno Al-Barack."
"Vierra jangan begitu sama Nak Reno! Dia tampan begini kamu sebut kutu buku. Nak Reno bos ditempat restoran ibu bekerja, karna Nak Reno ibu bisa bekerja disana. Kamu harus sopan sama dia," tutur Ny. Dian mengingatkan putrinya.
Vierra terdiam untuk beberapa menit, bahkan suara ibunya sampai tidak ia dengar dan respon. Pandangannya hanya fokus kedepan, meneliti penampilan Reno dari atas sampai bawah. Bagaimana bisa sosok kutu buku berubah menjadi laki-laki yang sangat berbeda.
Penampilan Reno, seakan tidak menggambarkan kalau dia dulu seorang kutu buku. Sangat berubah, setelan kemeja dengan jas hitam. Rambut hitam tersisir rapi dipadukan jell membuat rambut laki-laki itu terlihat mengkilat tak lupa sepatu khas kantoran. Vierra baru sadar kalau Reno memakai baju formal.
"Udah selesai menatapku Ra? Ternyata penampilanku membuatmu sampai terpukau."
Vierra tersadar dan menatap kesal.
"Apasiii! Jangan ke ge eran deh! Aku cuman kaget aja kamu berubah," celetuk Vierra sinis.
"Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri untuk melihat penampilanku seperti ini, lagian aku gak berubah. Dulu aku emang sengaja berpenampilan kutu buku, karna kakekku, tapi sekarang udah gak lagi." Reno berujar, langkah kaki nya semakin dekat sehingga mengikis jarak yang ada.
"Kamu yang beruba, Ra!" Vierra menelan ludahnya gugup. Aroma mint tercium di hidungnya. Reno mendekatkan wajahnya sampai ke telinga kanan Vierra.
"Benar kata ibumu. Kamu udah dewasa, hmmm... kamu bertambah tinggi dan postur tubuhmu sangat indah" Vierra membulatkan matanya, sebelum ia protes bicara tiba-tiba tiupan hangat menjalar disekitar daun telinganya.
Sial.
Vierra benar-benar kehilangan fokusnya. Bagaimana bisa seorang kutu buku, berubah menjadi laki-laki dewasa yang begitu menawan.
*****
Bersambung.....
__ADS_1
Beri Vote, Like, dan Komentar ya makasih 🙏