Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Aksi Gila Menantang Maut


__ADS_3

Reno mengeram kesal didalam mulutnya. Emosi yang ia tahan berhasil tersulut. Matanya menyorot tajam seperti ada bendungan lava panas, yang kapan saja akan siap menghanguskan sampai keorgan dalam wanita berambut pirang tersebut. Rossi memang berani menantang maut. Ia justru menyunggingkan senyum liciknya, dengan langkah yang dibuat sedikit centil. Ia memberanikan diri untuk semakin mendekat. Jemari tangan kanannya begitu lihai menari-nari didada Reno, bermimpi jika Reno akan tergoda dengan perilakunya.


"Maaf, Nona! Saya rasa anda sangat lancang. Tuan muda sudah memiliki istri, lebih baik nona segera pergi," ujar Pak Budi menarik sedikit keras pergelangan tangan Rossi. Hatinya ikut memanas merasa tidak terima dengan sikap wanita itu terhadap tuan mudanya yang sudah beristri.


"Lepaskan Aku!" Rossi menepis cekalan ditangannya dengan kuat. Kini manik matanya menyorot kesal kearah Pak Budi, mungkin baginya berani sekali laki-laki itu mencampuri urusannya.


"Kamu ingin menggodaku kan? Maka akan aku turuti. Ayo ikut aku!" Sekali gapai, Reno berhasil mencekal tangan Rossi dan menyeretnya keluar dari rumah. Pak Budi yang melihat langsung lari tergesah-gesah bermaksud ingin mengejar.


"Tuan muda tunggu!" Reno menulikan pendengarannya. Langkah kakinya terbilang cepat, membuat ringisan keluar dari bibir Rossi. Ringisan pilu akibat perilaku kasar Reno yang menarik tangannya secara paksa tanpa rasa kasihan.


"Lepaskan aku Ren! Kamu mau bawa aku kemana?" Mata Rossi menelisik gesture wajah Reno. Kebungkaman Reno ditambah cekalan kuat ditangannya seperti awal boomerang dari masalah yang timbul setelah ini. Rossi butuh kejelasan dari sikap Reno, tapi yang ia tunggu berakhir sia-sia.


"Masuk!" Bentakkan keras menggelegar sangat nyaring. Pak Budi yang sudah ada di ambang pintu seketika berhenti. Rossi menelan pahit ludahnya disertai gelengan kepala. Ketakutan sekarang merayap seolah menggerogoti dinding benaknya, membuat lidahnya keluh tidak bisa berbicara sekata pun hanya untuk membalas ucapan Reno.


Srrkk...


"Awhh...., sakit Ren. Kamu ini apa-apaan si! Kenapa slalu kasar sama aku?" Rossi meringis, setelah Reno menghempaskan dengan kasar tubuhnya didalam mobil. Reno mengabaikan rintihan itu karna tidak peduli sama sekali.


"Pak Bud, beri aku kuncinya." Pak Budi terkesiap dengan langkah gusar beliau jalan menghampiri Reno yang berdiri didekat mobil Mercedes hitam.


"Ini, Tuan..." Reno mengambilnya. Tanpa berucap sekata pun, ia memilih masuk kedalam jok pengemudi. Tangannya sudah ada di stir mobil, lalu melirik kesamping melalui ekor matanya. Seutas sunggingan miring Reno tampilkan.


"Kita mau kemana?" tanya Rossi mulai panik. Badannya seakan terguncang, karna lupa memasang seatbelt. Reno benar-benar bungkam dan hanya fokus menyetir mobil dengan kecepatan diatas 80km perjam. Jalan yang Reno lewati seperti layaknya sebuah jalan tol yang kosong dan sepi, namun nyatanya banyak beberapa pengendara lain sehingga Reno trus menekan klakson mobilnya.


Tin.. Tin.....


"Ren, kita mau kemana? Jangan ngebut-ngebut. Emang kamu mau kita mati sebelum menikah?"


"Ren! Awas...., aku bilang pelan-pelan!"


"DIAM!" Reno membentak keras. Urat-urat di lehernya terlihat jelas. Matanya melotot tajam seperti ingin keluar dari sarangnya. Bibir Rossi mengatup rapat. Detak jantungnya memacu cepat, seperti laju mobil yang Reno kendarai sekarang ini.


"Kenapa kamu bersikeras minta tanggung jawab dari ku? Jelas-jelas aku bukan ayah dari anak yang kamu kandung. Apa sebenarnya rencanamu itu. Apa kamu sengaja melakukan ini? Jawab aku Ros!"


"Akk-akuu..., karna aku mencintaimu Ren!" balas Rossi dengan gugup. Manik matanya sedikit mulai berarir. Bentakkan Reno disertai ucapan kasar membuat hatinya teriris merasakan luka. Apa perasaan yang ia punya tidak bisa Reno balas. Apa ia harus menerima kepahitan ini, yang jelas-jelas bisa ia rebut kembali jika Vierra tidak hadir ditengah-tengah dirinya seperti sekarang ini.


"Apa karna cinta sampai membuatmu buta seperti ini, Ros? Aku udah menikah dan kamu juga ada saat pernikahanku dilangsungkan!"

__ADS_1


"Tapi aku tetap gak terima Ren! Aku gak rela kamu jadi milik orang lain. Dari dulu aku mencintaimu, tapi kamu gak pernah membalas perasaanku. Kalau kamu gak bisa jadi milikku, maka gak akan aku biarkan kamu jadi milik orang lain. Aku sekarang hamil, tapi kamu gak ada rasa perhatian sedikitpun! Apa aku terlalu rendah dimatamu?"


Rossi menumpahkan isak tangisnya. Hatinya tersayat pilu, seperti ada robekan lebar membuatnya menangis merasakan sakit yang luar biasa. Kenapa Reno sampai tega melukai hatinya sedalam ini. Laki-laki itu tanpa belas kasih menendangnya jauh dari lubuk hatinya. Senyuman miring ia tampilkan, lalu kembali melirik kearah Reno yang masih fokus menyetir.


Dengan aksi nekat yang bisa disebut gila, Rossi melepas seatbeltnya dan merangkak beralih duduk di jok pengemudi, membuat Reno terkejut pasalnya tubuh Rossi sekarang duduk dipangkuannya sembari menjilat bibirnya sendiri secara sensual.


"Minggir Ros! Kamu gila, aku gak bisa melihat kalau begini! Menyingkir dariku!" Reno kesulitan melihat kedepan, ia bahkan membanting berkali-kali stir ke kanan dan ke kiri mencoba memanjangkan lehernya agar lebih leluasa melihat kekaca depan.


"Fokus aja menyetir, aku akan memberimu hadiah. Mungkin hadiah terakhir dariku," ujar Rossi yang sudah hilang akal. Matanya tengah dibutakan oleh perasaan cinta yang nyatanya bertepuk sebelah tangan. Ia mengikuti instingnya tanpa berpikir lebih jauh. Rossi mengalungkan tangannya di leher Reno dengan erat. Tubuhnya terguncang, seiring pergerakan stir mobil yang diputar kekanan kekiri.


"Minggir Ros! Ini bahaya! Apa kamu ingin kita mati dengan aksi gilamu ini! Aku bilang minggir!" Reno sudah hilang kesabaran, meski tangannya bersusah payah mengurangi laju mobil disertai injakan remnya, namun kecepatan mobil ini tidak bisa langsung berhenti. Dahinya dibanjiri keringat, yang membuat Rossi tidak menyia-nyiakan lagi kesempatan kali ini. Ia langsung membungkam bibir Reno dengan sebuah pungutan panas. Mata setajam elang itu melotot tak percaya. Konsentrasinya seketika buyar.


"Emmphh...." Suara desahan Rossi yang tertahan akibat ciuman panas sepihak yang dilakukannya. Reno hanya diam tanpa membalas, bahkan kepalanya ia gerakan agar pungutan itu terlepas. Berhasil seuntai saliva berceceran dari sudut bibir Reno sampai leher dan juga dijakunnya.


"Sial kamu Ros!!!" umpatnya murka, tapi Rossi justru tertawa dan menjilat dengan tangannya sendiri bekas air liur disudut bibirnya itu.


"Shht... Jangan main-main Ros! Menyingkir!" bentak Reno dengan lantang. Tangan Rossi berani memegang benda pusakanya yang masih terbungkus dicelana. Dengan lihai, Rossi semakin menekan-nekan membuat Reno mati-matian menahan gairahnya yang mulai tersulut.


Srrkk...


Brughh...


"Awwhhh......" rintihnya memegang kepalanya yang ada sedikit rembesan darah disekitar dahinya. Reno melirik sekilas, namun suara klakson keras membuatnya terkejut. Dari arah berlawanan truk datang diselingi bunyi klakson berkali-kali. Reno spontan memutar cepat stirnya, namun naasnya saat truk tersebut juga akan menghindar, waktunya sudah terlambat. Truk itu menabrak bagian kecil disamping mobil, membuat Reno kehilangan kendali dan mobilnya terpental jauh.


Brakk....


Di Rumah Sakit.


Pyarr...


Suara gelas baru saja jatuh dilantai membuat beberapa pasang mata terlonjak kaget.


"Astaghfirullah..."


"Mama gak kenapa-napa?" tanya Diva sigap. Yang semula duduk di sofa sekarang jalan menghampiri ibu mertuanya.


"Mama baik-baik aja, Div, cuman kaget aja gelasnya bisa jatuh. Mama rasanya gak tenang..., Gevan sama Reno juga belum balik kerumah sakit. Div kamu telfon Gevan atau Reno suruh cepet ke rumah sakit. Bilang Vierra udah sadar." Vierra yang mendengar hanya menatap dengan senyum tipis kearah Ny. Elma. Sudah 10 menit ia sadar, dan hanya menemukan ibu mertuanya, si kecil Keilo dan Diva, sedangkan Reno belum datang sama sekali. Hati Vierra masih terluka, mengingat ibunya sudah pergi. Setetes air mata kembali jatuh dipipinya, buru-buru ia mengusapnya.

__ADS_1


Sementara itu ditempat kejadian.


Mobil menabrak batang pohon dengan sangat keras, mengakibatkan mobil terbalik dengan roda-roda yang berada diatas. Pecahan kaca berceceran ditanah, diikuti solar dari mobil yang merembes akibat kebocoran pada tabungnya.


Dengan sisa kesadarannya yang masih utuh, Reno mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Ada banyak darah disekitar kepala hingga merembes kedahinya menimbulkan rasa pening seakan otaknya akan menyembul keluar dalam sangkarnya. Reno pelan-pelan menggerakkan tangannya. Kepalanya menengok melihat Rossi terjungkir begitu naasnya dibawah. Reno tidak begitu jelas melihat, ia ingin bersuara tapi lidahnya merasakan ngilu akibat luka robek dibeberapa wajahnya.


"Aku harus tetap hidup....,"gumannya dengan masih ada keyakinan dibibir yang robek itu. Reno melepaskan seatbeltnya. Dengan sisa tenaga, ia berusaha menarik keluar tubuhnya lewat kaca mobil yang sudah pecah. Posisinya ikut terjungkir, tapi masih bisa membuatnya berhasil keluar.


"Vierra....," lirihnya sangat parau. Susah payah Reno berdiri menahan rasa nyeri yang luar biasa ngilu di sekitar kakinya, sekarang ia menghampiri Rossi yang masih terjebak didalam mobil. Seutas senyuman tipis Reno tampilkan, lalu matanya melirik bahan bakar mobil itu yang trus menetes.


"Selamat tinggal Ros...."


Duarrr.....


Reno hampir meloncat kaget, suara ledakan terdengar sangat keras diikuti kobaran api yang mengerubungi semua bagian mobilnya tanpa sisa.


Maafkan aku.....


Seharusnya aku datang untuk menemuimu.....


Jika diberi kesempatan hidup.....


Aku ingin menggendong anakku.....


Lalu bermain dengannya.....


Melihatnya tumbuh dewasa.....


Seandainya waktu bisa diputar kembali.....


Aku menyesali keputusanku saat ini.....


"Aku mencintaimu sayang...," lirihnya lalu tubuhnya ambruk ketanah. Reno membalikan badannya agar bisa menatap keatas langit. Pandangannya sekarang mulai buram. Bayangan dirinya bermain dengan seorang anak kecil disertai tawa riang istrinya itu terpampang seperti nyata, meski itu hanya mimpi sesaat cukup membuatnya tersenyum dan akhirnya memejamkan mata merasa kesadarannya menipis. Suara-suara keras dari beberapa orang terdengar sangat ricuh.


*****


Bersambung.....

__ADS_1


Sebelumnya terima kasih udah baca sampai sini tinggalkan jejak Vote, Like, dan Komentar ya biar lebih semangat 🙏


__ADS_2