Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Pertemuan Lawan


__ADS_3

"Ra!"


"Halo, Vierra! Kamu masih disana kan?"


"Vierra...."


"Ha! anu, maaf Ren, akk-uu-"


"Aku tau kamu gak setuju kan sayang? Aku ikutin semua maumu, kalau kamu gak mau aku besok akan temui Pak Wingky buat-"


"Gak perlu, Ren!" Vierra baru saja membentak Reno, nadanya terdengar meninggi, entah apa yang ada dalam pikirannya sampai berani mengatakan hal kasar.


"Ok! Aku akan tolak!"


"Ren... apa dengan cara kamu tanggung jawab anaknya Rossi, kita tetap jadi nikah?"


"Apa maksudmu, sayang? Jelas! Pernikahan kita akan tetap dilakukan, Ra! Dengerin aku, hm... aku terpaksa harus tanggung jawab atas kehamilan Rossi, tapi jika kamu gak mau maka aku akan batalin semuanya. Aku bakal bilang ke Pak Wingky."


"Apa setelah itu akan baik-baik aja, kalau kamu batalin tanggung jawab kamu atas kehamilan Rossi?" Vierra paham, rasa gelisah yang mengerubungi hatinya seolah mengharuskannya lebih bersabar. Ucapan ibunya kembali terlintas, entah memang suatu kebetulan atau tidak, yang jelas disaat seperti ini penuturan sang ibu membuat hatinya terenyuh.


Apa mungkin ia harus menerima Reno untuk tanggung jawab atas anak yang di kandung Rossi. Apa setelah itu hubungannya dengan calon suaminya masih tetap baik-baik saja, atau ini awal dari rasa sakitnya, benaknya mengatakan itu, tapi dengan cepat Vierra menepis fikiran negatif yang mengerubunginya.


"Semua akan baik-baik aja. Percaya sama aku. Aku akan selidiki kasus pemerkosaan Rossi sampai aku menemukan bukti baru untuk bisa menyudutkan Pak Leon sebagai tersangka. Dia harus bertanggung jawab atas tindakannya itu, aku bersumpah gak akan membuatnya bernafas tenang tentang kejadian pemerkosaan di hotel ku."


"Aku percaya sama kamu, Ren. Dan aku akan coba buat menerima jika memang kamu harus bertanggung jawab atas kehamilan Rossi, maka lakukan. Aku gak akan pergi, aku akan nemenin kamu sampai kasus ini selesai." Tepat kalimat terakhir, Vierra meneteskan bulir air matanya. Hatinya memang merasa sakit, tapi ia juga tidak bisa egois. Reno berusaha meyakinkan dirinya, maka ia juga harus mendukung keputusan calon suaminya. Hal seperti ini, seharusnya bisa dihadapi bersama agar pernikahannya nanti tetap berjalan lancar.


"Vie.... rasanya aku pingin meluk kamu sekarang."


"Apasi! Jangan lebay!" Yang semula bibirnya melengkung kebawah, kini kembali keatas, seperti ingin tertawa tapi Vierra tahan.


"Aku serius sayang..."


"Yaudah, datang aja kesini."


"Kalau aku kesana kayaknya bukan cuman minta peluk deh. Hm.... aku jadi ingin lebih, seperti bermain diatas ranjang." Mata Vierra membola kaget, apa-apaan ini apa ia tidak salah dengar.


"Reno! Dasar Mesum!!!"


"Hahahahhahaahahah...... bercanda sayang" Suara tawa renyah dari speaker ponselnya, benar-benar membuat Vierra mendengus kesal. Ia sampai lupa, jika Reno memang laki-laki mesum dan mengharuskannya untuk membiasakan diri dengan segala sikap dan fikiran laki-laki itu.


*****

__ADS_1


Kini Vierra sangat cantik dengan memakai gaun pengantin putih membuatnya seperti seorang Dewi, ditambah riasan make up yang begitu natural dengan rambut yang sudah di make over membuat gadis itu benar-benar seolah akan menikah hari ini.


Reno yang sudah siap dengan setelan kemeja beserta jas putih dengan tatanan sedikit dirambutnya, membuatnya terlihat gagah sekaligus sangat tampan.


"Kamu cantik sayang..." Reno menghampiri Vierra, yang masih dibantu stylish untuk membenarkan rambut beserta gaunnya.


"Iya makasih, aku emang cantik." Reno tersenyum, tak kuasa menahan debaran detak jantung yang kian membuncah. Rasanya ia ingin cepat-cepat meminang Vierra, entahlah rasa takut kehilangan dan posessifnya kembali kambuh. Dulu ia tidak pernah merasa seperti ini, tapi hanya untuk Vierra ia bisa menjadi gila dalam sekejap.


"Wahh kalian memang cocok. Sepertinya kalian akan jadi pasangan pengantin paling romantis yang akan membuat semua orang iri."


"Tentu, Pak Ram. Aku sama Vierra emang cocok kalau jadi suami istri," balas Reno dengan menatap kearah laki-laki paruh baya yang akan memotretnya untuk melakukan sesi foto prewedding.


"Hahahaha.... aku jadi teringat masa muda dulu, Ren! Dulu sama istriku juga seperti kalian ini. Serasi...." tutur Pak Ramdan diselingi candaan tawanya.


"Terimakasih, Pak Ram." Pak Ramdan hanya mengangguk, lalu menatap kearah sang calon pengantin wanita.


"Calon istrimu sangat cantik, Ren."


"Vierra memang wanita paling cantik yang pernah aku temui," ujar Reno menatap penuh kekaguman sekaligus tatapan kasih sayang kearah Vierra.


"Kamu beruntung. Oh iya, setelah pemotretan disini, nanti langsung ke Monas atau gimana?" Reno menoleh kearah Pak Ramdan dengan tatapan bingung, seolah tengah berfikir.


"Langsung aja setelah ini kita ke Monas, Pak. Sepertinya foto sore hari di Monas sangat bagus," balas Reno yang mendapat anggukan setuju dari Pak Ramdan.


"Yaudah nanti sore ke Monas Pak Ram."


"Siap. Ehh gimana udah selesai persiapannya? Kalau udah, ayo kita mulai pemotretannya." Instruksi dari Pak Ramdan, membuat Susi orang yang sedang merapikan gaun serta riasan di rambut Vierra akhirnya mengangguk dan pergi, karna memang pemotretan akan segera dilakukan.


Reno mengulurkan tangan kanannya, bermaksud untuk Vierra genggam dan hal itu langsung di tanggapi dengan tangan kanan Vierra yang juga menyambut uluran tangannya. Setelah berhasil terkait, Reno menaruh tangan kanan Vierra untuk dikalungkan di lengan kanannya dan berjalan di tempat studio yang dipenuhi beberapa kamera dan pencahayaan sinar lampu.


Kurang lebih dua jam sudah sesi pemotretan mereka sudah selesai. Pak Ramdan selaku orang yang memotret tersenyum puas, ternyata Vierra dan Reno benar-benar serasi, terbukti dari banyaknya foto yang di ambil terlihat sangat bagus dan indah.


Vierra diantar Susi dan beberapa pekerja lain untuk ke ruang ganti, sedangkan Reno hanya berdiri sambil menunggu calon istrinya berganti pakaian. Mungkin sekitar 30 menit, akhirnya Vierra datang menghampirinya, dengan pakaian yang semula yaitu celana jeans dan baju tanpa lengan. Gaya pakaian Vierra sangat simple tapi tetap cocok untuk digunakan.


"Pak Ram, kita pergi dulu nanti datang lagi buat pemotretan di Monas," ujar Reno seraya berpamitan.


"Iya, Ren. Lagian masih sangat pagi ini, kalian habiskan waktu berdua dulu, trus nanti sore pemotretan lagi." Reno mengangguk paham dengan tangan kanan yang sedari tadi sudah menggenggam erat jemari Vierra.


"Siap Pak Ram."


"Salam buat mamamu, Ren," imbuh Pak Ramdan setengah teriak, karna Reno dan Vierra berjalan untuk keluar dari studio.

__ADS_1


"Ok Pak Ram!" Reno tersenyum menoleh kebelakang, yang diikuti juga dengan Vierra, sama-sama tersenyum dengan kepala sedikit menunduk sebelum akhirnya Reno berhasil membuatnya keluar dari dalam studio.


"Vie! Kita ke toko perhiasan ya bentar, aku mau ngambil cincin yang mama pesan." Kening Vierra mengerut menatap bingung.


"Cincin?"


"Iya sayang... cincin buat pernikahan kita. Mama udah pesan katanya, dan sekarang aku pingin liat udah jadi atau belum," ujar Reno memberi jawaban dari kebingungan Vierra.


"Oh gitu, yaudah ayo." Vierra hanya mengangguk tanpa menolak, namun saat keduanya akan melangkah kearah mobil saat itu juga Leon datang berpapasan.


"Pak Reno!" sapa Leon dengan tatapan terkejutnya. Reno berhenti melangkah dan menatap kearah Leon, namun seketika tatapannya berubah menajam saat tau siapa laki-laki didepannya ini.


"Kenapa anda datang ke studio? Apa anda berniat untuk foto?" tanya Leon, yang kini beralih menatap kearah Vierra.


"Oh ini calon istri anda. Cantik juga, ternyata selera anda sangat tinggi, Pak Reno." Sunggingan dari bibir Leon membuat Reno menatap tidak suka.


"Ya, calon istriku memang cantik, tapi anda tidak perlu sampai memujinya, lebih baik anda bertanggung jawab atas kelakuan anda di Hotel saya."


"Kelakuan apa?" Reno mendecih tipis, seolah meremehkan ketidak pura-puraan Leon yang jelas-jelas seorang tersangka, sayangnya ia masih belum punya bukti yang kuat kalau Leon adalah orang yang sudah memperkosa Rossi.


"Vie... kamu ke mobil dulu ya, nanti aku nyusul," tutur Reno menengok ke arah Vierra, tanpa memperdulikan ekspresi Leon yang seolah minta jawaban.


"Oh gitu, yaudah aku kemobil..." Vierra tersenyum tipis, tidak berani menanyakan alasan dari Reno menyuruhnya kemobil lebih dulu dan hanya mengangguk, setelah itu melepaskan genggaman tangannya untuk melangkah pergi meninggalkan Leon dan juga Reno yang masih menatap sengit.


"Apa maksud anda Pak Reno? emang saya melakukan apa?" tanya Leon kembali, meski seharusnya ia paham tapi berusaha menampilkan tatapan kebingungan.


"Pak Leon! Saya ingin bicara sesuatu dengan anda nanti malam, untuk sekarang saya tidak bisa karna ada urusan dengan calon istri saya." Leon paham, lalu merogoh saku jasnya mengambil sebuah kartu nama dan memberikannya pada Reno.


"Ini kartu nama saya. Anda bisa hubungi saya dimana lokasi pertemuannya nanti. Saya berharap kita bisa membahas tentang kerja sama dalam bisnis, bukan begitu Pak Reno?" Reno tersenyum miring menanggapi ucapan yang menurutnya hanya topeng basa basi, lalu mengambil kartu nama tersebut.


"Baiklah, Pak Leon, saya harus pergi karna calon istri saya sudah menunggu. Nanti saya beritahu lokasinya," ujar Reno dengan lirikan tajam melalui ekor matanya, saat dirinya beranjak pergi meninggalkan Leon ditempat.


Leon berbalik menatap punggung Reno yang ternyata sudah berhasil masuk kedalam mobil, lalu mobil itu melaju meninggalkan karangan studio.


"Reno, Reno.... Apa kau berencana untuk melawanku? itu tidak akan berhasil, aku akan menghentikan semua usahamu." gumannya disertai senyuman miring.


_____•••••_____


Bersambung....


Vote, Like, dan Komentar ya kalau bisa tambahkan ke favorit biar bisa ikutin ceritanya trus 🙏

__ADS_1


Ini visual foto prewedding mereka ya, anggap aja seperti ini.



__ADS_2