
Ceklek...
Wanita paruh baya dengan memakai jas dokter itu buru-buru masuk ke ruangan. Wajahnya menampilkan guratan kecemasan. Setelah mendapat kabar dari Ny. Elma kalau ibu dari menantu adik iparnya meninggal, baru ia langsung menghampiri setelah melakukan operasi terhadap pasiennya 1 jam yang lalu. Kebetulan juga besan dari adik iparnya berada di rumah sakit yang sama, memudahkannya untuk segera datang menemui.
"Elma! Ada apa ini? Aku dengar besanmu meninggal?"
"Benar, Mbak Sel, ibunya menantuku baru saja meninggal."
"Kok Bisa?" Ny. Gasella menatap sangat terkejut, kini beliau berada disamping Ny. Elma, dan tanpa sengaja melirik kearah ranjang. Vierra menatapnya membuat Ny. Gasella tersenyum hangat.
"Vierra...., kamu yang sabar ya, Nak. Disini masih ada tante dan yang lain. Kamu harus bisa merelakan kepergian ibumu. Ikhlaskan ibumu supaya tenang disana." Vierra diam merasakan usapan lembut dikepalanya, disertai dekapan hangat dari Ny. Gasella. Hati Vierra merasa semakin tersayat. Pikirannya kembali mengingat tentang ibunya yang slalu memeluknya seperti sekarang ini, rasanya begitu susah. Bayangan ibunya yang pernah memanjakannya, mengusap kepalanya disertai pelukan menenangkan kini hanya sebuah rekaman menyakitkan di hatinya.
Ny. Gasella merasa iba, tangannya dengan penuh kelembutan mengusap kepala menantu adik iparnya, berusaha memberi kekuatan sekaligus penenang. Bagaimanapun cepat atau lambat kita semua akan merasakan kehilangan. Takdir sudah ditentukan oleh sang maha kuasa, kita sebagai manusia hanya bisa berdoa, berpasrah diri serta mengikhlaskan sanak saudara, orang terdekat bahkan kerabat sekalipun yang nantinya akan pergi lebih dulu kerahmatullah mendahului kita.
Mengikhlaskan itu perlu, agar orang yang pergi tidak menanggung beban tangisan dari orang yang ditinggalkannya, sebab hidup dan mati hanya sang kuasa yang berhak mencabut atau mengembalikannya. Semua itu tergantung amal ibadah kita masing-masing selama didunia.
Diva kembali masuk kedalam ruangan dengan wajah yang sudah kepalang panik.
"Mama Elma...."
"Ada apa Diva, kenapa kamu panik begitu? Apa kamu udah telfon Reno sama Gevan?" tanya Ny. Elma yang mendapat anggukan kepala dari Diva.
"Ma aku baru dapat kabar kalau Reno kecelakaan."
Pelukan yang semula erat, kini terpaksa dilepas sepihak oleh Vierra. Matanya membulat sempurna. Dalam benaknya merasakan gemuruh kekhawatiran. Vierra langsung bangkit dari ranjang, sebelum itu ia melepas dengan paksa infus ditangannya. Mengabaikan rasa nyeri yang masih bersemayam di perutnya, lalu beranjak jalan menghampiri kakak iparnya diambang pintu.
"Mbak Diva gak bohong kan? Reno kecelakaan?" tanyanya dengan nada tertahan ditenggorokkan. Vierra mencoba menahan ringisan kesakitan diperutnya. Hatinya ikut merasakan perih karna kabar buruk yang ia dengar sekarang ini.
"Iya, mbak gak bohong Vie. Reno kecelakaan, tadi aku dapat telfon dari polisi, katanya terjadi kecelakaan di jalan dekat Kuningan. Korbannya ada dua, salah satunya itu Reno."
"Div! Dimana Reno sekarang? Apa dirumah sakit ini? Mama ingin melihatnya, ayo Div antarkan mama kesana," ujar Ny. Elma menyela cepat. Nadanya terdengar tidak sabaran, karna begitu sangat khawatir dengan kondisi putranya saat ini.
"Dirumah sakit ini Ma. Kita tanya Receptionis, kecelakaannya baru saja terjadi, mungkin Reno langsung dilarikan kesini."
"Aku ikut mbak." Diva menatap kearah Vierra. Ada rasa tidak tega melihat kondisi adik iparnya yang masih belum stabil.
"Vie..., kamu yakin? Mending kamu istirahat aja dulu. Mama akan kabari kamu setelah melihat kondisi Reno," tutur Ny. Elma membuat Vierra menggeleng, "Ngga ma..., aku baik-baik aja. Aku ingin melihat mas Reno," balasnya sedikit gemetar.
"Mama aku ikut...," pinta Keilo dengan kedua tangan terangkat keatas mengarah ke Diva, bermaksud ingin digendong oleh sang ibu.
"Kei..., sama Oma aja ya. Sini sayang..." Ny. Gasella langsung sigap meraih tubuh si kecil Keilo dan berhasil ada dalam gendongannya.
"Oma, ajak aku main ya. Om Gevan lama masa dari tadi belum datang kesini."
__ADS_1
"Iya sayang...., Oma ajak kamu jalan-jalan di rumah sakit ini."
"Horee....." seru Keilo bahagia, membuat Ny. Gasella mengacak rambut cucunya dengan gemas.
"Kalian temui Reno dulu, biar Keilo bersamaku. Nanti aku nyusul." Diva menghampiri Keilo yang anteng berada dalam gendongan ibu mertuanya.
"Mama pergi dulu ya sayang...."
Sebuah kecupan singkat Keilo dapat di pipi kanannya yang sedikit gembul.
"Ayo Div, mama pengen ngelihat kondisi Reno," ujar Ny. Elma sembari memegang tangan kanan menantunya. Diva mengangguk, "Iya ma..."
Diva keluar lebih dulu diikuti oleh Ny. Elma dan terakhir Vierra, saat akan lanjut melangkah namun suara Tn. Ednan menghentikan langkahnya.
"Diva..." Diva menengok ke belakang, ada sang Kakek dan Gevan yang menghampirinya.
"Iya Kek?"
"Dimana jenazah Dian sekarang?"
"Jenazah Bu Dian udah dibawah ke rumah Kek, tadi aku sama Reno yang nganter jenazah Bu Dian sampai kerumah," balas Gevan berterus terang.
"Kakek buru-buru kesini karna mendapat kabar duka. Lalu ini kalian mau kemana?" Sang Kakek melirik kearah Vierra dan mendekati menantu cucunya tersebut, "Kamu yang sabar, ibumu pergi sudah kehendak yang diatas. Beri doa dan ikhlaskan kepergiannya," tutur beliau membuat air mata yang sempat tertahan di pelupak mata Vierra kembali jatuh bercucuran disertai isakan pilunya.
"Ayah...., Reno mengalami kecelakaan."
"Kecelakaan? Bagaimana bisa Elma?"
"Elma juga gak tau, Yah..., semoga putraku itu baik-baik saja."
"Ya sudah, ayo..., aku ingin melihat kondisinya."
Diva mengangguk dan jalan lebih dulu. Langkah kaki terdengar sangat cepat, diselingi rasa kekhawatiran yang mengerubung kuat di benak masing-masing. Dari jauh Dokter Hamis jalan menghampiri dengan tatapan penuh kecemasan.
"Syukurlah kalian ada disini. Anakmu mengalami kecelakaan Elma, aku sendiri yang habis memeriksanya. Kondisinya sangat parah sampai aku tidak sanggup mengatakan ini kepadamu."
Deg.
Detak jantung Vierra seakan berhenti. Seperti menaiki wahana rollercoaster dari ketinggian 1000 kaki, lalu di jatuhkan saat itu juga seperti itulah jantung Vierra yang kini berdetak tidak stabil. Rasa sakit diperutnya semakin bertambah merasakan perih yang luar biasa menyiksa batin serta jiwanya.
"Astaghfirullah, Reno....." jerit Ny. Elma begitu keras. Tangisan serta isakan kepedihannya berhasil lolos seperti raungan kesakitan setelah mendengar tentang kondisi putra kesayangannya saat ini.
"Elma...., tenangkan dirimu," tutur sang Kakek.
__ADS_1
"Pastikan cucuku baik-baik saja Hamis."
"Saya tidak bisa menjanjikan itu Pak Ednan. Kondisi Reno sangat kritis, banyak luka robek dan pendarahan hebat dikepala. Sekarang dia dipindahkan keruang ICU," papar Dokter Hamis.
"Aku ingin lihat putraku. Antarkan aku kesana."
"Baiklah, ayo..." Dokter Hamis mengangguk kemudian melangkah lebih dulu.
Tak butuh waktu lama, sekarang Dokter Hamis sudah berdiri di depan pintu ruang ICU.
"Sebaiknya salah satu saja yang masuk, lalu nanti bisa dilanjutkan secara bergantian." Ny. Elma mengangguk dengan pandangan mengarah ke Vierra. Seperti memberi isyarat kalau menantunya itu ia izinkan masuk lebih dulu.
"Kamu masuk dulu aja Vie..., nanti mama sama yang lain belakangan."
"Makasih ma..., aku masuk dulu, ya." Mendapat anggukan dari mertuanya. Sekali tarikkan nafas, Vierra mulai memutar knop pintu. Alangkah terkejutnya melihat Reno tergeletak diranjang dengan bantuan pernapasan dari tabung besar yang berada didekat layar monitor detak jantung.
Vierra melangkah secara pelan-pelan mengabaikan rasa sakit di perutnya. Matanya kembali berair tak kuasa melihat kondisi Reno yang terbaring lemah. Mata itu terpejam, tidak ada senyuman yang ada hanya bibir pucat dengan banyak perban yang mengitari kepala suaminya.
"Mas....," lirihnya memegang tangan kanan sedingin es itu yang tidak bergerak sama sekali.
"Apa yang terjadi sama kamu..., kenapa kamu bisa sampai seperti ini." Air mata Vierra tak kunjung berhenti, justru semakin deras mengalir satu tetes satu tetes dengan isakkan yang ia tahan di tenggorokannya. Hatinya sangat perih begitu terluka. Suaminya mengalami kecelakaan, dengan kondisi separah ini membuat rasa takut kehilangan dalam diri Vierra menguar lebar. Ia tidak ingin merasakan kehilangan untuk ketiga kalinya.
Kehilangan ayahnya kala itu membuatnya menangis sejadi jadinya, apalagi ia harus dipaksa menerima takdir pahit yang menimpanya. Ibunya juga sudah berpulang kerahmatullah, ia tidak ingin harus kehilangan Reno. Laki-laki itu adalah kekuatannya, seperti penompangnya untuk trus bertahan hidup, menemaninya melewati masa-masa duka atas kepergian ibunya. Vierra hanya meminta setidaknya belas kasih dari Tuhan, agar orang yang dicintainya itu kembali sadar dan bisa menemaninya melanjutkan hidup.
Vierra tak kuasa menahan pedihnya saat hanya bisa melihat Reno diam tidak bergerak sama sekali. Hatinya tersayat sembilu, luka robek akibat kesedihan yang ia rasakan sekarang mengalahkan rasa perih yang mendera diperutnya. Vierra tidak sanggup melihat suaminya trus terpejam, tanpa tahu kapan kelopak mata itu akan terbuka.
"Aku mohon Tuhan..., cukup hanya ibuku yang engkau ambil, tolong jangan ambil juga suamiku. Aku masih membutuhkannya, aku masih ingin trus menghabiskan sisa umurku dengannya, aku masih ingin merasakan kehangatan sikapnya, aku masih ingin dia disini menemaniku. Tolong buat suamiku sadar, aku merindukannya...., akuuu merindukan suaranya...., hiksss...., aku mohon."
Tak kuasa mengutarakan isi hatinya dengan bibir yang gemetar disertai tangisan dari rintihan dibibirnya, membuat rasa pedih tersayat itu semakin menjadi-jadi. Dadanya bergemuruh sesak. Air mata yang trus bercucuran, namun tidak mengeluarkan isakkan keras justru membuat dadanya kembang kepis tak karuan, seolah oksigen dalam dirinya akan habis. Hidungnya tersumbat akibat terlalu lama menahan isakkan kepedihannya yang bisa saja Vierra keluarkan agar lebih lega.
"Aku...., mohon bangunlah.... Apa kamu gak ingin melihatku? Aku disini Ren..., buka matamu dan lihat aku..... Kenapa kamu trus tidur..., bukalah matamu demi aku....."
Meski banyak pintahan memohon, tetap tidak bisa membuat kelopak mata Reno terbuka.
Apa suaminya itu betah tidur berlama-lama.
Vierra trus merendam isak tangisnya. Ia bisa saja berteriak menumpahkan segala kesakitannya, namun bibirnya mengatup kuat. Isak tangisnya hanya ia pendam dalam hatinya. Menatap nanar bibir pucat Reno yang tidak bergerak sama sekali.
*****
Bersambung.....
Mohon beri rate bintang 5 ya biar naik ratenya. Beri like, vote dan Komentar positif ya biar mendukung untuk part selanjutnya. Terima kasih 😊
__ADS_1