Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Ada Apa Dengan Vierra?


__ADS_3

Hari menjelang sore, Vierra dan Reno sekarang sudah ada di menara Eiffel. Satu tempat wisata yang memang wajib di kunjungi saat berada di pusat kota Paris. Matahari akan terbenam, dan ini adalah waktu yang cocok untuk menghabiskan moment indah di menara Eiffel. Banyak turis yang mengabadikan moment tersebut dengan berfoto, membuat Vierra tersenyum lebar.



"Mas....., fotoin aku, biar nanti pas sampai di Indonesia bisa kasih liat ke ibu," ujar Vierra begitu antusias.


"Yaudah...., kamu pose biar aku yang fotoin." Vierra mengangguk, lalu berjalan sedikit mendekat ke bagian badan menara.


"Udah mas, ayo foto buruan! Gak sabar aku."


"Iya sayang...., oke aku hitung ya. Satu..., dua..., tigaaa.....," ujar Reno sedikit keras.


Cekrek...


Cekrek...


Cekrek...


"Gimana mas bagus gak?" teriak Vierra dengan gaya ala tangan piss seperti remaja umumnya jika berfoto. Reno tersenyum puas melihat betapa cantiknya Vierra dengan beberapa pose lucu andalan istrinya itu.


"Kamu cantik sayang.....," balas Reno tatkala kerasnya disertai acungan jempol.


Setelah berkeliling kurang lebih hampir satu jam, dan waktu di Paris sekarang menunjukkan jam 18.15 yang artinya sudah malam. Reno masih setia menggandeng tangan mungil Vierra untuk berjalan memutari area disekitar menara Eiffel.


"Mas..."


"Iya sayang? Kenapa?"


"Aku seneng deh bisa ke Paris. Padahal dulu aku slalu bermimpi bisa keliling luar negri, tapi susah apalagi waktu ayah udah gak ada jadinya aku nemenin ibu berdua di Jakarta." Alis Reno terangkat, nemenin berdua apa mungkin istrinya ini orang rantau, fikirnya begitu.


"Sayang..., maaf, apa kamu orang rantau? Setahuku kamu asli Solo kan kata mama mertua begitu?" Vierra mengangguk, "Benar mas. Aku emang asli Solo, dari kecil udah tinggal di Solo tapi pas ayah dapat kerjaan di Jakarta waktu umurku 10 tahun akhirnya aku ikut ayah tinggal di Jakarta sama ibu juga. Awalnya enak, ternyata tinggal di kota lebih enak daripada di desa, tapi pas ayah kecelakaan jadinya..., semuanya berubah."


Reno melihat perubahan wajah Vierra yang sekarang menjadi muram dan sedih. Sorot matanya memperlihatkan luka masa lalu atas meninggalnya sang ayah tercinta. Pak Bagas memang bekerja sebagai karyawan kantor biasa disalah satu perusahaan yang menurutnya sangat besar kala itu. Tak berlangsung lama, baru setahun bekerja dan mengadu nasib bersama istri dan anak, sebuah musibah menimpanya.


Beliau adalah salah satu korban pesawat Airland yang jatuh di salah satu perairan Indonesia 12 tahun silam. Kenangan buruk kematian sang ayah tercinta membuatnya terpuruk, makanya saat itu ibunya sering jatuh sakit karna tak kuasa merelakan kepergian sang suami tercinta. Hidup berdua di kota metropolitan bersama putri semata wayangnya, adalah hal yang baru bagi Bu Dian. Beliau harus menjadi tulang punggung agar Vierra tidak putus sekolah, begitupun dengan Vierra yang ikut membantu ibunya mencari uang sejak masuk SMA kala lalu.


Hidup susah bukan di kota kelahiran dan hanya di temani ibunda tercinta, tidak membuat Vierra putus semangat. Ia bahkan sudah menerapkan prinsip, agar kedepannya bisa hidup berkecukupan. Sekarang terbukti, dengan kecerdasan serta banyaknya pengalaman bekerja membuat Vierra bisa hidup lebih menengah daripada waktu pertama kali menginjakkan kaki di kota Jakarta. Ditambah ia sekarang sudah menikah dengan laki-laki terpandang yang sangat baik, membuat sanak saudaranya di Solo juga ikut bahagia melihat keberhasilannya sekarang ini.


Reno langsung memeluk tubuh Vierra dengan begitu erat. Tangan kanannya trus mengusap penuh kehangatan di kepala istrinya. Tinggi Vierra hanya sebahunya karna sekarang istrinya itu memakai flat shoes, cukup memudahkan Reno mengusap lebih leluasa kepala belakang istrinya disertai kecupan ringan.


"Kamu jangan sedih, sekarang kan udah ada aku jadi...., kamu gak sendirian lagi. Aku janji akan jagain kamu seperti pesan mama mertua. Aku suamimu sekarang, semua keluargaku menjadi keluargamu jadi kamu jangan merasa sendirian lagi," tutur Reno lembut. Seperti sebutir obat, kalimat menenangkan dari suaminya membuat hati Vierra menghangat. Ia sangat bersyukur bisa ditakdirkan hidup dengan laki-laki seperti Reno. Entahlah Vierra merasa Reno benar-benar laki-laki yang ia idamkan selama ini.


Bertanggung jawab, lembut, dan punya cara sendiri untuk bisa membuatnya bahagia. Vierra benar-benar jatuh cinta sekarang, sosok Reno mengingatkannya dengan almarhum sang ayah tercinta yang kala itu mempunyai sikap sama persis seperti Reno. Begitu mencintai keluarganya.


*****

__ADS_1


Jakarta.


Gevan sekarang ada di sebuah Cafe, seperti pesan WA yang didapat dari kekasihnya yaitu Amanda, akhirnya ia bisa bertemu dengan gadis itu setelah seminggu lamanya tidak bertemu.


Amanda sudah terlihat didekat pintu masuk Cafe, matanya mengedar dan melihat sosok Gevan duduk di pojok selatan. Ia jalan menghampirinya sampai sebuah sambutan hangat terdengar.


"Malam sayang....," sapa Gevan manis.


"Iya malam, Gev. Maaf ya aku sedikit terlambat."


"Gak masalah, lagian aku juga baru datang. Ayo duduk udah aku pesenin vanila latte kesukaanmu." Amanda tersenyum, ternyata Gevan slalu bisa membuatnya berbunga meski jarang sekali bertemu, tapi setiap bertemu laki-laki itu slalu memberikan sikap hangat dan segala perhatian.


"Makasih..., kamu slalu ingat minuman kesukaannku, padahal kita udah jarang mampir ke Cafe ini," ujar Amanda seraya melepaskan bag kecilnya diatas meja.


"Semua kesukaanmu aku slalu ingat. Oh iya, gimana dengan kerjaanmu? Lancar? Ada penerbangan kemana aja seminggu ini?" tanya Gevan menatap serius.


"Semingguan ini aku ada penerbangan ke Palembang, Lombok, Bali, Yogyakarta dan Surabaya. Itu-itu aja si, tapi dua hari yang lalu aku dipindahkan buat ikut kepenerbangan ke Singapura," balas Amanda membuat Gevan mengangguk paham.


"Pantas sibuk banget kamu. Aku aja kalah sibuknya."


"Lho kamu gak ada pameran lukisan lagi?" Gevan menggeleng cepat, "Seminggu ini aku gak ikut pameran. Kakek nyuruh aku gantiin posisi Reno sampai dia pulang dari bulan madunya," balasnya.


"Kenapa kamu gak cari usaha yang lain? Atau kamu bisa kerja di Perusahaan kakekmu," usul Amanda membuat Gevan lagi-lagi menggeleng.


"Trus maunya apa?"


"Kita cepet nikah, biar bisa nyusulin Reno sama adik ipar. Apa kamu gak mau kita segera nikah? Aku udah pesen cincin dan beberapa undangan juga bakal jadi mungkin lusa depan."


Amanda terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Ucapan Gevan seakan tombak yang membuat tenggorokannya tertohok dan menjadi bungkam.


"Kamu kenapa? Kok diam? Kamu masih mau kan lanjutin pernikahan ini?" tanya Gevan dengan nada sendu serta kekhawatiran.


*****


Paris.


Vierra kini tengah menyiapkan pakaian ganti untuk Reno yang sedang mandi. Kaos berwarna biru gelap disertai celana bahan kain selutut menjadi pilihannya. Ia menaruh baju serta celana itu diatas ranjang, dan mulai melirik kearah pintu kamar mandi yang ternyata masih belum dibuka.


"Selalu aja lama," gumannya pelan.


"Sayang!!!" teriak Reno dari dalam kamar mandi.


"Iya kenapa? Handuknya kan udah aku kasih di depan pintu. Kamu ambil aja," balas Vierra yang juga ikut teriak.


"Bukan itu, tolong gosokin punggungku bisa gak? Rasanya lengket, aku slalu ngerasa gatal-gatal di punggung!" Vierra mendekat kearah pintu kamar mandi, karna merasa ucapan Reno kurang jelas.

__ADS_1


"Kamu bilang apa tadi? Gosokin punggung?" tanyanya pelan.


"Iya sayang...., aku janji gak minta aneh-aneh cuman gosokin aja punggungku. Ini gatal banget."


"Kamu gak bohong kan?"


"Masa iya aku bohong. Kamu langsung masuk ini aku ngadap belakang, cepet sayang masa kamu tega biarin suamimu ini kedinginan dibawa shower." Vierra mendengus kesal, tapi apa boleh buat ia juga tidak bisa membantah.


"Iya, iya..., ini aku masuk ya kamu ngadap belakang!" Vierra menarik nafasnya lebih dulu dan setelah berhasil baru ia mencoba meyakinkan diri sendiri kalau Reno tidak akan melakukan hal aneh nantinya didalam kamar mandi.


Ceklek...


Vierra bisa melihat tubuh belakang Reno. Ia menelan ludahnya merasa gugup, padahal sudah pernah ia lihat semuanya bentuk tubuh Reno, tapi kenapa sekarang masih saja deg deg'an seperti baru pertama kali melihat.


"Sayang...."


"Iya, ini udah masuk. Jangan nengok kebelakang cukup kasih aku spon dan sabun mandinya biar aku gosokin," balas Vierra cepat.


Saat ia mulai melangkah, namun tiba-tiba hal tak terduga terjadi.


Brugh....


Vierra terpeleset sehingga kakinya terkilir dan jatuh hampir mengenai dinding kamar mandi.


"Aduhhhhh......." Reno yang mendengar langsung terkejut dan membalikkan badannya. Matanya membola kaget melihat Vierra merintih kesakitan.


"Sayang....., kamu kok bisa jatuh? Maaf ya, apa ada yang sakit?" tanyanya khawatir.


"Kakiku sakit....." Reno paham langsung menggendong Vierra ala bridal style untuk keluar dari kamar mandi bahkan mengabaikan dirinya yang masih telanjang bulat.


Viera diturunkan diatas ranjang, "Aku panggil dokter ya kesini? Bentar aku telfon Pak Albert dulu," ujarnya seraya mengambil ponsel diatas laci.


Panggilan Tersambung.


"Halo Pak Albert, istriku baru saja terpeleset dikamar mandi, aku takut dia kenapa-napa, tolong panggilkan dokter ya Pak. Suruh datang ke sini."


"Ya ampun...., baik Tuan. Saya akan memanggil dokter kenalan saya."


"Baik, Pak Albert aku tunggu. Terima kasih...."


Panggilan Terputus.


*****


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2