
Vierra membalikkan tubuhnya, membiarkan calon mertuanya untuk melihat lebih jelas gaun pengantin yang ia pakai. Vierra bahkan beberapa kali menyingkap gaunnya, karna ukuran ekor yang sangat panjang disertai renda-renda bagian bahunya memang sedikit membuatnya kualahan, namun ia masih tetap menyukai motif gaun tersebut.
"Kamu persis mama waktu nikah dulu, Vie," ujar sang calon mertua dengan mengelus lembut pipi kanan Vierra.
"Makasih mama, tapi apa ini gak terlalu kemewahan? Aku fikir, aku bisa cari gaun lagi yang lebih sederhana." Vierra tersenyum meski sedikit, lalu memancarkan wajah tidak yakin setelah melihat lagi gaun yang kini melekat ditubuhnya.
"Gak kok sayang, ini cocok sama kamu. Mama suka sama gaun ini, lagian nanti kamu pakai tiga atau kalau gak lima baju pengantin. Kata Reno, dia ingin ngadain resepsinya di Bali. Pas nikah nanti kamu pakai adat Betawi ya? karna Alm. suami mama asli orang Betawi." Kening Vierra mengerut.
"Betawi, Ma?" ulangnya merasa kurang yakin.
"Iya. Kenapa, Vie? Oh iya kamu asli orang mana? kata Reno, kamu orang Solo ya?"
"Iya mama, tapi ayah asli Makassar," balas Vierra mengangguk pelan.
"Oalah Solo, yang adat Jawa itu kan?" tanya Ny. Elma lagi karna penasaran. Putranya hanya mengatakan kalau Vierra orang Solo.
"Iya, ma. Kalau Solo pakai adat Jawa."
"Gimana? Masya Allah... Cantik banget calon menantumu ini Elma!" pekik Ny. Sera selaku pemilik Butik sekaligus sahabat akrab ibunya Reno.
"Iya, Ser! Aku aja sampai pangling. Vierra emang cantik, pantas Reno jatuh cinta sama kamu Vie..." Vierra hanya tersenyum malu-malu, entah karna pujian tersebut atau karna ucapan calon mertuanya yang secara gamblang mengatakan jika Reno benar-benar mencintainya.
"Kapan pernikahan Reno dilangsungkan Elma?" tanya sang sahabat, membuat Ny. Elma menatap kearah Ny. Sera.
"Lima hari kedepan, Ser."
"Cepet banget, gak nyangka Reno bisa nikah cepet. Anakku aja persiapannya baru 2 bulan lagi."
"Tian akan nikah?"
"Iya, kan udah aku kasih tau kalau dia gak mau tunangan, katanya lebih enak langsung nikah."
Suara gelak tawa terdengar, Ny. Elma tak kuasa menahan tawanya, saat mendengar pernyataan dari sahabatnya itu. Anak laki-laki dari Ny. Sera ternyata mengikuti usulnya, yang dulu pernah ia katakan kalau sebaiknya menikah daripada harus bertunangan.
"Dia ngikutin saranku, Ser! Hahahahahaha....."
"Pantes itu anak slalu nyebut kamu. Katanya Tante Elma bilang enakan nikah karna langsung halal daripada tunangan terlalu lama, gitu EL."
__ADS_1
"Emang bener kata Tian, Ser. Daripada tunangan mending langsung dinikahkan aja, kayak Reno sama Vierra." Ny. Elma kembali menatap kearah Vierra dan tersenyum hangat, membuat Vierra juga menghangat karna merasa bahagia mendapatkan keluarga baru dari calon suaminya yang benar-benar menyayangi dirinya.
Kurang lebih menguras waktu hampir satu jam, Vierra masih melihat-lihat beberapa gaun yang pegawai butik ini usulkan. jujur, saat ini Vierra merasa senang tapi juga merasa gelisah karna Reno tak kunjung datang. Entah apa yang dilakukan laki-laki itu, bukannya ia menyuruh setelah melihat rekaman cctv langsung ke Butik, nyatanya sampai sekarang Reno tak kunjung datang.
Vierra menghembuskan nafas lelahnya, ia menatap ke arah Timur. Ada calon mertuanya itu yang masih sibuk berbincang dengan Ny. Sera, sepertinya perbincangan mereka berdua sangat asik, sampai keduanya sesekali tertawa satu sama lain. Vierra jadi merindukan ibunya, andai sang ibu ada juga disini pasti ia lebih bahagia, pikirnya begitu.
*****
"Pak Nav! cari tau siapa orang yang terakhir kali mengambil data perusahaan dan data pribadiku."
"Kalau sudah diperiksa, segera datang keruanganku."
Panggilan Terputus.
Leon menaruh kembali telepon kabel itu dengan sedikit menyentak keras, menimbulkan geseran dan bunyi diatas meja yang berbahan dasar kaca. Setelah mendapat telfon dari kerabat bisnisnya yaitu Pak Wingky, membuat geraman kesal kembali terlontar dari bibirnya. Mengenai ucapan dari rekan kerjanya itu yang seolah menuduhnya terkait masalah yang menimpah Rossi, seakan mengharuskan Leon untuk meringkus dan membereskannya kembali.
Bagaimana mungkin hal itu kembali terkuak, padahal ia sudah menutupnya rapat-rapat dan dengan sangat hati-hati tanpa meninggalkan jejak apapun.
Memori saat dirinya memesan kamar hotel tiga hari yang lalu bersamaan dengan masuknya seorang wanita dalam kamarnya, membuat Leon harus mengeram kesal. Memutar kembali rencana yang matang, agar hal tersebut tidak semakin beredar.
Ceklek...
"Pak Leon, saya sudah mendapatkan informasinya." Leon memalingkan pandangannya menatap kearah pintu masuk. Sosok sekretaris pribadinya yang bernama Pak Navandi datang sesuai perintahnya barusan.
"Dari website perusahaan, data pribadi anda baru saja di lihat dan diambil dari Hotel Gemilang pagi tadi."
"Hotel Gemilang?"
"Benar, Pak Leon," ujar Sekretaris itu dengan anggukan setuju.
"Jadi, aku tau sekarang siapa yang ingin main-main denganku. Reno Al Barack, dia orangnya..." Leon berdiri dengan senyum tipis seolah akan siap menantang lawan baru untuknya.
"Aku harus pergi. Batalkan semua meeting hari ini," ujarnya dengan tegas, lalu jalan melewati Pak Navandi dan keluar dari ruangan.
Sedangkan itu mobil Lamborghini Reno akhirnya baru terparkir di depan Butik. Reno melepaskan Seat beltnya dengan buru-buru, lalu berhasil dan keluar dari mobil. Butik ini untung tidak terlalu ramai, jadi Reno bisa bernafas sedikit lega. Ia jalan sampai didepan pintu, senyumannya mengembang setelah mengedarkan pandangannya menatap satu objek. Calon istrinya ada disana ternyata, batinnya begitu.
"Sayang... maaf ya aku terlambat"
__ADS_1
Reno menghampiri Vierra disertai kecupan singkat dikening gadis itu, lalu ia duduk di samping Vierra dengan tersenyum. Vierra hanya memutarkan bola matanya, meski sedikit kesal tapi perilaku Reno barusan cukup membuatnya tenang.
"Lama banget si!" sembur Vierra dengan bibir yang mengerucut.
"Iya, tadi aku harus ke kantor Pak Wingky." Vierra menatapnya bingung, ada sedikit rasa takut saat kembali mendengar nama dari ayahnya Rossi.
"Ngapain kesana? Pak Wingky ngancam kamu?" tanyanya penasaran, justru membuat Reno terkekeh gemas. Kedua tangan Vierra ia ambil dan digenggam disertai tatapan penuh kehangatan.
"Bukan sayang, justru aku yang ngancam balik Pak Wingky." Reno diam, sengaja memberi jeda, membuat Vierra menunggu dengan rasa kebingungan, " Aku udah nemuin bukti siapa ayah kandung dari bayinya Rossi. Aku yakin setelah ini, hubungan kita akan baik-baik aja karna Pak Wingky gak akan macam-macam lagi sama kita."
Vierra menghembuskan nafas leganya dan tersenyum, merasa ucapan Reno sebuah titik terang dari masalah yang ada.
"Syukurlah kalau gitu. Aku harap laki-laki yang menghamili Rossi bisa tanggung jawab sama bayinya Rossi, gimanapun aku yang liat juga merasa kasian sama Rossi." Reno membawa tubuh Vierra kepelukannya, mengusap lembut kepala calon istrinya itu.
"Aku emang gak salah pilih kamu, Ra. Kamu emang calon istri idaman. Aku beruntung punya kamu," ujar Reno terdengar seperti pengutaraan yang sangat tulus.
"Ehh, Reno! Akhirnya udah datang, ayo coba bajumu juga. Mama nungguin kamu sama Vierra dari tadi, lama banget datangnya." Reno melepaskan pelukannya, saat sang ibu berujar sambil menggelengkan kepala.
"Iya mama, ini juga mau nyobain, tapi... Vierra-"
"Dia udah nyobain bajunya. Kamu datangnya telat, tapi nanti mama kirim fotonya ke kamu. Kamu harus liat, tadi Vierra cantik banget pakai gaun pengantin pilihan mama."
"Yahh... Padahal pingin Vierra pakai lagi ma, sekalian buat foto prewedding," ujar Reno dengan nada lesunya karna merasa kecewa.
"Besok kalau mau, kamu bisa foto prewedding, mama udah telfon Ramdan katanya besok dia bisa motoin kamu buat preeweed." Senyum Reno kembali mengembang, menatap ibunya dengan antusias.
"Serius ma?" Ny. Elma mengangguk membuat Reno tersenyum lebar.
"Vie! besok kita foto prewedding ya. Hmm... aku ingin indoor dan outdoor kalau outdoor sepertinya tempat yang cocok adalah di Monas."
"Monas?" pekik Vierra kaget.
"Iya, Monas. Disana cocok buat foto prewedding," ujar Reno lagi memberi keyakinan, sedangkan Vierra menatap aneh seolah usulan Reno tidak sama dengan pemikirannya. Apa foto prewedding di Monas akan bagus? bukannya disana ramai? fikirnya dalam hati.
_____•••••_____
Bersambung...
__ADS_1