
Happy Reading jangan lupa tinggalkan jejak vote dan komentar 👍
_____•••••_____
Reno tersenyum dengan diselingi kekehan tipis dibibirnya. Selepas kepergiannya dari Matahari membuatnya benar-benar tidak bisa melupakan Vierra. Gadis itu dari dulu berhasil meluluhkan hatinya. Reno berjalan melewati beberapa toko dengan sesekali para pegawai yang melihatnya menunduk disertai senyuman hangat.
Reno menghentikan langkahnya membuat Pak Andre yang sedari tadi hanya berjalan dengan menenteng kantong berisi belanjaan itu ikut terhenti.
"Pak An, jangan lupa berikan dress itu ke wanita tadi di Matahari," ujar Reno memberi perintah.
"Wanita? Maksud Tuan Muda?" Pak Andre bertanya kebingungan. Reno menghembuskan nafasnya disertai balikkan tubuhnya yang kini menatap kearah sekretarisnya tersebut.
"Iya, Pak An. Wanita tadi, Maksud ku pegawai yang bekerja di Matahari."
"Maaf, Tuan Muda. Saya lupa pegawai yang mana yang anda maksud. Apa wanita berambut panjang tadi?"
"Bukan Pak An!" sela Reno membantah cepat.
"Gak usah! Biar aku aja yang berikan sendiri ke dia," lanjutnya dengan nada tegas.
"Sini kantong yang berisi dress tadi." Pak Andre paham lalu mendekat dengan memberikan kantong yang sudah ia cek lebih dulu.
"Ini Tuan Muda." Reno mengambilnya singkat, Namun tiba-tiba suara teriakkan dari wanita yang ia kenali mulai terdengar.
"Reno... I'm Coming, Honney..."
Bughh...
Wanita dengan parfum melati tercium kuat. Reno terkejut, menerima serangan pelukan dadakan dari arah belakang. Wanita berambut blonde itu memeluknya meski harum, tapi Reno risih dan tidak menyukai kehadirannya.
"Lepaskan Rossi, Ini di tempat umum," ujar Reno dingin.
"Gak mau! Bukannya kamu sangat suka aku peluk Honney? Apalagi-"
Srrtt...
Reno terpaksa melepaskan pelukan sepihak dari wanita bernama Rossie, disertai balikkan badannya yang kini menatap datar wanita itu.
"Ada apa kesini?" tanya Reno.
"Kamu kok malah nanya gitu si Honney, jelas aku kesini buat ketemu sama kamu dong. Oh iya, ayo temani aku beli barang. Besok kan ulang tahun mama mertua, jadi aku ingin beli sesuatu yang bagus," ujar Rossi dengan ajakkan riangnya.
"Telat! Aku udah beli kado buat mama, kalau mau beli aja sendiri. Aku harus balik ke kantor." Reno menjawab dengan tegas, membuat Rossi terkejut lalu menampilkan wajah sedihnya.
"Honney... Masa kamu tega biarin aku beli hadiah sendiri buat mama mertua, kalau nanti ada yang godain aku gimana," ujar Rossi dengan manja.
__ADS_1
"Ada sekurity. Minta tolong sama dia jangan sama aku!" tolak Reno tegas.
"Kok gitu? Kamu ini gimana si Honney!"
"Berhenti panggil Honney, Ros! Geli aku dengernya, lagian belum tentu mama mau menerimamu menjadi menantu. Sikapmu aja kekanak-kanakan dan manja." Rossi melotot tak percaya. Ucapan Reno adalah sebuah penghinaan, tapi laki-laki itu justru tetap menatap dengan wajah datar.
"Reno iihh!" Rossi berteriak sedikit keras, beberapa pengunjung yang lewat bahkan pegawai yang melihat trus menatap aneh sekaligus heran.
"Jangan berteriak, Ros! Jangan bikin aku malu, mengerti!" ujar Reno setengah membentak.
"RENO!" Sekarang, justru Rossi memekik keras. Reno menatap tajam kearah Rossi, dari dulu ia sangat tidak menyukai kehadiran wanita itu, baginya Rossi itu musibah.
Saat Kakeknya dulu memperkenalkan Rossi saat itu juga Reno tidak menyukai kehadiran wanita itu. Rossi anak dari kerabat bisnis Alm. Ayahnya. Dulu memang banyak sekali kerabat bisnis dari mendiang ayahnya dan beberapa orang tua mereka mengenalkan putrinya untuk Reno. Hal itu sangat membuat Reno risih, meski banyak wanita dari kenalan Alm. Ayahnya atau kerabat dari ibunya tetap saja Reno sudah memilih sendiri calon pengantinnya nanti. Untuk siapa dia sudah sangat jelas, jika ia pasti akan menikahi Vierra. Gadis itu adalah cinta pertamanya, sekaligus akan menjadi cinta terakhirnya.
"Terserah!" Reno menghiraukan ucapan Rossi, lalu lanjut melangkah pergi. Pak Andre ikut berjalan di belakang tepat melewati Rossi, Pak Andre tersenyum tanpa sekata apapun.
Rossi menatap kesal. Ia benar-benar masih di campakkan oleh laki-laki yang sudah dia anggap calon suaminya. Rossi tidak bisa membuat dirinya malu.
"Reno.... Tunggu!" Satu teriakkan, masih diabaikan oleh Reno.
"Reno!!!" Terikkan kedua, tetap sama.
"Reno! Kamu kenapa si trus ngehindar dari aku, malahan lebih seneng deket-deket sama Pak Andre. Seharusnya kamu pilih aku dong, Atauuu jangan-jangan.... kamu Gay Ya!"
Tepat teriakkan terakhir, Reno berhenti. Matanya membulat, lalu beganti dengan geraman kesal.
Gumannya dalam hati.
Reno menatap kedepan, belum sama sekali berbalik. Rossi yang melihatnya dengan tersenyum. Tebakkannya mungkin akan benar. Reno akan berbalik dan menghampirinya.
"Baby... Pacarku ternyata udah datang," ujar Reno dengan memanggil sedikit keras.
Semua mata menatapnya bingung, tapi Reno melangkah lagi untuk menghampiri wanita berpakaian seragam SPG Matahari.
Ya dialah Vierra.
Srrtt...
Tanpa malu Reno memeluk bahu kanan Vierra, lalu setelah sukses Vierra menatapnya penuh baru dengan berani Reno memeluk pinggang ramping Vierra, memaksa halus badan Vierra untuk berbalik memunggungi Rossi yang tengah menatapnya jauh.
"Kita ketemu lagi, Baby..."
"Baby katamu?" Vierra memekik sedikit keras.
_____•••••_____
__ADS_1
Disebuah Rumah berdekorasi mewah nan megah itu sedang diisi beberapa orang. Setelah acara makan malam orang tertua yakni kakek Reno, meminta untuk berkumpul di ruang keluarga.
"Reno...." Tn. Ednan, Selaku orang paling tua itu memanggil cucu terakhirnya.
"Iya, Kek. Ada apa?" tanya Reno kebingungan.
"Kek! Ini ada apa? Kenapa kakek nyuruh kita semua kumpul disini?"
Itu suara dari laki-laki berkumis tipis. Namanya Elson Adiradja Barack. Cucu pertama dari keluarga Barack, yakni anak kakak kandung dari Alm. Tn. Ali yaitu ayahnya Reno.
"Benar, kata Kak Elson. Kenapa kakek nyuruh kita kumpul, padahal aku tadi ada janji mau ketemu sama temen." Ernest Wiliam Barack, ikut menimpali. Laki-laki dengan mata sipit khas orang Korea itu didapat dari Ibunya, yakni Ny. Gasella selaku menantu ke dua dari keluarga Barack.
Penjelasan singkat, dirumah besar ini dihuni beberapa keluarga dari nama besar belakang sang kakek, yaitu Tn. Ednandan Barack. Setelah kepergian sang istri tercinta, membuat seluruh keluarga baik anak, menantu serta cucunya ikut diboyong tinggal dirumah besar dengan alasan untuk menemaninya agar tidak sepi.
Tn. Ednan hanya mempunyai 3 anak, dua diantaranya laki-laki dan anak pertama yaitu perempuan. Ny. Anela meninggal lebih dulu, disusul anak ke duanya yaitu Tn. Gibran selaku ayah dari Ernest dan terakhir, ayahnya Reno. Tn. Ali juga meninggal, hanya tersisa beberapa bagian dari keluarga Barack yang masih ada. Beruntungnya ada Elson, Ernest, Gevan, Aily dan juga Reno. Mereka semua adalah cucu dari Tn. Ednan, dan 3 diantaranya sudah menikah.
"Kakek sengaja ngumpulin kalian kesini, karna ingin memberi taukan sesuatu yang penting," ujar Tn. Ednan menjelaskan.
"Apa itu ayah?" tanya Ny Elma, selaku ibunya Reno.
"Elma, besok adalah ulang tahunmu meski anakku Ali sudah tidak ada, tapi dia pasti ikut memberikan doa untukmu menantuku. Aku ingin saat perayaan ulang tahunmu nanti di hotel saat itu juga aku ingin 2 cucuku menikah."
"Maksud Kakek?" Gevan bertanya sedikit keras. Ya, ia sangat terkejut bagaimana pun yang belum menikah di keluarga Barack hanya dirinya dan juga Reno. Saudaranya yang lain jelas sudah menikah.
"Ayah apa yang sebenarnya ingin ayah sampaikan. Apa ayah ingin menjodohkan Gevan dan juga Reno?" tanya Ny. Elma lagi.
"Aku gak mau dijodohin, Kek! Aku udah punya calon sendiri, besok aku akan bawa dia ke hadapan kakek," ujar Gevan menolak tegas.
"Ya, itu bagus, Gevan. Besok kakek ingin tau siapa yang akan jadi calon istrimu."
"Reno, apa kamu udah punya calon juga?"
"Calon?" Reno mengulang kembali pertanyaan kakeknya.
"Besok kakek ingin kamu juga memperkenalkan siapa calon istrimu," ujar sang kakek dengan nada sama, seperti tidak ingin ada bantahan.
"Bukannya udah jelas, Rossi kan calon istrimu, Ren," sahut Elson ikut menimpali.
"Enak aja. Dia bukan calon istriku, Kak EL!" Sungut Reno membantah cepat.
"Lalu siapa calon istrimu, Ren? beritau kita, biar besok kalau aku melihatnya langsung aku sambut dengan hangat," ujar Arly tersenyum hangat.
"Vierra. Nama wanita itu Vierra..."
__ADS_1
_____•••••_____