Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Prahara Dirumah Besar


__ADS_3

Reno sudah sampai di tempat mobilnya terpakir. Vierra dan Ny. Dian ternyata sudah menunggu lebih dulu, lalu Reno melirik ada Jordan yang baru sampai dan berdiri didekat parkiran mobil Mercedes silver.


Reno mendekat kearah Ny. Dian berusaha meminta salim dari beliau. Vierra yang melihat justru menatap bingung.


"Mama, aku izin bawa Vierra ke rumah ya. Mamaku mengirim pesan barusan, kata mama ingin bertemu sama Vierra, boleh kan mama mertua? Ny. Dian mengelus rambut Reno saat kepala calon menantunya itu menunduk dan mencium punggung tangannya.


"Iya, Nak Reno. Ibu izinin kamu bawa Vierra pergi," tutur sang ibu dengan senyum merestui.


"Vie! Kamu pulang ke rumah nak Reno ya, katanya Ny. Elma pingin ketemu sama kamu." Ny. Dian berujar sembari menatap kearah putrinya.


"Katanya kangen ma," imbuh Reno dengan cengiran lebarnya.


"Yaudah, tapi ibu gimana?"


"Kan ada Jordan, Vie! Dia yang akan anterin ibu pulang. Kamu pergi aja sama nak Reno." Vierra mengangguk paham, tanpa berniat menolak. Ia lalu ikut meraih tangan sang ibu untuk minta salim sebelum akhirnya berpamitan pergi.


"Hati-hati ya. Nak Reno tolong jaga Vierra, ya..."


"Siap mama mertua. Vierra akan aman kalau sama aku, ma," balas Reno dengan aksen lucu karna tangan kanan laki-laki itu terangkat seperti memberi penghormatan seorang prajurit kepada sang kapten.


"Nak Reno bisa aja hahahahahaha...." tawa Ny. Dian terdengar membuat suasana menjadi lebih hidup, begitu juga dengan Vierra yang ikut tertawa pelan melihat sang ibu dan tingkah konyol Reno.


Akhirnya Vierra dan Reno masuk kedalam mobil. Vierra menggunakan seat beltnya dan mulai menatap kedepan. Mobil Jordan ternyata sudah melaju meninggalkan karangan kuburan.


"Udah siap calon istriku?"


"Apasi, Ren! Dari tadi tau! Ayo pergi," celetuk Vierra diselingi gerutuan kesal, sedangkan Reno justru tertawa dan sekarang mengacak gemas rambut calon istrinya itu.


"Lucu banget kamu, Ra! Gak sabar aku pengen cepet-cepet nikahin kamu," ujar Reno begitu saja. Vierra menatapnya sedikit terbelalak kaget.


_____•••••_____


Tak butuh waktu lama, mobil Lamborghini hitam berhasil berhenti setelah gerbang utama dibuka oleh seorang sekurity.


Ciittt...


"Ayo keluar, udah sampai." Reno mematikan mesin mobil sekaligus melepaskan seat beltnya. Vierra hanya mengangguk dan mengikuti sarannya untuk keluar dari mobil.


"Ini rumahmu?" tanya Vierra kaget. Rumah besar nan megah kini terpapang nyata didepannya, ditambah halaman yang begitu luas nan asri karna banyaknya rerumputan. Rumah bercorak desain ala Eropa itu membuat Vierra tidak bisa mengatupkan bibirnya.



Reno menghampiri Vierra dan menggandeng tangan cantik sang calon istri. Reno tersenyum menatap Vierra menggiringnya untuk melangkah sampai di depan pintu.


"Rumah ini nantinya akan jadi rumahmu juga sayang..." Vierra menatap dengan alis terangkat.


Setelah menekan tombol bell, barulah pintu terbuka dengan tatapan terkejut Ny. Elma menatap putranya bersama dengan calon menantunya.

__ADS_1


"Ya ampun Reno, akhirnya kamu pulang juga."


"Iya dong ma. Ini sesuai permintaan mama, aku udah bawa Vierra kesini," balas Reno yang mendapat sambutan pelukan hangat dari Ny. Elma untuk Vierra.


"Calon menantuku, akhirnya kamu datang ke rumah. Mama kangen sama kamu. Mama pengen ngobrol sama kamu, Vie."


"Sabar dong ma, kan aku juga pengen ngabisin waktu berdua sama Vierra."


Ny. Elma melepaskan pelukannya, lalu menatap kearah putranya itu.


"Gantian Ren! Hari ini, mama pengen berduaan sama Vierra. Ayo nak masuk..." Ny. Elma mengajak Vierra masuk kedalam rumah dengan menggandeng tangan calon menantunya, sedangkan Reno hanya menghembuskan nafasnya merasa tidak rela


"Siapa Elma?" Tn. Ednan sang kakek datang dari tangga, jalan menghampiri menantu beserta cucunya itu.


"Ini yah, ada Vierra."


Tepat sampai diruang tamu, Vierra tersenyum langsung meminta salim dari sang kakek. Tn Ednan mengelus kepala Vierra saat gadis itu mencium punggung tangannya.


"Apa kabar? Kakek benar-benar menantikan kamu datang kesini."


"Aku baik, Kek," ujar Vierra membalas dengan seutas senyuman hangat.


"Vierra! hari ini nginep ya dirumah," tawar Ny. Elma mendapat kerutan bingung didahi Vierra.


"Nginep disini tante?"


"Bener kata mama, Ra! kamu nginep sini aja, biar besok pagi aku yang langsung antar kamu pulang." Reno ikut mengimbuhi karna merasa setuju dengan usulan mamanya.


"Tapi besok aku kerja." Mendengar kata kerja masih belum bisa membuat Reno nyaman, terbukti mama dan kakeknya juga ikut menatap heran.


"Kamu kerja Vie?" Vierra menatap kearah Ny. Elma setelah mendapat pertanyaan tersebut.


"Iya mama..." balasnya pelan.


"Reno! Kamu kok gak bilang kalau Vierra kerja!"


"Aku bahkan mengusulkan agar dia resign dari kerjaannya ma, tapi dia gak mau," ujar Reno membalas protesan sang ibu.


"Vierra... kalau udah nikah nanti, kamu gak perlu kerja ya. Disini aja, nemenin mama dan yang lainnya. Kadang rumah sepi. Mama sendirian kalau Aily gak pulang kerumah, lagi pula dirumah ini gak ada anak perempuan. Anaknya Elson sama Ernest semuanya laki-laki, jadi kamu kalau udah nikah sama Reno disini aja ya? Jangan kerja biar bisa nemenin mama, gimana?"


Vierra diam. Lidahnya keluh, permintaan calon mertuanya itu terdengar begitu tulus. Ia ingin mengiyakan, tapi masih sedikit ragu kalau harus melepaskan pekerjaan saat ini.


"Reno!!!"


"Reno keluar kamu!"


Semua mata mengarah tepat di pintu masuk. Disana tiba-tiba ada Tn. Wingky yang datang tanpa permisi disertai putrinya yaitu Rossi yang memegang lengan sang ayah, seperti menenangkan kemarahan yang tertahan.

__ADS_1


"Wingky!" Tn. Ednan bersuara lebih dulu, lalu jalan melewati Reno dan Ny. Elma maju menghadapi rekan kerjanya tersebut.


"Ada apa ini Wingky?" tanya beliau bingung.


"Tanyakan saja pada cucu anda, karna Reno yang harus menjelaskan semuanya."


"Menjelaskan apa?" Kini sang ibu ikut bertanya membuat senyum tipis terukir dibibir Tn. Wingky, seolah meremehkan ketidak pura-puraan tersebut.


"Reno harus bertanggung jawab atas anak yang dikandung Rossi!" ujar Tn. Wingky membuat seluruh mata terbelalak kaget, terutama Vierra.


"Anak?" Tn. Ednan mengulang kalimat tersebut.


"Iya, Tn Ednan. Cucu anda Reno, dia sudah menghamili putriku Rossi."


"Apa! Itu gak mungkin!!!" elak Reno tiba-tiba dengan nada tinggi. Matanya membola kaget, disertai tatapan penuh keraguan. Ucapan yang ia dengar seolah tidak pernah ia lakukan sama sekali. Bagaimana bisa Rossi hamil anaknya, sedangkan tidur dengan gadis itu saja tidak pernah, pikir Reno dalam hati.


"Saya gak pernah menghamili Rossi! Dia pasti berbohong!" Mata elang Reno menatap tajam kearah Rossi. Gadis itu menggigit bibir bawahnya takut dengan tangan yang sedikit gemetar.


"Wingky, sepertinya kau salah paham. Reno gak mungkin melakukan hal sehina itu kepada putrimu, dia bahkan mau menikah minggu depan-"


"Justru itu yang saya herankan, kenapa dia bisa mengambil kesempatan dengan menghamili putriku kalau dia sendiri sadar sudah punya calon istri." Tn. Wingky masih tidak terima dan menyela tegas.


"Apa buktinya kalau putraku melakukan itu? Katakan? kalau benar Reno melakukan hal senekat itu, aku sendiri yang akan menikahkan Reno dengan Rossi."


"Mama!!!" pekik Reno menatap terkejut kearah ibunya.


"Elma! Apa-apaan kau ini?"


"Ayah! Bayi itu tidak punya salah sama sekali, jika putraku benar yang menghamili Rossi, maka Reno harus bertanggung jawab. Bagaimanapun bayi itu adalah cucuku," ujar Ny. Elma memberi penjelasan, tapi Reno justru menggeleng kuat.


"Mama, aku gak pernah menghamili Rossi. Dia jelas berbohong! Mama harusnya percaya sama aku, ma...." Nada Reno berubah menjadi lirih, seolah meminta kepercayaan dari sang ibu.


"Mama percaya padamu, tapi sebelum itu biarkan mereka memberi bukti yang jelas kalau anak dalam kandungan Rossi anakmu atau bukan."


"Ros! Katakan yang sebenarnya. Aku gak pernah tidur denganmu, bahkan menyentuhmu jadi... jangan menuduhku atas kehamilanmu itu!" Reno kembali menyalak tajam kearah Rossi.


"Vie...." Kini arah pandangnya berubah kearah Vierra yang masih diam mematung disampingnya. Reno mengambil kedua tangan Vierra lalu ia genggam erat.


"Aku gak pernah sedikitpun bohong sama kamu. Aku jelas gak pernah tidur dengan Rossi. Kamu harus percaya sama aku-"


"Aku percaya sama kamu Ren." Senyuman tipis terukir dibibir Reno karna orang yang dicintainya itu masih percaya kepadanya. Vierra melepaskan genggaman tangan Reno dan kini beralih menatap tajam kearah Tn.Wingky sekaligus Rossi.


"Aku percaya sama Reno, dia gak mungkin bohong. Aku justru curiga sama kamu Ros, apa kamu punya bukti kalau anak dalam kandunganmu itu anaknya Reno atau malah jangan-jangan anak itu... anak dari laki-laki lain?"


Skak mat ucapan Vierra membuat semua orang diam bungkam, dan wajah Rossi semakin memerah dengan tangan yang masih kuat gemetar.


_____•••••_____

__ADS_1


Bersambung tinggalkan like, vote dan komentar ya makasih 😊


__ADS_2