
Hari tlah berganti menjadi malam. Reno sibuk termenung dengan banyak pemikiran atas ucapan Pak Wingky saat di mall. Gevan yang melihat, nyaris ingin memeluk saudaranya itu. Permasalahan yang ada, bukannya mereda justru semakin memanas. Gevan melihat gerak gerik Reno yang sedari tadi hanya membolak-balik halaman berkas dari map yang laki-laki itu baca.
Sebuah tarikan nafas terdengar, membuat Gevan yang duduk karna terlalu lelah menunggu reaksi Reno, akhirnya memutuskan untuk berdiri menghampiri meja kerja sang adik.
"Ren!" panggilnya pelan. Reno tidak menyahuti, seolah telinganya tuli dan masih pada kegiatannya.
"Sampai kapan kamu bacain berkas itu, percuma disana gak ada jawaban sama sekali!" Reno berhenti, lalu menengadah menatap dengan alis terangkat.
"Udah bilang ke Kakek soal ancaman Pak Wingky?"
"Udah."
"Lalu? Kakek bilang apa?" Reno akhirnya menyerah. Ia menutup berkas tersebut, dan jalan kearah sofa untuk melepaskan rasa penatnya akibat terlalu lama berkecimpung dengan berkas-berkas kantor.
Gevan ikut duduk di sofa, dan menatap Reno sambil menunggu jawaban atas pertanyaannya.
"Kakek bilang akan menyetujui semua keputusanku."
"Cuman itu?" Reno mengernyit dan menyahuti, " Iya! Kakek bilang jangan ngelawan karna bukti emang belum cukup kuat. Aku harus bicarakan berdua sama Vierra, tapi takut kalau dia akan menolak."
"Menolak?" ulang Gevan, karna belum paham sepenuhnya tentang penjelasan Reno.
"Aku gak bisa nuntut Pak Wingky, Gev! Karna kejadian pemerkosaan itu terjadi dihotel ku. Apalagi ancamannya yang ingin narik saham dari perusahaan, hanya akan menjadi rumit. Bagaimanapun, aku tetap kalah karna gak punya bukti kuat tentang tersangka yang udah memperkosa Rossi." Reno menunduk sembari memegang keningnya sendiri. Rasa pusing dikepala, membuatnya menjadi kacau.
Gevan merasa iba, tangan kirinya menepuk pundak kanan Reno memberi kekuatan agar adiknya itu bisa membuat suatu keputusan yang benar.
"Aku tau, Ren. Ini yang bikin aku males mimpin perusahaan, harus benar-benar memperhitungkan laba dan saham perusahaan. Waktu Kakek ingin Kak Elson yang gantiin posisinya, pantes Kak Elson menolak. Kak Ernest juga gak mau, malah bangun perusahaan sendiri dan nasib perusahaan sekarang bergantung sama kamu Ren. Bicarakan dulu berdua sama adik ipar, aku akan dukung semua keputusanmu."
"Aku jadi yakin sekarang, kalau ini semua emang rencana dari Pak Wingky." Reno kembali menengadah, mengharuskannya untuk menengok kearah Gevan.
"Iya! Coba deh kamu pikirin lagi, apa mungkin Rossi gak ingat sama sekali wajah laki-laki yang udah memperkosa dia?Aneh kan? Masa buat anak gak tau siapa ayah dari anaknya dan Pak Wingky juga ngotot pingin banget kamu tanggung jawab atas kehamilan Rossi. Ditambah Rossi emang udah ngebet banget suka sama kamu, bisa aja dia sengaja ngambil kesempatan ini agar kamu yang harus tanggung jawab. Harusnya kan dia nangis-nangis minta ayahnya untuk cari tahu orang yang memperkosa dia, kenapa malah Pak Wingky datang ke kamu dan minta pertanggung jawaban dari kehamilan Rossi. Aneh Kan!"
Hening. Ucapan Gevan yang panjang dengan diselingi beberapa kalimat yang memang masuk akal, kenapa baru sekarang Reno pahami. Ia memang sudah yakin, jika Pak Wingky sengaja merencanakan semua ini.
Ceklek...
Tiba-tiba Elson datang ke ruang kerja Reno, lalu menghampiri kedua adiknya di sofa. Gevan dan Reno hanya diam menatap kedatangan Elson, entah harus bicara apa yang jelas keduanya juga merasa suntuk.
"Ren! Aku udah denger semuanya dari Kakek. Aku bisa aja bantu kamu buat ngelawan Pak Wingky dengan pengacara handal ku agar kasusmu ini menang, tapi sepertinya percuma aja kalau kita belum bisa menemukan laki-laki yang udah memperkosa Rossi. Kamu harus temukan laki-laki itu, sebagai bukti kita nanti di pengadilan atau setidaknya sanksi mata. Apa kamu udah temukan bukti baru lagi?" Reno menggeleng.
"Belum Kak. Orang yang udah memperkosa Rossi sangat cerdik, bahkan aku udah periksa sendiri di Hotel gak menemukan satupun barang bukti. Sekarang aku bingung apa yang harus aku lakuin." Sebuah tepukan menenangkan kembali Reno dapatkan. Gevan sangat pengertian dan memijat bahu adiknya, berusaha memberi semangat.
__ADS_1
"Kalau gitu gak ada cara lain Ren! Kamu ikuti aja maunya Pak Wingky, jika memang mereka ingin kamu yang bertanggung jawab atas anaknya Rossi, yaudah kamu lakuin. Aku akan cari cara untuk bisa nyari bukti tentang laki-laki yang udah memperkosa Rossi, tapi sebelum semua bukti dan laki-laki itu berhasil di temukan kamu sabar aja dan trus ikuti semua kemauan Pak Wingky."
"Apa Kak Elson yakin?" tanya Gevan.
"Ini satu-satunya cara, Gev! Percaya sama aku. Aku akan kerahkan beberapa detektif dari kenalanku untuk menyelidiki kasus pemerkosaan Rossi, tapi Reno juga harus bekerjasama dalam hal ini. Ren, ikuti semua kemauan Pak Wingky, asal kamu gak perlu sampai menikahi Rossi, bilang ke beliau kamu akan bertanggung jawab penuh atas kehamilan Rossi sampai anak itu benar-benar lahir."
Reno diam begitu juga dengan Gevan. Penuturan Elson, memang ada benarnya dan mungkin cara satu-satunya agar permasalahan ini cepat tuntas.
"Pak Wingky, aku berjanji jika aku udah menemukan semua bukti maka aku yang akan menghancurkan perusahaanmu itu." gumannya dalam hati. Mata Reno menajam, menatap kedepan dengan bayangan ancaman Pak Wingky seolah seperti komedi putar yang melintasi otaknya.
Rekan kerjanya itu, memang licik maka ia akan membalasnya dengan cara yang lebih licik, pikirnya begitu.
*****
Setelah kepulangannya dari mall siang tadi, hampir membuatnya tidak pernah keluar dari kamar. Vierra betah berlama-lama berdiam di kamar, matanya bahkan beberapa kali melihat ke layar ponsel berharap Reno menelfonnya. Pernikahan yang akan digelar 5 hari mendatang seolah terancam, entah akan tetap berlanjut atau justru berhenti sebelum pernikahan dilangsungkan.
Dulu Vierra tidak mengharapkan apapun saat Reno kembali hadir dalam hidupnya. Vierra merasa bersalah, karna tlah menolak laki-laki sebaik Reno. Bahkan ia tidak tahu harus merasa bersyukur atau bangga dengan takdir yang sekarang ia rasakan. Dinikahi seorang pria tampan dari keluarga terpandang seperti Reno, benar-benar membuat Vierra berterima kasih pada Tuhan. Jika memang Reno adalah jodohnya, maka seharusnya dirinya dan Reno akan tetap di satukan lewat sebuah pernikahan. Semoga hal itu terjadi, doa Vierra dalam hati.
Tok Tok Tok....
"Vie! Ayo makan malam, udah ibu siapin ini." Vierra membalikkan badannya, setelah tadi hanya menatap kearah jendela, kini fokusnya teralih akibat suara ibunya dibalik kamar.
Vierra jalan ke arah pintu dan membuka pintu kamarnya. Sang ibu menatapnya dengan membawakan nampan berisi makanan.
"Makasih Bu... Aku makan di kamar aja ya," ujarnya membuat Ny. Dian menatap bingung.
"Ada masalah kamu sama nak Reno? Atau kamu sakit?" tanya beliau mulai cemas, tapi dengan cepat Vierra menggeleng, "Ngga Bu... Aku cuman pingin makan di kamar aja kok."
"Oh gitu... Yaudah, besok kamu masuk kerja kan?"
"Gak tau, Bu. Reno tadi bilang katanya udah minta izin cuti ke Bu Eliska," balas Vierra.
"Mending jangan masuk kerja dulu. Kamu fokus ke pernikahanmu aja sama nak Reno, kalau udah nikah baru masuk kerja lagi," tutur sang ibu, membuat lengkungan kebawah dari bibir Vierra.
"Reno pingin aku resign kerja, Bu."
"Bagus itu, Vie! Turuti kemauan dia, bagaimanapun kamu akan jadi istrinya nak Reno. Ibu berpesan nanti, kamu ikuti semua keinginan suamimu ya. Slalu temanin dia, beri dukungan atas semua keputusan yang suamimu ambil nantinya. Jangan berani membantahnya, ya, Vie..." Ny. Dian mengelus lembut rambut Vierra dari samping, sedangkan Vierra merespon dengan anggukan patuh tanpa menolak sama sekali.
Selepas kepergian ibunya, Vierra menutup pintu kamarnya. Ia jalan dan menaruh nampan berisi makanan di atas meja lacinya yang berada di dekat ranjang. Vierra menatap lagi kearah ponselnya yang tergeletak disamping nampan belum ada tanda-tanda notifikasi, saat ia ingin pergi namun tiba-tiba suara dering telfon terdengar. Vierra menatap lagi ponselnya, tertera nama Reno membuat senyumannya mengembang, lalu menyambar ponsel itu untuk mengangkat panggilan telfon.
Panggilan Tersambung.
__ADS_1
"Halo Ren!"
"Ehh calon istriku, malam sayang.... lagi apa kamu?"
"Aku? Oh, gak lagi ngapa-ngapain ini."
"Besok aku jemput kamu ya kerumah."
"Ngapain?" Vierra memutar langkahnya, sehingga ia kini bisa duduk di atas ranjang.
"Kan besok mau foto preeweed sayang..."
"Oh iya ya. Yaudah, tapi besok jam berapa?"
"Pagi aku ke rumahmu, jadi dandan yang cantik ya. Eh, kamu gak dandan aja masih cantik kok."
"Apasii... gak usah gombal! Gak mempan tau!" Terdengar suara tawa di speaker ponsel Vierra, membuatnya justru mendengus kesal. Kenapa Reno slalu bisa membuatnya tersipu baper karna gombalan laki-laki itu, padahal dulu ia tidak pernah merasa berdebar seperti ini. Apa karna hatinya sudah ia berikan untuk calon suaminya itu. Entahlah, pikirnya bingung.
"Kamu cantik sayang, aku serius ini. Gapapa dong kalau aku muji calon istriku, daripada muji wanita lain."
"Enak aja!"
"Hahahahahaha.... cemburu ya?"
"Gak! jangan sok tau!" Vierra memutarkan bola matanya karna sangking kesal. Sungguh Reno berhasil membuat hatinya berbunga malu, tapi apadaya rasa gengsinya masih tinggi.
"Iya iya.... Hm, Vie...."
"Apa." Kini Vierra berdiri, lalu melangkah kearah balkon dengan menatap ke kaca jendela. Beberapa mobil dan penjual makanan melintasi rumahnya.
"Gimana menurutmu kalau kamu di duakan?" Keningnya mengerut bingung.
"Diduakan gimana? Maksudmu apasi, Ren?"
"Aku udah bicara tadi sama Kakek dan yang lainnya, mereka semua menyerahkan keputusannya sama aku, jadi sekarang aku minta jawaban terakhir dari kamu. Apa kamu setuju kalau aku bertanggung jawab atas anak yang di kandung Rossi?"
Vierra diam. Tatapan yang semula penuh gesture, kini menjadi kosong. Lidahnya keluh. Ucapan Reno sukses membuat hatinya sedikit merasa sakit sekaligus kecewa. Ada rasa tidak ikhlas. Wanita manapun pasti yang mendengar juga merasa sakit dan cemburu.
Apa ini artinya ia harus berbagi rasa. Apa Reno berniat akan menduakannya.
_____•••••_____
__ADS_1
Bersambung....
Aku triple update Like, Vote , dan Komentar ya makasih🙏