Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Terlambat Datang


__ADS_3

Happy Reading tinggalkan jejak like, vote dan komentar 👍


_____•••••_____


Sore hari Vierra sudah mengganti pakaiannya dengan baju yang casual dipadukan celana jeans hitam membuatnya terlihat simple. Alina datang, sebelum akhirnya Vierra berhasil meresleting tas coklatnya.


"Yah.... kamu pulang cepet Vie." Vierra menatap bingung kearah Alina, sedangkan temannya itu melihatnya dengan tatapan kecewa.


"Iya Lin. Aku harus ke makam ayahku, lagian ada Mbak Mawar dan Mbak Sintia juga kan yang bisa gantiin aku," ujar Vierra memberi pengertian.


"Tetep aja Vie! yang seumuran sama aku kan disini cuman kamu. Mbak Mawar aku jarang bicara sama dia."


"Kenapa? Mbak Mawar baik."


"Baik apanya, cih... aslinya galak! suka nyuruh-nyuruh. Dulu sebelum kamu kerja disini, Mbak Mawar suka nyuruh aku mulu, kan kesel aku!" Alina berceloteh dengan gerutuan kesal.


"Gapapa, gitu-gitu Mbak Mawar baik kok, atau kamu sama Mbak Sintia aja deh." Vierra memegang pundak kanannya, berusaha memberi semangat.


"Iya. Yaudah, besok masuk ya, lebih pagi." Vierra mengangguk dan mencubit ringan pipi kanan Alina.


"Iya Alina sayang...."


"Apasii... dasar calon istrinya Mister Reno!" Kening Vierra mengerut setelah mendengar julukan dari Alina. Entah kenapa, ia masih belum terbiasa, tapi dirinya juga tidak bisa membantah. Memang benar adanya, sebentar lagi ia akan menjadi istrinya Reno.


Vierra tidak menyangka laki-laki yang dulu pernah ia tolak, kini akan menjadi suaminya nanti, meski hatinya menghangat, tapi Vierra belum terbiasa dengan semua perilaku Reno kepadanya.


"Yaudah aku pergi dulu, dadah Lin..." Vierra berpamitan dengan mengulas senyum manisnya. Alina hanya mengangguk dan mengantarkan Vierra sampai didepan toko.


Vierra jalan melewati beberapa toko, berkali-kali ia mengirimkan pesan di WA agar Reno menjemputnya, setidaknya ia memberi tahu laki-laki itu kalau dirinya sudah pulang.


"Gak di baca. Kemana dia? tumben gak baca pesanku, isshhh....." Gerutunya kesal.


"Yaudah lah aku pulang sendiri." Vierra memasukkan ponselnya kedalam tas, dan akhirnya ia telah sampai di pintu selatan Mall. Vierra keluar dari Mall dan melihat sebuah taksi berhenti di arena depan, ia memutuskan masuk kedalam taksi.

__ADS_1


"Pak, ke jalan (alamat rumah)."


"Baik..." Sopir taksi itu mengangguk dan mulai menjalankan taksinya.


_____•••••_____


Reno kini tengah berbincang dengan Tn. Edi di kantornya. Beliau salah satu rekan kerja yang menginvestasikan 50% saham Perusahaannya untuk Gemilang ARD. Tn. Edi juga sahabat karib Alm. ayahnya sejak SMA dulu, dan satu Universitas juga membuat Tn. Edi sangat dihormati.


"Reno, Bagaimana kalau lahan di kawasan Anggrek dibuka sebuah cafe. Disana kalau malam sangat ramai dan bersebelahan juga dengan sebuah bar. Aku rasa cocok kalau dibuka cafe. Tempatnya sangat strategis dan dekat dengan salah satu SMA swasta disana, gimana menurutmu?"


Reno menyimak, meski ia mendengarkan semua ucapan Tn. Edi, tapi berkali-kali matanya melirik ke arah jam tangan di pergelangan tangan kanannya. Ponselnya juga sedari tadi bergetar, menandakan ada pesan masuk, tapi Reno belum sempat membaca karna masih harus berdiskusi tentang rencana pembangunan untuk lahan yang ia beli di jalan Anggrek.


"Maaf, Pak Edi. Sepertinya saya tidak bisa lama-lama, saya ada urusan setelah ini. Mengenai rencana pembangunan cafe itu saya setuju, tapi untuk kelanjutannya nanti kita bicarakan lagi. Pak Edi bisa berikan berkas apa saja tentang pembangunan cafe itu kepada Pak Andre, biar beliau yang memeriksanya." Reno berdiri dari kursinya dan mengancingkan lagi kancing jasnya yang sempat ia buka.


"Kenapa buru-buru sekali Ren?" tanya Tn. Edi penasaran.


"Iya pak, saya harus menemui calon istri saya."


"Oh yaampun... aku hampir lupa tentang pernikahanmu itu. Selamat Ren, akhirnya kamu udah mau melepas masa lajangmu, padahal aku berkeinginan mengenalkanmu pada putriku. Dia besok akan pulang dari London." Tn. Edi berdiri dan tersenyum.


Tn. Edi justru tertawa dan mendekati Reno, tangan kanan beliau mengusap penuh pengertian dibahu kanan Reno dan berujar dengan tersenyum.


"Tidak masalah Ren! Kalian bisa berteman nantinya. Aku doakan pernikahanmu berjalan lancar. Aku pernah muda juga dan sangat mengerti kondisimu." Reno bernafas lega dan sudut bibirnya ikut tertarik untuk membalas senyuman Tn. Edi.


_____•••••_____


Reno melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berkali-kali ia mengklakson beberapa pengendara yang menghalangi laju mobilnya. Reno mengendarai mobil seperti orang kesetanan, setelah membaca pesan WA dari Vierra ia menelfon gadis itu, tapi tidak diangkat. Reno merasa bersalah karna terlambat datang, seharusnya ia bisa menjemput Vierra tadi, tapi nyatanya kedatangan Tn. Edi mengharuskannya untuk melanjutkan diskusi tentang rencana pembangunan tersebut.


Cittt...


Reno berhasil berhenti di depan rumah bercat hitam. Ia keluar dari mobil dengan membenarkan sedikit jasnya dan mengambil nafas berusaha untuk rileks. Merasa cukup tenang, ia kembali melangkah hingga sampai di depan pintu.


Ceklek...

__ADS_1


Pintu terbuka begitu saja, sebelum Reno mengetuknya. Ada sosok laki-laki asing yang membuat Reno menatap heran. Laki-laki itu menatap biasa, seolah sudah kenal dengan sosok Reno.


"Ayo Jor, ibu sama Vierra udah siap." Tiba-tiba suara Ny. Dian terdengar yang sudah rapi dengan baju hitam diikuti Vierra dibelakang sang ibu.


"Ehh... Nak Reno!" Pekik Ny. Diam sedikit terkejut, karna mengira Reno tidak bisa datang seperti ucapan Vierra waktu sampai dirumah.


"Mama..." Reno langsung minta salim, dan meraih tangan kanan Ny. Dian untuk ia cium punggung tangan calon mertuanya itu.


"Ibu pikir, kamu gak jadi datang Ren."


Reno mengangkat alisnya setelah mendapat salim dari Ny. Dian, lalu ia menggeleng cepat.


"Gak ma. Maaf, aku terlambat, tadi aku harus mengurus klien lebih dulu." Ny. Dian mengangguk paham.


"Yaudah ayo biar aku yang antar ma, sekalian aku ingin minta doa restu juga ke Alm. ayahnya Vierra," sambung Reno dengan tersenyum.


"Lah ini udah ada Jordan juga. Vie, kamu sama Nak Reno ya, biar ibu berangkat sama Jordan," tutur Ny. Dian, membuat Vierra terbelalak kaget. Pasalnya, ia belum siap, apalagi harus semobil dengan Reno. Rasa gugup kembali mendatangi hatinya.


"Bener kata mamamu, Ra. Ayo kamu sama aku aja." Reno berseru menawarkan lagi, dan Vierra tidak bisa menolak.


"Yaudah, aku sama kamu."


"Nak Jordan sama ibu ya, biar Vierra sama Nak Reno." Jordan hanya mengangguk, tidak berani membantah. Perihal tentang pernikahan Vierra dengan Reno sudah ia ketahui. Vierra memang bercerita di WA dan membuat Jordan sedikit kurang yakin.


Jordan juga tahu kalau Reno seorang Direktur di Perusahaan terbesar tahun ini. Amily, tunangannya juga bercerita tentang Reno yang juga sahabat gadis itu. Jordan memang bersahabat dengan Vierra sejak SMA dulu, bahkan saat hubungan Vierra masih sama Gerald dan sampai sekarang hubungan persahabatan mereka masih tetap berlanjut.


Reno mempersilahkan Ny. Dian untuk keluar dari rumah diikuti oleh Vierra. Jordan jalan lebih dulu dengan Ny. Dian yang berjalan dibelakangnya, sedangkan Reno masih menunggu Vierra.


"Ayo Ra! Kenapa diam?" tanyanya bingung.


"Jalan duluan aja." Reno menghembuskan nafas beratnya, lalu menghampiri Vierra dan sekali gapai ia menarik tangan kanan Vierra dan menggenggamnya erat.


"Bilang aja, kalau ingin aku gandeng kan."

__ADS_1


"Apasii!!!" Sungut Vierra kesal, tapi tidak menolak genggaman tangan Reno, malah Vierra mulai merasa nyaman bila di genggam seperti ini.


_____•••••_____


__ADS_2