
Happy Reading tinggalkan jejak vote, like dan komentar 👍
_____•••••_____
Vierra mengangguk paham dan mencoba tersenyum, membuat Reno yang masih menggenggam erat tangannya tak kuasa menahan senyum sumringah dibibirnya.
"Aku harus kembali kerja."
"Yaudah, aku antar."
"Gak perlu!" Alis Reno terangkat bingung. Nada bicara Vierra yang gamblang menolak tawarannya, dan membuatnya seolah masih belum yakin.
"Aku bisa jalan sendiri. Kamu kembali saja, lagi pula aku harus ke toilet lebih dulu," tutur Vierra, membuat Reno diam dan detik berikutnya mengangguk paham.
"Tetap aja aku akan menunggumu, Ra. Jangan menolak! Kamu ini calon istriku, jadi tugasku untuk melindungi dan menjagamu."
"Apasii, Ren.... gombal...." Vierra menirukan ekspresi seakan mau mual dan justru membuat Pak Andre tertawa pelan.
"Nona Vierra jangan begitu, yang dikatakan Tuan Reno benar."
"Untung Pak Andre memihak ku."
"Tentu saya akan slalu memihak anda, Tuan." Pak Andre terkekeh, yang diikuti oleh Reno, sedangkan Vierra hanya memandang biasa dengan senyuman terpaksa.
Sungguh konyol kedua orang ini, pikir Vierra begitu.
"Yaudah, ayo pergi." Vierra melepaskan genggaman tangan Reno dan berdiri, tapi Reno buru-buru menghampirinya, lalu menggandeng kembali tangan kanannya. Sangat erat seolah tidak ingin dilepas.
"Reno..." Reno hanya menengok sekilas dengan senyum tampannya tanpa memperdulikan ekspresi Vierra, baginya mulai sekarang hal seperti ini adalah rutinitasnya.
Reno mulai jalan lebih dulu dan diikuti Vierra disampingnya. Beberapa orang yang lihat hanya tersenyum dan sesekali menunduk, sedangkan Vierra hanya menatap kedepan, mencoba mengabaikan rasa malunya.
"Ren, lepas ihhh!" pinta Vierra dengan tangan kanan yang ia tarik, tapi dengan sigap Reno menggenggam semakin erat.
"Harusnya hal seperti ini udah biasa, Ra! Mulai sekarang jika jalan denganku lebih nyaman bergandengan tangan seperti ini."
"Tapi aku malu," sungut Vierra membuat Reno menatapnya lagi tapi masih dengan menggenggam tangan gadis itu, malahan sekarang Reno mengangkat genggamannya dan mencium sekilas punggung tangan Vierra.
Cup...
"Reno!!!" Vierra menghentikan langkahnya, dengan raut wajah terkejut sekaligus bercampur kesal.
"Apa sayang?" goda Reno dengan senyum manisnya, tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Sayang sayang palamu peyang! Jangan begini ihh, jangan buat aku malu ya!"
"Yang malu kan kamu, Ra. Salah sendiri malu, harusnya kamu jangan malu dong jalan sama calon suamimu yang super ganteng begini." Reno menjeda ucapannya, dan melirik kebelakang tepatnya kearah Pak Andre yang juga menatapnya.
"Ya... kan Pak Andre?" lanjutnya dengan mendapat anggukan serta sebuah acungan jempol.
"Benar. Tuan Muda adalah laki-laki paling tampan, saya saja kalah dengan anda, Tuan." Reno tertawa pelan, sedangkan Vierra yang mendengar mencoba menahan rasa mualnya.
__ADS_1
Apa-apa an ini, pujian yang sangat berlebihan, pikir Vierra dalam hati.
"Kak Vierra..." Vierra mengalihkan pandangannya, alisnya terangkat saat melihat sosok wanita didepannya saat ini.
"Ternyata benar. Aku senang bisa ketemu sama Kak Vierra disini. Apa kabar kak? Aku baru balik dari Russia, setelah wisuda minggu lalu aku akhirnya kembali ke Jakarta." Jessica tersenyum hangat dan sangat ramah, tapi Vierra hanya diam tanpa minat membalas sapaan adik kelasnya dulu, sekaligus orang yang menjadi perusak hubungannya dengan Gerald.
"Oh... ya aku baik-baik aja, Jes," balas Vierra pelan.
"Aku kerja sebagai Receptionis di Hotel Gemilang, Kak. Ini aku aja mau cari makan sama temen, trus kak Vierra ini mau kemana?"
"Ini? Ohh... ya ampun Mister Reno?" Jessica memekik sedikit keras, saat melihat Reno. Ia bahkan sampai membungkam mulutnya sendiri, karna sangking terkejutnya.
"Selamat siang Mister Reno, saya Jessica. Saya langsung hafal wajah Mister Reno, saat Bu Lidya mengenalkan anda kalau Mister pemilik Hotel Gemilang."
"Ya, kenapa emangnya?" tanya Reno santai.
Jessica menggeleng dan masih tersenyum "Bukan apa-apa, Mister. Saya senang saja, karna bisa bertemu langsung dengan anda."
"Mister mau kemana?"
"Aku mau mengantarkan calon istriku kerja." Reno tersenyum, lalu melepaskan genggaman tangannya dan kini memeluk pinggang ramping Vierra.
Jessica bingung setelah melihat pelukan mesra di pinggang Vierra, ia terpaksa tersenyum.
"Ohh... Mister sama Kak Vierra-"
"Ya Vierra adalah calon istriku. Kita akan menikah minggu depan," potong Reno dengan nada santai, sedangkan Vierra hanya diam. Lilitan tangan Reno dipinggangnya, membuatnya tidak nyaman. Laki-laki itu berani mengambil kesempatan darinya.
"Ya terimakasih..."
"Jessica! Disini rupanya." Jessica terkejut saat pelukan dadakan mendarat di bahu kirinya. Teman kerjanya bernama Niken menghampirinya dengan membawa kantong makanan.
"Mister Reno! Selamat siang, Mister." Niken membungkuk dan menyapa dengan ramah.
"Ya siang juga. Hm... sepertinya kita gak bisa lama-lama, ayo sayang..." Reno menatap lagi kearah Vierra dan menggiring calon istrinya itu untuk pergi. Jessica dan Niken hanya membalas dengan anggukkan.
_____•••••_____
"Sebentar, sepertinya ada telfon," ujar Vierra pelan. Reno paham dan menghentikan langkahnya, lalu melepaskan pelukannya di pinggang Vierra.
"Ibuku telfon."
"Mama mertua? Sini biar aku yang bicara."
"Eehh...." Reno merebut ponsel dari tangan kanan Vierra, lalu menggeser layar tersebut kesebelah kanan.
Panggilan Tersambung.
"Vie..."
"Ini Reno mama mertua."
__ADS_1
"Oh yaampun, Nak Reno!"
"Iya, mama. Vierra disini, tapi aku emang sengaja yang mengangkat telfon dari mama mertua." Reno tersenyum simpul menatap kearah Vierra, sedangkan yang ditatap memutarkan bola matanya kesal.
Apa-apa an si dia, pikir Vierra dalam hati.
"Nak Reno, tolong bilangin ke Vierra kalau sore ini ibu pergi ke makam ayahnya, katanya dia pulang sore." Reno menatap bingung, ia menjauhkan sedikit speaker ponsel dari telinganya.
"Ra! Kamu pulang sore?" Vierra terkesiap, ia lalu menganggukkan kepalanya.
"Iya, kenapa?"
"Harusnya aku yang tanya, kenapa kamu pulang cepet hari ini?"
"Aku sengaja izin ke Bu Eliska, sebenarnya pengen gak masuk kerja, tapi gak enak jadinya ya... aku masuk sampai sore," tutur Vierra menjelaskan.
"Iya mama mertua. Vierra pulang sore ini, nanti dia aku antar sampai rumah. Mama mertua gak perlu khawatir."
"Oalah iya, Nak Reno. Ibu tunggu, ya, Vierra langsung pulang aja gak perlu mampir ke Restoran."
"Siap mama mertua."
Terdengar suara tawa dari sebrang ponsel, ternyata Ny. Dian diam-diam tertawa mendengar ucapan dari calon menantunya itu, sedangkan Reno tersenyum sambil terkekeh dengan mencuri-curi pandang ke arah Vierra.
"Apasii... sini!" Vierra merebut paksa ponselnya, membuat Reno sedikit terkejut karna merasa di rampas.
"Ibu nanti sore aku bakal pulang, ibu tunggu dirumah aja ya."
"Iya, ibu tunggu kamu di rumah."
"Yaudah aku tutup telfonnya, ya Bu."
Panggilan Terputus.
Vierra langsung memasukkan kembali ponselnya kedalam saku di rok spannya, sedangkan Reno masih dengan dunianya sendiri, bahkan Vierra menatap laki-laki itu aneh.
"Apasi, Ren! Kenapa ketawa?" tanyanya heran.
"Kamu lucu sayang... Hahahahahaha....."
"Gak lucu ya, iishhhh!" Vierra membeo kesal, lalu jalan meninggalkan Reno yang tertawa seperti orang gila.
Dasar Gila, batin Vierra.
"Sayang tungguin aku...." Reno berteriak memanggil, tapi dihiraukan oleh Vierra.
*****
Bersambung.....
Vote, Like, dan Komentar ya makasih 🙏
__ADS_1