Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Ancaman Dan Keyakinan


__ADS_3

Happy Reading tinggalkan jejak like dan komentar sekaligus vote ya bantu naikkin rate kalau bisa makasih👍


_____•••••_____


Hari semakin siang, Vierra masih sibuk berbincang dengan beberapa pengunjung Matahari. Dua remaja lawan jenis yang mungkin berkisar umur 20 tahun tengah memilih sebuah baju, sesekali Vierra mengarahkannya dan menjawab beberapa pertanyaan dari sepasang sejoli tersebut.


"Vie..." Panggil Alina, membuat Vierra menengok ke arahnya.


"Ada yang nyariin kamu tuh diluar." Kening Vierra mengerut, tapi masih tersenyum sesekali menatap kearah calon pembelinya itu.


"Siapa Lin? Nanti aja aku harus layanin pembeli ini," ujar Vierra menolak halus.


"Gak bisa Vie! Dia maksa pengen ketemu kamu, udah biar aku aja yang layanin mereka, kamu temuin cewek itu gih."


"Cewek?" tanya Vierra sukses berbalik menghadap kearah Alina.


"Iya cewek. Dia yang sering sama Mister Reno, udah temui aja dulu." Alina mendesak, membuat mau tak mau Vierra berguman mengiyakan.


"Iya Lin..."


Vierra jalan meninggalkan Alina yang menggantikan posisinya untuk melayani calon pembelinya tadi. Ia menatap heran saat sudah sampai didepan. Wanita dengan pakaian seksi dibalut high heels tinggi membelakanginya. Vierra menengok ke kanan kiri, bahkan ke semua arah memastikan apakah ada orang lain selain wanita yang sekarang berdiri sedikit jauh dari hadapannya.


"Permisi... Anda mencari saya?" tanya Vierra berusaha ramah dan tersenyum. Wanita itu membalikkan badannya, lalu menatap tajam seolah tengah meneliti seluruh tubuhnya.


"Ohh... Kau Vierra?"


"Iya, saya Vierra. Anda mencari saya?" Vierra masih tersenyum, meski ada rasa gugup yang menjalar dihatinya.


"Kau kerja sebagai SPG disini?"


"Iya..." balas Vierra pelan.


"Ada apa ya?" Vierra mengerutkan keningnya, saat wanita itu jalan lebih mendekat. Aroma parfum kamboja tercium kuat.


"Berapa gajimu sebulan? Maksudku aku bisa kasih lebih, asal kau mau membatalkan pernikahanmu dengan Reno."


Hening, Vierra seakan bungkam mencoba mencerna ucapan wanita didepannya. Pandangannya menatap aneh sekaligus heran.


"Maaf, maksud anda?"


"Masih belum paham juga." Wanita itu menghembuskan nafasnya dan melangkah lagi lebih dekat.

__ADS_1


"Aku Rossi. Aku yang seharusnya jadi calon istri Reno bukan kau, jadi... tinggalkan Reno dan batalkan pernikahanmu dengannya. Apa kau paham!" Rossi tersenyum remeh, dengan kedua tangan yang menyilang didepan dada.


"Aku gak bisa!" tolak Vierra dingin.


"Kenapa gak bisa?" Nada Rossi sedikit meninggi, menatap tidak suka kearah Vierra.


"Aku gak butuh uangmu. Kau salah jika mengatakan ini padaku, seharusnya katakan ini pada Reno. Dia yang menginginkan pernikahan ini. Minta saja padanya, untuk membatalkan pernikahannya ," ujar Vierra menjelaskan.


"Kalau gitu aku permisi dulu, aku harus kembali kerja."


"Tunggu!" Rossi menahan pergelangan tangan kanan Vierra, membuatnya menengok kearah Rossi tanpa ekspresi apapun.


Rossi melepaskan tangan Vierra, lalu merogoh tas merahnya dan sebuah amplop coklat terlihat. Ia memberikan amplop yang sudah dipastikan berisi sejumlah uang ke tangan Vierra.


"Ini Ambil. Aku gak mau tau, pokoknya kau harus membatalkan pernikahan mu dengan Reno. Ohh... kalau kurang aku akan mentransfer nya lagi. Katakan berapa uang yang kau inginkan? 10 juta? 20? 50? atau 100? Ayo katakan berapa yang kau inginkan?


Vierra menghembuskan nafasnya, mencoba menahan kesal atau geraman jengkel yang mungkin kapan saja akan terlontar untuk memaki Rossi. Ia mengembalikan amplop coklat itu ketangan Rossi, lalu berujar dengan nada dingin tapi menegaskan.


"Aku gak butuh semua uangmu. Pernikahan itu akan tetap terjadi, jadi ambil saja uangmu ini, karna aku bisa cari uang sendiri, Mengerti?"


Vierra langsung pergi begitu saja, tanpa memperdulikan reaksi Rossi yang justru menatap kesal. Rossi meremas amplop coklatnya dan mengeram dengan tatapan penuh amarah.


Vierra berhenti sesaat, tangannya mengepal kuat, teriakkan Rossi benar-benar tidak bisa di toleransi, tapi ia kembali membalikkan badannya menatap datar dengan senyum tipis seolah ucapan Rossi sebuah tantangan kecil.


"Lakukan semaumu, aku akan tetap menikah dengan Reno," ujarnya tanpa rasa takut. Vierra kembali jalan dengan gerutuan kesal di benaknya, namun tiba-tiba ia berhenti kembali saat memikirkan ucapannya tadi.


"kenapa aku jadi ingin menikah sama Reno? iiishhh Vierra sadarr, ini semua karna ancaman wanita itu." Gerutunya dalam hati.


_____•••••_____


Masih disiang hari Vierra kini sudah duduk disalah satu kursi yang berada di food court. Sangat ramai, sampai beberapa kursi terpenuhi, untung dirinya sudah sampai lebih dulu daripada Reno. Ia memang mengirimkan pesan WA ke Reno, agar laki-laki itu menemuinya di food court tepat jam makan siang.


Srrkk...


"Maaf Lama, tadi aku harus mengurus sesuatu lebih dulu. Kamu udah pesan makanan?" Vierra mendongakkan kepalanya, menatap Reno yang kini duduk didepannya, sedangkan disamping Reno ada Pak Andre yang setia menemani Reno meski harus berdiri.


"Belum." balas Vierra datar.


Reno mengerutkan keningnya, seolah tidak suka dengan nada Vierra, lalu meraih tangan kanan Vierra untuk ia genggam. Tatapan Reno melembut dengan sedikit kepala yang menunduk, karna ingin melihat secara jelas raut wajah Vierra.


"Bukan apa-apa, apasii..." Vierra mengelak kesal, lalu melepaskan genggaman tangan Reno.

__ADS_1


"Aku hanya bertanya. Mulai sekarang, jangan ada apapun yang kamu tutupin didepanku, Ra. Aku ingin kita lebih terbuka, kalau kamu ada masalah bisa cerita semuanya kepadaku, begitupun denganku." Reno tersenyum hangat, begitu tulus mencoba membuat suasana senyaman mungkin.


"Aku hanya belum terbiasa," ujar Vierra dengan mengalihkan pandangannya kearah lain, sungguh berlama-lama ditatap sama Reno membuat jantungnya berdetak cepat. Ia jadi kurang fokus, tapi berusaha agar tidak nervous dan gugup didepan laki-laki yang sebentar lagi menyandang status sebagai suaminya.


"Pak Andre, berikan dokumennya." Pak Andre mengangguk paham, lalu menyerahkan map hijau kearah Reno.


Reno mengambilnya dan meletakkan map tersebut di atas meja.


"Karna kamu bilang ingin kesepakatan, maka aku udah buat beberapa kesepakatan. Aku harap kamu setuju dengan yang ku mau."


"Kesepakatan apa?" tanya Vierra mulai bingung.


"Bacalah sendiri." Reno menyodorkan map itu, yang disambut dengan tangan kanan Vierra mengambilnya, lalu membuka map tersebut. Berisi beberapa lembar kertas.


"Aku tau mungkin pernikahan ini terpaksa bagimu, tapi pernikahan ini gak bisa dibatalkan, karna semuanya sudah beres. Besok datang sama mamaku untuk melihat gaun pengantin. Kamu bisa memilih sesuai seleramu. Akan ada sopir yang menjemputmu ke butik langganan mama, tapi besok aku akan menyusul sedikit terlambat." Vierra hanya mengangguk paham tanpa bersuara.


"Didalam kertas itu berisi sebuah kesepakatan yang mungkin kamu juga bakal setuju denganku. Tenang aja, aku gak buat yang aneh-aneh kok, tapi tugasmu sebagai istri tetap berlanjut, karna itu udah kewajiban mu melayani seorang suami."


Vierra diam sesaat, setelah mendengar kata Melayani Suami ditambah nada Reno yang seolah penegasan, membuatnya berhenti membaca isi kertas tersebut. Seperti ada yang janggal, entah ia masih belum terbiasa dengan semua ini, tapi Vierra tidak berani menolak dan kembali melanjutkan bacaannya.


"Bulan madu ke Belanda?" pekik Vierra sedikit keras. Matanya melotot tak percaya, sedangkan Reno hanya membalas tatapan santai.


"Iya. Kenapa dengan ekspresimu? Apa kamu gak suka kita bulan madu ke Belanda? Oh... kamu ingin bulan madu kemana? tulis saja di kertas itu, aku pasti akan mengabulkannya."


"Gak!" Vierra menolak cepat, lalu menutup kembali map tersebut.


"Aku rasa ini berlebihan, Ren!" sambungnya dengan melipat kedua tangan diatas meja.


"Berlebihan gimana maksudmu? Ini belum seberapa, Ra. Kamu akan menjadi istriku, jadi hal seperti ini wajar. Oh iya... aku ingin kamu keluar dari pekerjaanmu sekarang, karna setelah kita menikah kamu gak perlu cari uang dan hanya dirumah hm... seperti seorang istri yang menunggu suaminya pulang, atau menjaga anak-anak kita nanti."


"Aku masih ingin kerja!" tolak Vierra sedikit tegas.


"Gak bisa! Kamu harus resign, Ra! Semua kebutuhanmu biar aku yang penuhi, kamu tinggal diam dirumah aja gak perlu susah-susah kerja," bantah Reno tak kalah tegas.


Reno kembali memegang tangan kanan Vierra, mencoba memberi keyakinan berulangkali kepada gadis itu agar hanya percaya padanya.


"Aku mohon, kamu resign ya. Aku gak pingin kamu capek-capek kerja, biar aku aja sebagai suami yang nafkahi semua kebutuhanmu." Reno mengelus lembut jemari Vierra dengan jempolnya, hal itu sukses membuat rasa panas seolah banyak kupu-kupu terbang di hati Vierra.


Kenapa ia begitu senang mendengar penuturan Reno yang begitu tulus.


_____•••••_____

__ADS_1


__ADS_2