Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Kemarahan Berujung Gairah


__ADS_3

Reno baru saja dari toilet, pasalnya ia mengalami sakit perut beberapa menit yang lalu. Saat Reno sedang fokus membersihkan jasnya, namun tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang.


"Awhh....." Suara wanita dengan rintihan.


"Sorry, let me help you up." Wanita itu menengadah melihat uluran tangan Reno, lalu menyambutnya agar bisa membuatnya berdiri.


"Are you okay? I didn't mean to, Miss... Hmmm I'm sorry....," ujar Reno merasa bersalah.


"Yes, no problem. As long as you want compensation." Alis Reno mengerut.


"Sorry, Compensation?" ulangnya karna kurang yakin, "Yes! How about a drink. I think that's enough to make up for it," balas wanita itu santai.


"Okay... I'll buy you a drink," balas Reno pasrah dengan satu tarikan nafas. Entahlah apa maksud wanita ini ingin minta ganti rugi dengan membelikan minuman, padahal Reno sudah harus menemui Vierra, tapi karna ia merasa bersalah dan tidak enak untuk menolak, makanya Reno menyetujui ganti rugi tersebut.


"Paulina! Ternyata disini rupanya...., aku nyariin kamu dari tadi. Ayo bentar lagi pemotretran."


"Waittt Sandra...."


"Astaga! Reno!" pekik Sandra terkejut, "Lho kok bisa sama Paulina?" tanyanya kebingungan.


"Dia nabrak aku tadi, makanya ini aku ingin dia beliin minuman sebagai compensation," balas Paulina berterus terang.


"Lin! Gak ada waktu lagi buat minum, nanti aja setelah selesai pemotretran. Aku kenal sama dia. Namanya Reno, dia teman kuliahku dulu, jadi gak perlu khawatir. Reno pasti akan kasih compensationnya nanti," tutur Sandra.


"Ren! Kok sendirian aja, dimana istrimu?"


"Ada di meja makan San. Ini aku akan kesana. Temanmu itu gak apa-apa kan? Aku harus menemui istriku sekarang, maaf..." Reno merogoh didalam saku jasnya sampai berhasil mengambil satu buah kartu nama.


"Anda orang Indonesia juga kan? Jadi saya tidak terlalu khawatir. Maaf untuk insiden barusan, saya tidak sengaja dan..., ini kartu nama saya. Nona bisa menghubungi saya buat compensationnya. Sekarang saya harus pergi, permisi...." Reno menunduk cepat, lalu beranjak pergi meninggalkan Paulina yang diam menatap punggungnya dengan tangan yang sudah memegang kartu nama.


"Reno Al Barack. Direktur Perusahaan Gemilang ARD."


"Ha? Sini liat." Sandra ikut penasaran dan langsung merebut kartu nama tersebut dari Paulina.


"Ohh... Ternyata dia yang mimpin perusahaan keluarganya sekarang."


"Emang kenapa San? Apa dia pengusaha kaya?" tanya Paulina penasaran.


"Ya! Yang aku tau keluarganya sangat kaya dan punya hotel serta restoran. Aku fikir Gevan yang mimpin ternyata Reno." Senyum Sandra mengembang.


"Gila! Tajir melintir berarti, tapi nomor yang tertera itu kan nomor Indonesia gimana si dia!" ujar Paulina sedikit kesal.


"Hahaha.... Lina Lina, apa yang kamu harapkan dari Reno? Dia udah punya istri, aku aja gagal buat bisa dapatin dia." Raut wajah Sandra tampak sedih sekaligus kecewa. Jika mengingat persahabatannya dulu berempat, membuatnya harus mengubur dalam-dalam perasaannya tersebut.


"Tapi aku gak tau gimana kabar Gevan sekarang, apa dia udah nikah juga seperti Reno." Sandra menatap kearah Paulina, "Udahlah kalau bahas mereka aku jadi pingin balik ke Indonesia. Ayo Lin kita pergi," lanjutnya seraya menggandeng tangan kiri sahabatnya.


Sementara itu Vierra sudah duduk di kursi dekat meja bartender. Ternyata didalam kapal ini menjual berbagai minuman alkohol dengan kadar lengkap. Ada yang beralkohol rendah dan ada juga yang beralkohol sangat tinggi.


"Kamu mau pesan minuman apa?" tanya Krisna membuat Vierra menatap bingung, "Air putih aja....," balasnya pelan.


"Hahahaha...., disini gak jual air putih nona Vierra," tutur Krisna disertai kekehan.


"Gak ada air putih? Oh, yaudah tidak jadi."


"Biar aku yang pesenin aja ya, dijamin enak kok." Krisna tersenyum membuat Vierra menatapnya heran, pesenin apa maksudnya, fikirnya begitu.


"I'll have two whisky...." Bartender itu mengangguk.


"Nona Vierra...." Vierra menoleh kearah Krisna.


"Iya, kenapa?"


"Apa kamu memikirkan suamimu? Memang dia kemana?"

__ADS_1


"Saya tidak tahu, dia bilang pergi sebentar tapi sampai sekarang belum datang," balas Vierra terpaksa tersenyum. Berada di dekat Krisna membuatnya merasa kikuk, mungkin karna belum terbiasa dan belum mengenal laki-laki itu.


"Two Whisky..." Krisna menengok kearah Bartender dengan mengambil dua gelas kecil, "Thank You..."


"Nona Vierra, ayo minum dulu. Suamimu nanti akan datang, lebih baik kamu minum dan segarkan fikiranmu dengan minuman ini," ujar Krisna menyodorkan satu gelas kecil berisi minuman yang berwarna kuning.


"Minuman apa ini?"


"Ini hanya minuman biasa yang sering di minum orang Prancis. Aku sering meminumnya. Ini minum...." Krisna tersenyum dengan alis yang mengisyaratkan agar Vierra mengambil gelas dari tangannya.


"Hm... Iya." Vierra mengambil gelas tersebut dengan ragu-ragu. Matanya masih mengamati warna minuman yang menurutnya sangat aneh.


"Kayaknya, aku pernah melihat minuman sejenis ini. Apa ini alkohol?" gumannya dalam hati.


"Apa kamu mengira itu alkohol?" Kepala Vierra menengadah, "Itu memang ada kadar alkoholnya nona, tapi percayalah alkoholnya sangat rendah jadi gak masalah kalau cuman minum satu kali," sambung Krisna menjelaskan.


Krisna meminum whiskynya lebih dulu, dalam satu teguk langsung tandas.


Clak...


Bunyi gelas kaca kecil yang ia taruh diatas meja.


"Do you want more, Sir?" tanya Bartander tersebut, "No...," balas Krisna menggeleng.


Vierra menarik nafasnya lebih dulu, ia sudah terlanjur menerima tawaran dari Krisna, jadi ia tidak bisa harus menolak saat sudah sampai disini.


Glek....


Raut wajah Vierra terlihat masam. Minuman whiskynya ia habiskan dalam satu teguk. Tenggorokannya terasa panas dan sedikit terbakar membuatnya merasa tidak nyaman.


"Kenapa nona? Hahahah......, kenapa ekpresimu seperti itu? Apa ini pertama kalinya kamu minum?" tanya Krisna diselingi dengan tertawa pelan.


Vierra melirik dengan ekor matanya, "Ya... Saya tidak begitu menyukai alkohol," balasnya.


"Berarti aku salah?"


"Iya, aku fikir kamu wanita yang suka minum minuman beralkohol. Maaf nona Vierra aku salah menduga hanya karna melihat penampilanmu saja," ujar Krisna dengan nada bersalahnya.


"Vierra....." Vierra memalingkan pandangannya, saat suara lantang yang ia kenali mulai terdengar. Matanya membola sempurna. Reno berdiri beberapa langkah, sampai akhirnya datang dan langsung merebut gelas yang masih ia pegang.


Srtt...


Reno mencium bau alkohol yang manguar kuat dari gelas tersebut. Matanya sukses menajam, lalu melihat kearah samping istrinya.


"Ini alkohol. Apa kamu barusan minum ini sayang?" tanya Reno merendam emosinya, dengan bersuara selembut mungkin.


"Mas... Akk-kuu." Vierra terbata, lidahnya seakan keluh sekaligus rasa gugup mengerubungi benaknya. Ada apa ini, apa Reno marah denganku, fikirnya begitu.


"Apa anda suami nona Vierra?" Sekarang Reno beralih kearah Krisna menatap tajam dan mengamati gerak gerik laki-laki tersebut.


"Ya! Saya suaminya. Anda ini siapa ya? Kenapa bisa bersama istri saya?"


"Mas...,"lirih Vierra pelan. Ia memegang lengan kanan Reno agar suaminya itu tidak salah paham," Aku gapapa kok. Kamu habis dari mana kok lama banget," lanjutnya pelan.


Reno menatap lagi manik mata Vierra terdapat rasa sedikit takut dari sorot mata istrinya," Maaf sayang..., aku habis dari toilet. Ayo pergi dari sini," balasnya tersenyum.


"Tuan Krisna, saya permisi dulu. Terimakasih atas traktirannya," ujar Vierra berpamitan.


Reno enggan tersenyum atau bersuara lagi, kini ia menggandeng erat jemari tangan kiri Vierra. Reno melirik dengan tajam melalui ekor matanya, saat Krisna juga menatapnya.


*****


Jam sudah sangat larut malam. Sekitar sudah pukul 10 malam waktu di Paris sekarang. Reno dan Vierra sudah perjalanan akan pulang. Reno berusaha mengontrol emosinya, saat mengingat kembali Vierra dengan laki-laki asing tadi. Rasa cemburu menguasai hatinya, jujur sebenarnya Reno tahu betul apa maksud Krisna mengajak Vierra untuk minum alkohol. Dia juga laki-laki, jadi seribu taktik licik langsung ia pahami saat melihat wajah Krisna pertama kali. Reno merasa laki-laki itu tidak baik, makanya ia buru-buru membawa istrinya menjauh.

__ADS_1


Brak...


Reno keluar dari dalam mobil diikuti oleh Vierra. Ia langsung menghampiri istrinya dan jalan dengan menggandeng erat jemari lentik Vierra. Setelah kapal berhenti di dermaga, Reno menelfon Pak Albert untuk menjemputnya sesegera mungkin.


"Mas..." panggil Vierra pelan.


"Hmmm...." Reno hanya berdeham, seraya menekan tombol saat sudah didalam lift.


Lift trus naik, tapi keheningan masih trus melanda. Vierra bungkam, tidak tahu harus bicara apa. Sikap Reno sejak pulang dari kapal menjadi dingin, apa karna ia yang tanpa izin menerima ajakan dari orang asing.


Tring...


Pintu lift terbuka, "Mas...," panggil Vierra lagi, tapi Reno masih berdeham sama dan membuat hati Vierra menjadi tidak tenang.


"Apa dia marah?" gumannya dalam hati.


Ceklek...


Pintu terbuka, Reno masuk kedalam kamar hotel diikuti oleh Vierra dibelakangnya, sampai akhirnya genggaman tangan itu terlepas.


"Kenapa kamu minum alkohol tadi?" pertanyaan yang sudah lama bersarang di otak Reno, akhirnya terlontar juga.


"Ak-akuu cuman nerima ajakan Krisna," balas Vierra masih gugup.


"Krisna? Laki-laki itu namanya Krisna?"


"Iya mas. Maaf, aku gak izin kamu dulu, habisnya kamu lama ketoiletnya."


"Meskipun lama, tapi kamu jangan asal nerima ajakan dari orang lain, apalagi orang yang gak dikenal. Ini bukan di Indonesia, tapi di negara orang. Aku ingin kamu lebih hati-hati. Kamu bisa tolak kan tadi ajakan dia." Nada Reno sedikit meninggi, membuat Vierra menatap heran seakan merasa disudutkan.


"Aku pengen nolak tadi, tapi gak enak aja. Dia juga orang Indonesia, jadi aku rasa bukan hal yang besar buat kamu seperti ini," tukasnya sedikit kesal.


"Bukan hal yang besar? Aku ini sekarang suamimu, apa kamu lupa? Kita udah nikah sayang..., jadi aku gak suka kamu dekat-dekat dengan laki-laki lain, apalagi tanpa seizinku!"


"Kamu berlebihan Ren!" Mata Reno melotot tak percaya. Apa baru saja istrinya memanggil namanya? fikirnya begitu.


"Awhh.... Ap-paa yang kamu lakukan?" Detak jantung Vierra memompa cepat. Reno baru saja menarik tangannya sedikit keras dan menumbangkan tubuhnya di sofa.


Vierra menatap dengan gugup. Tubuh Reno seolah menguncinya, bahkan tangan suaminya mencengkram kuat pergelangan kedua tangannya yang di kunci diatas kepalanya.


"Kamm-uuu mauu app-aa?"


"Menurutmu apa hm...? Bukannya tujuan kita bulan madu untuk ini sayang," balas Reno lembut disertai senyuman miring.


Vierra meneguk ludahnya pelan.


"Tapii..., akuuu belum siap...," lirihnya.


"Kamu harus siap. Biar mama cepet dapat cucu dari kita. Tenang aja..., aku akan melakukannya dengan pelan-pelan kamu jangan takut ya. Aku ini suamimu sayang..."


"Tapp-"


Reno langsung membungkam mulut Vierra dengan bibirnya. Ia memejamkan matanya, dengan masih mamangut bibir yang semanis cerry itu. Rasa panas disertai gairah yang semakin memuncak membuat Reno ingin memasukki istrinya malam ini.


"Mhhppp....." Vierra memejamkan matanya, menggeliat tidak nyaman. Bibirnya seolah dipaksa terbuka agar lidah suaminya itu lebih leluasa menyelami dasar kenikmatan.


Ciuman Reno begitu memabukkan, meski ada sedikit rasa alkohol dari mulut Vierra tetap tidak membuatnya berhenti, justru semakin liar dan turun untuk mengecup di leher istrinya.


"Ahhpp... Rennn....," lirih Vierra mengeluarkan erangan paraunya, membuat Reno semakin menjadi dan menjilati tulang selangkah serta memberi tanda kepemilikan pertamanya.


*****


Bersambung....

__ADS_1


Hahaha awas panas bacanya. Ini aku pengen buat 21+ tapi takut kena sensor semua oleh pihak NT 😁


Tinggalkan jejak Vote, like dan komentar ya makasih🙏


__ADS_2