Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Restu Calon Mertua


__ADS_3

Happy Reading tinggalkan jejak vote dan komentar 👍


_____•••••_____


Semua orang menatap terkejut, tapi Reno tidak mundur sedikitpun malahan ia menggenggam semakin erat tangan kanan Vierra. Gerald laki-laki itu masih menatap tajam saat melihat senyum mengejek Reno kearahnya, justru membuat Gerald mengeram kesal.


"Reno!" teriak Ny. Elma yang datang menghampiri putranya ditengah kerumunan.


"Disini kamu rupanya Ren!" ujar sang ibu menatap bingung, apalagi ada sosok wanita yang berdiri disamping putranya.


"Siapa dia sayang?"


"Dia Vierra, Ma! Aku minta restu dari mama untuk menikahinya minggu depan," balas Reno dengan penuh keyakinan.


Hening, Vierra masih terdiam. Ia bingung bahkan kehabisan kata-kata, rasa gugup, cemas, dan shock masih memenuhi hatinya.


"Ohh, yaampun... Jadi dia Vierra?" pekik Ny. Elma sekaligus terkejut.


Brugh...


"Akhirnya aku bisa ketemu sama kamu Vierra. Reno udah cerita banyak tentang kamu, nak! Terimakasih sudah datang ke acara ini calon menantuku," ucap Ny. Elma begitu senang seraya memeluk hangat Vierra.


"Tolong jaga Reno ya, Vie! Dia satu-satunya putraku. Aku yakin mendengar cerita dari Reno, kamu akan jadi istri yang baik buat anakku."


Srtt...


Pelukkan terlepas, Ny. Elma mengusap lembut pipi Vierra dengan senyuman hangatnya, lalu beralih kearah putranya.


"Mama merestui pernikahan kalian. Mama akan undang semua kerabat bisnis mama, serta Alm. Ayahmu untuk menghadiri pernikahan kalian." Ny. Elma kembali berujar, lalu mulai mengecup kening putranya dan kening Vierra secara bergantian.


"Semoga kalian menjadi keluarga yang bahagia nantinya."


"Reno, Cucuku!" Suara Tn. Ednan terdengar, membuat beberapa orang membuka jalan agar tidak menghalangi.


"Kakek," balas Reno lalu minta doa restu dengan mencium punggung tangan sang kakek.


"Kakek juga merestuimu."


"Makasih kek..."


"Namamu, Vierra?" tanya Tn. Ednan, mendapat anggukan pelan dari Vierra.


"I-iya, namaa... saya Vie-raa," balas Vierra gugup.


Lalu tiba-tiba tangan kanan Tn. Ednan mengelus kepalanya. Vierra hanya diam, sungguh ia tidak bisa menolak.


"Selamat kamu akan jadi istri dari cucuku. Aku sekarang bisa tenang melihat semua cucuku akhirnya akan menikah."


"Tentu, Ayah! Aku juga sangat senang. Reno udah memilih calon istri yang akan menemaninya setiap waktu. Aku merasa, tugasku sebagai ibu sudah selesai saat melihat putraku berdiri di altar pernikahan nanti." Ny. Elma berucap yang mendapat pelukan hangat dibahu kanannya. Tn. Ednan, sang ayah memeluknya dengan anggukan setuju.


"Vierra..." Kini Vierra menoleh, suara ibunya terdengar dari beberapa tepuk tangan bahagia banyak orang.


"Ibu..." Vierra langsung berlari memeluk ibunya. Ny. Dian menyambut pelukkan putrinya, lalu melepaskannya detik itu juga.


"Ada apa sayang? Kamu disini? Ibu cariin muter-muter kamu, Ra! Ternyata disini."


"Bu....."lirih Vierra pelan.

__ADS_1


"Apa anda ibunya Vierra?" tanya Ny. Elma, membuat Ny. Dian menatapnya bingung.


"Iya, saya ibunya Vierra."


"Saya ibunya Reno. Saya senang bisa bertemu anda malam ini, sebentar lagi kita akan menjadi besan." Ny. Elma berucap dengan nada ramah dan senyuman hangat.


"Ohh ternyata, anda Nyonya Elma! Ibunya Nak Reno?" Ny. Dian memekik sedikit keras karna sangking terkejutnya.


"Anda kenal dengan putra saya, Reno?"


"Tentu, Nyonya! Saya bekerja di Restoran Gemilang dan Nak Reno yang sudah bantu saya kerja disana. Saya sangat senang, akhirnya saya bisa bertemu dengan anda, Nyonya Elma."


"Saya lebih bahagia, karna bisa bertemu dengan anda sekaligus kita akan menjadi besan nantinya, Nyonya."


"Jangan panggil nyonya. Saya merasa tidak pantas untuk panggilan itu, Nyonya Elma," Sela Ny. Dian diselingi senyuman malu-malu.


"Tidak apa-apa, Nyonya!"


"Panggil Bu Dian saja, Nyonya."


"Baiklah, Bu Dian. Saya senang, karna Reno memilih Vierra untuk jadi istrinya."


"Istri?" Ny. Dian mengulang perkataan Ny. Elma barusan, lalu beralih menatap putrinya.


"I-ibu... A-akuu...."


Vierra berhenti bicara, saat ibunya memeluknya kembali.


"Ibu gak nyangka, Ra. Ibu senang, akhirnya kamu udah mau menikah."


Ny. Dian melepaskan pelukannya, lalu mengusap lembut pipi kanan putrinya.


"Ibu merestui hubunganmu dengan Nak Reno, sayang. Ibu harap kamu benar-benar bisa jadi istri yang baik buat Nak Reno nantinya," ujar Ny. Dian dengan tersenyum.


Vierra membulatkan matanya, bibirnya kaku. Ingin sekali ia mengatakan yang sebenarnya pada ibunya, tapi tatapan ibunya, serta tatapan dari keluarga Reno membuatnya urung.


Kenapa ia harus terjebak dalam situasi ini.


_____•••••_____


Acara sudah selesai sekarang Vierra perjalanan akan pulang dengan ibunya. Sejak 20 menit yang lalu, saat berhasil berpamitan pergi dari keluarga besar Reno, Vierra memilih diam. Ia bingung harus bagaimana, bisa saja ia menolak saat ini juga, tapi itu akan langsung membuat ibunya kecewa.


"Vierra!" Ny. Dian memanggil dengan memegang lembut pundak putrinya.


Selama di dalam taksi Vierra tidak berbicara sedikitpun, membuat Ny. Dian sang ibu menjadi cemas.


"Jangan khawatir, Nak! Jangan pikirkan apapun. Besok ibu cuti, kita ke makam ayahmu untuk minta doa restu."


"Ibuu...." Vierra bersuara, tapi tatapannya seakan menunjukkan kesedihan.


"Aku gak mau nikah, Bu..." lirihnya dengan mengadu.


Ny. Dian mengerti, lalu mengambil kedua tangan putrinya dan digenggam begitu hangat.


"Nak! Ibu tau, mungkin ini terlalu cepat buat kamu, Vie... tapi kamu harus bisa nerima Nak Reno. Ibu sudah sangat percaya sama Nak Reno. Dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, Nak! Selama kamu di Solo, Nak Reno slalu datang buat bantu ibu. Ibu berhutang banyak sama dia, kali ini saja ibu akan sangat bahagia jika kamu bisa menikah dengan dia. Nak Reno adalah pilihan yang tepat buat jadi suamimu kelak, ibu yakin dan percaya kalau dia akan bisa melindungimu nantinya."


Vierra diam, entah kenapa penuturan ibunya begitu menyentuh hatinya. Lidahnya kaku untuk trus menolak, meski ia masih berkeinginan untuk itu, tapi ia tidak ingin mengecewakan ibunya. Ibunya itu sangat menginginkan pernikahannya dengan Reno.

__ADS_1


"Iya, Ibu... Aku akan menikah dengan Reno," ucap Vierra begitu lirih.


"Makasih ya, Nak." Ny. Dian tersenyum, lalu memeluk putrinya kali ini dengan diselingi usapan lembut di kepala Vierra.


Di Tempat Lain.


Masih di sebuah hotel, meski jam sudah menunjukkan larut malam, tapi beberapa undangan belum benar-benar sepenuhnya pergi. Ada dari beberapa kerabat bisnis yang setia berada di dihotel, tepatnya di lobi hotel dimana beberapa kursi undangan sudah kosong.


"Selamat Tuan Ednan, akhirnya semua cucu anda sudah berumah tangga," ujar Tn. Wingky, selaku kerabat paling dekat dengan keluarga Barack.


Tn. Wingky Mahendra adalah seorang Pengusaha Tambang paling sukses di Jakarta, tapi beliau juga punya beberapa Cafe&Resort di beberapa kota di Indonesia. Tn. Wingky sudah menjalin kerja sama bisnis di Perusahaan Gemilang ARD sejak Alm. Tn Ali yang masih memimpin perusahaan tersebut.


Sebenarnya Aset dari Perusahaan Gemilang ARD tidak sepenuhnya diserahkan kepada Reno. Sekitar 30% dari Perusahaan diberikan oleh keluarga Elson yaitu Tn. Vildan, karna beliau satu-satunya keluarga laki-laki yang masih ada maka dengan itu, Tn. Vildan memiliki 30% dari aset Perusahaan.


"Belum, Wingky, tapi akan secepatnya. Setelah pernikahan cucuku Reno, maka akan disusul pernikahan Gevan dengan calon istrinya," ujar Tn. Ednan menjelaskan.


"Yang aku tau calon istri Gevan seorang Pramugari, itu sangat bagus Tuan Ednan."


"Ya! Amanda memang seorang Pramugari muda yang berbakat." Tn. Wingky tersenyum dan mengangguk setuju.


"Tapi Tuan Ednan, saya masih belum tau pekerjaan apa dari calon istri Reno? Apa mungkin anak dari Pebisnis juga? Atau Entertainer? Aku harap Reno memilih wanita yang tepat." Tn. Wingky kembali berujar dengan menaruh gelas berisi minuman yang baru saja ia teguk setengah hingga habis.


"Vierra, dia wanita yang sangat tepat untuk cucuku Reno. Masalah pekerjaannya itu tidak terlalu penting, Wingky! Hanya melihat semua cucuku sudah menikah itu yang paling utama. Selebihnya, aku harap Reno dan Gevan hidup bahagia bersama istrinya nanti."


Senyum Tn. Wingky memudar, lalu menghembuskan nafasnya, seolah ucapan dari yang ia dengar tidak seperti yang ada dalam pikirannya.


"Papa...."


"Ehh, Rossi! Sini sayang." Tn. Wingky kembali tersenyum, menyambut kehadiran putrinya itu. Rossi datang dengan wajah sedikit muram, tapi berubah menjadi riang setelah melihat Tn. Ednan.


"Kakek..." ujar Rossi pelan.


"Hai, Rossi. Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik, Kek, tapi setelah mendengar ucapan Reno, aku jadi kesal!" balas Rossi dengan wajah murung.


"Kenapa kesal?"


"Kakek! Apa kakek benar menyetujui pernikahan Reno dengan wanita itu?"


"Wanita itu? Oh maksudmu, Vierra?"


"Iya, Kek, Vierra! Aku gak suka sama dia. Harusnya Reno pilih aku buat jadi istrinya."


"Papa...." Rossi kembali berujar, kali ini menatap kearah ayahnya dengan nada merengek.


"Tenang, Putriku..." balas Tn. Wingky dengan masih mempertahankan senyumannya.


"Aku gak mau Reno nikah sama wanita itu pa! Papa bantu aku. Aku ingin Reno hanya menikah denganku! Papa.... Aku mau Reno..."


Rossi trus merengek, memohon dengan wajah melasnya. Tangannya berkali-kali menarik-narik ujung jas ayahnya, sedangkan Tn. Wingky langsung menghentikan aksi putrinya.


"Rossi! Reno udah menentukan sendiri calon istrinya. Papa minta, kamu berhenti berharap sama dia. Papa akan kenalkan kamu ke anak temen papa yang lain."


"GAK MAU! AKU MAUNYA NIKAH SAMA RENO, PA!!!" Rossi berteriak sangat keras. Bahkan bukan hanya ayahnya, tapi Tn. Ednan juga terkejut dan beberapa orang juga yang melintas ikut kaget dengar teriakannya.


_____•••••_____

__ADS_1


__ADS_2