Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Janji Reno Dimakam


__ADS_3

Selama perjalanan Vierra lebih memilih diam, sesekali ia menengok ke kaca mobil. Reno yang fokus menyetir merasa tidak enak, keheningan membuatnya menjadi kaku dan canggung. Reno melirik beberapa kali dengan ekor matanya, sedangkan Vierra masih fokus menatap ke jalanan diluar.


"Ra..." panggil Reno memecahkan keheningan, tepat lampu merah dan mengharuskannya berhenti, tepat itu juga Reno menatap penuh kearah Vierra.


"Apa?" Vierra menatapnya dengan wajah bingung, seolah menunggu jawaban dari Reno.


"Kamu mikirin apa? Kok yang diliat diluar, harusnya aku dong. Masa jalanan lebih indah daripada wajahku hmm...." Kening Vierra mengerut, lalu detik berikutnya tertawa pelan. Reno yang melihat ikut tersenyum, akhirnya gadis itu tertawa.


"Lebay kamu! Biarin, orang aku lebih suka liat jalan daripada liatin kamu," sungut Vierra.


"Kenapa? Apa aku gak menawan dimatamu?" Vierra diam menatap lekat wajah Reno, seolah meneliti gesture wajah laki-laki itu.


Reno melajukan kembali mobilnya saat sudah lampu hijau menyala, lalu mengalihkan pandangannya ke depan namun sesekali melirik kearah Vierra.


"Biasa aja."


"Apanya yang biasa? Aku gak ganteng gitu? Kalau sama cowok tadi gantengan siapa?" tanya Reno lagi mendesak. Sepertinya jawaban Vierra tidak membuatnya puas, seharusnya calon istrinya itu memujinya agar Reno lebih percaya diri meskipun ia memang mengakui kalau dirinya tampan tanpa pujian Vierra, tapi ia ingin mendengar pujian itu dari bibir ranum sang calon istri.


"Jordan maksud mu?"


"Ya, dia maksud ku."


"Gantengan dia," ujar Vierra santai. Jujur setelah mengatakan itu, ia mengalihkan pandangannya ke kaca mobil, berusaha menutupi rona merah di pipinya. Rasa gugup disertai kencangnya detak jantung benar-benar membuatnya terlihat kikuk. Kalau boleh jujur seharusnya Vierra memuji Reno, tapi karna rasa gengsinya masih tinggi, membuat pujian itu hanya tertelan di benaknya saja.


Reno diam tanpa bersuara lagi, entah kenapa ucapan Vierra membuatnya kurang bersemangat. Apa yang salah? pikirnya begitu. Reno melajukan mobilnya sedikit lebih cepat, sampai akhirnya berada di kawasan kuburan.


Cittt...


"Disini makam ayahmu?"


"Iya. Ayo keluar," balas Vierra mengintruksi. Reno mematikan mesin mobil dan keluar dari mobil. Matanya menatap kesegalah arah, kawasan kuburan ini kalau sore masih sedikit ramai terbukti beberapa penjual makanan yang ada di beberapa tempat.


"Ada bakso." Vierra mengikuti arah pandang Reno. Seorang penjual bakso keliling tengah mangkrak lumayan jauh dari tempatnya berdiri.


"Lalu kenapa?" tanya Vierra bingung.


"Aku lapar." Reno menyengir memperlihatkan lesung pipinya sedikit, sungguh manis pikir Vierra.


"Nanti aja! Kita kesini buat ziarah, Ren!"

__ADS_1


"Iya aku tau, jangan marah begitu nanti cantiknya hilang." Vierra mencebik kesal menghiraukan gombalan Reno. Ia harus terbiasa dengan semua rayuan Reno, berusaha mengontrol detak jantungnya dan lanjut jalan.


"Vierra! Reno! Ayo sini!" Ny. Dian berteriak sedikit keras dengan tangan kanan yang melambai.


"Iya ibu." Vierra menghampiri ibunya itu dan Reno jalan mengikutinya dari belakang.


Ny. Dian jalan lebih dulu membimbing arah untuk ke makam sang almarhum suami, diikuti Vierra dibelakang, sedangkan Reno dan Jordan berjalan lebih jauh seperti memberi jarak. Jordan berhenti membuat Reno yang jalan dibelakangnya ikut berhenti.


"Apa tujuanmu menikahi Vierra? Aku tau kau sahabat dari Amily dan kau orang terpandang, tapi melihatmu, aku jadi ragu kenapa kau ingin menikah dengan Vierra? Apa tujuanmu sebenarnya? Kalau kau berniat menikah, lalu meninggalkan Vierra setelah itu, lebih baik urungkan niatmu dari sekarang."


"Apa maksud mu?" tanya Reno. Nadanya terdengar dingin, mendengar penuturan Jordan membuat darahnya seakan mendidih. Tubuhnya memanas, sepertinya laki-laki itu berhasil memancing emosinya, tapi Reno berusaha menahannya.


"Aku gak yakin kau benar-benar serius untuk menikahi Vierra." Reno sekarang paham, lalu mendekat kearah Jordan.


"Apa urusannya denganmu? Apa kau pikir aku main-main dengan Vierra? Kau pikir aku bisa mempermainkan sebuah pernikahan karna suatu tujuan, begitukah maksudmu?"


"Ya, itu maksud ku," balas Jordan menyela tegas.


"Tujuanku cuman satu, yaitu untuk membahagiakan Vierra. Kau gak perlu khawatir, karna aku menikahi Vierra atas dasar cinta, jika aku menginginkan hal lebih atau seperti yang ada dalam pikiranmu. Kau salah, Bung!" Reno terkekeh seolah ingin memberi penegasan agar Jordan tidak meremehkannya.


"Kau gak perlu mengurusi kehidupanku. Setelah menikah, Vierra akan menjadi tugasku. Lebih baik urusi saja hubunganmu dengan sahabatku. Mendengar ucapanmu ini, membuatku ragu. Apa hubunganmu dengan Amily baik-baik saja?"


Seakan kalah telak, Jordan bungkam. Tangannya mengepal, berusaha menahan emosi dalam dirinya. Reno justru tertawa pelan, sepertinya ucapannya manjur.


"Kalian! Kenapa masih disana, Ayo!" Keduanya menoleh kearah Vierra yang memanggilnya setengah teriak. Reno memutuskan jalan lebih dulu melewati tubuh Jordan, lalu Jordan berusaha mengontrol emosinya dan kembali melangkah paling belakang.


Hingga sampai di depan batu nisan ayahnya Vierra. Terdapat tulisan.


Bagas Tri Atmadja


Bin


Wardanu


Lahir: Makassar, 16 Mei 1969


Wafat: Sabtu, 14 Desember 2015


"Mama ini makam almarhum ayah mertua?" tanya Reno yang menatap lekat tulisan dibatu nisan tersebut.

__ADS_1


"Iya, Nak Reno. Ini makam almarhum suami ibu." Reno mengangguk paham, lalu tanpa dipinta ia duduk dengan berjongkok tersenyum mengusap penuh perhatian dibatu nisan sang almarhum.


"Ayah, ini saya Reno Al-Barack. Maaf, kalau saya datang terlambat, tapi saya disini minta doa restu ayah mertua untuk meminang putri ayah yaitu Vierra. Reno janji akan slalu menyayangi dan mencintai Vierra. Reno akan menjaga dan melindunginya, untuk itu minta doa ayah agar pernikahan kami nanti berjalan lancar dan kami bisa hidup bahagia."


Vierra tersentuh, ia bahkan meneteskan bulir air mata karna sangking terharunya. Ucapan disertai janji tulus dari Reno membuat hatinya terenyuh. Ada kebahagiaan yang timbul, disertai kehangatan, entah bagaimana bisa karna hanya mendengar ucapan calon suaminya itu cukup membuat kepercayaannya yang sempat ragu kini menjadi sebuah keyakinan.


"Nak Reno..." Ny. Dian menepuk pelan pundak kanan sang calon menantu, disertai senyuman terharu.


"Almarhum suami ibu pasti merestui dan mendoakan pernikahanmu dengan Vierra. Suamiku pasti disana sangat bahagia karna melihat putrinya akan menikah, terlebih lagi mendapatkan sosok calon suami seperti nak Reno," ujar Ny. Dian, kini sang ibu melihat kearah Vierra dan tersenyum.


"Vierra, sini nak!" panggilnya, membuat Vierra ikut jongkok bersebelahan disamping Reno dengan menatap makam almarhum ayahnya.


Reno menatapnya dan menggenggam jemari tangan kiri Vierra sangat erat, seolah menunjukkan kasih sayangnya kepada sang almarhum.


"Ayah, Vierra minta doa restu ayah..." lirih Vierra sangat pelan, Reno bantu menguatkan gadis itu dengan semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Ayah, tolong restui pernikahan kami berdua, semoga kami nantinya bisa menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah."


"Amin...." imbuh Vierra dengan meneteskan bulir air matanya lagi. Ia tersenyum hangat, sepertinya kali ini hatinya benar-benar terasa nyaman, seolah berada didekat Reno sebuah anugrah untuknya.


Jordan yang melihat kemesraan Vierra dan Reno hanya diam tanpa ekspresi apapun. Hatinya antara masih ragu, seolah belum rela melepaskan Vierra nanti untuk Reno.


Setelah acara meminta doa restu, baik Vierra, Reno, Ny. Dian sekaligus Jordan turut memberi doa diawali dengan bacaan Al-fatihah lalu surat Yasin.


"Amin... Suamiku aku harap engkau bahagia disana," ujar Ny. Dian mencium batu nisan sang almarhum suami disertai taburan bunga di makam.


Vierra ikut menaburkan bunga begitu juga dengan Reno. Kurang lebih sekitar hampir 1 jam, akhirnya semuanya selesai berziarah dan mulai kembali pulang.


"Ayo...." Ny. Dian mengulurkan tangan kanannya yang disambut pelukan hangat dari Vierra, lalu keduanya jalan lebih dulu. Jordan justru menatap datar kearah Reno dan jalan begitu saja, tapi suara Reno menghentikan langkahnya.


"Tunggu!" Jordan berbalik dan menatap wajah Reno.


"Aku harap setelah ini kau tidak meragukan niatku dan aku juga berharap kau tidak membuatku meragukan perasaanmu terhadap Amily." Kening Jordan mengerut.


"Jangan bangga dulu! Untuk sekarang aku percaya padamu, tapi jika suatu saat kau menyakiti Vierra, maka bukan hanya kau yang bisa memberiku pelajaran, tapi aku akan benar-benar menghabisimu. Oh satu lagi... Jangan pernah mencampuri hubunganku dengan Amily, Mengerti!"


Reno diam, sekarang gantian pundak kanannya di tepuk beberapa kali seperti yang ia lakukan tadi terhadap Jordan. Laki-laki itu tersenyum seolah berhasil menggertak dan memberi peringatan keras, tanpa bersuara lagi Jordan pergi begitu saja meninggalkan Reno yang menatap punggungnya kian menjauh dengan tangan yang mengepal.


_____•••••_____

__ADS_1


Bersambung....


Beri Like, Vote dan Komentar ya terimakasih 😊


__ADS_2