Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Teka Teki Atau Jawaban?


__ADS_3

"Yaudah, maaf, kita buru-buru. Ayo sayang," ujar Reno menatap kearah istrinya.


"Iya mas ayo, sebelum pesawatnya berangkat," ajak Vierra seraya tersenyum, mencoba menunjukkan sikap patuh kepada sang suami.


Gerald hanya berdeham disertai tubuhnya yang menyingkir, berniat memberi jalan agar Reno dan Vierra jalan melewatinya. Sebuah hembusan nafas terdengar disertai tatapan datar kearah punggung keduanya.


"Kenapa mereka bisa sedekat itu? Apa Vierra menyukai Reno? Sejak kapan? Mereka juga jadi nikah, aku fikir ucapan Reno waktu itu hanya gertakkan. Aku gak nyangka kamu bisa ngelupain aku Vie, padahal dulu kamu cinta banget sama aku," gumannya dengan senyuman kecut, seolah meremehkan kebersamaan mantan kekasihnya dengan suami barunya tersebut.


Setelah berhasil diperiksa terkait dokumen serta paspor oleh pekerja dibandara, barulah mereka diperbolehkan jalan melewati lorong hingga sampai akhirnya naik kedalam pesawat.


Pesawat dijadwalkan berangkat pukul 08.50 dan hanya tinggal menunggu waktu 20 menit saja untuk pesawat ini lepas landas. Didalam pesawat Reno duduk disamping Vierra, bahkan membantu istrinya memasangkan sabuk pengaman.


"Mungkin perjalanan akan sangat lama. Kamu kalau ngantuk tidur aja sayang. Pundakku siap buat jadi bantalnya," tutur Reno mengusap sekilas pipi tirus Vierra.


"Iya, Mas. Sekarang gak ngantuk kok, nanti kalau ngantuk aku tidur," balas Vierra pelan.


"Kamu gak mabuk pesawat kan sayang? Kalau iya ini aku sediain obat, tadi mama bawa jaga-jaga kalau kamu mabuk pas diperjalanan." Reno merogoh saku jaketnya, mengambil 1 tablet obat berbentuk kapsul.


"Tau aja kamu, aku emang kadang sering pusing kalau naik pesawat," ujar Vierra berterus terang, lalu mengambil obat ditangan kanan Reno.


"Untung aku bawa minum." Vierra membuka resleting tasnya dan mengeluarkan satu botol aqua berukuran mini.


"Eh, kalian naik pesawat ini juga? Kok bisa sama?" Vierra yang akan memasukkan 1 butir kapsul terhenti karna mendengar suara khas ditelinganya. Ia mengalihkan fokusnya, ternyata Gerald berdiri didekat kursi yang Reno duduki.


"Kau mengikuti kami ya?" tanya Reno to the point, membuat alis Gerald terangkat.


"Mengikuti kalian? Hahahaha...." Gerald tertawa pelan disertai gelengan kepala, "Aku kan udah bilang tadi kalau aku akan ke Paris. Oh.... Kalian akan bulan madu ke Paris?" lanjutnya dengan tebakkan keheranan.


"Iya! Kita emang akan bulan madu ke Paris. Ya.... Aku harap kita gak akan bertemu disana," balas Reno dengan sindiran sarkasnya.


Gerald hanya tersenyum miring mengabaikan ucapan Reno, lalu ia kembali melangkah dan duduk di kursi belakang urutan ke tiga dari kursi yang Reno duduki.


*****


Rossi sekarang sedang menelfon Reno, tapi nyatanya tidak di angkat bahkan sejak ia datang kerumahnya dengan alasan hamil saat itu sikap Reno semakin jauh lebih dingin. Berkali-kali Rossi menelfon dan mengirim sms tapi tidak mendapatkan respon.

__ADS_1


Mengenai kehamilannya itu, Rossi sendiri masih belum yakin, karna mengingat usianya masih satu minggu. Ia juga tidak mengalami gejala kehamilan secara spesifik, hanya sesekali sering mual dan emosinya sering tidak stabil. Entahlah ia berharap dirinya benar-benar hamil, karna dengan ini ia akan bisa mendapatkan Reno seutuhnya.


Rossi bahkan mengabaikan sosok laki-laki yang sudah memperkosanya, dan hanya fokus untuk mendapatkan Reno. Ia sampai minta bantuan ayahnya untuk bisa membuat Reno bertanggung jawab, bagaimanapun kejadian yang ia alami bisa menekan Reno agar bisa sedikit demi sedikit tunduk dan akhirnya menjadi miliknya seutuhnya. Hanya tunggu waktu, sampai semua rencana besar ayahnya membuahkan hasil.


"Pokoknya aku harus hamil iya harus hamil, dengan begitu Reno akan tetap bertanggung jawab dan semakin dekat denganku," gumannya sembari mengusap lembut perut ratanya. Mata Rossi berbinar, seperti memancarkan sebuah sorotan keyakinan dengan ambisi yang sangat besar.


"Sayang... Kamu harus hadir diperut mama ya, agar ayahmu bisa mama dapatin sepenuhnya. Kamu gak perlu khawatir, kamu akan dapat ayah yang tampan, kaya, dan juga terpandang. Hidup kamu sama mama nantinya akan bahagia, makanya kamu cepet hadir ya di perut mama. Mama udah gak sabar," sambung Rossi semakin mengusap perutnya, seolah ia benar-benar hamil dan berbicara dengan bayinya sendiri.


*****


Gevan kini sedang ada di kantor lebih tepatnya, di ruangan kerja Reno. Sang Kakek menyuruhnya untuk sering datang ke kantor, entah untuk melihat-lihat atau mengecek, yang jelas Gevan ditugaskan agar slalu mengawasi perkembangan apa saja yang terjadi di kantor.


Elson sendiri tidak bisa, karna memang tidak tertarik dalam bisnis. Elson bekerja sebagai Dosen di salah satu Universitas ternama di Jakarta, karna dia memang lulusan S2 dari Universitas Columbia New York dan membuatnya memilih jalan karirya sendiri. Berbeda dengan Ernest yang sebenarnya suka bergelut dalam bidang manajemen bisnis, tapi tidak untuk yang bergerak di bidang trading seperti perusahaan yang Kakeknya dulu pimpin. Satu-satunya memang Gevan, karna cucunya itu sedang tidak melakukan kegiatan apapun.


Sebenarnya Gevan gemar sekali melukis dan slalu rutin menghadiri pameran lukisan dengan memajang hasil karyanya, tapi sang Kakek tidak suka dan ingin Gevan bisa memilih karir atau pekerjaan yang lain. Jika suatu saat Gevan ingin membangun perusahaan sendiri, maka sang Kakek siap memberi modal, seperti yang beliau berikan kepada Ernest saat perusahaan cucunya itu dibangun pertama kali.


Gevan duduk di kursi kebesaran yang sering Reno duduki. Rasanya nyaman, ia jadi betah berlama-lama disini. Gevan merasa benar-benar seperti seorang presdir muda di sebuah perusahaan besar dengan sesekali melamun membayangkan impiannya tersebut seumpama akan menjadi nyata.


Dering telfon membuyarkan lamunanya, ketika kelopak mata yang awalnya menutup kini terpaksa terbuka. Tanpa basa basi Gevan mengambil gagang telfon dari telepon kabel yang ada diatas meja.


"Halo, maaf sebelumnya Tuan Gevan, disini ada Pak Leon yang ingin menemui anda." Alis Gevan terangkat sebelah menandakan kebingungan. Mendengar nama Leon, sepertinya ia tidak asing dengan nama tersebut.


"Bertemu denganku?"


"Benar, Tuan Gevan. Pak Leon sebelumnya ingin bertemu dengan Mister Reno, tapi karna saya bilang anda yang menggantikan sementara waktu sampai Mister Reno pulang dari bulan madu, makanya beliau ingin bertemu anda."


"Baiklah, aku akan kesana."


Panggilan Terputus.


Gevan menghembuskan nafasnya dan berdiri dari kursi untuk melangkah keluar menemui tamunya tersebut. Ia juga penasaran akan sosok Leon dan maksud orang itu ingin menemuinya.


"Untuk apa di hari seperti ini ada yang ingin menemui Reno," gumannya dalam hati.


Ada keanehan yang Gevan rasakan, ya biasanya di hari Sabtu-Minggu kantor sepi karna tidak beroperasi dan hanya beberapa orang yang datang biasanya hari akhir pekan ini dibuat untuk pertemuan klien yang akhirnya timbul sebuah Closing (Berhasilnya kesepakatan 2 pihak serta cairnya dana investasi) walau begitu Mall yang ada didekat kantor slalu terbuka setiap saat.

__ADS_1


Setelah sampai di lobi lantai bawah, baru pandangan Gevan mengedar melihat sosok laki-laki yang duduk di sofa dari arah samping. Gevan jalan perlahan untuk mendekati laki-laki itu, dan berhenti tepat saat Leon menengok langsung kearahnya.


Dahinya berkerut, memori saat pesta ulang tahun mama Elma seolah kembali berputar diotaknya. Rasanya wajah Leon pernah ia temui, tepatnya di Hotel saat pesta besar tersebut dirayakan.


Leon berdiri mengancingkan kembali kancing jasnya seraya menyambut, "Apa kabar Pak Gevan? Perkenalkan saya Leon Direktur dari LC Group. Saya dengar anda yang menggantikan sementara waktu karna Pak Reno sedang cuti untuk bulan madunya. Wah... Saya senang mendengarnya, tapi maaf saat pernikahan Pak Reno saya tidak datang meski Elson mengirimi undangan, karna waktu itu ada proyek yang harus saya kerjakan."


Gevan masih diam meneliti seluruh gesture wajah Leon, serta mentamati keseluruhannya bahkan suaranya juga terdengar sama.


Memori Leon yang berbincang dengan seorang laki-laki tepat didepan kamar hotel tak sengaja Gevan dengar. Saat itu Leon juga tengah bicara lewat telfon saat dirinya memang melintasi lorong kamar hotel dan berhenti sesaat mengamati, serta mendengar suara Leon yang memunggunginya sewaktu akan masuk kedalam kamar tersebut.


Gevan bahkan masih mengingat sangat jelas ucapan yang ia dengar kala itu.


[ Flash Back Percakapan ]


"Beri dia obat tidur lagi. Pokoknya dia harus tertidur pulas, dan bersihkan beberapa barang dariku termasuk di tong sampah. Ingat, jangan meninggalkan jejak apapun. Aku ingin kau melakukannya dengan sangat rapi, jika tidak aku akan membunuhmu!"


Lalu Leon merogoh ponsel di saku celananya, sebelum menjawab dia menyuruh orang tersebut masuk lebih dulu ke kamar hotel dan akhirnya panggilan tersambung.


"Ya aku masih di hotel dan baru saja meniduri seorang wanita."


"Sepertinya dia anak dari kerabat bisnisku. Dia sendiri yang menyerahkan tubuhnya, dan aku hanya menuruti keinginannya. Sialnya dia mabuk berat, kau tau kan aku paling benci berhubungan badan dengan wanita yang tidak sadar. Kurang membuatku bergairah."


"Ya! Aku tau jangan mengguruiku sialan! Aku akan membereskan semuanya serapi mungkin, kau cukup bantu aku dalam hal ini."


"Anggap tidak pernah terjadi dan kau harus merahasiakan ini terlebih lagi dari keluargamu."


"Pak Gevan! Apa anda mendengar saya bicara?" Gevan tersadar dari lamunannya.


"Dia gak ngenali aku, apa mungkin dia gak melihatku saat itu," guman Gevan dalam hati.


*****


Bersambung...


Oh iya kalau ada cerita yang masih janggal karna memang di sengaja agar semakin penasaran, biasanya akan terjawab di part" selanjutnya😄

__ADS_1


Beri like, vote, dan komentar ya👍


__ADS_2