Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Akankah Terbongkar?


__ADS_3

Gevan kini berada di taman rumah sakit. Ia duduk dengan pandangan kosong, kedua tangannya mengepal satu sama lain mengingat bayangan yang trus muncul di kepalanya. Gevan mengeram kesal, lalu tanpa sengaja matanya menemukan Vierra yang jalan gontai di lorong. Vierra tidak mengetahui keberadaannya yang tengah menatapnya jauh dari kursi taman. Sekali hembusan nafas Gevan berdiri dan melangkah untuk menghampiri Vierra. Tangannya mencekal pergelangan tangan kanan Vierra, membuat gadis itu memekik karna merasa terkejut.


"Gevan....."


Srtt...


Tubuh Vierra ditarik kuat, memaksanya untuk mengikuti langkah Gevan yang terbilang cepat.


"Ada apa Gev? Kamu bawa aku kemana?" Gevan bungkam. Tangan kanannya tanpa ampun menarik tangan Vierra untuk trus mengikuti langkahnya.


"Gev...."


"Gevan!!!" teriakan terakhir yang terdengar cukup keras membuat Gevan menghentikan langkahnya. Detak jantungnya tidak beraturan, lalu menengok kebelakang. Vierra menatapnya dengan tatapan seperti minta penjelasan. Ada apa, kenapa Gevan merasa seperti ini, "Gev..., kamu ini kenapa?" Gevan tersadar dan spontan menggeleng cepat.


"Aku ingin bicara sama kamu adik ipar," ungkapnya berterus terang. Gevan melepaskan cekalan tangannya. Ia sedikit tersenyum merasa bersalah dengan sikap kasarnya barusan. Gevan bersumpah jika Reno sudah sadar dan Vierra membocorkan perilakunya ini pasti ia akan di bunuh.


"Kalau kamu mau bicara, ya bicara aja Gev. Kamu gak perlu narik-narik tanganku segala. Aku pikir kamu kenapa tadi," balas Vierra sedikit kesal. Ia sampai mengusap-usap pergelangan tangannya.


"Maaf adik ipar..., aku kebawa emosi."


"Emosi? Apa kamu ada masalah Gev? Dari tadi aku perhatikan ada yang aneh sama kamu."


"Aku baru aja putus sama Amanda." Vierra terbelalak kaget, "Ha! Kamu putus? Kok bisa Gev?"


Gevan memalingkan pandangannya menjadi menatap kearah depan. Taman dengan kursi besi yang sempat ia duduki menjadi objek utama penglihatannya sekarang ini.


"Aku gak cocok sama dia, lagian perasaanku akan mudah sembuh. Tenang aja, aku gak gampang patah hati." Kening Vierra mengerut, lalu dalam waktu 3 detik ia tertawa pelan. Gevan menengok kearahnya dengan alis yang terangkat bingung, "Kenapa kamu ketawa?" tanyanya heran.


"Gak..., gapapa kok. Aku baru tau kalau ada cowok yang baru aja putus bukannya patah hati eh ini malah enteng-enteng aja hahahah..." Gevan memahami jawaban Vierra dan entah kenapa ia juga ikut tertawa. Suasana hatinya menjadi berubah, mungkin Vierra berhasil melenyapkan setidaknya sedikit dari rasa patah hatinya.


"Adik ipar..., ada hubungan apa kamu sama Leon?" Vierra menghentikan kekehannya. Matanya menatap keheranan, apa maksud ucapan Gevan, hubungan apa yang dia maksud, fikirnya begitu.


"Aku? Maksudmu Pak Leon?"


"Iya..., aku ngerasa Leon bukan orang yang baik. Sebaiknya kamu jauhi dia adik ipar."


"Kenapa kamu mikir begitu? Aku rasa Pak Leon gak seperti yang kamu bayangkan Gev, dia itu-"


"Tetap aja aku ngerasa dia ngincar kamu. Adik ipar, aku ini kakaknya Reno. Aku harus jagain kamu selagi Reno masih belum sadar dari masa kritisnya. Kamu jauhin Leon, percaya sama aku kalau dia bukan orang yang baik," tutur Gevan bersikeras.


Vierra hanya diam tidak tahu harus merespon seperti apa. Ucapan Gevan seperti menaruh tanda tanya besar dalam benaknya.


"Kenapa Gevan seperti ini. Apa benar Pak Leon bukan orang yang baik," gumannya dalam hati.

__ADS_1


*****


Hari semakin larut, tapi Vierra masih tetap setia menjaga Reno. Ia bahkan tidak pernah melepaskan genggaman tangannya, sesekali mencium tangan Reno berharap kalau kelopak mata itu akan terbuka. Ny Elma beserta yang lain sudah pulang kerumah. Terjadi perdebatan panjang, pasalnya sang ibu memang ingin menjaga Reno, tapi Gevan melarang dan meyakinkan agar dirinya saja yang menjaga Reno. Vierra tidak ingin mengikuti saran laki-laki jakung tersebut, membuat Gevan akhirnya mengalah dan mengizinkan Vierra ikut menemaninya untuk menjaga Reno malam ini.


Gevan melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir pukul 11 malam. Ia menghembuskan nafasnya, lalu mulai berdiri dari sofa. Ia tidak bisa tinggal diam, bagaimanapun Vierra tengah mengandung jadi seharusnya adik iparnya itu lebih memikirkan juga kondisi kesehatan serta janinnya.


"Adik ipar...." Vierra menengok kearah Gevan, membuat Gevan semakin mendekatinya, "Lebih baik kamu istirahat ke ruanganmu, biar Reno aku yang jaga." Vierra menggelengkan kepalanya.


"Ngga mau Gev, aku ingin disini sampai Reno sadar," tolaknya keukeh.


"Vie kamu boleh khawatir sama Reno, tapi pikirkan juga kondisimu. Kamu sedang hamil, seharusnya kamu lebih banyak istirahat."


"Tapi Gev-"


"Gak ada tapi-tapian ikuti saranku. Kamu kembali keruanganmu. Sekarang lebih baik kamu tidur, biar aku yang jaga Reno," sela Gevan tegas.


Vierra diam, tapi pandangannya trus menatap kearah Reno. Ia berharap kalau kelopak mata itu akan terbuka. Vierra menghela nafas panjang. Tangannya mengambil tangan kiri Reno, lalu ia kaitkan dengan jemari kedua tangannya. Sebuah kecupan disertai tetesan air mata mendarat di tangan Reno. Vierra berusaha menahan isak tangisnya. Bagaimanapun ia tidak ingin kembali menangis apalagi saat larut malam begini.


Ceklek...


Pintu ruangan dibuka membuat Gevan mengalihkan pandangannya. Leon tersenyum lalu melanjutkan langkahnya menghampiri Reno yang tengah terbaring lemah diatas ranjang.


"Pak Leon....," pekik Vierra terkejut. Leon masih menampilkan senyumannya dengan tangan yang menaruh pastel buah-buahan diatas meja.


"Maaf..., aku baru bisa menjenguk Pak Reno sekarang, tadi ada urusan mendadak dan setelah urusanku selesai baru mampir lagi kerumah sakit. Bagaimana kondisi suami anda nona Vierra?"


"Sayang sekali..., kenapa Pak Reno harus mengalami kecelakaan separah ini. Hmm..., kalau bukan karna nona Rossi mungkin mereka gak akan mengalami kecelakaan."


"Maksud anda?"


"Iya, maksudku sebelum kecelakaan pasti nona Rossi mendesak Pak Reno. Akhir-akhir ini dia mengalami depresi dan trus mengejar Pak Reno tentang kasus yang menimpanya. Andai Pak Reno bersedia bertanggung jawab, mungkin keadaannya tidak akan seperti sekarang ini."


Vierra masih diam menatap Leon dengan tatapan penuh keheranan. Menimbang-nimbang lagi ucapan yang barusan ia dengar.


"Pak Leon mengetahui kasus pemerkosaan itu?" Leon menatap kearah Vierra sekaligus mengangguk cepat, "Benar nona, siapa yang tidak tahu tentang kasus itu. Kabarnya menyebar luas bahwa Pak Reno lah yang harus bertanggung jawab atas kehamilan nona Rossi," balasnya dengan nada santai.


"Ekhemm..., maaf Pak Leon!"


Gevan jalan menghampiri disertai tatapan mengintimidasi, seolah meremehkan ucapan yang barusan ia dengar. Sungguh konyol, fikirnya begitu.


"Bukannya, seharusnya anda yang harus bertanggung jawab atas kehamilan Rossi?" Leon bungkam, seolah baru saja Gevan mengalahkan sandiwaranya. Tapi Leon tetaplah Leon dengan seribu macam cara, "Kenapa mesti saya? Oh..., apa karna saya juga terlibat dalam pemerkosaan nona Rossi, begitu maksud anda Pak Gevan?"


Gevan menyunggingkan senyum miringnya, "Pak Leon apa anda tau tentang satu paribahasa?" Gevan menjeda ucapannya, bermaksud memancing Leon untuk menjawab, "Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi maka baunya akan tercium juga. Bukan begitu Pak Leon? Lagipula tidak baik membicarakan orang yang sudah tiada. Saya takut Rossi tidak tenang, dan justru gentayangan karna seseorang yang semestinya bertanggung jawab atas kehamilannya itu justru kabur seperti pengecut."

__ADS_1


Leon menatap tajam kearah Gevan. Kerutan di dahinya menandakan adanya emosi yang sengaja ditahan, ditambah Gevan bisa melihat kedua tangan Leon yang mengepal kuat, membuatnya seakan berhasil membocorkan kartu as laki-laki itu.


Flashback On.


Malam itu, saat Reno datang kerumah besar setelah perbincangan panjang diruang keluarga, saat itu juga Gevan menghampirinya dikamar.


Gevan datang memberi saran-saran serta membantu menghilangkan rasa cemas dalam diri Reno. Bagaimanapun saudaranya itu akan segera menikah, seharusnya Reno lebih fokus ke pernikahannya tersebut daripada mencari tahu tentang kasus pemerkosaan Rossi yang masih belum menemukan kejelasan lebih lanjut.


"Ren..., udahlah biarin Kakek yang mengurus masalah pemerkosaan itu, lebih baik sekarang kamu fokus sama pernikahanmu dengan adik ipar. Tinggal beberapa hari lagi Ren, jangan karna masalah Rossi justru menghambat pernikahanmu."


"Gak akan Gev! Pernikahanku sama Vierra akan tetap dilanjut, cuman aku gak akan tenang sebelum mengungkap jati diri Leon ke polisi."


"Leon? Maksudmu?"


"Iya, orang yang udah memperkosa Rossi dia adalah Leon. Leon Aditya Markus, aku benar-benar ingin membuatnya mengakui perbuatan bejatnya itu kepolisi, tapi sialnya aku gak punya banyak bukti buat nyudutin dia sekarang ini."


Gevan diam. Otaknya masih mencerna ucapan Reno mengenai laki-laki bernama Leon. Hatinya sangat penasaran mengenai siapakah sosok Leon. Setidaknya Gevan ingin mengetahui lebih jelas mengenai data diri laki-laki tersebut.


"Trus rencanamu apa Ren?"


"Kamu benar, aku harus fokus ke pernikahanku..., tapi setelah menikah aku akan cari bukti buat jeblosin Leon ke penjara. Laki-laki brengsek itu harus menanggung perbuatan bejatnya."


"Oh iya Gev...."


"Hm..., apa?"


"Tolong awasi gerak gerik Leon selama aku gak ada. Aku gak ingin dia merencanakan sesuatu yang buruk ke keluarga kita nanti."


"Baiklah, aku akan mengawasi dia."


"Dan satu lagi Gev."


"Apa lagi?"


"Ini mengenai Vierra...."


"Adik ipar? Ada apa dengan dia?" Gevan yang awalnya diam, namun seketika membola kaget setelah mendengar ucapan dari Reno.


"APA KAMU GILA?"


Flashback Off.


*****

__ADS_1


Bersambung.....


Tinggalkan Vote, Like serta Komentar positif ya dan bantu naikkin rate kasih bintang 5 terimakasih 🙏


__ADS_2