
Vierra dituntun Reno untuk masuk kedalam rumah besar. Dengan hati yang mantap dan yakin Vierra tersenyum saat kakinya melangkah, namun hanya berkisar beberapa langkah seorang pelayan datang menyambutnya.
"Selamat datang, Tuan muda dan Nyonya muda. Selamat atas pernikahan Tuan dan Nyonya. Izinkan saya memperkenalkan diri. Saya pelayan baru yang menggantikan ibu saya yang sedang cuti karna sakit. Tuan dan Nyonya muda bisa panggil saya Inesti. Saya ditugaskan oleh Bu Tika untuk melayani Nyonya muda."
"Makasih, Ines. Sepertinya kamu masih sangat muda, yakan Ren? Eh maksudku Mas Reno?" Reno menoleh kesamping, menatap Vierra dengan gelagat sedikit gugup.
"Iya, kamu benar sayang," balas Reno mengangguk.
"Umurmu berapa, Nes?" Sekarang pandangan Reno beralih kearah pelayan mudanya tersebut.
"Saya baru lulus SMA tahun kemarin, Tuan muda. Ibu bilang cari pekerjaan sangat sulit, jadi saya yang menggantikan ibu sementara ini." Ines tersenyum seraya sesekali menunduk, karna kata ibunya dia harus benar-benar menghormati sosok tuan mudanya.
"Oh gitu, bagus. Kamu emang anak yang baik, karna bisa bantu ibumu kerja. Aku harap kamu bisa kerja dengan baik. Siapa nama ibumu?"
"Bu Lastri, Tuan," balas Ines sopan.
"Oh, Bi Lastri. Beliau sangat baik, jadi Ines selama ibumu cuti tolong layani istriku ini sebaik mungkin ya, karna kadang kalau aku sibuk aku jarang pulang kerumah," tutur Reno membuat Vierra menatapnya.
"Gak usah berlebihan begitu, Mas! Lagian aku bisa ngelakuin semuanya sendiri, kalau emang susah baru aku minta bantuan ke Ines. Dia masih sangat muda. Aku jadi ngerasa kasian," tukas Vierra setengah berisik, karna takut kalau Ines mendengar.
Entahlah, saat melihat Ines apalagi penjelasan dari gadis itu, membuat hati Vierra tersentuh. Nasib gadis itu hampir sama seperti dirinya dulu. Vierra mengingat kembali, saat masih SMA, ibunya dulu memang pernah sering jatuh sakit. Ia sampai harus bekerja part time mengambil jam malam, karna mengingat keluarganya jauh dari kota dan hanya dia yang bisa membantu ibunya setelah ayahnya meninggal dunia.
"Gak gitu sayang aku hanya ingin memastikan kamu dapat pelayanan yang baik," ujar Reno begitu lembut.
"Gapapa, Mas. Dengan tinggal disini aja udah buat aku seneng, jadi jangan terlalu di forsir mereka untuk trus kerja. Biarkan Ines istirahat. Dia juga butuh istirahat yang cukup, lagian aku juga bisa ngelakuin sendiri." Sebuah senyuman mengembang dari sudut bibir Reno. Mendengar penuturan sang istri, membuat hatinya menghangat. Reno semakin beruntung karna tlah memilih Vierra sebagai istrinya. Vierra tak hanya memiliki hati yang sangat baik, tapi juga rasa kepedulian yang tinggi membuatnya begitu dewasa.
Dulu Reno hanya mengira seorang pelayan berkewajiban untuk melayani sang majikan, tanpa niat membantah, tapi setelah dipikir lagi pelayan juga adalah manusia yang seharusnya kita hormati terlebih lagi dengan pelayan yang lebih tua. Meski derajat membedakan, tapi sopan santun dalam tata krama harus tetap dilakukan dan Reno baru mengetahui hari ini dari bibir sang istri.
"Sayang.... rasanya aku makin jatuh cinta sama kamu."
"Apasi! Malu tau, ada Ines!" sungut Vierra terpaksa tersenyum saat ucapan Reno terdengar sedikit keras, bahkan Ines sampai mendongak menatap dengan senyuman.
"Lho! Kenapa malu? Aku hanya mengutarakan isi hatiku, sayang... Lagian Ines juga gak masalah kalau denger, yakan Nes?" Ines terlonjak kaget tiba-tiba Reno menatapnya, membuatnya merasa tidak enak.
"Ah! Iya, Tuan. Saya bahagia. Semoga Tuan dan Nyonya muda segera mendapatkan momongan," balas Ines masih sopan.
"Hahahahahaha..... Amin. Masih proses dibuat Nes, kalau udah jadi aku beritahu."
"Apasi! Ngawur!!!" celetuk Vierra dengan pipi yang sudah semerah tomat.
*****
"Sayang... Tolong ambilin aku handuk dong!" teriak Reno dari kamar mandi.
__ADS_1
Vierra yang sibuk memilah baju, serta memasukkannya semua kedalam koper itu harus menoleh kearah kamar mandi. Reno sudah hampir 30 menit didalam kamar mandi, entah apa yang suaminya lakukan atau bersemedi ia juga tidak tahu. Kenapa dia sangat lama, harusnya laki-laki kalau mandi tidak memakan waktu lama berbeda dengan perempuan.
"Iya, Tunggu!" Vierra yang semula membungkuk untuk memasukkan baju-baju dikoper yang ada diatas ranjang, kini harus menegak disambi berjalan kearah gantungan untuk mengambil handuk putih.
"Buka sedikit pintunya, ini handuknya udah aku ambilin," ujar Vierra seraya mengetuk dua kali pintu kamar mandi.
Ceklek...
"Astagfirullah Reno! Aku bilang buka sedikit bukan dibuka semuanya begini! Iihhhh kamu gimana si!!!"
"Maaf sayang, hehehehe.... Kalau dibuka begini biar muda ngambil handuknya, lagian ngapain tutup mata coba. Kita ini udah halal sayang..." Reno cengegesan dengan tangan yang mengambil handuk putih, tapi saat melihat Vierra menutup kelopak matanya membuatnya tak kuasa tertawa pelan. Istrinya ini sangat lucu, fikir Reno begitu.
"Apasi! Gak lucu!" Vierra langsung berbalik dan melangkah setengah lari agar menjauh dari pintu kamar mandi.
"Hahahahahaha... SAYANG GAK MAU MANDI BARENG GITU?"
"GAK! AKU UDAH MANDI YA!"
"YA MANDI LAGI DONG! AYO SINI TEMANI AKU MANDI TRUS KITA SAMBIL MAIN."
"RENOOOOO DIAM! UDAH SELESAIIN AJA MANDINYA!"
Begitulah saat Vierra dan Reno saling sahut-sahutan. Reno yang trus menggoda istrinya, sedangkan Vierra merasa malu sekaligus jengkel. Kemesuman Reno sudah mendara daging, ia harus berhati-hati, ujarnya dalam hati.
*****
"Hati-hati, Ren! Kalau bisa pulangnya jangan buru-buru. Kamu nikmati waktu berdua sama menantu mama selama mungkin. Pokoknya pas pulang, mama pingin denger kabar kehamilan Vierra," ujar Ny. Elma setengah teriak yang kini beliau berdiri diteras depan dengan memandang kaca mobil menampilkan wajah Reno yang tersenyum melambai.
"Siap mama, pokoknya sekali buat pasti jadi. Kan kualitas spermaku top markotop-"
"Awhhh... Sakit sayang!" rintih Reno dengan mengeluh ditangan kirinya. Baru saja Vierra mencubit kecil lengannya, walau begitu terasa ngilu seperti disuntik jarum.
"Omonganmu, jangan begitu! Jangan frontal juga malu tauu!" celoteh Vierra membuat guratan di dahi seakan memperlihatkan kekesalannya.
"Iya sayang maaf, maaf. Kamu malu trus perasaan, dibilang jangan malu-malu. Pak Budi aja gak keberatan dengerinnya, yakan Pak?" Reno menatap kedepan, seolah meminta pembelaan dukungan ke arah sopirnya.
"Iya, Tuan. Saya tidak masalah mendengarnya, malahan saya memuji anda. Sepertinya calon bayi anda nanti sangat tampan dan cantik," balas Pak Budi dengan acungan jempol.
"Nah itu kamu dengerin, Pak Budi aja tau kalau aku emang punya bibit yang berkualitas sayang...."
"Serah kamu," sungut Vierra menatap ke arah lain, asal bukan kearah Reno. Masih pagi, tapi suaminya itu slalu membuatnya merona malu.
"Ren! Pokoknya inget kataku, kalau pas buatnya harus pelan-pelan, jangan kasar! Kasian nanti adik ipar." Gevan ikut bersuara yang mendapat acungan jempol dari Reno.
__ADS_1
"Hati-hati, ya kalian!"
"Dah Reno, dah adik ipar!"
Akhirnya mobil Mercedes hitam berhasil keluar dari karangan rumah dan kini melaju seperti tujuan utama yaitu ke Bandara.
Tak butuh waktu lama, karna mungkin bertepatan hari minggu pagi masih tidak terlalu macet, jadi memudahkannya segera sampai di Bandara Soekarno-Hatta.
Cittt....
Reno keluar lebih dulu yang diikuti oleh Vierra dari sisi pintu mobil sebelah kiri, lalu Pak Budi membuka pintu kap bagasi untuk mengeluarkan beberapa koper.
"Tuan muda dan Nyonya muda hati-hati ya. Saya doakan bulan madu Tuan lancar," tutur sang sopir sembari menutup pintu kap bagasi karna merasa semua koper sudah ia turunkan.
"Baik, makasih Pak Bud." Reno tersenyum menggaret dua koper di tangan kanan dan tangan kirinya, sedangkan Vierra hanya membawa tas kecil yang diselemparkan miring dibahunya.
"Sini aku aja yang bawa," ujar Vierra dengan tangan yang akan menggapai koper hitamnya.
"Gak usah sayang, biar aku aja," sela Reno menolak halus. Vierra diam, meski ada rasa tidak enak, tapi ia tidak berani membantah.
"Yaudah, kita pergi dulu, ya Pak Bud."
"Iya, Tuan. Hati-hati...." Dengan mengangguk Reno dan Vierra akhirnya mulai jalan masuk kedalam bandara.
Suasana didalam bandara meski pagi, tidak membuat sepi pengunjung, malahan terlihat padat karna banyak orang yang berlalu lalang.
"Sayang, kamu jalan di sampingku aja biar bisa ngimbangi langkah kakiku," tutur Reno menengok ke arah sebelah kanannya.
"Iya, ini aku udah disamping kamu," balas Vierra pelan. Reno tersenyum dan lanjut melangkah, namun tiba-tiba kedatangan seseorang yang tanpa sengaja membuat mereka terkejut dan memaksa berhenti.
"Reno! Vierra! Kalian mau kemana? Kebetulan banget kita bisa ketemu disini," ujar Gerald dengan tersenyum disambi tangan kanan yang memegang koper coklat serta gantungan kamera yang terkalung di lehernya.
"Oh! Kita mau bulan madu," balas Reno malas.
"Oh iya, selamat atas pernikahan kalian, maaf aku gak bisa datang karna sibuk kerja. Ini aja mau ke Paris buat pemotretan modelku disana."
"Perasaan aku gak ngundang," tukas Reno datar, membuat Gerald terpaksa terkekeh.
*****
Bersambung....
__ADS_1
Tinggalkan jejak, like, vote dan komentar ya. Tolong kasih vote dan rate 5 juga, agar makin semangat. Sebelumnya terimakasih banyak karna berkenan membaca cerita ini🙏
Note: Oh iya anggap aja kasus covid-19 gak makin parah biar aku bisa buat cerita Reno dan Vierra yang bulan madu ke luar negeri, tanpa halangan yang bisa membuat cerita ini jadi janggal atau aneh. Semoga kasus Covid-19 segera hilang dan kita semua dijauhkan dari segala penyakit. Amin🙏