Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Nikah Siri?


__ADS_3

Gevan jalan masuk kedalam kamar dengan masih tertawa. Ia tanpa malu-malu berdiri menatap kearah Reno yang sudah ikut berdiri, meski rasa nyeri masih melanda selangkangannya.


"Ngapain kesini? Ganggu aja!"


"Ehh siapa yang ganggu, salah sendiri pintunya gak di tutup. Untung bukan kakek atau mamamu yang liat, kalau mereka bisa-bisa malam ini kamu udah harus menikah," sela Gevan tidak terima.


"Bagus! Lebih cepat lebih baik, yakan sayang?"


"Apasii! Ngawur!!!" Vierra berseru kesal, sedangkan Gevan semakin tertawa. Menurutnya pasangan ini benar-benar lucu, mengingatkannya lagi pada hubungannya dengan Amanda.


Ia menghembuskan nafasnya, mengingat masih belum berhasil menemui kekasihnya itu. Amanda terlalu sibuk, meski ia mengerti kalau pekerjaan Pramugari memakan banyak waktu untuk tidak saling bertemu, tapi Gevan tetap berusaha sabar dan menanti sampai Amanda mempunyai waktu luang.


"Aku pulang karna aku denger kata mamamu Rossi tadi kesini. Dia buat keributan apa lagi? Drama besar? Sepertinya dia cocok dinobatkan sebagai The Next Drama Queen."


Tawa renyah kembali terdengar. Reno hanya mendengus kesal, seolah tidak tertarik dengan ucapan Gevan. Mendengar saudaranya menyebut nama Rossi, membuatnya jadi enggan bersemangat.


"Dia memang ratunya drama!" sembur Reno datar.


"Adik ipar, kalau pas malam pertama Reno berbuat kasar, tendang aja burungnya. Aku jamin dia akan takut denganmu, dan jadi nurut kayak anak itik dengan induknya."


"Sialan GEVAN!!!" Reno geram, ia bahkan kini memancarkan wajah murka seakan ingin menyerang Gevan, tapi dengan gesit laki-laki yang lebih pendek darinya itu menghindar dengan keluar dari kamar.


Vierra hanya tertawa pelan. Ucapan Gevan yang konyol dan ceplas-ceplos, membuat suasana menjadi lebih seru. Vierra jadi tahu, kalau saudara Reno itu mempunyai sifat yang humoris.


*****


Keesokan harinya suasana di ruang makan mulai sedikit ramai. Vierra datang dengan wajah kebingungan, seolah melihat ke beberapa arah. Terlihat masih banyak kursi yang belum terpenuhi hanya saja pelayan sudah menyajikan beberapa makanan untuk makan pagi.


"Ehh... udah bangun kamu, Vie!" Vierra tersenyum melihat Ny. Elma yang datang dengan membawa piring untuk ditaruh diatas meja makan. Wanita itu menghampirinya dengan senyuman mengembang.


"Kamu emang anak yang rajin, gak kayak Reno sama yang lainnya. Mereka semua susah dibangunin, tapi kalau begini mama jadi gak sendirian. Mama merasa punya anak perempuan lagi selain Aily," ujar beliau masih dengan senyuman hangat.


"Iya dong ma! Calon istriku kan emang rajin. Udah cantik, manis, rajin emang cocok jadi istri idaman dan menantu mama."


Vierra menatap kearah belakangnya, ada Reno yang tiba-tiba datang dengan berujar santai. Kini laki-laki itu menampilkan senyuman menawan dan langsung mengecup kening Vierra tanpa rasa malu.


"Selamat pagi sayang..." Reno langsung beralih menarik kursi disamping Vierra, sedangkan calon istrinya masih shock akibat perilaku senonoh Reno dipagi hari. Apa-apaan si dia, pikirnya dalam hati.


"Sayang, kok bengong. Sini duduk temenin aku makan, masalah ciuman tadi nanti aku kasih lebih kalau kita udah halal, yakan ma?"


"Mama setuju Ren. Oh iya mama pesen cucu yang imut ya kalau bisa perempuan. Mama pengen banget nimang anak perempuan yang lucu," imbuh sang ibu yang kini duduk dihadapan Reno.

__ADS_1


"Siap ma. Tenang aja, nanti aku kasih cucu yang banyak buat mama biar rumah ini makin ramai. Yang aku tau banyak anak banyak rezeki, jadi mungkin 5 atau gak 6, gimana menurut mama?" tanya Reno, mendapat anggukan setuju dari ibunya.


"Terserah kamu, Ren. Vie! Ayo duduk..." Vierra kembali tersentak saat mendengar penuturan Ny. Elma. Ia akhirnya menurut dan terpaksa duduk dikursi dekat dengan Reno.


"Udah ngumpul aja ini," ujar Gevan yang kini ikut menarik kursi di hadapan Vierra.


"Ma, kok kakek belum datang?" tanya Gevan saat melihat kursi yang diduduki sang kakek masih kosong, bahkan beberapa kursi dari Elson dan Ernest lainnya juga kosong.


"Kakekmu udah pergi dari tadi, katanya mau ngurusin proyek yang di tanah dekat Kuningan. Dan mamamu, Gev, dia ada jadwal operasi pagi makanya buru-buru pergi."


"Operasi pagi?"


"Iya, pasiennya yang kena leukimia itu katanya udah sangat parah," balas Ny. Elma lagi sembari memberi penjelasan.


Ibunya Gevan memang seorang dokter. Ny Gasella selaku menantu kedua dari keluarga Barack disuruh berhenti kerja, karna memang masih ada sang suami. Nyatanya setelah Tn. Gibran meninggal, membuat Ny. Gasella kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai dokter disalah satu rumah sakit ternama di Jakarta.


"Ehh Kak Elson..." sapa Reno yang mendapat dehaman pelan dari laki-laki berkumis tersebut. Elson datang sendirian dan langsung duduk di kursinya tepat disamping Gevan.


"Gak sama Dion dan Kakak ipar?" Gevan kembali bertanya, saat Elson sudah mulai membalikkan piring putih diatas mejanya.


"Dion sakit deman, tapi udah di periksa sama Dokter Danu katanya demam ringan, makanya dia gak datang kesini."


"Kak Ernest sama Mbak Diva juga gak datang. Padahal pengen main sama Keilo." Raut wajah Gevan menjadi muram, memikirkan anak dari kakaknya itu tidak datang juga ke rumah.


"Iya mama juga heran. Gev! telfon Ernest, bilang kapan mau pulang. Mama kangen sama Keilo," ujar Ny. Elma merasa ada yang kurang, pantas sepi karna dua jagoan kecil yaitu Dion dan Keilo tidak ada dirumah.


"Kak Ernest sibuk banget, Ma. Malahan kata Mbak Diva, kakak itu lagi nanganin proyek yang ada di Palembang," balas Gevan disertai hembusan nafasnya.


"Oh iya, Ren!" Reno menatap kearah Elson.


"Gimana dengan Rossi? Kamu benar-benar gak ngehamilin dia kan?" Kening Reno berkerut, seolah tidak senang dengan pertanyaan Elson.


"Aku gak ngehamili dia, Kak! Tidur aja gak pernah, gimana mau ngehamilin dia!" celetuk Reno dengan nada kesal.


"Bukan Reno yang ngehamili Rossi, El! Tapi Rossi hamil dari anak laki-laki lain." Ny. Elma ikut menimpali dan memberi penjelasan yang sempat Elson tidak ketahui.


"Tapi kata kakek, Pak Wingky ingin nuntut kita?"


"Cuman gertakkan itu, Kak!" Kini Gevan ikut nimbrung mencoba membela posisi Reno.


"Ren! Kalau emang kamu gak salah, yaudah jangan takut. Lawan aja mereka. Aku akan mendukungmu, tapi kalau mereka ingin bicara dengan kekeluargaan trus apa yang bakal kamu lakuin?"

__ADS_1


"Bicara kekeluargaan seperti apa, orang Pak Wingky ngotot seolah aku yang udah hamilin Rossi."


"Ya maksudku, mungkin aja ada cara lain agar Pak Wingky gak nuntut kamu. Mungkin... dengan cara kamu menikahi Rossi."


Tepat kalimat terakhir, Reno meletakkan keras sendok aluminiumnya, seolah ia banting diatas meja. Reno kini menatap tajam kearah Elson.


"Aku gak akan nikahin dia, Kak! Aku hanya akan menikahi Vierra, jadi jangan paksa aku untuk nikahin orang yang gak aku cintai," ujar Reno memberi penegasan.


"Aku gak maksa kamu, Ren! Hanya saja ini mungkin akan terjadi, kalau nanti Pak Wingky ingin kamu tanggung jawab ya dengan cara harus menikahi Rossi."


"Kak Elson! Reno gak perlu nikah sama Rossi. Dia aja gak salah sama sekali, ngapain harus nikahin itu cewek!" Gevan ikut terpancing, sedangkan Elson menghembuskan nafasnya sesaat, mencoba merendam beberapa kalimat yang belum ia ucapkan karna tlah lebih dulu dipotong oleh kedua adiknya.


"Maksudku gini lho. Pak Wingky adalah rekan kerja yang lama banget sejak ayahmu masih ada, Ren. Kalau bisa dibicarakan secara kekeluargaan ya apa salahnya. Kalau hal ini sampai lanjut ke jalur hukum, bisa aja beliau mempunyai rencana lain yang bisa membuat saham Perusahaan menurun. Yang aku tau Pak Wingky bukan orang yang mudah kita remehkan, pengaruhnya sangat kuat, apa kamu gak nyesel kalau harus kehilangan beberapa kolega bahkan mengalami penurunan saham karna kasus ini."


"Tua bangka itu sangat licik," Sungut Gevan dengan nada geramnya.


"Ya, itu kamu akhirnya tau, Gev," sambung Elson mengangguk setuju.


"Lagian kalau menikah juga gak perlu harus ke KUA."


"Maksud Kak Elson?" Alis Gevan terangkat bingung, justru dirinya yang tertarik dalam pembicaraan ini, sedangkan Reno hanya diam seolah malas berdebat.


"Reno bisa menikahi Rossi secara Siri, dan pernikahannya dengan Vierra akan tetap lanjut. Anggap aja untuk menutupi siapa ayah sebenarnya dari anak yang dikandung Rossi agar Pak Wingky gak nanggung rasa malu karna merasa lega, setidaknya Reno udah nyelamatin harga diri Rossi yang hamil diluar nikah."


Hening. Ucapan Elson membuat semua orang diam, seperti menimbang dan memikirkan saran atau bisa disebut kemungkinan kecil agar permasalahan yang terjadi tidak berakhir menjadi besar.


"Tetep mama putuskan semuanya sama kamu, Ren. Aslinya mama juga gak rela kamu harus nanggung anak dari Rossi yang jelas-jelas bukan cucu mama, tapi apa boleh buat. Mama ikut keputusanmu aja, yang penting kamu sama Vierra tetap menikah." Reno menatap kearah ibunya, lalu kini ia menatap kesamping, tepat saat kepalanya menengok saat itu juga Vierra juga sedang menatapnya.


"Aku gak pingin ngeduain kamu, Ra. Aku juga gak mau harus nikah sama Rossi, karna orang yang aku cintai itu kamu bukan dia." Reno meraih tangan kanan Vierra dan menggenggamnya erat.


"Ren, masalah ini pasti ada jalan keluarnya," ujar Vierra dengan nada yakin. Dalam hatinya masih terbesit rasa keyakinan yang besar, agar permasalahan yang sekarang ia hadapi bersama dengan Reno mempunyai titik terang.


"Aku kefikiran, kenapa gak ngeliat rekaman CCTV nya aja pas di hotel, mungkin disana kita bisa liat kronologi kejadian Rossi waktu di ulang tahun mamamu."


"CCTV?" Vierra menggangguk cepat.


"Yang dikatakan adik ipar benar. Ren, kita harus liat lagi rekaman CCTV itu, dengan begitu kita bisa tau siapa laki-laki yang udah memperkosa Rossi," usul Gevan mendapat tatapan penuh dari semua orang.


_____•••••_____


Bersambung Like, Vote dan Komentar ya makasih 😊

__ADS_1


__ADS_2