Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Reno Vs Leon


__ADS_3

Leon ikut berdiri, karna merasa banyak pasang mata yang menatap kearahnya. Bagaimanapun ia tidak ingin menodai reputasinya hanya karna sebuah perkelahian dengan Reno. Laki-laki yang dibawah umurnya itu, cukup mempunyai pengaruh yang bisa saja menurunkan reputasinya.


"Tenangkan diri anda Pak Reno. Saya tadi hanya bercanda, hahahahahaha.... anda terlalu terbawa suasana. Saya ingin membuat suasana menjadi tidak tegang, harusnya anda paham itu," ujarnya sembari tersenyum.


"Saya rasa lelucon anda tidak lucu sama sekali Pak Leon! Bahkan tidak sepantasnya anda mengatakan hal itu." Reno melepaskan satu kancing atas dari kemejanya. Hatinya menjadi panas, bahkan seperti ada bendungan lava yang akan segera ia semburkan kearah Leon.


"Iya saya mengerti, kalau begitu saya minta maaf. Saya akan berhati-hati dalam bicara dengan anda," balas Leon membuat Reno menatap jengah.


"Saya tidak main-main Pak Leon! setelah menemukan bukti saya akan langsung menjebloskan anda ke penjara! Ingat itu!" Gertakkan disertai nada ancaman Reno seolah masih belum bisa membuat Leon menggigit bibir atau menatap dengan terkejut. Pasalnya, ia tetap tersenyum seperti akan siap menerima tantangan dari lawan bicaranya.


"Baiklah, saya akan menantikan itu. Kita lihat siapa yang akan menang nantinya, dan pastikan anda tidak akan kehilangan apapun setelah berani mengancam saya saat ini!" Leon menunduk seraya memberi penghormatan terakhir kali, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Reno yang masih menatap punggungnya dengan sangat tajam.


Langkah kaki Leon terdengar santai masih diselingi senyuman miring, hingga tepat di depan Restoran ia merogoh saku di jasnya.


"Pak Nav! Aku ingin data mengenai calon istri dari Reno Al Barack. Kirim malam ini di email, lakukan serapi mungkin. Aku ingin mengetahui latar belakang wanita itu."


Panggilan Terputus.


Leon memasukkan lagi ponselnya kedalam saku jas, setelah berhasil memerintah sekretaris pribadinya itu. Sekarang tujuannya adalah rumah, namun tiba-tiba sebuah getaran di ponselnya membuat ia buru-buru mengambil benda persegi tersebut.


Ada sebuah pesan dengan nomor tidak diketahui.


Mas aku ingin bertemu denganmu.


Malam ini ya kalau bisa.


Ada yang ingin aku bicarakan.


Leon menghembuskan nafasnya. Fikirannya kembali tidak tenang, saat mantan istrinya itu mengganggunya lagi.


"Untuk apa dia ingin bertemu, padahal aku udah bilang jangan menemuiku lagi. Dasar wanita kampungan gak tau malu." gumannya dalam hati.


Sedangkan itu di dalam Restoran Reno juga mendapat panggilan telfon dari Manajer di hotelnya.


Panggilan Tersambung.


"Tuan Reno!"


"Iya ada apa, Pak Vitto?"


"Saya sudah menemukan dimana alamat rumah yang terbaru dari cleaning servis itu." Mata Reno terbelalak kaget mendengar informasi dari Manajer yang ia suruh. Pasca resignnya sosok Dahlia yaitu orang yang sudah membersihkan kamar 203, saat itu juga ia menyuruh Manajer hotelnya untuk melacak keberadaan wanita itu.

__ADS_1


"Dimana rumahnya Pak?"


"Sekarang Dahlia tinggal di (Alamat rumah) tepatnya ada di Bekasi, Tuan"


"Bekasi?"


"Benar, Tuan Reno. Apa anda akan langsung menemui Dahlia?"


"Ya, Pak Vitto! Aku ingin minta keterangan langsung dari wanita itu. Dia harus berkata jujur karna dia bisa aku jadikan sanksi mata."


"Baiklah, kalau begitu. Saya sarankan anda berhati-hati, Tuan! Karna saya takut Pak Leon akan menyabotase semua bukti. Maaf, saya hanya bisa membantu anda dengan ini."


"Gak masalah, Pak. Jika dia licik, maka aku bisa lebih licik. Untuk itu tetap kontrol perkembangan hotel seperti biasa."


"Baik, Tuan. Kalau ada kabar terbaru langsung saya beritahu anda."


"Terimakasih Pak Vitto."


Panggilan Terputus.


"Akhirnya aku bisa menemukan wanita itu. Liat aja Pak Leon, kau akan tetap menanggung semua ini. Orang yang seharusnya bertanggung jawab atas kehamilan Rossi bukan aku tapi kau. Akan aku pastikan kau menebus perbuatanmu di penjara." batin Reno memburu, diselingi kekesalan rasa ingin membuat Leon mendekam dibalik jeruji penjara.


*****


Citt...


Reno menghentikan laju mobilnya, karna merasa pusing. Alamat yang ia baca dari layar ponselnya, memakan hampir 30 menit ia hanya bolak balik disekitar tempat yang sama. Rasanya, ia ingin berteriak. Kenapa alamat rumah Dahlia sulit ditemukan. Apa wanita itu tinggal di sebuah perkampungan kecil, karna yang Reno lihat hanyalah beberapa rumah berdekorasi besar.


"Aku harus keluar dan tanya soal alamat ini," gumannya dengan penuh keyakinan. Reno keluar dari mobil dan menatap ke berbagai tempat sampai ia melihat sosok ibu-ibu memakai daster.


Reno menghampiri ibu itu dan langsung bertanya, "Permisi, Bu. Saya ingin tanya, apa ibu tau alamat rumah ini?" Tangan kanannya menyodorkan ponsel dengan layar yang masih menyala, lalu ibu itu mengangguk.


"Ya, aku tau alamat ini. Lurus saja trus, sampai ada pertigaan, nah tepat didekat orang jualan nasi ada sebuah gang. Kamu bisa masuk gang itu dan cari rumah nomor 15. Kelihatan banget kok, Nak. Kalau gak salah warna temboknya hijau. Orang yang tinggal dirumah itu masih baru pindah beberapa hari yang lalu. Apa kamu temannya?" Alis Reno terangkat bingung.


"Ah... iya, Bu. Yasudah terimakasih, saya akan menemui teman saya dulu," balasnya disertai senyuman membuat ibu tersebut mengangguk.


Reno langsung pergi dan masuk lagi kedalam mobil. Akhirnya ia berhasil menemukan alamat rumah Dahlia. Reno melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dengan menengok ke kaca samping seperti arahan dari ibu tersebut dan akhirnya sebuah senyuman mengembang.


"Ini dia gang yang di maksud ibu tadi." Reno mengehentikan mobilnya, dengan memarkiran di pinggir jalan, lalu keluar dari mobil. Suasana di sekitarnya sangat ramai karna memang bersebelahan dengan penjual makanan yang mangkrak.


Reno jalan memasuki sebuah gang. Baru beberapa langkah, ia melihat tiga anak kecil yang sedang berlarian, entah karna main atau melakukan kegiatan lainnya, ia hanya tersenyum sembari matanya mengelacak ke berbagai nomor di tembok atau pagar rumah.

__ADS_1


"Rumah nomor 15. Ahh itu dia," pekiknya dengan bernafas lega. Reno mendatangi rumah bercat hijau sampai akhirnya sosok perempuan baru saja keluar dengan menenteng kantong plastik warna merah.


"Wanita itu pasti Dahlia." Reno buru-buru mempercepat langkahnya, hingga setelah Dahlia berhasil membuang kantong sampah plastik tersebut barulah sebuah tangan mencekal pergelangan tangan kanannya.


"Tunggu! Kamu pasti Dahlia kan? Cleaning servis yang pernah bekerja di Hotel Gemilang?"


"Ya ampun! Tu-tuan Reno!!!" Dahlia terpengangah karna sangking terkejutnya. Bagaimana mungkin seorang bos besarnya dulu, sampai bisa menemuinya disini.


"Kamu Dahlia kan?" tanya Reno dengan mendesak.


"An.. an-uu, Tuan... sayaa-"


"Jangan takut! Aku kesini hanya ingin bicara denganmu dan menanyakan sesuatu," potong Reno melembut. Sorot mata yang semula terkejut dengan ada rasa takut, sekarang menjadi sedikit lebih tenang. Dahlia akhirnya bisa menetralkan degup jantungnya, lalu mengangguk, "Baik Tuan..." lirihnya sedikit gugup.


Reno melepaskan cekalan tangannya, karna merasa Dahlia sudah tidak ketakutan.


"Jawab dengan jujur, apa kamu yang udah membersihkan kamar hotel nomor 203 tepat setelah perayaan hari ulangtahun mamaku. Sekitar empat hari yang lalu. Kamu yang membersihkan kamar yang di pesan oleh Pak Leon kan?"


"Maksud, Tuan?"


"Iya kamu yang udah membersihkannya kan? Jawab saja! Apa kamu menemukan sebuah bukti dikamar itu. Kamar yang kamu bersihkan adalah kamar yang di pakai Pak Leon untuk memperkosa seorang wanita. Dan kamu tau, karna itu aku butuh bukti agar kasus ini segera tuntas, jadi jawablah dengan jujur! Apa kamu menemukan sebuah bukti di kamar itu?"


Hening. Sorot mata Reno yang kembali menajam, seolah akan menerkam mangsanya, membuat gelagat rasa takut menghampiri Dahlia. Gadis itu bahkan gemetar, tidak bisa menjawab seolah pertanyaan Reno berhasil menyudutkannya.


Brukk...


"Maafkan saya, Tuan... Tolong jangan hukum saya. Saya tidak tau apa-apa, saya hanya disuruh untuk membersihkan kamar tersebut," ujar Dahlia dengan bibir gemetar. Ia bersimpuh dengan kedua lutut ditekuk disertai kedua tangan memohon pengampunan.


"Jadi benar...." Reno tertawa tipis di sudut bibirnya, seolah tebakannya memang benar.


"Jawab dengan jujur Dahlia! Apa kamu menemukan bukti terkait peninggalan barang atau apapun tentang pemerkosaan yang dilakukan Leon?" Reno ikut jongkok dengan masih menatap tajam kearah Dahlia. Ia butuh kepastian dan wanita ini adalah satu-satunya kunci dari pertanyaannya.


"Saya tidak tau apa-apa, Tuan. Saya bersumpah, saat akan membersihkan kamar bekas Pak Leon, saya melihat dua orang laki-laki keluar dari kamar itu. Dan pas saya membersihkan kamar Pak Leon, saya sudah tidak menemukan apapun."


"Dua orang laki-laki?" ulang Reno yang mendapat anggukan menginyakan.


"Benar, Tuan. Orang itu berpakaian hitam rapi, saya pikir orang itu kerabat bisnis dari Pak Leon." Dahlia masih menjelaskan, namun dengan menunduk tidak berani menatap langsung manik coklat mata Reno yang masih menajam.


"Kalau kerabat bisnis gak mungkin. Oh... aku tau sekarang, orang itu pasti suruhan dari Pak Leon. Brengsekk, dia ternyata benar-benar berusaha menyembunyikan bukti apapun. Leon! Aku bersumpah akan membuatmu mendekam di penjara, harusnya dia yang bertanggung jawab atas kehamilan Rossi bukan aku. Laki-laki ********!!!" Dahlia hanya diam. Umpatan disertai nada sedikit meninggi membuatnya takut. Reno benar-benar seakan ingin membunuh seseorang.


*****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2