
Selepas kepergian Reno sekitar 10 menit yang lalu, masih tetap membuat hati Vierra tidak tenang. Laki-laki itu berpamitan untuk mengecek rekaman cctv di Hotel Gemilang seperti usulannya. Ia tidak bisa ikut, meski sangat ingin karna Reno berpesan untuk menyuruhnya pergi ke butik bersama dengan calon mertuanya, bahkan Reno juga yang minta cuti langsung ke Manajernya yang ada di Matahari. Laki-laki itu benar-benar sudah merencanakan semuanya secara rapi, dan kini Vierra hanya perlu mematuhi perintah dari sang calon suami.
"Vie..." Ny. Elma memanggilnya pelan dengan pakaian rapi menyusulnya yang berdiri diruang tamu.
"Ayo, mama udah siap. Reno nanti bakal nyusul kalau udah nyelesai'in urusannya di Hotel. Kamu gak perlu khawatir, mama percaya kalau Reno bisa atasi semuanya. Reno bukan anak yang pantang menyerah, jadi kamu jangan cemas ya, mending sekarang kita ke butik buat liat gaun pengantin yang akan kamu pakai nanti."
"Iya, mama..." Balas Vierra pelan, dan langsung menyambut tangan kanan calon mertuanya untuk ia pegang.
"Nyonya, mobil sudah siap," ujar Pak Budi selaku sopir yang akan mengantarkan langsung ke butik langganan majikannya tersebut.
"Baik, Pak Bud."
"Ayo Vie..." Vierra mengangguk dan jalan keluar dari rumah.
*****
Reno kini sudah sampai di depan Hotel Gemilang. Setelah keluar dari mobil, ia buru-buru masuk sampai tepat di lobi Hotel. Matanya mengedar ke berbagai tempat, ternyata Hotel ini masih sangat ramai meski di pagi hari. Seseorang dari kejauhan dengan seragam pekerja khas Hotel menghampirinya dengan sapaan hangat.
"Selamat pagi, Mister..."
"Iya, Pagi, Des." Kening Desi mengerut menatap heran bos besarnya itu.
"Mister Reno kenapa?" tanyanya bingung.
"Dimana Pak Vitto? Aku ingin bertemu dengannya."
"Pak Vitto ada diruanganya Mister, yaudah mari saya antar," ujar Desi memberi senyum ramahnya sembari mempersilahkan Reno untuk mengikuti langkahnya, namun di tengah perjalanan, sosok Pak Vitto yaitu Manajer Utama Hotel ini datang dengan sedikit terkejut.
"Tuan Reno! Anda datang kesini pagi sekali, apa anda tidak ada pekerjaan di kantor?"
"Pak Vitto, aku ingin melihat semua rekaman cctv saat pesta ulang tahun mama berlangsung. Tunjukkan padaku, semuanya, jangan ada yang terlewat sedikitpun." Reno memotong cepat tanpa basa basi, membuat Pak Vitto menatapnya bingung.
"Rekaman cctv?" ulang beliau masih kurang yakin.
"Iya, Pak! Aku butuh sekarang. Aku ingin melihat semuanya yang terjadi saat pesta ulang tahun mama berlangsung tempo lalu." Pak Vitto akhirnya paham, lalu beliau mengangguk mempersilahkan Reno untuk mengikutinya ke ruang monitor khusus untuk melihat rekaman cctv dari segala tempat yang ada di Hotel.
Akhirnya Reno sudah sampai, lalu masuk kedalam ruangan dengan banyak monitor layar komputer yang terpasang, memperlihatkan beberapa arena tempat yang terekam oleh kamera cctv. Dua orang penjaga yang bertugas melihat kedatangan Reno dengan terkejut, tapi tidak membantah dan justru mengangguk setelah mendapat perintah dari atasannya tersebut.
"Tunjukkan semua rekaman cctv saat pesta ulang tahun Nyonya Elma berlangsung, tepatnya tiga hari yang lalu. Hari Sabtu tanggal 29," ujar Pak Vitto memberi instruksi.
Reno dengan teliti melihat semua rekaman ulang dari pagi sampai akhirnya malam. Matanya tak pernah lepas dari layar monitor, sampai tepat di lorong ia melihat Rossi disana.
"Berhenti! Aku ingin rekaman ini, putar lagi lebih jelas." Reno menunjuk rekaman cctv yang ia maksud.
"Baik, Tuan," jawab salah satu pekerja itu bernama Arman.
Kening Reno mengerut memperhatikan dengan seksama saat Rossi jalan menelusuri lorong dengan langkah yang sedikit sempoyongan, hingga gadis itu masuk kedalam kamar.
"Zoom! Kamar nomor berapa itu?" tanya Reno spontan, membuat Arman menatapnya.
__ADS_1
"Sepertinya kamar nomor 203, Tuan," ujarnya yang dibalas ucapan tegas dari Reno, "Aku ingin data tamu yang pesan kamar itu."
"Kamar 203, sepertinya itu kamar yang di pesan oleh Pak Leon."
"Pak Leon?" Reno menatap kearah Pak Vitto, menunggu jawaban dari sang Manajer.
"Iya, Tuan Reno. Pak Leon adalah salah satu tamu VIP yang sering beberapa kali menginap di hotel ini," ujar Pak Vitto membuat geraman kesal terdengar seperti umpatan dari bibir Reno.
"Brengsek! Dia orangnya."
"Kenapa Tuan Reno? apa ada sesuatu dengan Pak Leon?"
"Beri aku datanya secara lengkap. Dia harus mempertanggung jawabkan atas perbuatan bejatnya," desis Reno dengan menahan amarahnya yang mulai tersulut. Akhirnya rasa penasarannya benar-benar terungkap, ia bisa menjadikan Leon sebagai bukti atas ketidak terlibatannya mengenai pemerkosaan yang menimpa Rossi.
"Apa Pak Vitto gak tau? Dia bahkan udah berani memperkosa seorang wanita dihotel ini, tepatnya di hotel ku. Dimana cleaning servis disini? Pasti mereka tau dan menemukan bukti tentang kamar nomor 203. Suruh orang yang membersihkan kamar itu menemuiku, aku ingin minta keterangan darinya." Reno menjelaskan secara detail, dengan tatapan seolah perintah dan itu membuat Pak Vitto tidak berani membantah.
"Baik, Tuan...."
*****
Reno harus keluar dari Hotel, setelah ia tahu orang yang membersihkan kamar tersebut sudah resign kemarin, sedangkan data mengenai laki-laki bernama Leon sudah ia dapatkan, tapi ia merasa tidak yakin kalau seorang CEO terbesar bahkan pernah mendapat gelar CEO muda yang sukses karna pengaruh pemasaran dari produknya sangat laku keras dipasaran itu, melakukan hal kotor dengan meniduri wanita lain.
Dari yang Reno baca sosok Leon Aditya Markus adalah seorang duda. Laki-laki itu seumuran dengan Elson. Mempunyai wajah yang rupawan dengan prestasi tak terhitung, naasnya tidak dengan kisah asmaranya. Perceraian yang terjadi sebulan yang lalu, ternyata cukup menghebohkan, tapi apa untungnya bagi Reno mengetahui hal yang lebih lanjut dari laki-laki brengsek yang sudah melakukan tindakan bejatnya di hotelnya sendiri.
Reno kini perjalanan akan ke kantor Tn. Wingky, dan memberi tahu semua tentang apa yang sudah ia dapatkan. Suara dering ponsel mulai terdengar, mengharuskan Reno menekan tombol ponselnya dan memasang headset kecil tanpa kabel itu di telinga kanannya.
Panggilan Tersambung.
"Dimobil sayang. Kenapa hmm? kamu kangen sama aku? Aku emang ngangenin, Ra."
"Apasii.... Jangan ke ge'eran ya! Cuman ngasih tau kalau aku sama mama udah sampai di butik. Kamu kalau udah selesai liat cctvnya, langsung kesini ya."
"Iya sayang, tenang aja abis ini aku kesana. Kamu pilih-pilih aja dulu mana yang bagus. Aku pasti akan suka sama pilihanmu nanti." Reno mengulas senyumannya, dan membanting stir mobil saat sudah berhasil masuk ke parkiran kantor.
"Yaudah, aku tutup-"
"Kasih kissnya dong."
Ciittt...
Reno menghentikan laju mobilnya, dan mematikan mesin mobil tepat saat sudah berhasil terparkir.
"Belum halal! Gak ada kiss-kiss'an, yaudah bye!!!"
Panggilan Terputus.
Reno hanya menggeleng-gelengkan kepala, merasa ucapan Vierra sangat lucu. Sepertinya, calon istrinya itu semakin hari semakin membuatnya jatuh cinta dengan setiap ucapan serta tingkah laku lucunya.
Setelah berhasil keluar dari mobil, Reno jalan dengan tatapan datar menuju ke dalam kantor. Matanya mengedar lagi, dan ia menghampiri seorang wanita yang di ketahui bekerja sebagai Receptionis.
__ADS_1
"Aku ingin bertemu dengan Pak Wingky," ujarnya tegas.
"Pak Reno! Apa anda sudah mempunyai janji bertemu dengan Pak Wingky?" tanya Hani, dengan tatapan terkejut, seolah seperti mimpi seorang rekan kerja dari atasannya datang langsung kesini, karna sebelumnya Reno jarang datang ke kantor.
"Ya! Katakan aku ingin bertemu dengan beliau."
"Baik, Pak Reno..." Tak berani membantah, akhirnya Hani menelfon menghubungi di ruang Direkturnya itu untuk mengatakan perihal kedatangan Reno.
"Baik, Pak." Hani menutup telfon dari telepon kabelnya setelah mendapat perintah mengiyakan dari sang atasan.
"Mari Pak, saya antarkan anda keruangan Pak Wingky." Reno hanya mengangguk dan mengikuti langkah Hani dari belakang, sampai akhirnya Hani mempersilahkan Reno untuk masuk kedalam ruangan yang bertulisan Ruang Direktur.
"Terimakasih..." Hani mengangguk dan pergi meninggalkan senyum hangat kepada Reno.
Ceklek...
"Reno! Kenapa kamu sampai datang ke kantorku? Apa kedatanganmu ini, artinya kamu setuju untuk menikahi putriku?" ujar Tn. Wingky dengan sambutan pertanyaan telak yang membuat Reno menyunggingkan senyum miringnya.
Reno jalan menghampiri rekan kerjanya itu, lalu berhenti tepat di belakang kursi hitam. Reno tidak tertarik untuk duduk, malahan ia memberikan map coklat yang ia taruh diatas meja disamping beberapa tumpukan map.
"Seharusnya anda mengatakan itu kepada laki-laki yang sudah memperkosa Rossi, Pak Wingky! Leon Aditya Markus, dia adalah ayah dari anak yang dikandung Rossi."
"Apa?" Alis Tn. Wingky terangkat menandakan keterkejutannya secara langsung.
"Reno! Jangan bicara sembarangan! Aku tahu betul siapa itu Pak Leon, beliau tidak mungkin melakukan hal kotor itu kepada putriku."
"Tapi itu kenyataannya Pak Wingky! Anda harus terima kebenaran ini. Saudara Leon, yang memesan kamar VIP di hotel saya tepat dimana acara pesta ulang tahun mama berlangsung tiga hari yang lalu, saat itu juga Rossi masuk kedalam kamar yang sama. Anda bisa melihat rekaman cctvnya langsung, yang sudah saya berikan di flashdisk dalam map tersebut."
Reno masih mempertahankan tatapan tajamnya, seolah memberi peringatan keras, kalau dirinya tidak bersalah dan jika Tn. Wingky melakukan hal nekat karna merasa kurang puas dengan buktinya maka Reno akan melawan rekan kerjanya itu, kalau perlu sampai ke jalur hukum.
"Pak Leon baru saja menyelesaikan perceraiannya dengan mantan istrinya bulan lalu," ujar Tn. Wingky, membuat Reno mengangguk karna sudah tahu lebih dulu.
"Ya, itu benar. Maka dengan itu, anda bisa tanyakan langsung apa motif beliau memperkosa Rossi. Oh iya Pak Wingky, setelah ini saya minta anda jangan mengusik saya lagi atas terkait masalah yang menimpa putri anda, karna saya hanya ingin fokus dengan pernikahan saya yang akan berlangsung 5 hari kedepan. Kalau begitu, saya permisi, Pak Wingky..." Dengan bibir yang terangkat sebelah menandakan jika Reno berhasil setidaknya memberi penegasan kepada rekan kerjanya tersebut.
"Reno... Kamu benar-benar tidak bisa aku remehkan," guman Tn. Wingky dengan geraman tajamnya, saat melihat Reno berhasil keluar dari ruangannya.
*****
Di butik kini Vierra menatap pantulan seluruh tubuhnya yang sudah memakai gaun pengantin berwarna putih yang sangat indah. Vierra tersenyum, tak kuasa melihat sosok dirinya yang begitu menawan dengan gaun yang ia pakai sekarang.
"Yaampun... Vie! Kamu cantik, mama sampai terpukau ngeliatnya. Reno pasti beruntung punya calon istri secantik kamu, Vie..." Ny. Elma datang dari belakang dengan tatapan binar dan pujian terpukaunya.
Bersambung....
INI VUSUAL BAJU PENGANTINNYA.
DAN VERSI BELAKANG.
__ADS_1
Maaf kalau gak sesuai selera, soalnya bingung harus pilih gaun yang mana yang sekiranya cocok untuk pernikahan seorang konglomerat jangan lupa kasih like, komentar dan vote ya minta dukungannya🙏