
Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Setelah menempuh perjalanan panjang dari Paris, sekarang Vierra dan Reno sudah tiba di tanah air dengan selamat. Wajah keduanya tampak bahagia, mungkin efek bulan madu ditempat romantis.
Brakk...
Pak Budi menutup pintu kap bagasi mobil setelah berasil memasukkan semua koper.
"Selamat datang kembali, Tuan muda dan nyonya muda. Saya senang anda berdua baik-baik saja," ujar Pak Budi tersenyum hangat.
"Iya, makasih Pak Bud. Istriku pingin pulang cepet, padahal rencananya aku ingin ajak ke Belanda."
"Kapan-kapan aja ke Belanda mas, lagian di Paris aku udah puas bisa menghampiri beberapa tempat wisata," sela Vierra merasa tidak sependapat.
"Kan sekalian sayang..., Prancis ke Belanda gak begitu jauh kalau kita bisa mampir kesana."
"Gak mau! Udah ah mas, lebih baik kita pulang. Aku mau ketemu ibu dulu, kita pulang ke rumahku ya."
"Iya sesuai permintaanmu aja. " Reno mengalah sembari menyunggingkan senyumannya. Sungguh ia tidak ingin berdebat dengan istrinya.
Vierra langsung masuk kedalam mobil, lalu diikuti oleh Reno begitu juga dengan Pak Budi.
Dalam perjalanan hanya ada keheningan, baik Vierra dan Reno sama-sama bungkam. Reno beberapa kali melirik kearah Vierra, berharap sekata keluar dari bibir ranum istrinya, tapi setelah sekian detik lamanya, Reno akhirnya menghembuskan nafas beratnya.
"Sayang...."
"Iya, apa?" Vierra hanya menjawab pelan, namun pandangannya masih fokus melihat kendaraan dari samping kaca mobilnya.
"Kalau kita punya anak nanti, kamu inginnya anak pertama kita laki-laki atau perempuan?"
Vierra menengok kearah samping, melihat wajah Reno yang seolah menunggu jawabannya.
"Kalau aku laki-laki atau perempuan sama aja, yang penting anak kita nanti lahirnya sehat."
"Amin...,tapi mama ingin anak perempuan. Aku harap anak pertama kita perempuan."
"Kok gitu, kalau laki-laki gimana?"
"Laki-laki juga gak masalah, tapi kalau perempuan kan enak bisa jadi kakak yang mengajari adik-adiknya nanti dengan baik, seperti kak Aily. Kak Aily sering ngajarin aku sama Gevan dulu, pas aku emang gak paham sama sekali dan aku ingin anak perempuan kita nanti seperti itu," tutur Reno menjelaskan maksud dari keinginannya.
"Trus kalau laki-laki gimana?"
"Kalau laki-laki bisa jadi kakak yang bertanggung jawab. Yang bisa melindungi adik-adiknya nanti." Vierra tersenyum, karna sangking terhanyutnya dengan jawaban dari suaminya.
"Kamu bener mas. Aku juga inginnya seperti itu." Reno merentangkan tangan kanannya di belakang, bermaksud memeluk bahu istrinya. Vierra mengerti, ia juga ikut mendekatkan tubuhnya agar Reno lebih leluasa memeluknya dari arah samping. Vierra menaruh kepalanya dipundak kiri Reno, yang dibalas usapan lembut dirambutnya.
"Aku gak sabar pingin cepet-cepet main sama anak-anak kita nanti, pasti seru sayang." Reno terkekeh membuat hati Vierra menghangat.
"Amin...., semoga aku bisa segera ngasih kamu anak mas," gumannya dalam hati.
"Oh iya bentar mas, aku telfon ibu dulu." Vierra menegakan kembali badannya, lalu merogoh tas selempangannya untuk bisa mengambil ponselnya.
Vierra masih menunggu nada panggilan disebrang sana, tapi sangat lama membuatnya harus mengulang kembali untuk menelfon ibunya.
Dering keduapun tetap sama. Reno menatap raut wajah Vierra yang tampak gelisah. Ia juga merasa penasaran, "Gimana?" Vierra menggeleng pertanda penggilan tidak dijawab.
"Kok ibu gak jawab telfonku ya mas?"
__ADS_1
"Coba telfon lagi, mungkin mama mertua gak denger suaranya," balas Reno memberi usul.
"Aku telfon Jordan aja ya mas, mungkin dia lagi sama ibu," ujar Vierra seperti meminta izin, membuat Reno mau tak mau harus mengiyakan.
"Tersambung mas. Semoga diangkat." Reno hanya diam dan menyenderkan kembali kepalanya di jok mobil, membiarkan Vierra berbicara lewat telfon dengan laki-laki yang pernah menjadi rivalnya. Entahlah Reno masih tidak menyukai teman dekat Vierra, meski ia tahu kalau Jordan sudah mempunyai Amily, tapi perkataan laki-laki itu saat di makam tempo lalu masih menimbulkan kekesalan di benaknya.
Apapun alasannya, ia tetap tidak menyukai Jordan.
Panggilan Tersambung.
"Halo Jor! Akhirnya kamu angkat telfonku juga. Oh iya kamu sekarang sama ibu gak? Aku telfon tadi kok ibu gak jawab ya, tumben banget biasanya ibu slalu jawab telfonku."
"Kamu ada dimana sekarang?"
"Aku? Ya..., aku lagi perjalanan pulang ini. Aku mau kerumah Jor."
"Vie! Tante Dian dirumah sakit sekarang. Kamu kesini ya, ibumu gak sadarkan diri sejak kemarin."
Deg.
Ucapan Jordan seperti tombak yang menusuk tepat dijantungnya, membuat lidahnya keluh.
"Halo Vie! Kamu masih mendengarku? Datang ke Rumah sakit Medika secepatnya."
"Baik Jor, aku akan kesana. Tolong jaga ibu dulu ya, makasih Jor."
Panggilan Terputus.
"Pak Bud, tolong antarkan ke Rumah sakit Medika."
"Ada apa? Apa yang dia katakan sama kamu?"
"Ibu masuk rumah sakit mas."
"Mama mertua masuk rumah sakit?" Vierra mengangguk gelisah. Tangannya sedikit gemetar, akibat rasa takut serta kecemasan yang berlebihan.
Reno langsung membawa tubuh Vierra kedekapannya. Dipeluknya kepala istrinya disertai usapan lembut dirambut," Kamu tenang ya, semoga mama mertua gak kenapa-napa...," ujarnya dengan nada menenangkan.
"Aku takut mas..."
"Jangan takut sayang..., mama mertua pasti baik-baik aja. Percaya sama aku."
"Pak Bud, tolong lebih cepat."
"Baik, Tuan...," balas sang sopir langsung menambah kecepatan gas dimobil.
Sampai akhirnya tiba di rumah sakit. Vierra buru-buru keluar dan melangkah cepat kedalam rumah sakit. Reno yang melihat juga ikut keluar. Derap langkah kakinya terdengar cepat, demi mengejar istrinya yang sudah merasa cemas.
Didalam rumah rumah sakit Vierra langsung menghampiri meja receptionis, "Apa ada pasien ibu-ibu sekitar dari kemarin. Namanya Bu Dian," tanyanya buru-buru.
"Sebentar Bu, saya cek dulu." Vierra menunggu, sampai akhirnya ia melihat wajah Jordan dari kejauhan. Laki-laki itu sedang bicara dengan seorang wanita. Vierra langsung meninggalkan meja receptionis demi menghampiri Jordan yang kini berdiri tidak terlalu jauh dari tempatnya.
"Sayang tunggu...," panggil Reno setengah teriak, tapi Vierra menghiraukan dan tetap melangkah.
"Jordan...." Jordan menengok kesamping kirinya.
"Vierra! Kamu udah ada disini."
__ADS_1
"Dimana ibu Jor. Tunjukkan dimana ibu sekarang," sela Vierra sembari menarik-narik lengan kirinya, "Ibumu ada di ICU, ayo aku antar."
"Am, bentar ya, aku mau nganterin Vierra dulu," ujar Jordan bermaksud meminta izin.
"Aku ikut," balas Amily spontan.
"Amily!" Reno berhasil menyusul langkah kaki Vierra yang terkesan sangat cepat.
"Lho Reno! Disini juga kamu?" Reno mengangguk, "Iya, Mil nemenin Vierra kerumah sakit," balasnya.
"Jor, ayo anterin aku ke ibu."
"Iya Vie, ayo aku anterin." Jordan melangkah jalan lebih dulu yang diikuti Vierra ditengah dan Reno jalan paling belakang.
"Ibumu dari kemarin gak sadarkan diri Vie, aku khawatir. Untung kamu pulang hari ini," papar Jordan berterus terang, sampai akhirnya Vierra melihat dokter serta beberapa suster lari kepanikkan masuk kedalam ruangan.
"Eh ada apa ini Jor?"
"Dokter, ada apa? Apa kondisi tante Dian sudah membaik?" tanya Jordan sekaligus mewakili pertanyaan semua orang.
"Sebaiknya tunggu diluar, biar saya periksa pasien lebih dulu." Belum sempat Jordan bicara, Dokter Ikhsam sudah lebih dulu masuk kedalam ruangan dimana Ny. Dian tengah terbaring sekarang.
Diluar Vierra masih menunggu sangat cemas. Beberapa kali bibirnya meramalkan doa, agar ibunya baik-baik saja. Reno yang tidak tega, langsung membawa tubuh Vierra kedekapannya. Memeluk bahu kiri istrinya seraya menepuk-nepuk pelan memberi ketenangan.
Ceklek...
"Bagaimana, Dok? Ibu saya baik-baik saja kan? Apa ibu saya sudah sadar?" Dokter Ikhsam menghembuskan nafasnya, disertai gelengan kepala, "Maaf pasien tidak berhasil diselamatkan. Penyakit leukemia Bu Dian sudah mencapai stadium akhir dan seharusnya beliau sudah harus menjalani kemoterapi, namun sepertinya sudah terlambat. Maafkan saya, Bu dian tidak bisa tertolong lagi."
Setetes cairan bening jatuh dipipi Vierra. Penuturan Dokter Ikhsam membuat hatinya mencelos kaget sekaligus tidak percaya.
"Leukemia? Apa maksud dokter ibuku meninggal?" Dokter Ikhsam mengangguk pelan.
"Gak mungkin...., ibu gak mungkin pergi, gakk!!!" Vierra tak kuasa menahan tangisannya yang sudah lama terbendung, kini pecah disertai isakkan teriakan kerasnya.
"Sayang...., tunggu." Reno mengikuti langkah istrinya yang menerobos masuk kedalam ruangan. Suster sudah melepaskan semua alat, termasuk alat pernapasan dihidung ibunya sudah tidak ada.
"Ibuuuuuuuuu......" teriak Vierra begitu keras, melihat sosok ibunda tercintanya merenggang nyawa diatas ranjang rumah sakit.
"Ibuuuuuuuuu...., ini Vierra Bu.... Aku udah pulang...., ibuuu bangun...., aku kangen sama ibuuu... Hiksss ibuuuuu...."
Vierra meluapkan semua tangisnnya, tangannya memegang tangan dingin ibunya dengan tatapan penuh luka berharap ibunya sadar dan memeluknya, tapi nyatanya hanya kebungkaman yang ia dapatkan. Ibunya itu tidak merespon sama sekali, dengan mata yang masih terpejam kuat seakan tidak bisa lagi untuk mata itu terbuka.
"Ibuuuuuu....."
"Mama mertua...., ini Reno...., Reno mohon buka mata mama untuk Vierra. Mama mertua....., bangun........" Reno memegang tangan kiri ibu mertuanya, dengan digenggam erat. Ia mengusap-usapnya berharap mata yang terpejam itu segera terbuka. Reno beralih menatap kedepan. Vierra menangis disebrang kanan ibunya, membuat Reno tak kuasa ikut menitihkan air mata. Hatinya merasa sakit melihat tangisan istrinya dan kematian ibu mertuanya.
"Ibuuuuuu...., bangunnn....., banguuunnn Bu.... Vierra mohon ibu buka mata ibu...., hiksss...., ibuuuuuuu jangan tinggalin Vierra Bu..., ibuuuuuu...."
Brugh....
"Vierra!!!"
Dan akhirnya Vierra pingsan.
*****
Bersambung....
__ADS_1