
Vierra dan Reno kini ada di Mall, seperti pesan mamanya bilang kalau cincin yang beliau pesan ada di toko perhiasan tepat di Mallnya tersebut, jadi Reno tidak perlu bersusah payah mencari toko perhiasan lain karna mamanya sudah memesankannya lebih dulu. Reno menengok kesampingnya, ada Vierra yang fokus menatap kedepan. Sebuah senyuman terukir di bibir Reno, membuatnya benar-benar tidak sabar untuk segera menikah calon istrinya ini.
"Ren, tokonya ada dimana si? ini udah banyak beberapa toko perhiasan, tapi mamamu pesan cincinnya di toko mana?" Lamunan Reno buyar, saat Vierra menengok kearahnya. Buru-buru Reno mengalihkan pandangannya kedepan dengan gelagat sedikit gugup, seakan ia tertangkap basah.
"Anu Vie..."
"Anu apaan?" tanya Vierra bingung.
"Disebelah sana, ayo..." Langsung saja Reno menarik tangan kanan Vierra untuk mempercepat langkahnya, sedangkan yang di tarik hanya pasrah mengikuti langkah calon suaminya.
Reno berhenti di salah satu toko perhiasan. Toko ini mengusung warna yang cantik, ditambah rak kaca berisi berbagai perhiasan terisi penuh sungguh indah, fikir Vierra begitu.
"Udah sampai. Disini mama pesan cincinnya, bentar aku tanya dulu," ujar Reno sembari menatap ke arah pegawai berseragam. Ada seorang wanita cantik yang mungkin seumuran dengan Vierra menghampirinya dengan disertai senyuman.
"Selamat pagi, Mister Reno. Anda kesini? Perhiasan apa yang anda cari?" tanya Meldi selaku pegawai.
"Dimana Bu Erika, aku ingin bertemu beliau." Meldi mengerutkan keningnya sambi berujar, "Bu Erika, Mister?" Reno mengangguk mengiyakan.
"Eh, Tuan Reno ternyata datang juga kesini. Pasti mau lihat cincinnya kan?" Suara Bu Erika terdengar, wanita itu datang dengan senyum hangat yang mengembang.
"Iya Bu Rika, apa cincinnya udah jadi?" tanya Reno.
"Pasti udah jadi. Bentar aku ambilkan dulu." Reno mengangguk sambil menunggu kedatangan Bu Erika, sedangkan Meldi ikut bertanya karna sangking penasarannya, " Apa Mister beneran akan nikah?" Reno menatapnya, "Ya..." serunya pelan.
Meldi akhirnya paham dan tidak berani berkata lagi, lalu tidak lama Bu Erika akhirnya datang dengan membawa kotak beludru berwarna merah.
"Ini cincinnya, Tuan Reno. Karna anda akan menikah, saya udah membuatkan desain khusus yang cantik untuk cincin pernikahan anda. Coba dilihat ada ukiran inisial nama anda dan calon istri anda," ujar beliau menjelaskan.
Reno mengambil satu cincin berwarna perak dengan diatasnya ada batu berlian kecil disertai ukiran huruf R di bagian cincin, sungguh membuat mata Reno berbinar.
"Sesuai keinginan saya. Cincin ini sangat indah, coba kamu liat Ra." Reno menyerahkan cincin yang ia pegang kearah Vierra, dan Vierra mengambilnya sesekali mengamati lekat bagian cincin tersebut.
"Cantik Ren. Cincinnya bagus banget..." ujarnya dengan mengutarakan kekaguman atas cincin yang ia pegang. Dilihat dari batu berlian, serta ukirannya Vierra yakin cincin ini dibandrol sangat mahal.
__ADS_1
"Kira-kira berapa harga cincin ini?" Vierra menatap kearah Bu Erika, justru membuat wanita seumuran dengan ibunya itu tertawa pelan.
"Vie, ngapain nanyain harga. Tenang aja, semuanya aku yang biayain. Bagiku berapapun harganya gak masalah, justru aku ingin pernikahan kita berlangsung sangat meriah."
"Yang di katakan Tuan Reno benar, Nona. Anda tidak perlu khawatir, kami sudah lama melayani setiap pembelian perhiasan dari keluarga Tuan Reno. Kami juga sudah menyiapkan cincin untuk pernikahan Tuan Gevan nantinya," imbuh Bu Erika menjelaskan, sedangkan Vierra hanya mengangguk dengan disertai senyuman malu-malu.
"Gevan nikahnya mungkin masih lama."
"Lho kenapa Tuan Reno? Tapi sebelumnya Tuan Gevan datang kesini buat pesan cincin pernikahan juga," tutur wanita itu disertai pertanyaan yang masih membuatnya bingung.
"Gapapa, Bu. Oh aku ambil ini aja kalau gitu." Reno menggeleng, tidak ingin melanjutkan ucapannya yang mungkin akan memakan waktu lama, kalau dijelaskan tentang hubungan Gevan dengan kekasih Pramugarinya bernama Amanda.
"Reno! Kamu ada di Mall rupanya, aku tadi ke kantormu, tapi kamu gak ada." Baik Reno maupun Vierra menengok ke samping. Vierra menatap heran kedatangan Rossi, sedangkan Reno hanya menatap malas.
"Ehh... ada Vierra juga." Rossi menampilkan senyumannya, dengan riasan make yang menurut Vierra terlalu tebal, bahkan gadis itu memakai lipstik merah yang warnanya menyerupai cabe.
"Iya, kamu ngapain kesini?" balas Vierra dengan malas karna Reno hanya diam, jadi ia yang terpaksa harus membalas ucapan gadis didepannya.
"Aku kan mau ketemu sama Reno, gak masalah kan? Orang kalian juga belum nikah, jadi aku bebas buat ketemu sama Reno," ujar Rossi disertai tangan kanan yang mengelus perut ratanya, seolah memamerkan janin dalam kandungannya.
"Kenapa aku? Kalau bisa elus sendiri, ya kamu elus sendiri aja. Mudah kan!" Nada Reno sedikit menajam, agar Rossi paham dengan penolakannya.
"Tapi kan dedek bayinya pengen kamu yang ngelus, Ren. Ini juga anakmu kan, harusnya kamu lebih perhatian ke aku."
"Anak katamu?" Yang semula menatap biasa, kini sepenuhnya badan Reno menghadap ke Rossi disertai tatapan tajam seakan-akan ingin mengiris manik mata Rossi yang tidak tahu malu itu.
"Itu anakmu dengan laki-laki lain! Jangan asal bicara Ros! Aku gak sudi ngakuin anak dalam kandunganmu itu, dan kamu harus ingat aku terpaksa bertanggung jawab atas kehamilanmu bukan berarti kamu seenaknya mengklaim kalau aku ayah dari bayimu!"
"Ren, udah..." tutur Vierra mencoba menghentikan ucapan Reno yang mungkin akan memojokkan Rossi. Bagaimanapun kondisi ibu hamil tidak boleh stress karna akan mempengaruhi bayi dalam kandungannya.
"Aku bicara fakta sayang..." Reno menoleh menatap manik hitam dari sang calon istri. Usapan lembut di lengannya, membuatnya sedikit tenang.
"Tetep aja, kamu yang akan jadi ayah dari anak yang aku kandung Ren! Setidaknya kamu kasih perhatian ke bayiku meskipun bukan ke aku!" ujar Rossi dengan nada tegas, disertai kilatan sedikit kekesalan pada manik matanya.
__ADS_1
"Aku gak peduli," celetuk Reno merasa bodo amat, namun Vierra menatapnya terkejut.
"Ren! Jangan begitu! Gak baik. Rossi sedang hamil, setidaknya kamu jangan terlalu kasar sama dia," tutur Vierra merasa tidak sependapat dengan kecuekkan Reno.
"Tapi sayang...."
"Eh apa ini." Dengan cepat, Rossi merebut cincin ditangan kanan Vierra. Rossi bahkan meneliti cincin tersebut dengan tatapan binar, lalu memakai cincin perak itu ke jari manisnya. Sebuah senyuman mengembang.
"Wahh cincin ini bagus banget. Makasih ya Ren."
"Bukan buatmu Ros! Sini cincinnya!" gertak Reno, membuat Rossi mengerucut tak suka.
"Bukan buatku? Tapi ini bagus banget, Ren. Aku mau cincin ini ya?" Manik mata Rossi melembut, memancarkan sorot mata sedih, seakan sangat menginginkan cincin itu.
"Gak bisa Ros! itu cincin pernikahanku sama Vierra. Kamu cari yang lain aja, siniin cincinnya." Reno meraih tangan kanan Rossi, dan memaksa gadis itu untuk melepaskan cincin yang masih tersemat.
"Yaudah aku lepasin, tapi bantu aku cari cincin yang lain, ya? Ayo!" ujar Rossi disertai tarikkan tangannya ke Reno, membuat Laki-laki itu mendekatinya dan menatap kearah pegawai yang bernama Meldi.
"Aku mau cincin. Berikan cincin paling bagus disini, berapapun harganya aku beli."
"Ha! Ahh... baik, Nona..." Meldi sampai tergagap menjawabnya, lalu mulai mencari beberapa bentuk cincin yang menurutnya paling indah.
"Lepas, Ros!" Reno menyingkirkan tangan kanan Rossi yang mengalung di lengannya, tapi gadis itu menggeleng justru semakin mengeratkan kalungan dilengan Reno.
"Gak mau! Kamu bantu aku pilih cincin dulu ya? Oh iya, sayang... mama mau beliin kamu cincin ini sama ayahmu. Kamu baik-baik ya didalam perut mama." Rossi mengelus perut ratanya dengan tangan kiri, seraya memberi penuturan manis untuk sang calon bayinya.
"Ren, lihat deh! Kayaknya, dia denger ucapanku. Aku jadi gak sabar buat nunggu dia lahir. Nanti kita rawat berdua ya, Ren."
Reno hanya diam tanpa menyahuti sama sekali, tapi matanya sesekali melirik kearah perut Rossi. Gadis itu masih asik mengelusnya. Reno jadi membayangkan bagaimana rasanya nanti ia akan mempunyai seorang anak.
Vierra hanya diam, sorot matanya menampilkan kekecewaan sekaligus sedih. Ada rasa cemburu melihat Reno yang tengah asik berdua dengan Rossi. Hatinya seakan dipaksa merontah untuk menarik tangan Reno agar mendekatinya lagi, tapi apadaya Vierra tidak sanggup. Fikiran negatif kembali mengerubungi benaknya, membuatnya merasa takut akan kehilangan sosok Reno.
_____•••••_____
__ADS_1
Bersambung....