Dinikahi Konglomerat Muda

Dinikahi Konglomerat Muda
Masalah Trus Berdatangan


__ADS_3

Reno masih setia mendampingi istrinya. Sejak Vierra pingsan 20 menit yang lalu, ia masih menunggu duduk di kursi bersebelahan didekat ranjang. Vierra dibawa ke salah satu ruangan, dan pasca perginya Dokter Aldi yang memeriksa kalau istrinya itu mengalami shock berat.


"Sayang...., bangun. Aku mohon jangan buat aku semakin khawatir." Reno mengenggam jemari tangan kanan Vierra begitu erat, seolah tidak ingin ia lepaskan dan sesekali dikecupnya.


Ceklek...


Jordan masuk kedalam dengan tatapan iba.


"Gimana kondisi Vierra?" tanyanya, tapi Reno tidak membalas sama sekali karna sangking fokusnya terhadap kesehatan Vierra saat ini.


"Sementara ini, kau tetap disini sampai Vierra siuman. Aku akan pulang ke rumah membawa jenazah tante Dian. Aku udah telfon Om Satria, mungkin besok keluarga Vierra bakal ke Jakarta."


"Aku akan jaga istriku disini, sebelum Vierra siuman tolong urus jenazah mama mertua. Aku bakal telfon mamaku agar Vierra ada yang jaga disini, setelah itu aku ikut kau mengantarkan jenazah mama mertua ke rumah," balas Reno mulai bersuara. Ia melepaskan genggaman tangan istrinya, lalu mengecup singkat dikening.


"Tolong jaga istriku bentar, aku akan telfon orang rumah lebih dulu." Jordan mengangguk, "Ya..., telfon sana, biar Vierra aku jaga disini."


Reno menatap lagi kelopak mata Vierra yang masih terpejam, lalu beralih kearah Jordan. Ia harus merelakan Vierra dijaga oleh sahabatnya saat ini, dan mengusir rasa cemburu dibenaknya. Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk cemburu.


Reno keluar dari dalam ruangan.


"Ren...," panggil Amily pelan.


"Gimana kondisi Vierra? Dia gapapa kan?" Amily tampak panik, sedangkan Reno hanya menghembuskan nafas beratnya disertai gelengan kepala, "Belum Mil, kamu masuk aja aku akan telfon kerumah," paparnya sendu.


Reno lanjut jalan mencari tempat yang cocok, setidaknya yang suasana yang lebih tenang untuk bisa menelfon orang rumah.


Sementara itu didalam kamar, Jordan duduk dikursi. Hanya duduk karna tidak berani memegang tangan Vierra. Hatinya ikut tersayat melihat kondisi yang dialami sahabatnya sekarang ini. Jordan tahu betul kalau Vierra sangat menyayangi ibunya, karna memang dia dan ibunya itu hanya tinggal berdua di Jakarta. Banting tulang mengadu nasib, sedangkan semua saudaranya ada di Solo.


"Jor..." Jordan menengok kesamping. Ada Amily yang sudah berdiri menghampirinya.


"Aku juga turut berduka atas meninggalnya ibunya Vierra. Aku harap dia bisa kuat menghadapi semua cobaan ini."


"Aku harap begitu, Am...., tapi aku takut kalau Vierra sampai terlarut atas kepergian tante Dian." Amily menepuk pelan pundak kanan Jordan, disertai usapan lembut. Kepala Jordan mendongak, melihat seutas senyuman dibibir Amily.


"Kita bantu dia buat kasih semangat, agar Vierra gak trus menerus terpuruk. Aku akan nemenin dia, kamu gak perlu khawatir. Saat aku melihat Vierra, saat itu juga aku tau kalau dia perempuan yang kuat," balas Amily yang disambut usapan di punggung tangannya. Jordan ikut tersenyum, setidaknya ucapan tunangannya itu membuatnya sedikit merasa tenang.


Vierra memang perempuan yang kuat. Saat pertama mengenalnya sejak SMA, Jordan langsung tahu jika Vierra mempunyai hati sekuat baja. Dari dulu Vierra sudah mengalami banyak rintangan dan masalah, nyatanya dia berhasil melewati semuanya. Jordan berharap Vierra lebih tegar untuk mengikhlaskan kepergian ibunya.


*****

__ADS_1


Reno memutar kembali badannya, setelah berhasil menelfon orang rumah. Ibunya bilang akan segera datang kerumah sakit secepatnya. Reno lanjut jalan, tapi badannya tidak sengaja menabrak suster yang kini sedang mendorong kereta dorong.


"Maaf, saya tidak sengaja." Suster itu mengangguk, lalu mulai melangkah lagi untuk mengejar kereta dorong yang ternyata sudah didorong sedikit jauh oleh beberapa perawat yang lain.


Drrt... Drtt...


Ponselnya berbunyi langsung saja Reno merogoh kembali saku celananya. Tertera nama manager hotel, membuat keningnya mengerut bingung.


Panggilan Tersambung.


"Iya, Pak Vitto ada apa?"


"Syukurlah, Tuan Reno mengangkatnya. Saya dengar hari ini anda sudah balik dari Paris?"


"Benar, Pak. Ini aku ada di rumah sakit. Mama mertuaku baru saja meninggal."


"Innalillahiwainnalillahi rojiun. Saya turut berduka cita atas meninggalnya ibu mertua anda, Tuan."


"Iya Pak Vitto trus ini kenapa Pak Vitto telfon? Apa ada masalah di hotel?"


"Begini Tuan, seperti kata Tuan Reno dan Tuan besar. Semingguan ini kasus pemerkosaan di hotel sudah ditangani oleh Pak Wijaya dan Pak Ronald. Mereka detektif suruhan dari Tuan Besar, tapi saya mendapat kabar kalau Pak Wijaya mengalami kecelakaan siang ini."


"Yang saya tau Pak Wijaya dilarikan di rumah sakit terdekat dari tempat kecelakaan berlangsung, mungkin di rumah sakit Medika."


"Aku ada di rumah sakit Medika sekarang ini Pak. Mungkinkah....." ucapan Reno terhenti, lalu melihat kelorong rumah sakit. Matanya mengedar memastikan kembali, tapi sepertinya suster yang ia tabrak barusan sudah menghilang.


"Halo Tuan?"


"Pak Vitto, nanti aku hubungi lagi."


Panggilan Terputus.


Reno melangkah lagi tidak ada waktu untuk mencari suster yang ia tabrak tadi, meski ia sangat penasaran dengan siapa korban kecelakaan yang ada dikereta dorong tersebut, tapi tidak mungkin untuk mencari tahunya. Reno menghembuskan nafasnya, dan memilih kembali untuk melihat kondisi Vierra.


Sekitar sudah 30 menit Vierra akhirnya sadar. Tangisannya masih pecah, saat mengingat ibunya sudah tiada. Reno memeluk tubuh istrinya, sembari mengusap lembut kepala Vierra agar istrinya itu lebih tenang, namun nyatanya malah lebih meraung meluapkan semua tangisan pilunya.


"Ibuu..., mass... Kenapa ibu pergi...., hikss"


"Kamu harus kuat sayang, ikhlaskan mama mertua. Aku yakin mama mertua akan bahagia, tapi kalau kamu seperti ini mama mertua pasti sedih disana." Reno masih telaten mengusap sesekali mengecup kepala Vierra, memberi kehangatan serta kekuatan.

__ADS_1


Jordan dan Amily hanya diam memandang iba kearah Vierra yang tak kunjung reda. Tangisan menyakitkan itu trus terlontar, seperti melodi putar semakin membuat Amily ikut menangis karna tak kuasa menahan sesak didadanya.


"Awwhhh.... Ahh sakittt," lirih Vierra memegang kuat perutnya. Reno terkejut, lalu melepaskan pelukannya menatap penuh kecemasan saat mendengar rintihan istrinya.


"Kamu kenapa sayang?"


"Perutku sakit mas...., aawhhh sakiitt banget."


"Bentar ya, kamu bertahan. Jor panggilkan Dokter!" Jordan mengangguk dan segera keluar.


"Kamu bertahan ya sayang..., aku mohon tahan sebentar."


"Sakitt mass...., aku gak kuat. Perutku rasanya kayak di tusuk-tusuk." Vierra trus merintih kesakitan. Cairan bening di pelupak matanya kembali berjatuhan, rasa nyeri diperutnya membuatnya tidak kuat.


Ceklek...


"Ada apa ini?" Dokter Aldi datang menatap cemas.


"Dok, tolong periksa istri saya lagi. Perutnya katanya sakit, tolong Dok..."


"Bisa anda menyingkir sebentar, saya harus memeriksa pasien lebih dulu." Reno mengangguk, memberi ruang kosong agar Dokter Aldi bisa memeriksa kondisi Vierra.


"Awwhhh..... Sakit Dok!" teriak Vierra menjerit sangat keras, pasalnya Dokter Aldi menekan dibagian perutnya, berusaha mencari gejala dari apakah yang menimbulkan rasa sakit itu.


"Bagaimana Dok?" tanya Reno penasaran.


"Saya harus melakukan pap smear-"


"Ahhhh Darah!!!" Amily berteriak sangat keras, dan setelah suaranya terlontar dengan sangat nyaring, ia sadar lalu membungkam mulutnya sendiri.


Mata Reno membola kaget. Bagaimana bisa ada darah yang mengalir sampai ke kaki Vierra. Dokter semakin panik, "Tolong keluar lebih dulu, saya harus memeriksa lebih lanjut kondisi pasien," papar Dokter Aldi dengan tegas.


"Ren, ayo keluar. Istrimu akan baik-baik aja..." Amily memegang lengan kiri Reno, dan menariknya pelan agar mengikutinya untuk segera keluar dari ruangan.


"Tuhan..., semoga istriku tidak kenapa-napa. Kamu kuat sayang, aku mohon..., bertahanlah demi aku," gumannya berdoa dalam hati.


*****


Minta dukungannya ya, kasih Vote, Like, dan Komentar terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2