
Wajah Reno tampak cemas. Setelah berhasil memakai kaos serta celana yang Vierra siapkan diatas ranjang, barulah Dokter kenalan Pak Albert datang dan sekarang tengah memeriksa kondisi istrinya tersebut.
Rasa kekhawatiran yang tinggi, membuat telapak tangan Reno sedikit basah karna terlalu cemas. Ia berharap istrinya itu baik-baik saja. Dokter Frankie menengok kearah kaki kanan Vierra dan menyentuhnya di bagian yang terkilir.
"How is my wife's doctor?"
"Your wife is fine..., hers leg was sprained and it was swollen, it might be very difficult to walk." Reno sedikit menganga kaget, kebengkak kan di kaki Vierra membuat hatinya seperti tersayat. Ia jadi merasa bersalah karna tidak bisa menjaga istrinya sebaik mungkin.
"Don't worry. I'll give you an ointment so that the swelling goes down, and your wife..., can get back to walking." Reno mengangguk paham, "Thank you Dokter Frankie.....," sambungnya tersenyum.
Reno melangkah agar bisa menghampiri Vierra. Rasa khawatir masih mendera dibenaknya, takut jika istrinya ini merasakan sakit atau bahkan menahan rasa nyeri dikakinya.
"Sayang..., maafin aku, ya." Reno jongkok dengan satu kaki, agar bisa menyetarakan badannya dengan tinggi ranjang tersebut. Kedua tangannya memegang tangan kanan Vierra dengan meremas lembut jemari-jemari lentik istrinya.
"Kenapa minta maaf? Kamu kan gak salah mas."
"Tetep aja, aku yang buat kamu seperti ini." Reno menunduk sembari memberi kecupan berulang kali pada tangan kanan Vierra yang masih ia genggam.
"Aku kepleset karna kurang hati-hati, bukan berarti ini salahmu."
"Bukan sayang...., yang jelas kalau aku gak nyuruh kamu ke kamar mandi, kamu gak mungkin sampai kepleset. Disini aku yang kurang hati-hati. Maafin aku, biar nanti aku yang tiap saat olesin salepnya agar bengkak dikakimu cepat kempes." Vierra tersenyum, rasanya sekarang Reno benar-benar mengkhawatirkannya. Suaminya memang akan slalu menjaganya, lagi-lagi Vierra dibuat jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya.
Reno berdiri, lalu melihat kearah Dokter Frankie yang kini mendekat memberikan resep salep obat seperti ucapan beliau tersebut.
"Here's the ointment recipe." Reno mengambil kertas putih itu dengan mengangguk paham, "Thank you, Donter Frankie."
"Ok...., hopefully your wife will get well soon. I have to go back to the hospital," ujar dr. Frankie merapikan beberapa peralatan kedalam tas hitamnya. Reno mengangguk lagi, lalu mengantarkan beliau sampai ke pintu kamar.
Ceklek...
Selepas kepergian Dokter Frankie, Reno kembali melangkah untuk menghampiri Vierra, namun suara Pak Albert membuat Reno sadar kalau laki-laki paru bayah tersebut masih berada didalam kamar hotelnya. Pak Albert sedari tadi hanya menunggu di luar, tidak berani mendekat untuk melihat pemeriksaan Dokter kenalannya itu.
"Tuan, lebih baik sementara waktu anda libur dulu untuk mengunjungi beberapa tempat. Saya rasa anda bisa menunggu sampai kaki nona Vierra sembuh. Saya akan membelikan semua perlengkapan yang anda perlukan."
"Pak Albert benar. Baiklah, aku tetap di kamar untuk menjaga istriku. Untuk makanan atau keperluan lain nanti aku telfon Pak Albert atau pegawai hotel. Oh iya Pak, tolong Pak Albert nanti belikan salep ya. Ini resep dari Dokter Frankie, " balas Reno dengan memberikan resepnya.
"Baik Tuan." Pak Albert mengambil resep tersebut, "Saya harap kaki nona Vierra cepat membaik dan sembuh," sambung beliau seraya berdoa dengan dibalas kedua telapak tangan Reno mengusap permukaan wajahnya, "Amin... Semoga begitu Pak."
"Kalau begitu saya pergi dulu ya, Tuan."
"Iya Pak Albert, terima kasih."
"Sama-sama Tuan....," balas beliau tersenyum dan mulai melangkah menuju ke pintu kamar hotel.
Reno membalikkan badannya dan melihat Vierra yang sudah tertidur. Senyumannya mengembang, disertai langkah kaki untuk mendekat dan sekarang Reno berniat mengangkat sedikit kepala Vierra dengan tubuhnya yang mulai ia posisikan disamping istrinya. Reno membuat bantal lengan kirinya sendiri untuk kepala Vierra, agar badan istrinya lebih dekat dan membuatnya bisa mendekapnya dalam pelukan.
"Selamat tidur sayang... Aku sangat mencintaimu. Akan aku lakukan apapun agar kamu bahagia bersamamu. Hmm.., punyaku, milikku, istriku tercinta hehehehe....," gumannya disertai kekehan pelan karna takut akan membangunkan istrinya.
Cup...
Satu kecupan mendarat di kening Vierra, ditambah sebuah dekapan hangat Reno berikan.
__ADS_1
*****
Jakarta.
"Tuan Leon, diluar ada detektif yang ingin menemui anda," ujar pelayan bernama Tari. Raut wajah Leon langsung berubah, ada sorot ketegangan dan keheranan dalam matanya.
"Kenapa detektif datang ke rumahku malam begini," gumannya dalam hati.
"Baiklah, suruh mereka menunggu. Aku akan kesana." Tari mengangguk patuh, lalu berjalan mundur untuk keluar dari ruangan kerja atasannya.
Leon menghembuskan nafasnya dan berdiri dari kursi kerjanya. Ia menarik nafas sedalam mungkin, berusaha mengontrol diri agar tetap tenang.
Sedangkan di ruang tamu Pak Wijaya dan Pak Ronald sudah menunggu, dan berdiri setelah melihat Leon datang menghampiri.
"Duduk saja, Pak, tidak masalah." Leon tersenyum dan langsung duduk di sofa, bertepatan didepan dua detektif tersebut.
"Kenapa, ya, anda datang kerumah saya malam begini?" tanya Leon masih bersikap tenang.
Pak Ronald lebih dulu memperlihatkan kartu identitas kepada Leon, "Saya dari IPIA Agen Detektif. Kedatangan kami kemari ingin minta keterangan terkait pemerkosaan yang terjadi di Hotel Gemilang. Tepatnya tanggal 29 Agustus hari sabtu. Anda di curigai sebagai tersangka, karna sudah memperkosa nona Rossi saat itu. Tolong bantu kami, dan anda bisa menjawabnya tanpa ada yang perlu ditutupi."
Hening.
Leon diam 3 detik, 5 detik, dan 10 detik.
"Hahahahahahaha......., apa ini artinya saya dituduh sebagai tersangka utama, begitu maksud anda?" tanya Leon dengan tertawa.
"Bukan iya, tapi kemungkinan iya Pak Leon," jawab Pak Wijaya lugas.
"Hanya ada rekaman cctv, tapi itu memang belum menjadi bukti yang kuat. Pak Leon saya tidak sepenuhnya menuduh anda, tapi tolong bantu kami dengan menjawab beberapa pertanyaan terkait terlibatnya anda tentang kasus ini," papar Pak Ronald yang ikut tegas. Sorot mata beliau menajam, seolah tidak ingin calon tersangkanya ini bermain-main dan ingin agar lebih serius.
"Pertanyaan apa yang ingin anda tanyakan?"
"Apa benar anda memesan kamar 203 ditanggal yang sama dan hari yang sama?" Leon mengangguk, "Ya. Memang benar," jawabnya cepat.
"Apa anda sebelumnya memesan minum beralkohol? Atau anda minum minuman alkohol sewaktu memesan kamar tersebut?" tanya Pak Wijaya, seraya menulis jawaban dari bibir Leon di buku kerjanya yang berukuran kecil.
"Tidak! Saya jelas tidak meminum alkohol."
"Apa anda mengenal nona Rossi? Apa anda punya hubungan dengan nona Rossi?"
"Tidak!" Leon menghembuskan nafasnya, "Saya hanya tahu kalau dia anak dari rekan bisnis saya. Mengenai hubungan saya tidak mempunyai hubungan khusus selain hubungan kerja dengan ayahnya," sambungnya masih santai.
"Kemungkinannya cuman satu, apa anda menjalin hubungan sembunyi-sembunyi dengan seorang wanita?" Leon terkejut, dengan alis terangkat karna merasa sedikit shock.
"Saya tahu jika anda baru saja menyelesaikan kasus perceraian dengan mantan istri anda bulan lalu. Anda salah satu pengusaha muda yang sukses saat ini, dan sampai sekarang belum ada alasan jelas terkait perceraian anda tersebut. Kami menduga kalau anda sekarang sedang menjalin hubungan dengan wanita lain secara diam-diam, apa itu benar?" tanya Pak Ronald secara terang-terangan.
*****
Paris.
Waktu masih pukul 2 dini hari. Lengan Reno terasa pegal, akibat berlama-lama menjadi alas bantal untuk kepala Vierra. Reno menarik sedikit demi sedikit lengannya, dan mengambil bantal di sebelah Vierra untuk menggantikan posisi lengannya barusan.
__ADS_1
"Enghh..." Erang Vierra dengan suara lirih.
Kelopak mata itu akhirnya terbuka. Reno merapikan helaian rambut serta poni Vierra.
"Mas...."
"Iya sayang...., kenapa? Aku bangunin kamu ya?" Vierra menggeleng, "Ngga kok, sekarang jam berapa?" tanyanya dengan nada parau.
"Mungkin masih tengah malam. Kamu tidur aja lagi."
"Aku haus mas."
"Haus?" Vierra mengangguk pelan.
"Aku ambilin minumnya, tunggu sini ya," tutur Reno, lalu beranjak dari ranjang dan berdiri mulai melangkah kearah pantry dapur.
Hanya butuh waktu 5 menit, akhirnya ia kembali lagi dengan membawakan satu gelas air putih. Reno jalan menghampiri ranjang dan ikut duduk di samping istrinya.
"Ini minum..., pelan-pelan ya," ujarnya menyodorkan serta membantu Vierra untuk meminum air putihnya sampai tersisa setengah. Reno tersenyum dengan tangan kanan yang mengusap bersih bekas air minum di bibir Vierra.
"Makasih..." Vierra tersenyum, yang mendapat anggukan kepala dari suaminya.
Reno menaruh gelas kaca diatas laci, lalu memandang kembali istrinya. Vierra mulai menyibak selimutnya, dengan ancang-ancang akan beranjak dari ranjang.
"Mau kemana?"
"Kekamar mandi mas, udah kebelet ini."
"Jangan gerak, biar aku bantu,"
Reno beranjak lebih dulu dari ranjang, lalu membungkuk untuk bisa menggendong tubuh Vierra ala bridal style.
"Mas... Kamu-"
"Kalungin tanganmu sayang...., aku gendong aja. Kakimu kan masih bengkak karna kepleset, jadi aku gendong biar cepet nyampainya," sela Reno memotong cepat. Vierra tidak berani membantah dan hanya mengikuti perkataan suaminya. Ia mengalungkan erat kedua tangannya dileher Reno.
Sampai akhirnya Reno berada di depan kamar mandi, ia menggunakan tangan kirinya untuk membuka knop pintu dan perlahan-lahan menurunkan badan Vierra di lantai marmer.
Vierra berdiri dengan tangan kanan yang memegang tangan kanan Reno, berusaha menyeimbangi langkahnya agar tidak kepleset lagi.
"Udah...., sekarang kamu keluar."
"Keluar? Gak sekalian aku bantu bukain gitu? Biar kamu gak susah." Vierra melotot tak percaya. Sepertinya jiwa mesum suaminya itu kumat.
"Apasi kamu mas! Aku bisa sendiri ya! Udah sana keluar dulu, atau aku guyur pakai shower!" ancam Vierra, membuat Reno terkekeh gemas.
"Hahahahaha...., galak banget. Aku kan cuman nawarin, syukur-syukur kalau kamu mau-"
"Gak Ya! Dasar Mesummm! Sana keluar dulu!" usir Vierra dengan tangan yang sedikit mendorong tubuh Reno agar menjauh.
*****
__ADS_1
Bersambung.....